Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Abraham Dan Edi Terkena Jebakan


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Abraham, serta yang lain masih belum bisa menemukan orang yang sengaja meracuni makanan untuk para anggota polisi.


“Ini benar-benar diluar dugaan, sudah dua hari kita mencari petunjuk dari pelaku yang sengaja memberikan racun ke makanan kalian. Akan tetapi, sampai detik ini juga kita belum menemukan apapun,” ujar Abraham yang terlihat sangat geram dengan pelaku tersebut.


“Kali ini, musuh kita bukanlah musuh sembarang. Apa yang mereka lakukan, dilakukan dengan cara pintar dan juga bersih,” balas Dayat sembari mengelus dagunya yang ditumbuhi oleh bulu-bulu halus.


“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Edi yang terlihat tak sabaran.


“Sebaiknya, kita harus berjaga-jaga dan juga waspada. Bisa jadi, mereka sedang merencanakan sesuatu dan menunggu kesempatan bagus untuk membunuh kita. Melihat dari cara mereka meracuni makanan, sudah dapat dipastikan bahwa mereka ingin kita semua mati begitu saja,” terang Dayat.


“Atau mungkin saja, mereka sedang merencanakan hal yang lain dan mengecoh kita, agar kita fokus untuk mencari pelaku yang meracuni makanan tersebut. Misalnya begini, saat kita tengah fokus mencari pelaku dari makanan beracun tersebut, mereka sebenarnya tengah beraksi ya bisa jadi, mereka tengah melakukan perdagangan manusia, narkoba, senjata atau tidak kriminal lainnya,” ungkap Abraham menduga-duga.


Dayat, Edi serta yang lain tercengang mendengar apa yang dijelaskan oleh Abraham.


“Cerdas, untuk hal ini sepertinya dugaan Tuan Abraham masuk akal,” sahut yang lain.


“Saya pun setuju dengan apa yang Tuan Abraham katakan!” seru Edi yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Abraham Mahesa.


Saat mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba terdengar suara bunyi tembakan senjata api.


Dor!!!!!


Wibowo yang saat itu berdiri, jatuh seketika. Ternyata, peluru tersebut menembus pundaknya.


Abraham dan Edi sempat melihat pelaku penembakan tersebut, dengan cepat mereka berlari mengejar ke arah pria yang baru saja mengarahkan pistol pada Wibowo.


“Heiiii!” Edi berteriak dan terus berlari secepat mungkin.


Dayat serta yang lain, membawa Wibowo ke rumah sakit dan sisanya ikut mengejar pelaku penembakan tersebut.


Kantor polisi tersebut, berdekatan langsung dengan pasar dan besar kemungkinan, Abraham dan Edi akan kejar-kejaran memasuki pasar tradisional itu.


“Edi, kamu lewat kiri dan aku lewat kanan!” perintah Abraham.


Edi berlari ke arah kiri dan Abraham berlari ke arah kanan.


Sepertinya, pelaku penembakan tersebut masih satu komplotan dengan pelaku yang meracuni para anggota polisi.


Disaat yang bersamaan, Asyila merasakan ada sesuatu hal buruk yang akan menimpa suaminya.


Asyila merasa sangat sesak dan tak sengaja tangannya menyenggol sebuah gelas kaca.


Gelas kaca pun terjatuh ke lantai dan saat itu juga Arumi berlari menuju ruang makan.


“Asyila, kamu kenapa sayang? Asyila diamlah, biar Ibu yang membereskan pecahan gelas kaca ini,” ucap Arumi.


“Tidak usah, Ibu. Biar Asyila saja,” tutur Asyila sembari memunguti pecahan-pecahan kaca tersebut. “Aakkkhh... Asyila yang gelisah, tak sengaja melukai jari tangannya sendiri hingga jari tangannya mengeluarkan darah segar.


“Astaghfirullahaladzim, Asyila. Bukankah Ibu tadi sudah bilang agar Ibu saja yang membersihkannya,” ujar Arumi panik. “Ayo ikut Ibu, biar Ibu obati,” imbuh Arumi dan mengajak putri kesayangannya untuk duduk di ruang keluarga.


Setelah itu, Arumi mengambil kotak P3K untuk mengobati luka putri kesayangannya tersebut.


“Bunda, tangan Bunda kenapa berdarah?” tanya Akbar melihat tangan Bundanya mengeluarkan darah.


“Bunda tidak apa-apa, Akbar sayang. Tadi, Bunda tak sengaja terkena pecahan kaca. Akbar duduk disini saja temani Bunda!” pinta Asyila agar Akbar tidak kemana-mana.


Akbar dengan patuh duduk di samping Bundanya yang sedang di obati oleh Sang Nenek.


“Bunda, sakit tidak?” tanya Akbar penasaran.


“Tidak Akbar sayang, lagipula hanya tergores sedikit saja,” jawab Asyila yang tidak ingin membuat Akbar ketakutan dan juga sedih.


Arumi akhirnya selesai mengobati jari tangan Asyila yang terluka akibat pecahan gelas kaca.


“Sudah selesai, Ibu mau ke belakang dulu membersihkan pecahan kaca. Syila lain kali hati-hati ya Nak,” tutur Arumi yang sangat menyayangi putri tunggalnya kesayangannya.


“Iya, maaf karena telah merepotkan dan juga membuat Ibu khawatir,” balas Asyila.


“Ibu sama sekali tak merasa direpotkan. Hanya saja, Ibu tidak ingin hal ini kembali terjadi,” jelas Arumi dengan penuh keibuan.


Arumi kembali meletakkan kotak P3K ke tempatnya semula. Kemudian, ia melenggang menuju ruang makan untuk membersihkan pecahan-pecahan kaca tersebut.


Asyila menoleh ke arah Akbar yang terus memperhatikan jari tangannya.


“Akbar sayang, Bunda tidak apa-apa. Akbar jangan sedih ya!” pinta Asyila yang tidak ingin Akbar menjadi sedih.


Disaat yang bersamaan, Abraham dan Edi berusaha untuk menemukan pelaku penembakan terhadap Wibowo. Akan tetapi, mereka malah kehilangan jejak dan membuat keduanya begitu kesal.


“Aaakkhhh!” Teriak Edi dengan begitu kesal karena tak berhasil menangkap pelaku penembakan tersebut.

__ADS_1


“Kita sebaiknya harus waspada, pria itu sepertinya masih ada disekitar sini. Jika kita tak waspada, bisa jadi kita yang malah menjadi sasarannya,” tegas Abraham sembari menoleh ke arah sekitar.


“Pasar ini juga terlalu ramai, kalau kita bertindak gegabah, takutnya malah orang-orang pasar yang jadi korbannya,” pungkas Edi.


“Kau benar sekali, ayo kita berjalan ke arah sana. Siapa tahu, pria itu berlari ke arah sana,” ujar Abraham sembari menunjuk gang kecil di depan mereka.


Keduanya berlari menuju gang kecil tersebut.


Mereka terus berlari dan tiba-tiba muncul seorang pria yang sebelumnya tidak pernah dilihat oleh Edi maupun Abraham.


Pria itu muncul menghalangi ke-duanya dan perlahan mengeluarkan senjata api atau pistol ke arah Abraham serta Edi.


“Mau apa kamu?” tanya Edi dan mencoba untuk mengambil senjata api miliknya. Akan tetapi, senjata api atau pistol miliknya hilang.


“Kau mencari ini?” Seorang pria tiba-tiba muncul sembari memamerkan senjata api milik Edi.


“Kamu? Bukankah kamu tadi yang menabrak ku?” Edi akhirnya menyadari, bahwa pria tersebut sengaja menabrakkan dirinya untuk mengambil pistol tersebut.


“Jadi, ini adalah jebakan kalian?” tanya Abraham dengan tatapan dingin.


Seorang pria tiba-tiba muncul dan bertepuk tangan sekencang mungkin.


“Hahaha... Hahaha... Akhirnya, aku bisa berhadapan langsung dengan sosok pria yang paling ditakuti oleh para penjahat. Abraham Mahesa, bukan seorang polisi atau anggota lainnya. Akan tetapi, keberadaannya membuat para penjahat seperti kami ketar-ketir,” ungkapnya dengan kalung rantai titanium di lehernya.


Abraham mengangkat sebelah alisnya dan perlahan berjalan mendekat ke arah pria berkalung rantai.


“Waw, ternyata aku sangat terkenal dikalangan penjahat seperti kalian-kalian ini,” ujar ambil sambil menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah mereka secara bergantian.


Edi melihat sekelilingnya dan ternyata lebih dari 10 orang yang telah mengerumuni dirinya dan juga Abraham.


Edi menarik tubuh Abraham agar mendekat kepadanya.


“Tuan Abraham, kita memang sudah dijebak. Kalau begini, kita harus bagaimana? Lihatlah mereka, mereka semua memegang senjata api,” ucap Edi dengan berbisik.


Abraham melirik ke arah tangan mereka yang ternyata memang telah memegang senjata api.


Melihat ekspresi wajah Edi yang begitu ketakutan, mereka kompak menertawakan Edi yang cepat sekali ciut melihat mereka memegang senjata api.


“Abraham Mahesa, kamu tidak akan bisa kabur dari kami. Lihatlah, kalian berdua sudah dikepung dan tidak akan bisa kemana-mana lagi. Oleh karena itu, menyerah lah dan ikut bersama dengan kami. Biarkan kami bersenang-senang dengan kalian untuk sementara waktu, sampai ajal menjemput kalian secara perlahan... Hahaha... Hahaha...” Pria berkalung rantai tersebut, tertawa dengan sangat puas. Ia puas, karena akhirnya berhasil menjebak sosok Abraham Mahesa.


“Apa kau kira, kami bisa mati secepat itu? Lihatlah kalian, bisanya hanya bermain curang seperti ini. Apakah kalian terlalu takut dengan ku, sehingga harus melakukan hal menjijikan seperti ini?” tanya Abraham yang sama sekali tidak takut dengan mereka semua.


“Aaaakkhhh!” Teriaknya yang tak terima dengan apa yang dilakukan oleh Abraham padanya. “Kalian tunggu apalagi? Cepat buat mereka dua tak sadarkan diri dan bawa mereka ke markas!” perintahnya.


Dua orang menghampiri Abraham dan juga Edi. Kemudian, mereka memukul punggung keduanya dengan kayu. Setelah itu, membekap hidung Abraham serta Edi dengan kain yang sebelumnya telah mereka berikan obat bius agar kehilangan kesadaran.


“Hahaha... hahaha... Lihatlah mereka, mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan aku,” ucap pria berkalung rantai dengan begitu percaya diri.


Perumahan Absyil.


Asyila duduk melamun di sofa kamar tidurnya, ia merasa bahwa memang telah terjadi sesuatu hal buruk kepada suaminya.


“Apakah firasat aku ini adalah kebenaran? Kenapa aku merasa bahwa Mas Abraham sedang dalam kesulitan? Ya Allah, apakah Mas Abraham benar-benar dalam kesulitan disana?” tanya Asyila yang sangat panik ketika mendapatkan firasat buruk mengenai suaminya itu.


Asyila mencoba untuk mengendalikan pikirannya yang saat itu benar-benar kacau. Ia pun memutuskan untuk melakukan aktivitas apapun agar firasatnya tersebut segera menghilang.


“Ibu, apakah ada pakaian yang kotor?” tanya Asyila pada Ibunya yang saat itu tengah mengelap meja makan.


“Hhmm... Sepertinya tidak ada, memangnya kenapa?” tanya Arumi pada putri kesayangannya itu.


Asyila mencoba mengatur napasnya dan tersenyum manis ke arah Ibunya.


“Tidak ada apa-apa, Ibu. Oya, Akbar kemana? Asyila tidak melihatnya lagi,” tutur Asyila menanyakan keberadaan putra kecilnya.


Arumi tertawa kecil mendengar pertanyaan dari Asyila.


“Asyila ini ada-ada saja, bukankah Akbar tadi berpamitan dengan Syila mau bermain dengan Fauzi?” tanya Arumi dan geleng-geleng kepala.


“Astaghfirullahaladzim, Asyila benar-benar lupa,” balas Asyila dengan senyum bodohnya. “Ibu, kalau begitu Asyila mau ke depan dulu,” imbuh Asyila dan berlari kecil menuju ruang depan.


Asyila melangkahkan kakinya menuju teras depan dan melihat bahwa tanaman hias miliknya mulai kering. Ia pun memutuskan untuk menyirami tanaman hias yang dibeli Abraham untuknya.


“Assalamu'alaikum, Mbak Asyila!” seorang wanita yang tak lain adalah pelanggan Asyila datang untuk membeli beberapa pakai muslimah.


“Wa'alaikumsalam, apa kabar teteh Ina?” tanya Asyila dengan sangat ramah dan segera mematikan air kran.


“Alhamdulillah saya baik, Mbak Asyila apa kabarnya? Tambah cantik saja,” ujar Ina.


Asyila tersenyum manis dan memuji balik kecantikan Ina.


“Mbak Asyila, apakah sudah ada model terbaru?” tanya Ina.

__ADS_1


“Alhamdulillah, sudah ada. Hanya saja, saya belum sempat mempostingnya di sosial media,” jawab Asyila apa adanya.


“Kalau begitu, saya langsung masuk ya Mbak Asyila. Kalau ada yang cocok, saya akan borong untuk keluarga saya di kampung,” ujar Ina yang akan pulang kampung.


“Oh, silakan. Semoga Teteh Ina suka dengan pakaian muslimah di gerai muslimah saya ini,” sahut Asyila dengan senyum manisnya.


Wanita yang bernama Ina itupun bergegas masuk ke dalam gerai muslimah milik Asyila.


Asyila menghela napasnya dan kembali melanjutkan aktivitasnya menyirami tanaman hias yang mulai kering tersebut.


Setelah menyirami tanaman hias, Asyila kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mencoba menghubungi Sang suami tercinta.


Saat Asyila akan masuk ke dalam, Akbar datang dan dengan memanggil-manggil Bundanya.


“Bunda! Bunda!” panggil Akbar dengan penuh semangat sembari terus berlari mendekat ke arah Asyila.


Asyila berbalik dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


“Bunda!!!!” Akbar semakin bersemangat dan ikut merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


Merekapun berpelukan dengan begitu erat.


“Masya Allah, so sweet sekali,” puji Ina yang telah selesai berbelanja dengan membawa dua kantong plastik dengan isi yang penuh oleh pakai muslimah yang ia beli di gerai muslimah Asyila.


Akbar menoleh ke arah Ina dan melambaikan tangannya.


“Hallo, Teteh Ina,” sapa Akbar yang memanggilnya malah dengan sebutan Teteh Ina. Menyesuaikan dengan panggilan Bunda tercintanya itu.


“Ya ampun, aakkhh...” Ina terlihat sangat senang mendengar Akbar memanggilnya Teteh Ina.


Wanita itu berjalan mendekat dan berjongkok tepat dihadapan Akbar.


“Kamu ini menggemaskan sekali, mau jadi anaknya Teteh Ina?” tanya nya pada Akbar.


Akbar dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak mau. Akbar sudah menjadi anak kesayangan Bunda dan Ayah,” tegasnya yang berubah menjadi dingin.


“Haduh, sepertinya perkataan Teteh Ina salah deh. Ya sudah kalau, begitu,” sahut Ina.


Sebelum pergi, Ina meminta maaf kepada Akbar. Sementara Asyila, menganggap santai apa yang dikatakan oleh Ina kepada putra kecilnya itu.


Asyila mengucapkan terima kasih kepada Ina yang telah memborong pakaian muslimah.


Setelah itu, Akbar dan Asyila melenggang masuk ke dalam rumah.


“Bunda, Kak Dyah kenapa belum kesini?” tanya Akbar.


“Bunda juga tidak tahu, Akbar sayang. Mungkin sebentar lagi mereka akan kemari,” jawab Asyila dan melenggang menuju kamar.


“Bunda mau kemana? Temani Akbar nonton kartun!” pinta Akbar yang ingin sekali menonton kartun kesukaannya sembari ditemani oleh Bundanya.


“Iya sayang, Bunda akan menyusul. Bunda mau ke kamar dulu, mengambil ponsel,” terang Asyila pada Akbar.


“Jangan lama-lama ya Bunda!” pinta Akbar karena tak ingin menunggu lama.


“Iya sayang, setelah Bunda mengambil ponsel, Bunda langsung ke ruang keluarga menemani Akbar menonton kartun,” sahut Asyila dan bergegas menuju kamar.


Akbar tersenyum lebar dan berlari kecil menuju ruang keluarga.


Asyila masuk ke dalam kamar dan berusaha mencari ponselnya. Akan tetapi, ia tidak menemukan ponselnya tersebut.


“Ya ampun, sepertinya aku lupa menaruh ponsel ku itu. Dimana ya?” tanya Asyila sembari mengingat-ingat kapan terakhir ia memegang ponsel pintarnya itu.


Cukup lama Asyila mencoba mengingat-ingat ponselnya, sampai akhirnya Akbar masuk ke dalam kamar dengan menbawa ponsel di tangan kecilnya.


“Bunda, ponsel Bunda ada di atas meja ruang keluarga,” ujarnya sembari menyerahkan ponsel tersebut kepada Bundanya tersayang.


“Masya Allah, terima kasih ya sayang. Ya sudah, ayo kita ke ruang keluarga. Sepertinya, kartun kesukaan Akbar telah mulai,” ujar Asyila sembari menggandeng tangan Akbar menuju ruang keluarga.


Merekapun tiba di ruang keluarga dan saat itu juga Akbar mencari channel TV acara kartun.


“Bunda, Ayah kapan ya pulang? Akbar kangen,” ucapnya yang merindukan sosok Ayahnya di rumah.


Meskipun perkataan Akbar yang suka kebablasan, tetap saja ia menyayangi Ayahnya. Dibandingkan saudara yang lain, Akbar paling susah untuk mengungkapkan rasa sayangnya kepada Ayahnya tercinta.


“Sabar ya sayang, mungkin beberapa hari lagi Ayah akan pulang,” balas Asyila mencoba menyakinkan Akbar.


“Bunda, bilang sama Ayah ya, Akbar mau durian,” tutur Akbar yang memang penyuka raja buah alias durian.


“Iya sayang, nanti Bunda akan memberitahukan bahwa Akbar mau makan durian. Begitu?”


“Iya Bunda, begitu!” seru Akbar dan memfokuskan perhatiannya kepada acara kartun yang tengah tayang.

__ADS_1


__ADS_2