
Arumi tersenyum bahagia dan memberi isyarat kepada yang lainnya untuk segera keluar kamar. Arumi ingin memberikan waktu bagi keduanya untuk saling mengungkapkan perasaan bahagia mereka.
“Mas, Asyila hamil,” ucap Asyila sembari menyentuh perutnya.
“Iya, istriku. Terima kasih banyak, maaf karena hal ini Syila sering merasa kelelahan dan juga kurang enak badan,” ucap Abraham.
“Mas jangan berkata seperti itu, bagaimanapun ini adalah hal yang wajar bagi wanita yang akan menjadi Ibu. Asyila sama sekali tidak merasa keberatan, justru Asyila senang karena Allah lagi-lagi memberikan Asyila kepercayaan untuk kembali memiliki bayi mungil,” terang Asyila.
Abraham menyentuh perut sang istri dan mengelusnya dengan penuh hati-hati.
Selang beberapa menit, Arumi dan lainnya kembali masuk ke dalam kamar. Mereka terkejut mendapati Asyila yang sudah tertidur nyenyak.
“Cepat sekali putri kita tidur,” tutur Arumi lirih.
“Bunda tidak pingsan 'kan, Ayah?” tanya Arsyad memastikan bahwa Bundanya tidak pingsan untuk yang kedua kalinya.
Abraham tertawa kecil dan mengacak-acak rambut Arsyad.
“Tidak sayang, Bunda sekarang lagi tidur,” jawab Abraham lirih.
Abraham kemudian, meminta yang lainnya untuk keluar dan membiarkan istri kecilnya berisitirahat di dalam kamar yang biasa digunakan oleh kedua buah hatinya.
Di ruang tamu.
Dokter Bayu dan Dokter Erlin tengah menikmati teh buatan Arumi. Keduanya memilih untuk bersantai sejenak dan akan kembali ke rumah sakit ketika teh mereka sudah habis.
Abraham mengucapkan terima kasih dan mentransfer uang ke rekening ke masing-masing dokter tersebut.
“Tuan Abraham, apa ini tidak kebanyakan?” tanya Erlin ketika melihat nominal uang yang ditransfer oleh Abraham ke rekeningnya.
Dokter Bayu pun terkejut dan mencoba mengirim kembali uang yang baru saja ditransfer oleh Abraham. Akan tetapi, Abraham menolaknya dan mengatakan bahwa itu ada rezeki untuk kedua dokter tersebut.
Dokter Bayu dan Dokter Erlin akhirnya menerima uang tersebut. Mereka mengucapkan terima kasih atas kebaikan Abraham kepada mereka.
Beberapa saat kemudian.
Kedua pun bergegas kembali ke rumah sakit untuk melaksanakan kewajiban mereka sebagai dokter.
“Tuan Abraham, kalau ada apa-apa langsung hubungi kami atau pihak rumah sakit. Insya Allah kami akan segera datang,” tutur Dokter Bayu.
“Baik, terima kasih,” balas Abraham.
__ADS_1
“Tuan Abraham, tolong ingat perkataan saja tadi. Saya harap Nona Asyila jangan banyak berpikir dan harus menjaga pola makannya. Satu lagi, untuk memastikan lebih lanjut tentang kondisi si Ibu dan calon bayi, saya harap Nona Asyila datang ke rumah sakit,” tutur Dokter Erlin yang mengharapkan agar Asyila bergegas datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut mengenai kondisi buah hati yang tengah dikandung oleh Asyila.
Usai mengatakan hal itu, kedua dokter itu bergegas kembali ke rumah sakit.
Setelah keduanya benar-benar pergi, Arsyad dan Ashraf langsung menghampiri Ayah mereka dengan tatapan bahagia. Mereka tak sabar ingin melihat adik mereka yang tengah dikandung oleh Asyila.
“Ayah, kapan kami melihat adik lucu?” tanya Arsyad yang terlihat tak sabaran.
“Iya Ayah!” seru Ashraf yang tak kalah sabaran dari Kakaknya, Arsyad.
Arumi dan Herwan terkekeh geli melihat wajah cucu-cucunya yang begitu tak sabaran ingin melihat adik baru mereka.
“Sabar ya sayang, semua butuh proses. Kalau sudah waktunya, kalian bisa melihat adik kalian sepuasnya. Kalian mau adik laki-laki atau adik perempuan?” tanya Abraham penasaran.
“Perempuan!”
“Laki-laki!”
Arsyad dan Ashraf dengan semangat menyebutkan jenis kelamin yang mereka inginkan. Akan tetapi, Abraham tiba-tiba bingung ketika tahu bahwa keinginan kedua putra kecilnya berbeda.
“Maaf, seperti pertanyaan Ayah tadi salah,” ucap Abraham sambil menggaruk-garuk kepalanya karena kebingungan harus berkata apa kepada mereka berdua.
Arsyad dan Ashraf kini malah berdebat. Mereka terlihat sangat yakin bahwa jenis kelamin yang mereka sebutkan beberapa menit yang lalu sangat tepat. Keduanya sama-sama tak mau mengalah dan akhirnya Arumi yang turun tangan untuk melerai perdebatan mereka berdua.
Benar saja, ajakan Arumi langsung membuat keduanya berhenti berdebat. Sementara itu, Rahma mengambil cangkir gelas di atas meja dan bergegas untuk mencucinya.
Rahma menggigit bibirnya sendiri dan membayangkan bagaimana jika ia kembali hamil. Akan tetapi, ia sadar bahwa hal itu tidak mungkin dalam waktu dekat dan kemungkinan ia trauma dengan namanya pernikahan.
“Aku dan Mas Wahyu sudah resmi berpisah, apa mungkin aku bisa kembali menjalin hubungan rumah tangga kedepannya? Rasanya tidak mungkin, aku sangat takut jika nanti aku salah pilih dan malah membuatku makin menderita,” ucap Rahma bermonolog dan dengan hati-hati mencuci gelas serta piring kotor lainnya.
Arumi datang bersama dengan kedua cucunya, mereka bertiga baru saja mengambil buah-buahan di meja depan rumah yang sebelumnya ditaruh oleh Arumi ketika baru saja di depan rumah.
“Nak Rahma, kenapa repot-repot mencuci? Seharusnya ini pekerjaan Ibu dan bukan kamu,” ucap Arumi.
Rahma menoleh sambil memberikan senyum manisnya.
“Ibu jangan terlalu memanjakan saya, lagipula hal seperti ini tidak merepotkan. Justru yang merepotkan adalah membawa saya kemari,” jelas Rahma apa adanya.
“Stop, lain kali tidak boleh bicara seperti itu. Kami disini ikhlas menolong kamu dan membawa kamu kesini, sama sekali tidak ada maksud lain,” terang Arumi sambil menyentuh bahu Rahma.
“Iya, Ibu Arumi. Saya pun tahu itu,” balas Rahma dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang tengah mencuci piring serta peralatan kotor lainnya.
__ADS_1
Setelah Rahma selesai dengan pekerjaannya, barulah Arumi mencuci buah-buahan yang ia beli ketika perjalanan pulang. Arsyad dan Ashraf pun membantu Neneknya mencuci buah-buahan tersebut.
“Adik, kok kamu makan?” tanya Arsyad ketika melihat adiknya sibuk mengunyah apel hijau.
“Sudah jangan ribut, kalau Arsyad mau makan juga boleh!” seru Arumi.
“Tapi, ini 'kan, untuk Bunda dan adik baru,” balas Arsyad.
Arumi mencubit gemas kedua pipi Arsyad, “Adik baru belum bisa makan buah-buahan ini sayang, tapi Bunda bisa. Kalau Arsyad mau makan buah-buahan juga tidak apa-apa,” terang Arumi.
Sore hari.
Asyila dan Abraham tengah menghabiskan waktu sore mereka di kebun anggur milik Almarhumah Nenek Erna tercinta. Ada beberapa tanaman anggur yang mati kering dan membuat Abraham sedih, untungnya Abraham memiliki kenalan dengan orang yang ahli dalam urusan tanaman anggur tersebut. Sehingga tidak susah-susah mencari orang yang bisa menanam dan memperbaikinya.
“Syukurlah, tanaman anggur Nenek Erna akhirnya terselamatkan,” ucap Abraham bernapas lega.
“Iya, Mas. Alhamdulillah,” balas Asyila.
Abraham tersenyum puas dan terus menyentuh perut rata istri kecilnya.
“Besok siang, Mas ingin kita ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi calon buah hati kita. Dan Mas ingin Syila makan yang teratur,” tutur Abraham.
Mendengar kata makan, Asyila tiba-tiba ingin makan pie susu.
“Mas, sepertinya pie susu sore-sore begini enak deh. Tapi, cari dimana ya Mas?” tanya Asyila sambil menyentuh perutnya.
Abraham tanpa pikir panjang langsung menghubungi Pak Udin dan meminta Pak Udin untuk mencari pie susu secepat mungkin.
“Baik, Pak Udin. Terima kasih, assalamu'alaikum.”
Pria itu bernapas lega, ia tinggal menunggu kedatangan Pak Udin dengan membawa pie susu keinginan sang istri.
“Terima kasih, Mas,” ucap Asyila dan mencium pipi suaminya dengan penuh kebahagiaan.
“Sehat-sehat ya sayang, Ayah akan berusaha menuruti keinginan kamu. Yang terpenting, kamu jangan nakal di dalam perut Bunda,” tutur Abraham berbicara pada buah hatinya yang masih di dalam kandungan sang istri.
“Mas ini ada-ada saja, calon bayi kita belum bisa mendengarkan apa yang Mas katakan,” ucap Asyila sambil memasang wajah kebingungan.
Abraham terkekeh geli dan malah menciumi pipi sang istri berulang kali.
“Mas, sudah hentikan! Bagaimana jika ada yang melihat kita seperti ini?” tanya Asyila malu-malu.
__ADS_1
“Siapa yang mau melihat kita?” tanya Abraham dan kembali menciumi pipi sang istri.