
Pagi hari.
Sepertinya yang sudah disepakati, Ema, Yogi dan Kahfi pagi-pagi sekali datang berkunjung ke rumah keluarga kecil Abraham Mahesa.
Yogi juga penasaran, kenapa Abraham tidak sholat di masjid seperti biasanya.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”
Dyah yang sedang duduk bersantai di ruang keluarga, samar-samar mendengar suara Ema dan Yogi.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Ema dan Yogi sekali lagi.
Saat itu juga Dyah mengambil hijab miliknya dan mengenakannya. Kemudian, melenggang menuju ruang depan.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, aku kira siapa. Kamu sudah datang ternyata? Kapan? Ayo masuk!” Dyah mempersilakan keluarga kecil itu untuk segera masuk ke dalam rumah.
“Kami datang tadi malam, sekitar jam setengah 9. Oya, ini ada oleh-oleh untuk kalian,” tutur Ema sembari memberikan kantong plastik berukuran sedang dan dua paper bag kepada Dyah.
“Wah, terima kasih. Kalian tunggu sebentar, aku akan memanggil Paman dan juga Aunty di kamar!”
Dyah berlari kecil menuju dapur untuk meletakkan oleh-oleh pemberian dari Ema dan keluarga.
Kemudian, ia berlari menuju kamar Paman serta Aunty-nya untuk memberitahukan kedatangan Ema bersama keluarga kecilnya.
“Aunty! Paman! Di ruang tamu ada Ema, Pak Yogi dan juga Kahfi,” tutur Dyah tanpa mengetuk pintu.
“Iya Dyah! Sebentar lagi kami akan keluar,” sahut Abraham dari dalam kamar.
Di dalam kamar, Asyila berusaha untuk beranjak dari tempat tidurnya. Kondisinya bukannya membaik malah semakin memburuk, bahkan saat Abraham ingin berangkat menuju masjid, Asyila tiba-tiba muntah dan membuat Abraham memutuskan untuk sholat di rumah karena tak ingin istri kecilnya kenapa-kenapa.
“Syila bisa keluar dari kamar? Kalau tidak bisa, ya tidak apa-apa. Mas akan memberitahukan Ema dan juga Yogi perihal kondisi Syila,” tutur Abraham yang terlihat sangat mengkhawatirkan kondisi istri kecilnya itu.
“Asyila baik-baik saja, Mas. Mas Abraham tidak perlu khawatir, menyambut tamu itu sangatlah penting. Lagipula, Asyila masih sanggup untuk berjalan,” terang Asyila.
Abraham membantu Asyila bangkit dari tempat tidurnya. Lalu, membantu Sang istri mengenakan hijab.
“Bismillahirrahmanirrahim,” ucap Abraham yang perlahan berjalan keluar dari kamar dengan terus merangkul pinggang Sang istri.
Ema yang melihat Asyila berjalan dengan susah saat itu juga beranjak dari duduknya dengan tatapan penuh kekhawatiran.
“Kamu kenapa, Asyila? Kenapa wajahmu sangat pucat dan sedikit membiru?” tanya Ema khawatir sekaligus panik.
Asyila tersenyum manis dan duduk tepat disamping suaminya.
“Aku mengalami musibah yang tak disangka-sangka,” jawab Asyila dan tertawa kecil untuk mengurangi rasa kekhawatiran serta kepanikan sahabatnya.
“Musibah yang tak disangka-sangka bagaimana, Asyila? Kamu jangan membuatku sedih,” ucap Ema yang akhirnya meneteskan air matanya ketika melihat kondisi sahabatnya yang begitu lemah tak berdaya.
“Ema, kamu jangan terlalu cengeng. Malu dengan Pak Yogi dan juga Kahfi. Aku baik-baik saja,” tutur Asyila.
Ema cepat-cepat menyeka air matanya karena ditertawakan oleh Kahfi, putra tunggalnya bersama Sang suami.
“Sekarang katakanlah, kenapa kamu bisa sampai seperti ini!” pinta Ema.
“Apakah kamu mengenal Salsa?” tanya Asyila.
“Salsa? Maksudmu wanita gila itu? Yang sengaja mengubah wajahnya agar mirip denganmu dan bisa merebut Pak Abraham darimu?” tanya Ema.
Karena obrolan mereka semakin jauh, Yogi pun memerintahkan Kahfi untuk bermain bersama Bela di ruang keluarga.
Kahfi mengiyakan dan bergegas menuju ruang keluarga untuk bisa bermain dengan Bela.
“Salsa menculik ku dan menyewa dua orang untuk mencelakakan aku. Untungnya, aku selamat karena aku nekad memukul mereka dengan alat-alat yang ada di sana,” terang Asyila.
“Astaghfirullahaladzim, bukankah wanita gila itu sudah berada di rumah sakit jiwa. Kenapa dia bisa keluar begitu saja?” tanya Ema.
Kali ini Abraham yang menjelaskan mengenai Salsa yang kabur dari rumah sakit.
“Astaghfirullahaladzim, benar-benar gila itu Salsa,” ucap Ema yang begitu emosional jika membahas soal Salsa. “Tahu begitu, aku cekik saja dia sampai mati,” imbuh Ema.
“Ema, kamu ini bicara apa?” tanya Asyila yang sangat terkejut dengan perkataan Ema yang ingin mencekik Salsa sampai mati.
“Lain kali jangan bicara sembarangan seperti itu,” ujar Yogi pada istrinya.
“Iya habisnya, wanita itu duluan. Bagaimana adik bisa diam?” tanya Ema pada suaminya, Yogi.
__ADS_1
“Sudah-sudah, jangan ribut!” pinta Asyila yang agak pusing jika ada suara berisik.
“Maaf,” sahut Ema dan menutup rapat-rapat mulutnya.
Ema menoleh ke arah jam di ponselnya dan Ema teringat bahwa dirinya belum masak untuk persiapan suaminya berangkat kerja.
“Asyila, aku pamit pulang ya. Aku harus memasak sarapan untuk Abang Yogi. Setelah Abang Yogi berangkat kerja aku akan langsung kemari,” terang Ema.
Ema dan Yogi akhirnya pulang ke rumah mereka, sementara Kahfi tetap berada di dalam rumah tersebut karena masih ingin bermain dengan Bela dan juga putri kecil dari pasangan Dyah dan Fahmi.
“Dyah, suamimu kemana?” tanya Asyila menyadari bahwa Fahmi tidak ada di rumah.
“Mas Fahmi kebetulan lagi pulang, Aunty. Setelah sholat subuh, Mas Fahmi pamit pulang untuk persiapan berangkat kerja,” ujar Dyah.
“Lalu, kenapa kamu masih disini dan tidak ikut membantu suamimu?” tanya Asyila.
“Sebenarnya Dyah mau ikut pulang. Akan tetapi, Mas Fahmi menyuruh Dyah tetap disini, ya sebagai istri yang baik Dyah patuh saja dengan apa yang dikatakan oleh Mas Fahmi,” ungkap Dyah.
Asyila tak bisa menyalahkan Dyah, bagaimanapun apa yang dikatakan Dyah ada benarnya.
“Ya sudah, kamu kembali lah ke ruang keluarga. Kasihan cucu kami kalau ditinggal sendirian,” tutur Asyila.
“Tidak sendirian kok Aunty. Ada Bela dan juga Kahfi yang sedang mengajak Asyila kecil bermain,” terang Dyah.
“Meskipun begitu, kamu juga sebagai orang tua harus ikut memantau,” sahut Abraham.
“Iya deh, iya,” balas Dyah. “Oya, di dapur ada oleh-oleh dari Ema dan Pak Yogi. Belum Dyah buka sih, soalnya Dyah lagi malas untuk membongkar isi oleh-oleh dari mereka,” jelas Dyah.
“Baiklah, nanti biar Aunty saja yang membukanya,” balas Asyila.
Dyah mengiyakan dan izin untuk pergi ke ruang keluarga.
Kini, hanya ada Abraham dan Asyila yang masih di ruang tamu.
“Mas, Asyila tiba-tiba merindukan keluarga di Jakarta. Kalau ada Ayah, Ibu dan Ashraf pasti rumah ini semakin ramai. Akan tetapi, kondisi Asyila yang seperti, kalau mereka tahu sudah pasti mereka akan sedih,” ujar Asyila yang memang sangat merindukan orang tuanya serta buah hatinya, Ashraf.
Untuk bertemu dengan Arsyad juga rasanya tidak mungkin. Karena jadwal untuk libur panjang Arsyad masih belum tahu kapan anak-anak pondok pesantren bisa diliburkan kembali.
“Syila yang sabar ya,” balas Abraham yang ingin merahasiakan kedatangan kedua orang tua Asyila dan juga putra kedua mereka.
Asyila mengangguk kecil dan meminta suaminya untuk menuntunnya menuju dapur.
“Selamat pagi, Mbok Num!” Asyila menyapa Mbok Num dengan senyum manisnya.
“Selamat pagi juga, Nona Asyila,” balas Mbok Num.
Asyila berjalan dengan langkah kecil karena bagian pahanya agak sakit karena pukulan dari salah satu pelaku penculik.
“Terima kasih, Mas,” tutur Asyila setelah berhasil mendaratkan bokongnya di kursi meja makan.
Abraham mencium pelan kening Istri kecilnya dan menarik kursi agar bisa lebih dekat dengan Sang istri. Kemudian, duduk tepat disamping istri kecilnya sampai-sampai tak ada jarak sedikitpun.
“Mas, tolong bantu Asyila membuka kantong plastik ini!” pinta Asyila, sementara dirinya memilih untuk membuka paper bag.
Keduanya sibuk membuka oleh-oleh pemberian Ema dan mulai membagi rata oleh-oleh ke piring untuk dinikmati oleh semua penghuni rumah.
“Mbok, semua oleh-oleh ini sudah saya bagi rata. Tolong bagikan ke ruang jahit saya untuk Ibu Lastri, ruang keluarga untuk Dyah yang lain, untuk Pak Eko dan yang ini untuk Mbok Num serta Ibu Juminah,” terang Asyila.
“Baik, Nona Asyila,” balas Mbok Num.
Asyila tersenyum dan meminta suaminya untuk menuntunnya menuju kamar mereka.
***
Pukul 10.15 WIB.
Abraham berulang kali memeriksa ponselnya menunggu kabar dari mertuanya yang entah sudah sampai mana.
“Mas Abraham!” panggil Asyila yang sedikit tak senang karena suaminya sejak tadi selalu memperhatikan ponsel dan bukan dirinya. “Mas kenapa dari tadi Asyila perhatikan, selalu melihat ke arah ponsel. Apa ada seseorang yang sedang Mas Abraham tunggu atau mungkin...” Asyila menghentikan ucapannya dan memilih untuk memejamkan mata karena sedikit kesal dengan suaminya itu.
“Syila jangan berpikir macam-macam,” tutur Abraham berusaha untuk membuat istri kecilnya tidak ngambek kepadanya.
Asyila menghela napasnya dan meminta suaminya untuk memeluk tubuhnya dengan perlahan.
“Syila jangan berpikiran yang macam-macam, nanti juga Asyila akan tahu sendiri mengapa Mas selalu memeriksa ponsel Mas,” ucap Abraham yang membuat Asyila malah menjadi penasaran.
__ADS_1
Disaat yang bersamaan, Eko terkejut melihat mobil milik Tuannya sudah memasuki halaman rumah.
“Pak Udin!” Eko dengan gembira menyapa Pak Udin yang baru saja turun dari mobil. “Kenapa tidak memberi kabar kalau mau kesini?” tanya Eko penasaran.
Herwan, Arumi dan Ashraf turun bersama-sama keluar dari mobil.
Eko sendiri sebelumnya tidak diberitahu bahwa orang tua dari Asyila akan datang ke Perumahan Absyil.
Karena Abraham sengaja merahasiakan kedatangan orang tua Asyila dari orang rumah.
“Bunda!” Ashraf berteriak memanggil Bundanya.
Disaat yang bersamaan, Asyila terkejut karena telinganya menangkap suara Ashraf yang tengah memanggil dirinya.
“Astagfirullahaladzim,” ucap Asyila terkejut. “Mas dengar, tidak? Itu seperti suara Ashraf,” imbuh Asyila.
“Bunda! Bunda! Ayah!” Suara Ashraf semakin terdengar jelas.
Abraham tersenyum lebar dan menuntun istri kecilnya untuk segera keluar dari kamar.
“Bunda!” Ashraf tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
“Ya Allah, Ashraf? Ini benar Ashraf?” tanya Asyila yang seakan-akan kedatangan Ashraf adalah mimpi indahnya.
Arumi dan Herwan pun berjalan menuju kamar putri kesayangannya.
“Asyila!” panggil Arumi dari luar pintu.
“Ayah, Ibu! Masuklah!” Abraham mempersilakan mertuanya untuk segera masuk ke dalam kamar.
Abraham mencium punggung tangan kedua mertuanya secara bergantian.
“Ayah, Ibu. Kenapa bisa datang kemari?” tanya Asyila yang telah berlinang air mata.
“Semalam, Suamimu menghubungi kami dan kamipun memutuskan untuk datang kemari karena tahu bahwa putri kami sedang sakit,” jawab Arumi.
Abraham sendiri hanya mengatakan bahwa Asyila sakit, tanpa memberitahukan kepada kedua mertuanya bahwa sakit istri kecilnya disebabkan karena para penculik termasuk Salsa.
“Mas, jadi tadi itu Mas memeriksa ponsel karena menunggu kabar dari Ayah dan Ibu?” tanya Asyila memastikan.
“Bukankah Mas sudah bilang, Asyila tidak boleh berpikir yang macam-macam,” balas Abraham.
Asyila tersenyum dengan air mata yang terus mengalir. Kemudian, ia memeluk tubuh Ibunya, Arumi. Untuk melepaskan rasa rindunya.
“Bunda sakit apa?” tanya Ashraf yang kini telah berdiri tepat disamping Bundanya.
Asyila dan Arumi saling melepaskan pelukan mereka. Lalu, Asyila menoleh secara perlahan ke arah Ashraf, putra keduanya bersama Sang suami tercinta.
“Bunda hanya kelelahan, Sayang. Ashraf kangen Bunda?” tanya Asyila.
“Ashraf sangat kangen dengan Bunda, Bunda cepat sembuh ya,” sahut Ashraf dengan mata berkaca-kaca.
“Iya sayang, Bunda pasti cepat sembuh!” seru Asyila.
Asyila menoleh ke arah suaminya dan mengucapkan terima kasih atas kejutan Abraham yang telah mendatangkan kedua orangtuanya serta putra kedua mereka.
“Mas tidak memberitahukan mengenai Asyila diculik,” bisik Abraham ditelinga istri kecilnya agar tak di dengar oleh anggota keluarga yang lain.
“Terima kasih, Mas. Apa yang Mas lakukan ini, sudah lebih dari cukup,” balas Asyila yang juga berbisik di telinga suaminya.
Asyila meminta suaminya untuk menuntunnya ke ruang keluarga agar bisa berkumpul dengan yang lain.
“Apa kabar cucu Nenek?” tanya Arumi menyapa cucu ke-empatnya, Akbar Mahesa.
Arumi menggendong tubuh bayi mungil itu secara perlahan dan merekapitulasi melenggang bersama-sama menuju ruang keluarga.
Dyah, Ema, Bela, Kahfi dan juga Asyila kecil sedang berada di ruang keluarga.
“Nenek, Kakek!” Dyah terkejut sekaligus gembira melihat orang tua dari Aunty-nya. “Ashraf Kesayangan Kak Dyah!” Dyah berteriak dan berlari kecil menghampiri Ashraf.
Ashraf pun senang karena bisa berkumpul kembali dengan kedua orangtuanya serta yang lain di rumah tersebut.
Asyila lagi-lagi menitikkan air mata bahagianya karena apa yang dilakukan suaminya memang semangat Asyila untuk segera sembuh semakin besar.
Asyila memanggil Bela dan meminta gadis kecil itu untuk memanggil Mbok Num, Ibu Lastri serta Ibu Juminah agar segera berkumpul di ruang keluarga.
__ADS_1
Asyila tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada suaminya. Sementara Abraham, hanya berharap agar Sang istri tercinta bisa segera pulih.
“Nenek dan Kakek kenapa masih berdiri? Ayo duduk di sofa!” Dyah dengan semangat mempersilakan mertua dari Pamannya untuk segera duduk di sofa.