Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Dyah Pulang Lebih Cepat


__ADS_3

Dyah tersenyum mendengar keterangan dari Mamanya.


“Sini, biar Lala sama Mama. Kamu beristirahatlah dulu,” ucap Yeni yang ingin mengambil Asyila kecil untuk digendongnya.


Dyah terdiam sejenak, seperti tak ingin jauh-jauh dari buah hatinya.


“Mama hanya memindahkan Lala ke ranjang bayinya,” tutur Yeni dan barulah Dyah mengiyakannya.


Yeni dengan hati-hati menggendong Asyila kecil dan meletakkannya di ranjang bayi yang sebelumnya sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.


Dyah menggigit bibirnya sendiri dengan tatapan sedih melihat buah hatinya minum susu formula dan bukan ASI nya sendiri.


“Kenapa kamu malah sedih begitu, Dyah? Gara-gara ini?” tanya Yeni sambil memperlihatkan botol yang susu formula.


Dengan sedih, Dyah mengangguk kecil.


“Kalau Dyah sudah benar-benar membaik, insya Allah Dyah sudah bisa menyusui Lala lagi.”


“Baik, Ma,” balas Dyah yang terlihat tak rela.


Beberapa saat kemudian.


Fahmi dan Temmy masuk ke dalam ruangan itu. Seketika itu mereka tercengang ketika melihat Dyah sudah sadarkan diri dan terlihat jauh lebih baik.


“Dyah!” Fahmi cepat-cepat mendekati istrinya dan memeluk tubuh istrinya dengan penuh kebahagiaan.


Fahmi menangis terharu, istrinya yang awalnya hanya terbaring di ranjang kini sudah bangun dan tersenyum kearahnya.


Dengan mata berkaca-kaca, Fahmi mendekat dan memberikan kecupan mesra di kening istrinya.


“Syukurlah, Mas sangat bahagia dan benar-benar bahagia melihat Dyah tersenyum seperti ini. Mas janji, Mas tidak akan membukakan pintu sebelum mengetahui siapa orang yang datang ke rumah kita,” tutur Fahmi.


“Iya, Mas. Mas, kapan Dyah pulang? Dyah sudah bosan disini dan Dyah juga sangat merindukan Paman. Sampai saat ini, Paman belum pernah menemui Dyah. Bagaimanapun, Dyah harus mengucapkan terima kasih atas apa yang telah Paman Abraham lakukan untuk menemukan keberadaan putri kecil kita, Asyila,” ucap Dyah dan menoleh ke arah putri kecilnya yang saat itu tengah tertidur pulas di gendongan Dyah.


Fahmi mengerti akan maksud dari perkataan istrinya. Akan tetapi, Dyah tidak boleh pulang saat itu karena Fahmi ingin Dyah benar-benar pulih.


Beberapa hari kemudian.


Kondisi Dyah sebenarnya belum benar-benar pulih. Akan tetapi, Dyah bersikeras ingin pulang karena sudah sangat bosan tinggal di rumah sakit.


Belum lagi, ketika Dyah melihat buah hatinya yang tak bisa kemana-mana karena harus tetap tinggal di rumah sakit menemani Dyah.

__ADS_1


“Baiklah, kita pulang hari ini,” ucap Fahmi yang terlihat kurang setuju dengan permintaan istrinya.


“Mas, tidak suka ya Dyah pulang ke rumah?” tanya Dyah lirih.


“Bukannya tidak suka. Hanya saja...”


“Dyah akan jauh lebih baik jika berada di rumah. Dan untuk sementara waktu, kita tinggal tempat Paman Abraham ya Mas!” pinta Dyah yang sengaja memotong ucapan suaminya.


Tanpa pikir panjang, Fahmi langsung mengiyakan permintaan istrinya. Bagaimanapun, kediaman Abraham jauh lebih aman daripada rumahnya sendiri. Terlebih lagi, Fahmi maupun Dyah agak trauma dengan kediaman mereka sendiri.


“Mas keluar dulu ya untuk membicarakan kepulangan Dyah hari ini dengan dokter. Semoga saja dokter mengizinkannya,” ucap Fahmi yang bersiap-siap untuk menemui dokter yang menangani istri tercintanya.


Dengan senyum manisnya, Dyah mengiyakan dan kembali fokus dengan putri mungilnya yang saat itu tengah menyusu.


“Minum yang banyak ya sayang, kamu tenang saja. Mama akan cepat sembuh untuk kamu,” bisik Dyah pada putri mungilnya.


Disisi lain.


Abraham tersenyum tipis ketika baru saja menghubungi Ayah serta Ibu mertuanya. Ia mengangkat kedua alisnya dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


“Huufftt...” Abraham menghela napasnya dan perlahan memejamkan matanya.


Baru saja memejamkan matanya, Abraham langsung terkesiap dan bergegas menemui tetangganya, yaitu keluarga kecil Yogi.


Yogi terkesiap dan memeluk sekilas tubuh sahabatnya.


“Wa’alaikumsalam, kenapa terburu-buru datang kemari? Bukankah masih ada waktu 1 jam lagi untuk kita membicarakan hal penting ini,” tutur Yogi.


“Apa kau baru mengenalku? Bukankah kau tahu, bahwa aku paling tidak suka menunda-nunda apa yang akan kita bahas ini,” tutur Abraham dan mendaratkan bokongnya di kursi yang masih kosong.


Kahfi datang sambil memegang permen lollipop yang dibeli oleh Papanya.


“Papa, mau lagi!” pinta Kahfi sambil memperlihatkan permen lollipop ditangannya.


Abraham tertawa kecil melihat Kahfi yang begitu menggemaskan.


“Sayang, lihat Ayah Abraham saja menertawakan Kahfi karena mau permen lollipop lagi. Padahal, ditangan Kahfi masih ada,” balas Yogi.


Kahfi yang malu, cepat-cepat berlari masuk ke dalam rumah.


Sementara itu, Abraham dan Yogi tertawa melihat tingkah menggemaskan dari Kahfi.

__ADS_1


“Anakmu sangat lucu,” puji Abraham.


“Kau bisa saja,” balas Yogi.


Ema keluar dari rumah dan cepat-cepat bergabung dengan keduanya.


“Sepertinya Adik melewatkan hal yang seru ya?” tanya pada suaminya.


Yogi menggelengkan kepalanya dan menjelaskan mengenai apa yang mereka tertawakan.


Ema mengangguk kecil sambil memanyunkan bibirnya.


“Ya begitulah Kahfi, kalau tidak Abang malah lebih rewel lagi. Sekarang ini, Kahfi susah sekali makan dan lebih suka makan-makanan seperti tadi. Ya es krim, ya permen, yang jalan-jalannya gitu Abang,” terang Ema yang terlihat begitu cerewet.


Yogi tersenyum tipis sambil menoleh ke arah sahabatnya, seakan-akan meminta Abraham untuk memaklumi sikap istrinya.


“Ehem!” Abraham berdehem dan mulai membahas masalah yang sangat penting dengan keduanya.


Ema dan Yogi pun sangat serius mendengarkan apa yang Abraham katakan. Bahkan, keduanya tak segan-segan mengeluarkan suara mereka untuk pembahasan hal yang sangat penting itu.


Hampir 3 jam lamanya mereka berbincang-bincang, sampai akhirnya waktu sebuah mobil datang memasuki halaman rumah Abraham.


“Sepertinya pembahasan kita sampai disini dulu. Aku permisi, assalamu'alaikum,” ucap Abraham bergegas menghampiri keponakannya yang baru tiba dari rumah sakit tanpa kabar-kabar.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Ema dan juga Yogi.


Ema menyipitkan matanya dan seketika itu ia berlari kecil menuju halaman rumah Abraham.


“Abang, ayo kesana!” ajak Ema.


“Tunggu!” seru Yogi dan berlari secepat mungkin menyusul istrinya.


Abraham membantu membawakan barang-barang Dyah dan juga Kahfi. Sementara Ema membantu Dyah membawakan bayi mungil yang sangat cantik itu.


“Selamat sore bayi mungil, uluh-uluh cantiknya kamu,” puji Ema yang terlihat begitu gemas dengan Asyila kecil.


Dyah tersenyum lebar dan dengan perlahan masuk ke dalam rumah dituntun oleh suaminya.


“Kalian beristirahatlah dulu,” ucap Abraham pada Dyah dan Fahmi.


Dyah mengangguk kecil dan perlahan merebahkan tubuhnya yang belum terlalu sehat.

__ADS_1


Ema pun masuk ke dalam dan dengan hati-hati merebahkan tubuh mungil Asyila kecil ke tempat tidur.


“Bayimu benar-benar sangat cantik. Dan matanya sama persis denganmu, sipit,” tutur Ema yang benar-benar jatuh cinta dengan kecantikan Asyila kecil.


__ADS_2