Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Kondisi Kesehatan Asyila Mulai Membaik


__ADS_3

Malam hari.


Tubuh Asyila tiba-tiba mengeluarkan keringat yang cukup banyak. Melihat keringat yang terus bercucuran, Abraham pun memutuskan untuk memanggil dokter kenalannya agar segera datang ke Perumahan Absyil memeriksakan kondisi istri kecilnya.


“Baiklah, saya akan menunggu,” balas Abraham dan mengakhiri panggilan teleponnya.


Asyila perlahan membuka matanya dan meminta suaminya untuk segera memeluk tubuhnya karena Asyila merasa cuaca malam itu begitu dingin.


“Mas, tolong peluk Asyila. Asyila kedinginan, apakah diluar akan turun hujan?” tanya Asyila dengan bibir gemetaran alias menggigil.


Abraham seketika itu melepaskan pakaiannya dan juga melepaskan pakaian istri kecilnya agar kulit mereka saling bersentuhan satu sama lain. Kemudian, menutup seluruh tubuh mereka dengan selimut agar rasa dingin ditubuh Asyila segera berkurang.


1 jam kemudian.


Seorang dokter wanita datang dan mencoba mengetuk pintu rumah agar segera dibuka.


“Selamat malam!” sapa dokter tersebut.


“Iya, mencari siapa ya?” tanya Arumi yang kebetulan malam itu belum tidur.


“Kedatangan saya kemari atas permintaan Tuan Abraham. Tuan Abraham mengatakan kalau istrinya tengah sakit,” terang Dokter tersebut.


Mata Arumi terbelalak lebar mendengar keterangan dari wanita dihadapannya. Tanpa pikir panjang, Arumi mempersilakan wanita itu untuk masuk dan menuntunnya menuju kamar.


“Nak Abraham! Asyila sayang!” panggil Arumi dengan sangat panik.


Abraham yang mendengar panggilan Ibu mertuanya, bergegas turun dari tempat tidur dan secepat kilat mengenakan pakaiannya. Abraham bahkan tak menyadari bila pakaiannya terbalik.


“Iya, Ibu,” sahut Abraham sembari membukakan pintu.


“Ini ada dokter,” ucap Arumi yang malah fokus ke arah pakaian Abraham. “Nak, itu pakaiannya terbalik,” sambung Arumi menunjuk ke arah pakaian yang dikenakan menantu kesayangannya.


Abraham menoleh ke arah pakaiannya dan saat itu juga ia masuk ke dalam kamar mandi untuk memperbaiki pakaiannya tersebut.


Arumi mempersilakan dokter wanita itu untuk masuk dan memeriksa kondisi putri kesayangannya yang tengah sakit.


Abraham telah selesai memperbaiki pakaiannya dan bergegas keluar dari kamar mandi.


“Tuan Abraham dan Ibu bisakah tinggalkan saya bersama dengan Nona Asyila? Saya akan memeriksakan kondisi Nona Asyila,” terangnya.


Abraham dan Arumi pun melenggang pergi meninggalkan kamar sesuai permintaan dari dokter wanita itu.


“Nak Abraham, Asyila memangnya kenapa? Kenapa di jam segini memanggil dokter untuk datang ke rumah?” tanya Arumi penasaran dan juga mengkhawatirkan kondisi putri kesayangannya.


“Begini, Ibu... Asyila tiba-tiba mengeluarkan keringat dan tubuh Asyila menggigil,” jawab Abraham dan terus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu mertuanya.


Mendengar penjelasan dari menantunya, Arumi hanya bisa berdo'a memohon pertolongan dari Allah untuk kesembuhan Asyila.


Setelah memeriksa kondisi Asyila dan memberikan suntikan, dokter itu keluar dan mengatakan kepada Abraham bahwa Asyila sebentar lagi akan membaik.


Abraham menghela napasnya dan berharap bahwa perkataan dari dokter dihadapannya memanglah benar.


“Kebetulan saya membawa obat yang memang cocok dengan kondisi Nona Asyila. Sebaiknya, Nona Asyila lebih diperhatikan lagi dalam mengonsumsi obat tepat waktu,” terangnya.


Abraham mengucapkan terima kasih dan mentransfer uang ke rekening dokter tersebut saat itu juga.


“Baiklah, karena sudah jam segini. Saya pamit pulang, selamat malam,” ucapnya.


“Selamat malam,” balas Abraham dan juga Arumi.


Abraham kembali masuk ke dalam kamar untuk melihat kondisi istri kecilnya.


“Bagaimana kondisi Asyila sekarang?” tanya Abraham sambil duduk di pinggir ranjang dengan tangan yang menyentuh dahi istri kecilnya.


“Asyila jauh lebih baik dari sebelumnya, Mas. Mas Abraham dan Ibu sekarang tidak perlu khawatir,” ungkap Asyila yang saat itu berpakaian cukup terbuka karena sebelumnya Abraham membuka pakaiannya untuk menghangatkan tubuhnya.


“Syukurlah, kalau begitu. Ibu sudah ketakutan tadi, takut kalau kamu kenapa-kenapa. Ya sudah, Ibu keluar ya. Nak Abraham, tolong bantu Asyila mengganti pakaiannya,” ucap Arumi dan saat itu juga melenggang pergi.


“Mas, Asyila malu sama Ibu,” tutur Asyila melihat pakaiannya yang ia kenakan saat itu.


“Sudah tidak apa-apa, bukankah saat bayi Asyila juga tidak berpakaian?” tanya Abraham.


“Mas kok bicara seperti itu?” tanya Asyila yang terlihat mulai membaik karena sudah bisa bersenda gurau dengan suaminya.


“Iya, Mas hanya bercanda. Sekarang, Mas bantu Asyila ganti baju habis itu kita tidur agar besok tubuh Asyila bisa lebih membaik,” tutur Abraham.


Keesokan paginya.


Asyila tersenyum lebar ketika merasakan tubuhnya yang jauh lebih baik daripada semalam. Asyila bahkan sudah bisa berjalan sendiri tanpa harus dibantu oleh suaminya.


“Mas, lihat Asyila sudah bisa berjalan sendiri dan Asyila merasa kalau tubuh Asyila sudah tidak sakit lagi. Rasanya lebih enteng untuk berjalan kesana-kemari,” terang Abraham memperlihatkan bagaimana ia berjalan dengan penuh semangat.


Abraham saat itu juga mengucapkan syukur atas kesembuhan istri kecilnya.


“Lihatlah, Mas. Asyila benar-benar telah sembuh,” ungkap Asyila.

__ADS_1


Abraham meneteskan air mata terharu dan segera mendekap erat tubuh istri kecilnya.


“Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah,” ucap Abraham yang tak henti-hentinya mengucap syukur.


“Sekarang, Asyila bisa berjalan sendiri tanpa harus dibantu oleh Mas Abraham!” seru Asyila dengan tersenyum manis semanis mungkin.


“Karena Syila benar-benar sudah membaik, ayo kita beritahu yang lain. Ayah, Ibu, Dyah, Ashraf serta yang lain pasti sangat senang mengetahui Asyila yang sudah membaik!”


Asyila mengiyakan dan keduanya pun keluar dari kamar dengan bergandengan tangan dengan sangat erat.


“Ibu, Asyila sudah sembuh,” ucap Asyila ketika melihat Ibunya yang sedang sibuk di dapur bersama Mbok Num untuk membuat sarapan.


Arumi memperhatikan Asyila dari atas sampai bawah dan akhirnya ia percaya bahwa putri kesayangannya telah sembuh.


“Alhamdulillah, Ibu sangat senang Asyila sayang. Masya Allah, akhirnya Ibu bisa melihat kamu sembuh,” balas Arumi.


“Meskipun Asyila belum sepenuhnya sembuh, akan tetapi Asyila sudah merasakan efeknya Ibu. Ashraf pasti senang karena Asyila bisa menemaninya berolahraga seperti keinginan Ashraf,” terang Asyila yang begitu bersemangat.


Mbok Num sangat senang karena akhirnya Asyila sudah membaik. Mbok tentu saja sedih kalau orang sebaik Asyila sakit terlalu lama.


“Ayah dan Ashraf mana, Ibu? Sepertinya tidak ada di ruang keluarga, begitu juga Dyah dan bayinya,” tutur Asyila menanyakan anggota keluarga yang lain.


“Dyah kebetulan sebelum subuh tadi pamit pulang, kalau Ayahmu dan juga Ashraf sedang lari-lari pagi disekitar perumahan. Mungkin ada 10 menitan mereka keluar,” terang Arumi.


Asyila tersenyum dan memutuskan untuk mengganti pakaiannya dengan yang lebih tertutup dan juga memutuskan untuk mengenakan hijabnya untuk ikut berkeliling Perumahan bersama dengan Ayah serta Putra kecilnya.


“Mas ikut juga ya, sekalian menemani Asyila,” tutur Abraham yang tentu saja ingin menjaga istri kecilnya. Meskipun, kondisi istri kecilnya mulai membaik.


“Boleh, kalau ada Mas yang menemani Asyila, tentu saja Asyila semakin bersemangat,” balas Asyila.


Asyila telah selesai mengganti pakaiannya dan juga telah selesai mengenakan hijabnya. Kemudian, ia menyusui bayi Akbar terlebih dahulu agak tidak rewel jika ditinggal nanti.


“Minum yang banyak ya sayang, Ayah dan juga Bunda sebentar lagi mau keluar. Menemani kakek Herwan dan Kak Ashraf olahraga,” ucap Asyila pada bayi Akbar.


Sekitar 5 menit, Asyila akhirnya menyudahi menyusui Akbar dan ia pun pergi bersama dengan suaminya.


“Bunda!” Ashraf yang melihat Bundanya dari kejauhan, langsung berlari mendekat.


“Jangan berlarian Ashraf sayang!” pinta Asyila setengah berteriak agar terdengar oleh Ashraf.


“Bunda sudah sembuh?” tanya Ashraf yang sudah berada tepat dihadapan Bundanya, Asyila.


“Alhamdulillah Bunda sudah sembuh. Ayo Bunda temani Ashraf olahraga,” tutur Asyila dengan penuh semangat.


Ashraf terlihat sangat senang karena Bundanya sudah bisa menemaninya olahraga.


“Jalan kaki saja, Bunda. Ashraf sudah capek lari-lari sama Kakek,” terang Ashraf sembari menunjuk ke arah Kakeknya yang perlahan mendekat.


“Asyila, kenapa sudah keluar dari rumah? Asyila seharusnya banyak istirahat biar cepat sembuh,” ucap Herwan ketika melihat putri kesayangannya telah berjalan-jalan.


“Ayah, Asyila sudah membaik dan sudah bisa dikatakan sembuh. Lihatlah, Asyila tidak perlu lagi dibantu oleh Mas Abraham!”


“Benarkah? Syukurlah kalau begitu, Ayah sangat senang.”


Mereka berempat akhirnya berkeliling Perumahan Absyil dengan berjalan kaki.


Beberapa saat kemudian.


Arumi dan Mbok telah selesai memasak sarapan. Kini, Arumi dan Bela tengah menunggu Asyila serta yang lain di ruang tamu.


“Bela sayang, Bela sudah bisa membaca?” tanya Arumi pada Bela.


“Alhamdulillah, sudah Nek. Bela juga sekarang sudah bisa menghitung,” jawab Bela.


“Benarkah? Masya Allah, Nenek senang mendengarnya. Nenek yakin, suatu hari nanti kedua orang tua Bela akan menyesali perbuatan mereka. Kalau boleh tahu, Bela rindu tidak dengan orang tua Bela?” tanya Arumi penasaran.


Tanpa pikir panjang, Bela menggelengkan kepalanya.


“Bela yakin tidak rindu dengan orang tua Bela?” tanya Arumi memastikan sekali lagi.


“Tidak, Nek. Bela masih takut kalau dipukul lagi oleh Bapak dan juga Ibu,” terangnya yang memang sangat trauma dengan kejadian terakhir dimana dirinya dimarahi serta dipukuli oleh kedua orangtuanya.


Arumi tak bisa berkata-kata lagi, bagaimanapun itu adalah luka bagi Bela. Arumi meneteskan air matanya dan memeluk erat tubuh kecil Bela.


“Bela pokoknya harus berhasil, tunjukkan kepada orang tua Bela, kalau Bela bisa!”


“Iya, Nek. Bela akan terus belajar agar menjadi anak yang pintar,” sahut Bela dengan senyum manisnya.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu Arumi pun tiba.


Asyila, Abraham, Ashraf dan juga Herwan telah kembali.


“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!” seru Arumi dan juga Bela.

__ADS_1


“Ayo cepat, cuci tangan dan cuci kaki. Kita harus segera sarapan bersama!” ajak Arumi.


“Asik, Ashraf sangat lapar. Dari tadi perut Ashraf berbunyi, kruyuk kruyuk begitu Nek suaranya,” ucap Ashraf menirukan suara perutnya.


Arumi serta yang lain tertawa lepas mendengar ucapan polos Ashraf.


“Jangan diketawain, tidak boleh seperti itu,” tutur Ashraf sambil menggerakkan telunjuk tangannya agar berhenti menertawakan dirinya.


“Ya sudah kami tidak akan tertawa lagi, sekarang ayo siap-siap. Nenek telah membuatkan sarapan yang banyak,” tutur Arumi.


Ashraf tertawa kecil dan berlari secepat mungkin menuju dapur untuk mencuci tangan serta kakinya sebelum sarapan bersama.


Tak butuh waktu lama, kini mereka telah berkumpul di meja makan dengan hidangan yang telah dimasak oleh Arumi dan dibantu oleh Mbok Num.


Siang hari.


Ashraf dan Bela tengah menikmati es krim di teras depan rumah. Kemudian, muncullah Kahfi secara tiba-tiba.


Melihat sahabatnya datang, Ashraf menawarkan Kahfi es krim dan ketika Kahfi mengiyakan, Ashraf bergegas masuk ke dalam rumah untuk mengambil es krim.


“Nenek, tolong ambilkan Ashraf es krim ya untuk Kahfi,” ucap Ashraf meminta tolong kepada Nenek tercinta.


“Mau rasa apa sayang?” tanya Arumi yang sudah membuka pintu kulkas.


“Strawberry, Nek. Sama seperti punya Ashraf,” terang Ashraf.


Arumi pun mengambil es krim dengan rasa strawberry dan memberikannya kepada Ashraf.


“Terima kasih, Nenek,” ucap Ashraf dan kembali berlari menuju teras depan rumah.


Ashraf tersenyum dan memberikan es krim tersebut kepada Kahfi.


“Ini es krimnya jangan sampai kena baju,” ucap Ashraf mengingatkan Kahfi.


“Terima kasih, Ashraf,” balas Kahfi dan duduk di teras dekat dengan Ashraf.


Eko yang melihat bagaimana Ashraf menawarkan es krim dan memberikan es krim kepada Kahfi, membuat Eko berdecak kagum. Tidak hanya Abraham dan Asyila yang begitu baik, ternyata keturunannya pun begitu baik. Eko mendo'akan keluarga dari Tuannya agar selalu diberikan kesehatan, keberhasilan, keberkahan dan juga Keselamatan.


“Wah, kalian sedang makan es krim ya? Bunda boleh minta punya Ashraf?” tanya Asyila.


“Boleh, Bunda. Tapi, Bunda ambil di kulkas ya. Soalnya ini sudah Ashraf jilat,” jawab Ashraf.


“Bunda boleh menikmati es krim rasa cokelat punya Ashraf?”


“Boleh, Bunda,” jawab Ashraf.


Asyila terkekeh kecil melihat ekspresi wajah Ashraf. Kemudian, suaminya datang secara tiba-tiba.


“Ehem!” Abraham berdehem dan membuat Asyila serta yang lain menoleh ke arah Abraham.


“Syila, ayo tidur siang,” ucap Abraham berbisik di telinga istri kecilnya agar segera tidur siang.


Asyila langsung mengiyakan ajakan suaminya untuk segera tidur siang.


“Bunda mau kemana?” tanya Ashraf.


“Ashraf sayang, Ayah mengajak Bunda untuk tidur siang. Ashraf, Bela dan juga Kahfi kalau sudah makan es krim, langsung tidur siang ya!”


“Baik, Aunty!” seru Bela.


“Baik, Bunda!” seru Ashraf dan juga Kahfi.


Di dalam kamar, Asyila melepaskan pakaiannya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai.


“Syila, Ayah tadi bilang bahwa besok sore mereka akan pulang ke Jakarta,” terang Abraham.


Asyila terdiam sejenak dan bergegas mengenakan pakaiannya. Kemudian, mendaratkan bokongnya di sofa.


“Rasanya baru sebentar Ayah, Ibu dan Ashraf tinggal disini,” ucap Asyila sedih.


“Syila jangan sedih ya, lain waktu kita yang akan melakukan perjalanan ke Jakarta,” balas Abraham yang tak ingin istri kecilnya bersedih.


“Terima kasih ya Mas,” ucap Asyila.


Abraham menghela napasnya dan ikut duduk di sofa.


“Nanti malam Mas mau membuat seblak lagi, Asyila mau?” tanya Abraham.


Asyila dengan semangat mengiyakan tawaran dari suaminya.


“Mau dong Mas! Seblak buatan Mas memang yang paling enak,” puji Asyila. “Asyila sangat beruntung memiliki suami yang multitalenta,” imbuh Asyila.


“Syila terlalu berlebihan memuji Mas. Ayo tidur, Mas hari ini sangat lelah,” ujar Abraham mengajak istri kecilnya untuk segera tidur.


Asyila beranjak dari duduknya dan mencium sekilas pipi suaminya.

__ADS_1


“Harta yang paling berharga adalah keluarga,” tutur Asyila menyanyikan sebuah lagu.


__ADS_2