Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Meminta Izin Untuk Menginap


__ADS_3

Sarapan bersama pun berlangsung dan terlihat jelas kebahagian di wajah mereka masing-masing.


Usai menikmati sarapan, para pria kembali melanjutkan obrolan mereka yang kali ini terlihat begitu serius. Sementara para wanita, tengah sibuk di dapur untuk membereskan serta membersihkan peralatan makan yang telah mereka gunakan.


“Dyah, kamu sebaiknya duduk saja dan jangan melakukan hal apapun,” tutur Asyila pada wanita hamil itu.


“Hanya duduk saja? Tidak boleh membantu?” tanya Dyah yang nampak kesal dengan perkataan Asyila.


“Kamu sekarang tengah mengandung buah hati Fahmi, intinya kamu duduk diam disini dan hanya boleh duduk. Mengerti!” tegas Asyila.


Dyah menggigit bibirnya sendiri dan dengan terpaksa mengiyakan apa yang dikatakan oleh Asyila padanya.


Arumi yang melihat keduanya tak bisa menyimpan tawanya. Ia tertawa kecil melihat keduanya yang begitu menggemaskan.


“Bunda!” panggil Ashraf yang tiba-tiba datang dengan membawa es krim di tangannya.


“Ashraf mengambil es krim di kulkas?” tanya Asyila terkejut.


Dengan polosnya, Ashraf mengiyakan dan menceritakan bagaimana ia bisa mengambil es krim di kulkas.


Ternyata, Ashraf dan Kahfi bekerjasama sama dalam membuka kulkas. Yaitu, dengan cara menaiki kursi dan membuka pintu kulkas yang cukup tinggi.


“Sayang, lain kali tidak boleh seperti itu. Kalau Ashraf mau, Ashraf tinggal bilang sama Bunda, Ayah, Kakek atau Nenek. Intinya, Ashraf tidak boleh menaiki kursi lagi. Ashraf tidak mau 'kan, kalau terjatuh dan tiba-tiba kakinya terluka?” tanya Asyila dengan memasang wajah sedih.


“Tidak mau, Bunda,” jawab Ashraf sembari menggelengkan kepalanya.


“Kalau begitu, dengarkan apa yang Bunda katakan. Sekarang, dimana Kahfi?” tanya Asyila.


Ashraf menunjuk ke arah kulkas dan Asyila cepat-cepat melangkahkan kakinya mendekati Kahfi yang tengah berdiri di kursi sembari membuka kulkas untuk meraih es krim di dalamnya.


“Kahfi turun ya saya tinggal, kalau mau es krim Kahfi tinggal bilang saja,” tutur Asyila sambil menurunkan tubuh kecil Kahfi.


“Maaf Bunda,” ucap Kahfi merasa bersalah.


“Lain kali Kahfi tidak boleh seperti ini lagi! Ini untuk Kahfi es krim rasa strawberry,” ucap Asyila sambil memberikan sebuah es krim rasa strawberry kepada Kahfi.


Kahfi dengan gembira mengucapkan terima kasih dan dengan penuh semangat membuka pembungkus es krim untuk cepat-cepat menikmati es krim rasa strawberry miliknya.


“Menikmati es krim tidak boleh sambil berdiri, ayo cari tempat duduk dan tidak boleh berceceran,” ucap Asyila pada Ashraf serta Kahfi.


Keduanya dengan hati-hati berjalan ke arah ruang keluarga dan menikmati es krim mereka masing-masing.


“Nek, untuk dua hari kedepan Dyah dan Mas Fahmi akan menginap disini. Boleh ya?” tanya Dyah.


“Ya Allah, kamu bertanya seperti itu seperti kami ini bukan kerabatmu saja. Tentu saja boleh, Dyah. Bahkan, tinggal disini menemani Nenek tiap hari juga boleh,” terang Arumi.


“Iya maksud Dyah, Dyah ingin izin dulu untuk menginap disini,” ucap Dyah sambil memainkan gelang di pergelangan tangannya.


“Ema juga menginap disini ya Bu Arumi!” seru Ema.


Arumi langsung menoleh ke arah Ema yang tengah menata peralatan makan di rak piring dengan tatapan penasaran.


“Kamu yakin mau tidur disini?” tanya Arumi yang terlihat tak percaya dengan ucapan Ema.


“Hhmmm.. Apa ada yang salah ya?” tanya Ema yang terlihat begitu salah tingkah.


Asyila mendekat ke arah keduanya.

__ADS_1


“Sepertinya ada yang telah Asyila lewatkan,” celetuk Asyila penasaran.


Arumi tanpa pikir panjang langsung menceritakan keinginan Ema yang ingin menginap.


Setelah mendengar keterangan dari Ibunya, Arumi. Asyila tanpa pikir panjang langsung memeluk tubuh sahabatnya dan mengatakan bahwa mereka sudah seperti keluarga.


“Kamu sudah seperti keluargaku, tentu saja boleh untuk kamu dan keluargamu tidur disini. Akan tetapi, bagaimana dengan Ibu Icha dan juga Ibu Wati?” tanya Asyila.


“Untuk saat ini, Mami maupun Ibu Wati tidak tahu bahwa kami sudah tiba di Jakarta. Karena kami ingin menginap disini selama dua hari, baru setelah itu aku dan Mas Fahmi pulang ke rumah Mami,” jelas Ema apa adanya.


Asyila mengangguk setuju dan melepaskan pelukannya.


“Kalau begitu, dimana barang-barang mu? Ayo tunggu apa lagi? Bawa masuk barang-barang kalian!” tutur Asyila pada sahabatnya.


“Dyah, Aunty?” tanya Dyah sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Kamu juga, Dyah,” balas Asyila.


Ketiga wanita itu bersama-sama melangkah kaki keluar dari rumah untuk membawa barang mereka masuk ke dalam rumah.


“Sini biar aku saja,” tutur Asyila mengambil alih menarik koper milik Dyah.


“Aunty jangan melakukan pekerjaan berat seperti ini, ingat Aunty sekarang lagi hamil,” tegas Dyah dan merebut koper yang berada di tangan Asyila.


Dyah sama sekali tak menyadari apa yang dia katakan. Ia sendiri sedang hamil dan malah mengkhawatirkan kehamilan Asyila.


“Lalu, bagaimana dengan perutmu yang membuncit?” tanya Asyila melirik ke arah perut Dyah.


Dyah langsung menoleh ke arah perutnya dan tersenyum bodoh.


Asyila dan Ema tertawa lepas mendengar ucapan polos Dyah. Hingga akhirnya, tawa mereka memancing para suami untuk keluar dari rumah dan menghampiri para istri.


Para suami menghampiri istri mereka masing-masing dan tentunya tidak ada yang tertukar. 😅


“Ada apa ini? Kenapa kelihatannya sangat heboh?” tanya Abraham penasaran.


Asyila tak sanggup untuk menceritakan apa yang terjadi, ia hanya bisa tertawa di dada suaminya.


“Kenapa malah tertawa?” tanya Abraham semakin penasaran.


Mulut Ema rasanya gatal jika tak menceritakan apa yang dikatakan oleh Dyah. Ia pun dengan senang menceritakan apa yang terjadi.


Setelah mendengar keterangan dari Ema, para suami seketika itu juga tertawa. Begitu pula dengan Fahmi, suami dari Dyah.


“Mas Fahmi jangan ikut-ikutan tertawa!” perintah Dyah dengan wajah tersipu malu.


“Dyah dan Asyila bisa dikatakan sebelas, dua belas,” celetuk Abraham.


Asyila yang tengah tertawa langsung menghentikan tawanya dan menatap suaminya dengan begitu serius.


“Jangan menatap suamimu dengan tatapan seperti itu, dulu Syila pernah lupa bahwa tengah mengandung,” jawab Abraham.


“Sssuutt, Mas mau ya Asyila juga ditertawakan oleh yang lainnya?” tanya Asyila kesal.


Dyah yang mendengar keterangan Abraham, seketika itu tertawa mengejek Aunty-nya.


“Hahaha... Ternyata kita sama,” celetuk Dyah.

__ADS_1


Asyila memanyunkan bibirnya dan tanpa mengucapkan sepatah katapun, wanita hamil itu pergi meninggalkan suaminya serta yang lainnya.


“Tunggu istriku!” panggil Abraham dan berusaha mengejar sang istri yang tengah ngambek.


“Yahhh.. Kok malah pergi,” celetuk Dyah.


“Sssuttt!” Fahmi memberi isyarat agar istrinya tak lagi berbicara. Kemudian, menarik koper mereka masuk ke dalam rumah begitu juga dengan Yogi.


Arumi mendekati Yogi dan menunjukkan kamar yang akan digunakan oleh keluarga kecil Yogi. Kemudian, Arumi bergegas menghampiri Fahmi dan memberitahukan kamar yang mana yang akan ditempati oleh Fahmi dan juga Dyah.


“Terima kasih, Nenek Arumi,” ucap Dyah dan segera masuk ke dalam kamar untuk merebahkan tubuhnya sekaligus mengistirahatkan punggung serta pinggangnya yang terasa pegal.


Tak lama, Dyah pun tertidur pulas dengan posisi terlentang.


Fahmi yang melihat posisi tidur istrinya hanya bisa geleng-geleng kepala, karena seluruh tempat tidur dikuasai oleh Dyah.


“Meskipun tertidur, istriku ini tetaplah menggemaskan,” puji Fahmi dan memilih mengeluarkan pakaian yang berada di koper ke dalam almari pakaian.


Malam hari.


Abraham serta yang lainnya tengah menghabiskan waktu mereka di halaman belakang rumah dengan bersama-sama membakar jagung. Bisa dikatakan mereka seperti tengah piknik di belakang rumah.


“Bunda, punya Ashraf gosong,” ucap Ashraf sambil memperlihatkan jagung bakar miliknya yang gosong.


Asyila tertawa kecil dan memberikan jagung bakar miliknya yang matang sempurna.


“Sudah jangan menangis lagi, ini makanlah punya Bunda dan ingat jangan sampai berceceran!”


“Terima kasih, Bunda,” ucap Ashraf dan mulai menikmatinya.


Malam itu, sebenarnya kondisi Asyila tidak terlalu membaik. Berulang kali, Asyila harus wara-wiri ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.


Kehamilan kali ini, Asyila cukup rewel dan Abraham adalah sasaran empuk Asyila.


“Mas, sepertinya Asyila tidak kuat berada di luar. Kita masuk ya Mas!” pinta Asyila sambil mencengkram erat pergelangan tangan suaminya.


Abraham mengiyakan dan memutuskan untuk meninggalkan halaman rumah lebih dulu untuk menemani sang istri berisitirahat di kamar.


“Ayah! Bunda!” panggil Ashraf menghentikan langkah kaki kedua orangtuanya.


Abraham menoleh dan tersenyum manis ke arah buah hatinya.


“Iya sayang, ada apa?” tanya Abraham.


“Ashraf bobok sama Kahfi ya Ayah?” tanya Ashraf meminta izin.


“Boleh, asal tidurnya jangan malam-malam,” jawab Abraham.


Bocah kecil itu begitu bahagia sambil menggoyangkan pinggulnya dengan penuh enerjik.


Asyila yang melihat buah hatinya berjoget, hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tatapan sedikit geli.


“Mas, ayo ke kamar! Asyila agak geli melihat jogetan Ashraf yang seperti itu,” ucap Asyila sambil mengelus-elus perutnya seperti sedang mengatakan bahwa janin diperutnya tak boleh ikut-ikutan dengan apa yang dilakukan oleh kakaknya, Ashraf.


Masih mau lanjut? komen ya 😘


Episode selanjutnya sedikit menegangkan kawan-kawan 😭😭

__ADS_1


__ADS_2