
“Oeekk... oekkk... oeeekkk ...”
Asyila berlari secepat mungkin ketika mendengar suara bayinya menangis, setibanya di kamar bayi mungilnya, Asyila perlahan mulai menyusui bayinya dengan penuh cinta.
“Minum yang banyak ya sayang, Bunda ingin kamu sehat seperti kedua kakakmu,” ucap Asyila sambil menyentuh lembut pipi buah hati ke-tiganya.
Ketika Asyila sedang menyusui bayi mungilnya, Abraham datang dengan membawa sepucuk bunga mawar berwarna merah.
“Selamat pagi, istriku!” sapa Abraham sambil memberikan sepucuk bunga mawar merah tersebut.
“Selamat pagi, juga suamiku! Hhhmmm... Wangi sekali bunganya, Mas. Terima kasih Mas,” ucap Asyila.
Abraham tersenyum dan mengarahkan pipinya mendekat ke arah bibir ranum Asyila. Asyila terkekeh geli dan mencium sekilas pipi suaminya.
“Yang ini juga!” pinta Abraham mengarahkan pipinya yang belum dicium oleh istri kecilnya.
Asyila dengan wajah kesal, akhirnya menuruti keinginan suaminya.
“Sudah ya Mas, Asyila sekarang mau berduaan dengan bayi mungil kita. Kalau Mas seperti ini, yang ada Azzam tidak akan bisa tidur. Mas tidak kasihan dengan bayi Azzam?” tanya Asyila dan memanyunkan bibirnya.
“Baiklah, kalau sudah menyusui jangan lupa temui Mas di bawah. Mas ingin duduk berduaan dengan Syila,” balas Abraham.
Asyila mengangguk setuju dan setelah suaminya pergi, Asyila mengajak bayi mungilnya berbicara.
“Bunda tidak sabar ingin mendengar suaramu, sayang. Apalagi, ketika kamu bermain dengan kedua kakakmu,” tutur Asyila.
Asyila saat itu terlihat sangat bahagia, bayi mungilnya terlihat sangat bercahaya. Apalagi, ketika kedua mata bayi mungilnya memandang wajah Bundanya.
Tiba-tiba, Asyila tersadar dan seketika itu ia menangis.
“Azzam, Bunda selamanya sayang Azzam,” ucap Asyila disela-sela ia menangis.
Abraham terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh istri kecilnya. Azzam? Siapa itu Azzam? Sebelumnya, Asyila tidak pernah mendengar nama tersebut.
“Syila, sadarlah istriku!” panggil Abraham mencoba menyadarkan istri kecilnya karena berpikir, bahwa sang istri sedang berhalusinasi.
Asyila langsung menoleh ke arah suaminya dan semakin menangis histeris.
__ADS_1
Abraham memilih untuk membiarkan sang istri menangis, mungkin saja dengan menangis membuat istri kecilnya bisa melepaskan seluruh kesedihan di dalam hati serta pikirannya.
“Mas, Azzam dimana? Asyila mau bertemu dengan bayi kita!” pinta Asyila yang perlahan mulai tenang, tidak se-histeris beberapa saat yang lalu.
“Azam? Bayi kita? Maksud Asyila, nama calon buah hati kita yang telah meninggal adalah Azzam?” tanya Abraham.
“Tidak, Mas. Bayi kita masih hidup dan sama sekali tidak sakit, apalagi sampai meninggal dunia. Tadi, Asyila sedang menyusui bayi kita. Azzam benar-benar sangat mirip dengan Mas Abraham, mulai dari kaki sampai ke kepala. Bahkan, hidung Azzam sama persis dengan hidung Mas Abraham,” terang Asyila menceritakan bagaimana fisik dari bayi yang bernama Azzam.
Abraham ikut larut dengan apa yang dimimpikan oleh istri kecilnya. Akan tetapi, Abraham tidak bisa berlarut-larut dalam kesedihan. Mungkin, mimpi Asyila adalah pertemuan terakhir dengan calon buah hatinya.
“Jangan menangis lagi ya istriku, Insya Allah sekarang Azzam sedang berada dipangkuan bidadari-bidadari surga. Suatu saat, kita akan bertemu dengan bayi Azzam di surga nanti,” terang Abraham sambil membelai lembut rambut istri kecilnya yang saat itu tidak mengenakan hijab.
Asyila perlahan mulai menyadari bahwa bayi yang tadi ia susui adalah mimpi. Mungkin saja, bayi itu adalah bayinya yang ingin mengucapkan perpisahan.
“Mas, jadi benar Asyila keguguran?” tanya Asyila.
Dengan berat hati, Abraham mengiyakan dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga, calon bayi mereka tidak selamat.
Asyila kembali menangis, namun tangisannya tidak se-histeris sebelumnya. Justru tangisan Asyila kali ini adalah tangisan bahagia, ia yakin bahwa senyuman yang diberikan oleh bayi mungilnya di mimpi yang bernama Azzam adalah senyuman pemberi semangat.
“Apakah bayi Azzam sudah dikubur, Mas?” tanya Asyila.
“Lalu, siapa nama bayi kita Mas?” tanya Asyila.
“Mahesa, seperti nama kedua kakaknya,” jawab Abraham.
”Azzam Mahesa, Asyila ingin nama bayi kita adalah Azzam Mahesa. Seperti nama bayi yang berada di mimpi Asyila!” pinta Asyila.
Abraham dengan senang hati menyanggupi permintaan dari istri kecilnya dan Abraham meminta agar Sang istri tidak banyak berpikir.
Pikiran Asyila sudah mulai stabil, ia sudah bisa membedakan mana yang baik dan tidak. Perlahan ia melebarkan senyumnya dan meminta maaf atas kelakuannya yang sebelumnya tidak bisa terkendali oleh dirinya sendiri.
Sakit yang Asyila rasakan, tidak seberapa dengan yang namanya kehilangan calon buah hati. Walaupun begitu, Asyila sangat yakin bahwa buah hatinya yang telah tiada sedang dijaga oleh Allah sampai akhirnya Asyila bertemu lagi dengan buah hatinya di surga.
Bunda sayang sekali dengan Azzam. Tidak hanya Bunda saja, sayang. Ayah, kedua kakakmu, kak Dyah, nenek Arumi, kakek Herwan dan yang lainnya juga sangat menyayangi kamu, Nak.”
Asyila pun mengikhlaskan kepergian buah hatinya yang belum sempat merasakan kerasnya dunia.
__ADS_1
“Mas, maaf,” tutur Asyila.
“Sssuutt, Bukankah Mas barusan mengatakan agar Syila tidak berpikir berat? Sekarang Asyila perbanyak istirahat dan jangan memikirkan hal lain. Azzam sekarang sudah bahagia dan kita sebagai orang tua, tidak boleh menangisi kepergiannya. Syila tidak mau 'kan, buah hatinya merengek di surga?”
Asyila perlahan menggelengkan kepalanya, samar-samar senyum Asyila terbentuk di bibir manisnya.
Dyah yang berada di ruangan itu, ikut merasa lega. Melihat Aunty-nya yang seperti ini saja sudah membuat Dyah tenang, harapan Dyah untuk keluarga pamannya adalah semoga mereka bahagia dan tidak lagi menghadapi masalah-masalah sulit seperti sebelumnya.
“Assalamu'alaikum.”
“Wa’alaikumsalam!”
Temmy dan Yeni akhirnya tiba juga di ruang rawat Asyila, mengetahui bahwa Asyila keguguran membuat mereka sedih dan bergegas menuju Jakarta.
Ternyata, tidak hanya mereka berdua saja, ada Fahmi yang juga ikut.
Yeni berjalan dengan langkah lebar, ia kemudian memeluk adik iparnya yang ternyata mengalami keguguran.
“Allah sayang dengan hamba-hamba-Nya yang sabar,” ucap Yeni.
“Terima kasih, Mbak,” jawab Asyila.
Merekapun berbincang-bincang dan sangat jarang membahas tentang apa yang terjadi kepada Asyila. Hal itu mereka lakukan, agar Asyila tidak bersedih dan tersinggung. Karena mereka tahu, Asyila adalah wanita berhati lembut yang mudah menangis.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, Temmy dan Yeni memilih untuk tidur di hotel dan tidak pulang ke rumah besar Abraham. Bukan apa-apa, Temmy dan Yeni tidak ingin merepotkan orang tua Asyila. Apalagi, saat ini keadaan Asyila dan keluarganya bisa dikatakan sedang terguncang. Untuk itu, orang tua Dyah memilih hotel sebagai tempat beristirahat.
Lalu, bagaimana dengan Fahmi?
Fahmi pun pulang ke rumahnya sendiri yang kebetulan, tidak jauh dari kediaman rumah Abraham.
“Mas, tolong kirimkan Do'a untuk Azzam ya!” pinta Asyila yang terlihat sangat sayang dengan buah hatinya.
“Iya, istriku. Suamimu ini akan mengirimkan banyak Do'a untuk bayi Azzam,” balas Abraham.
Asyila mengucapkan terima kasih dan dengan hati-hati Dyah membantu Aunty-nya untuk berisitirahat.
“Aunty tidurlah disini, kalau ingin sesuatu langsung saja katakan pada Dyah. Aunty tidak perlu sungkan-sungkan, yang penting Aunty bisa sembuh,” terang Dyah.
__ADS_1
Asyila tersenyum tipis dan mulai memejamkan matanya.