Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Tak Semudah Yang Dibayangkan


__ADS_3

Sudah lebih dari 3 hari sejak kejadian kecelakaan tunggal yang menimpa Dyah dan juga Fahmi. Dan sudah lebih dari 3 hari keduanya tak bertemu, bukan karena Fahmi tidak bisa mengantar. Melainkan, Dyah yang tidak ingin menemui Fahmi yang tak lain adalah calon suami Dyah.


Tentu saja Dyah tidak tahu apapun soal lamaran dari Fahmi, hanya keluarganya yang tahu kecuali, dirinya. Entah apa yang dipikirkan oleh keluarga hingga harus main rahasia-rahasia'an.


“Hufft... Hari ini lelah sekali, kenapa makin hari pekerjaanku makin banyak? Padahal sudah 2 hari ini aku selalu lembur agar pekerjaanku cepat selesai,” keluh dari yang baru saja merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Malam itu waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, Dyah baru saja kembali dari kantornya karena pekerjaan yang terus saja menumpuk. Niat hati lembur agar pekerjaan semakin berkurangnya, malah pekerjaan semakin bertambah.


“Dyah, buka pintunya sayang. Ada yang mau Mama bicarakan.”


“Masuk saja Mas,” balas Dyah yang masih merebahkan tubuhnya di tempat tidur dengan sangat letih.


Yeni pun masuk dan segera duduk di kasur empuk putri tunggalnya.


“Kenapa 2 hari ini kamu selalu lembur? Memangnya tidak bisa apa pekerjaan dibawa pulang ke rumah? Barangkali Mama bisa bantu mengerjakannya.”


Dyah melepaskan hijabnya dan melemparnya ke kursi dekat meja belajarnya. Ia terduduk sembari memanyunkan bibirnya.


“Tolong jangan bahas masalah kenapa Dyah lembur ya Ma! Lagipula Dyah tidak sendiri, ada Melati dan Aisyah yang juga ikut lembur.”


“Mulai besok Nak Fahmi akan kembali menjemput Dyah, pokoknya Dyah tidak boleh menolak jika Nak Fahmi mengantar jemput Dyah,” tegas Yeni agar Dyah tak bisa menolak Fahmi.


Dyah sangat ingin menjauh dari bayang-bayang Fahmi, rasanya aneh jika berdekatan dengan pria seperti Fahmi. Bukan apa-apa, Dyah takut ia semakin sedih ketika tanpa sengaja melihat wanita yang bernama Kikan. Entahlah, hal seperti itu yang selalu dipikirkan oleh Dyah.


“Kamu dengar tidak yang Mama katakan? Mama dan Papa tidak punya waktu kalau harus mengantarkan kamu bekerja, karena arah tempat kita bekerja berlawanan.


Dyah menatap heran kearah Mamanya, jika dipikir-pikir Mamanya itu mendadak jadi Ibu yang cerewet. Tidak seperti biasanya, yang banyak diam dan hanya bicara seperlunya saja.


“Seharusnya dari dulu Mama melakukan ini, kenapa sekarang malah tiba-tiba memperkejakan tukang ojek dan pria itu lagi yang menjadi tukang ojek Dyah,” ucap Dyah dan melenggang pergi masuk ke dalam kamar mandi dengan kesal.


Yeni berpikir bahwa perkataannya sedikit memaksa putri tunggalnya. Ternyata, mendekatkan Dyah dengan calon menantunya tidak semua yang ia kira dan ia bayangkan.


Dyah memiliki watak yang sedikit keras kepala dan akan melakukan apapun sesuai dengan kemauannya, sehingga Dyah mulai kesal ketika Yeni memaksa Dyah untuk diantar jemput oleh Muhammad Fahmi.


Di dalam kamar mandi, Dyah sengaja berlama-lama memastikan bahwa Mamanya segera keluar dari kamar.


Dyah bukan gadis yang bisa langsung menerima apa yang ada dihadapannya, itu sebabnya tak mudah bagi dirinya untuk bisa dekat dengan Fahmi. Apalagi, Dyah perlahan mulai sadar bahwa ia memiliki perasaan spesial untuk Fahmi. Ditambah, Fahmi telah melindungi ketika insiden kecelakaan tunggal itu terjadi.


Keesokan paginya.


Dyah keluar dari kamar dan berkumpul bersama kedua orangtuanya di meja makan. Seperti biasa, sebelum berangkat kerja mereka akan sarapan bersama dan sedikit bercerita.


“Ma, maafkan Dyah soal semalam,” ucap Dyah meminta maaf. Dyah memang begitu, ia akan langsung meminta maaf ketika menyadari bahwa ia bersalah.


“Sudah tidak apa-apa, sebentar lagi nak Fahmi tiba,” balas Yeni sambil menggenggam tangan Dyah.


Dyah tersenyum dan mengangguk setuju. Ia tidak mungkin kembali kesal karena masalah Fahmi yang menjadi tukang ojeknya.


Sarapan pun berlangsung dengan sangat baik. Kemudian, Dyah segera menyelesaikan sarapan dan sebelum pergi, ia mencuci alat makan yang baru saja dia gunakan terlebih dulu.


“Papa, Mama! Dyah berangkat, assalamu'alaikum!”


“Wa’alaikumsalam,” jawab keduanya.


Dyah berlari kecil keluar rumah dan ternyata sudah ada Fahmi yang siap mengantarnya bekerja.


Deg!

__ADS_1


Dyah tiba-tiba gugup ketika mata mereka saling bertatapan, dengan cepat Dyah naik ke motor untuk segera berangkat.


“Ini pakailah!” Fahmi dengan sangat ramah memberikan helm agar dipakai oleh Dyah untuk melindunginya kepalanya.


Dyah tersenyum kecut dan mengambil helm yang berada ditangan Fahmi.


“Bismillahirrahmanirrahim,” ucap Fahmi dan mulai meninggalkan kediaman Dyah.


Tak ada pembicaraan dari keduanya selama perjalanan menuju kantor. Fahmi pun tidak bertanya arah karena ia sudah tahu dimana kantor tempat Dyah bekerja.


“Kenapa pesan-pesan ku tidak dibalas?” tanya Fahmi.


Dyah dibelakang tidak terlalu mendengarkan apa yang dikatakan oleh Fahmi. Dikarenakan, saat itu Dyah tengah sibuk mengatur kegugupannya yang cukup besar.


“Dyah!” panggil Fahmi.


Dyah tersadar dan mengiyakan panggilan dari Fahmi.


“Kenapa pesan-pesan ku tidak kamu balas?” tanya Fahmi.


Dyah merasa ada yang janggal dengan cara Fahmi memanggil dirinya. Yups, benar. Ternyata Fahmi sudah tidak memanggil dengan sebutan Mbak Dyah dan hanya Dyah saja.


Hal itu membuat Dyah semakin tak nyaman karena cara Fahmi yang berbicara padanya seperti orang yang sudah akrab.


Kini Dyah semakin bingung, ia tidak mungkin memanggil Fahmi dengan sebutan pria sapu tangan. Apalagi, jika orang lain yang mendengarnya. Mereka akan mengira bahwa panggil Dyah kepada Fahmi adalah panggilan kesayangan.


Fahmi yang sedang memboncengi Dyah mendadak bingung, ia sangat bingung karena Dyah diam saja dan tak membalas ucapannya. Fahmi merasa bahwa Dyah begitu sulit untuk didekati, rasanya aneh jika mengatakan secara langsung bahwa dirinya telah melamar Dyah.


Fahmi bukanlah pria yang pandai berkata-kata, sehingga ia bingung harus bagaimana lagi agar Dyah bisa merespon apa yang dia katakan. Lebih lagi, jika Dyah mau menjawab pertanyaannya yang tidak membalas pesan-pesan darinya.


“Minggir!” Dyah mendadak meminta Fahmi untuk minggir alias menepi.


“Mau kemana?” tanya Fahmi yang mengira Dyah ingin mencari kendaraan lain menuju kantor.


Dyah menunjuk kearah warung yang menjual nasi uduk. Fahmi pun mengangguk dan bernapas lega karena ternyata Dyah tak memiliki niat untuk kabur darinya.


Sikap Dyah sangatlah dingin, berbanding terbalik ketika saat mereka bertemu di depan gerbang rumah Abraham.


“Ayo jalan!” perintah Dyah datar.


Meskipun wajah Dyah datar begitu, sebenarnya Dyah berusaha untuk terlihat cuek. Dyah sebenarnya dan sangat ingin bertanya tentang bordiran nama Kikan. Akan tetapi, ia takut menerima kenyataan bahwa wanita yang bernama Kikan adalah orang spesial.


Sesampainya di kantor, Dyah langsung turun dan memberikan helm tersebut kepada Fahmi. Dyah pun mengatakan bahwa ia akan pulang malam dan Fahmi tak perlu menjemputnya.


Tentu saja Fahmi langsung menolak apa yang dikatakan oleh Dyah untuk tidak menjemputnya.


“Malam ini pulang jam berapa? Sekarang kamu adalah tanggung jawabku,” ucap Fahmi dengan tatapan serius.


Glek!


Dyah menelan salivanya dengan susah payah ketika melihat ekspresi serius Fahmi. Tiba-tiba Dyah berpikir bahwa Fahmi adalah pria yang cukup tampan.


“Cie... pagi-pagi begini sudah diantar sama.... hhhm... Sama siapa ya?” Melati dengan genitnya mendekati Fahmi.


Dyah dengan cepat menarik tubuh Melati agar segera menjauh dari Fahmi.


“Kamu pagi-pagi begini sudah genit saja, sana masuk!” usir Dyah yang tiba-tiba posesif.

__ADS_1


Melati melangkah kesal dan mengatakan bahwa Dyah adalah harimau Sumatera. Dyah masa bodo' dengan apa yang dikatakan oleh Melati.


Fahmi tertawa kecil mendengar Melati mengatakan bahwa Dyah adalah harimau Sumatera.


“Kenapa tertawa? Ada yang lucu?” tanya Dyah jutek.


“Iya, kamu yang lucu.” Fahmi mengatakannya begitu saja dan langsung membuat kedua pipi Dyah merah merona.


Karena sangat malu, Dyah berlari masuk ke dalam kantornya. Meninggalkan Fahmi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih ataupun salam.


Mau tak mau akhirnya Fahmi pergi dengan perasaan sedih. Ia sebenarnya ingin melihat Dyah tersenyum padanya atau mendengarkan Dyah mengucapkan kata “hati-hati di jalan.” Ah sudahlah, Fahmi pergi dan berharap ia bisa mengetuk hati Dyah dan membiarkan ia masuk ke dalam hidup Dyah.


Di dalam kantor, Dyah memukul-mukul kepalanya sendiri. Tidak seharusnya ia pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun. Ia sungguh merasa seperti orang yang kaku karena pergi begitu saja.


“Kenapa aku seperti orang bodoh setiap berada didekatnya. Dyah? Pria itu memanggilku Dyah dan bukannya Mbak Dyah. Hhhm... Lalu, aku harus memanggilnya apa?” tanya Dyah bermonolog.


Melati kembali mendekati Dyah dan memberikan beberapa berkas yang harus segera diselesaikan.


Dyah hanya mengangguk kecil dan tak ingin mempermasalahkan ucapan Melati yang menyebutnya sebagai harimau Sumatera.


“Tadi itu siapa?” tanya Melati yang terlihat sangat penasaran.


“Kenapa memangnya?” tanya Dyah balik.


“Ya tidak apa-apa, kalau bukan siapa-siapa kamu. Bolehlah kenalkan padaku, kamu tahu sendiri kalau aku suka pria macam tadi,” ucap Melati.


“Pekerjaanku masih banyak, sebaiknya aku harus segera menyelesaikannya,” ucap Dyah mengabaikan Melati.


Melati menghela napasnya dan kembali ke kursinya.


****


Malam hari.


Dyah menoleh ke arah jam tangan miliknya yang ternyata sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ia akhirnya bisa bernapas lega karena pekerjaan telah selesai dan ia tidak perlu lagi pulang malam.


“Aku pulang dulu ya,” ucap Dyah pada beberapa orang yang juga sibuk dengan pekerjaan mereka.


“Iya, hati-hati!”


Dyah mengiyakan dan segera keluar. Lagi-lagi ia terkejut sekaligus gugup melihat Fahmi yang malam itu terlihat begitu keren.


Fahmi sedang berdiri bersandar di motornya jenis naked dengan menggunakan jaket kulit berwarna hitam serta celana yang senada dengan warna jaketnya.


Apakah pria di depanku ini benar-benar si pria sapu tangan?


Bag-bagaimana bisa dia berubah jadi keren seperti ini?


Fahmi berjalan mendekat menghampiri Dyah, “Kenapa diam saja?” tanya Fahmi menyadarkan Dyah.


Dyah menjadi salah tingkah, dengan gugup ia berjalan menuju motor.


“Akkkhh!” Dyah tak sengaja tersandung batu dan hampir saja terjatuh. Untungnya, Fahmi dengan sigap menahan tubuh Dyah.


“Maaf,” ucap Fahmi dan segera melepaskan Dyah.


Dengan mengucapkan terima kasih dan berpura-pura jutek. Ia tidak ingin terlihat seperti anak manja didepan Fahmi.

__ADS_1


Cukup sekali itu saja Fahmi melihatnya menangis dan jatuh karena kecerobohannya yang tak sengaja menginjak gamisnya sendiri. Sungguh kejadian yang sangat memalukan bagi Dyah.


__ADS_2