Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Bersama-sama Menyelamatkan Ema


__ADS_3

Abraham, Asyila dan Yogi saat itu sedang berada di ruang tamu menunggu kedatangan Dayat dan Edi.


Mereka semua berharap agar Ema segera ditemukan dan dalam keadaan sehat walafiat.


“Mas, tidak seharusnya Asyila membiarkan Ema pergi sendirian. Ini semua gara-gara,” ucap Asyila yang kini menyalahkan dirinya sendiri atas menghilangnya Ema.


“Nona Asyila jangan berkata itu, jangan menyalahkan diri sendiri,” sahut Yogi yang tak ingin jika istri dari sahabatnya menyalahkan dirinya sendiri.


Asyila menangis di pelukan suaminya, ia tahu bahwa Ema adalah wanita yang sama sekali tidak memiliki ilmu beladiri. Jika disuruh memilih, Asyila malah ingin jika dirinyalah yang diculik daripada sahabatnya. Setidaknya, Asyila bisa memberikan mereka pelajaran setimpal.


Akhirnya apa yang ditunggu oleh mereka bertiga tiba juga. Dayat dan Edi turun dari mobil untuk segera menghampiri Abraham yang beberapa saat lalu meminta Dayat dan Edi untuk segera datang ke perumahan Absyil.


“Assalamu’alaikum,” ucap Dayat dan Edi sebelum masuk.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Abraham, Asyila dan juga Yogi.


Yogi cepat-cepat menghampiri keduanya dan menuntun mereka untuk duduk.


“Kalian tolonglah bantu aku untuk menemukan istriku, Ema. Saat ini Ema pasti sudah berada ditangan orang jahat,” ucap Yogi khawatir.


“Kami tidak bisa menjanjikan apa-apa untuk segera menemukan Ema. Akan tetapi, kami akan berusaha,” terang Dayat.


“Syila, tolong buatkan minuman!” perintah Abraham


Asyila tahu bahwa suaminya ingin membahas sesuatu tanpa dirinya. Akan tetapi, Asyila enggan menuruti perintah suaminya. Bukan waktunya bagi mereka untuk menikmati secangkir kopi, keselamatan Ema lebih penting daripada menikmati kopi.


Karena waktu terus berjalan, akhirnya Abraham membiarkan istri kecilnya mendengar apa saja yang tengah mereka bahas.


Tentunya, pembahasan mereka mengenai hal Ema diculik.


“Sebentar,” ucap Dayat ketika ponsel miliknya berbunyi.


Dayat beranjak dari segera menerima telepon.


Beberapa menit kemudian.


“Siapa?” tanya Abraham.


“Untungnya tim yang lain menemukan petunjuk, tidak jauh dari lokasi yang dimaksud oleh Nona Asyila. Terdapat Cctv-nya dan mereka melihat bahwa ada dua orang yang membawa Ema masuk ke dalam mobil,” terang Dayat.


Asyila tercengang begitu pun yang lainnya, dugaan mereka sangatlah tepat. Ema memang sengaja diculik dan Asyila meminta suaminya agar segera menemukan Ema.


“Dayat, coba minta mereka untuk mencari lokasi Ema saat ini. Bagaimanapun, kalian harus menyelamatkan Ema!”


Dayat kembali menghubungi tim lain untuk meminta lokasi dari si pelaku penculikan bagaimanapun caranya.


“Bagaimana?” tanya Yogi dengan tatapan penuh harapan.


“Tim lain masih berusaha melacak keberadaan mereka dengan meminta bantuan orang-orang yang bertugas memantau CCTV. Semoga saja mereka secepatnya menemukan lokasi Ema sekarang.”


30 menit, 1 jam, 2 jam, 3 jam belum juga mendapat kabar. Belum lagi ketika Kahfi menanyakan keberadaan Ema dan kerewelan Ashraf yang membuat suasana semakin runyam.


Mereka sangat antusias menunggu kabar selanjutnya dari Tim yang bertugas melacak keberadaan seseorang melalui CCTV.


Dayat serta yang lainnya serentak terkejut mendengar suara ponsel berbunyi, dengan cepat Dayat membaca pesan tersebut yang isinya bahwa ada lokasi yang sangat mencurigakan. Yang artinya, kemungkinan besar bahwa Ema disembunyikan oleh mereka di tempat tersebut.


Tanpa pikir panjang lagi, Abraham langsung mengajak mereka semua untuk segera pergi ke lokasi tempat Ema disembunyikan.


“Mas!” Asyila dengan erat menggenggam tangan suaminya agar diperbolehkan untuk ikut.


“Syila tidak boleh ikut, Syila harus menjaga Ashraf dan Kahfi dirumah,” ucap Abraham yang tak memperbolehkan istri kecilnya untuk ikut menemukan keberadaan Ema.


Karena waktu yang sangat mepet mendekati Dzuhur, Asyila meminta mereka untuk melaksanakan sholat Dzuhur terlebih dahulu sebelum berangkat.


“Asyila benar, sebaiknya kita harus ke sholat Dzuhur dulu. Ayo kita pergi ke Masjid!” ajak Abraham dan merekapun berbondong-bondong menuju Masjid depan rumah Abraham.

__ADS_1


****


Abraham dan yang lain telah selesai melaksanakan sholat Dzuhur, tiba bagi mereka untuk pergi menyusul Ema. Yogi berharap istrinya baik-baik saja dan tidak kenapa-kenapa.


“Mas, Asyila ikut ya!” pinta Asyila sambil menggenggam erat tangan suaminya.


Abraham dengan tegas menolak, ini bukan hal yang sepele bagi seorang wanita. Terlebih lagi, yang tengah mereka lakukan adalah untuk segera menyelamatkan Ema dari tangan penjahat.


“Mas...” Asyila memberikan tatapan sedih agar Sang suami mengizinkannya untuk ikut.


“Tidak boleh,” tegas Abraham sekali lagi.


Abraham dan lainnya akhirnya masuk ke dalam mobil untuk bersiap-siap menemukan Ema.


Disaat yang bersamaan, Asyila melihat calon suami dari Dyah. Yaitu, Muhammad Fahmi.


“Hatu-hati Mas!” Asyila melambaikan tangannya ke arah suaminya yang sudah berada di dalam mobil. Perlahan, mobil itupun pergi meninggalkan perumahan Absyil.


Dirasa sudah cukup jauh, Asyila berlari mengejar Fahmi dan Fahmi pun menghentikan langkahnya yang baru saja pulang dari Masjid.


“Ada apa, Aunty?” tanya Fahmi.


Asyila yang mendengar panggilan tersebut agak asing. Sebab, ia belum terbiasa jika ada yang memanggil seperti itu.


“Mas Fahmi, tolong jaga anak-anak dirumah!” pinta Asyila yang masih memanggil Fahmi dengan embel embel “Mas.” Asyila masih sangat canggung jika harus memanggil Fahmi tanpa menggunakan embel-embel “Mas.”


“Baik, Aunty. Memangnya anak-anak dimana?” tanya Fahmi yang siap menjaga Ashraf dan Kahfi.


“Dirumah, aku sekarang harus pergi. Sebelumnya terima kasih,” ucap Asyila dan berlari menuju rumah untuk mengambil motor. Kemudian, Asyila pergi begitu saja meninggalkan Ashraf dan Kahfi bersama Fahmi.


Asyila mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, ia tinggal ingin ketinggalan jauh dari mobil yang sedang dinaiki suaminya.


“Itu mereka, syukurlah,” ucap Asyila lega dan terus mengikuti mobil milik Dayat dari belakang.


Perjalanan ternyata cukup jauh, untungnya Asyila telah melaksanakan sholat sehingga ia tidak meninggalkan kewajibannya sebagai umat Islam.


Mobil berhenti tepat di sebuah bangunan terbengkalai. Bangunan pabrik teh yang sudah sangat lama ditinggalkan begitu saja, ditambah sekeliling bangunan terbengkalai itu terdapat lahan yang sudah tidak pernah dijamah oleh manusia.


“Semuanya, ambil posisi!” perintah Dayat dan seketika itu mereka mengambil posisi masing-masing mengitari gedung terbengkalai itu serta berharap bahwa Ema baik-baik saja.


Asyila telah tiba di lokasi. Namun, ia tidak berani mendekat takut jika suaminya mengetahui dirinya yang ternyata membuntuti mereka.


Asyila dari kejauhan memantau lokasi sekitar dan tak sengaja ia menangkap seseorang yang tengah berdiri tepat disebuah bangunan sisi kiri.


“Sudah pasti itu adalah pelaku penculikan. Bagaimanapun, aku harus menyelamatkan Ema dan memastikan kalau Ema baik-baik saja,” ucap Asyila bermonolog dan berlari mengendap-endap menuju bangunan diujung sisi kiri.


Asyila akhirnya berhasil mendekat ke arah ujung sisi kiri bangunan, ia mengintip dengan sangat hati-hati dan ternyata dugaannya benar. Ema ada didalam dan dengan kondisi terikat, sungguh hati Asyila terasa sangat panas. Hatinya seakan-akan tengah dibakar dengan air yang menyala.


Tunggu sebentar lagi, Ema. Aku akan menyelamatkanmu.


Asyila melihat sekelilingnya dan dengan cepat masuk ke dalam ruangan itu.


“Hhmmmm.. Mmmmm...” Ema menggerakkan tubuhnya ketika melihat Asyila masuk ke dalam. Ema begitu takut jika sahabatnya itu kenapa-kenapa.


“Sssuuuttt... Tenang, Ema. Jangan berisik! Aku datang kemari untuk menyelamatkan kamu dan Pak Yogi bersama yang lainnya sedang berada di luar,” terang Asyila mencoba menenangkan Ema.


Ketika Asyila ingin mencoba melepaskan Ema, tiba-tiba seorang pria datang dan bersiap-siap untuk memukul Asyila dengan menggunakan kayu ukuran besar.


Ema yang melihatnya langsung memberikan isyarat mata sehingga Asyila dengan cepat mengelak dan dengan ketangkasannya Asyila menendang perut pria itu dengan sangat keras.


Tak sampai disitu, Asyila mengambil kayu yang berada ditangan si pria dan tanpa pikir panjang Asyila memukul tangan kanan si penculik Ema sebanyak dua kali dengan cukup keras.


“Aaakkkhhh!” Teriakkan dari si penculik benar-benar sangat keras hingga menimbulkan perhatian Abraham serta yang lainnya.


Tak pikir panjang, Abraham serta yang lainnya berlari ke arah sumber suara yang menjerit kesakitan.

__ADS_1


Mendengar teriakkan dari temannya, si penculik yang satunya berlari ke ruangan tempat dimana Ema disekap.


Ia sangat marah mengetahui komplotannya sudah tak berdaya dengan tangan kanan yang terus mengeluarkan darah segar akibat pukulan kayu yang Asyila gunakan.


“Kurang ajar, wanita sial*n!”


Pria itu mengambil kursi dan mengangkatnya tinggi-tinggi untuk melemparkan kursi tersebut ke arah Asyila. Asyila terkejut dan segera melindungi tubuh Ema, untungnya Abraham cepat datang dan langsung menjatuhkan si pelaku penculikan itu.


“Borgol dia sekarang!” perintah Abraham yang terlihat sangat marah. Telat satu detik saja sudah dapat dipastikan bahwa Asyila akan mengalami luka yang sangat parah melihat ukuran kursi kayu yang cukup besar.


Abraham membantu istri kecilnya berdiri, sementara Yogi bergegas melepaskan tali yang mengikat istrinya dengan sangat hati-hati.


Asyila beranjak dan sibuk membantu Yogi melepaskan tali yang mengikat seluruh tubuh Ema.


“Ya Allah, Ema....” Asyila menangis ketika melihat wajah Ema sudah membiru dan darah pun masih terlihat jelas di area bibir serta pakaian Ema.


“Jangan menangis, Asyila. Terima kasih karena kamu telah melindungi ku,” ucap Ema dan merekapun berpelukan.


Kedua pelaku penculikan sudah berhasil diamankan. Akan tetapi, ada satu orang yang menarik perhatian Abraham yaitu pria yang tangannya mengeluarkan banyak darah. Ia ingat bahwa ia dan yang lainnya sama sekali belum melakukan apapun, maksud dari kata melakukan apapun adalah belum memukul si pelaku penculikan.


Hal itu membuat Abraham akhirnya bertanya ke pria tersebut dan dengan kesalnya ia menjawab bahwa yang melakukanya adalah wanita yang baru saja datang yaitu, Asyila.


“Syila!” Abraham menarik tubuh istri kecilnya dan segera memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat. Abraham tak peduli dengan banyak pasang mata yang melihatnya, yang ia inginkan saat itu adalah memastikan bahwa istri kecilnya baik-baik saja.


Yogi pun sama, ia memeluk tubuh istrinya dan menangis ketika melihat wajah Ema yang sudah babak belur karena ulah dari dua pelaku penculikan.


Abraham dan Yogi akhirnya sepakat untuk memberikan mereka pelajaran sebelumnya dibawa oleh Dayat dan Edi untuk diinterogasi di kantor.


Dayat dan Edi membiarkan dua pria tersebut untuk memukuli pelaku. Toh, Abraham dan Yogi hanya memukul dan tidak sampai membunuh.


Para polisi yang lainnya datang ke lokasi dan segera mengepung bangunan terbengkalai tersebut. Merekapun menyaksikan bagaimana Abraham dan Yogi memukuli kedua pelaku penculikan. Suami mana yang akan diam saja melihat istri mereka diperlakukan dengan sangat kasar, apalagi sampai membuat wajah si istri babak belur.


Ema menatap sahabatnya dengan penuh pertanyaan. Ema benar-benar terkejut melihat keberanian Asyila serta kelincahan Asyila ketika menjatuhkan lawan.


“Asyila, apakah kamu bisa bela diri?” tanya Ema penasaran.


“Sssuuutt... Aku mohon kamu jangan bilang kepada siapapun. Ini hanya rahasia kita berdua saja, maaf karena ini semua adalah kesalahanku. Tidak seharusnya aku membiarkanmu sendirian pergi membeli gorengan,” terang Asyila sembari terus memandangi wajah Ema yang begitu malang.


Ema tersenyum sembari menahan sakit diwajahnya, ia bernapas lega karena Asyila menguasai seni ilmu bela diri.


Beberapa saat kemudian.


Abraham mendekat ke arah Dayat dan meminta Dayat untuk mengantarkan motor yang dibawa sang istri ke rumah. Sementara itu, Asyila akan pulang dengan menggunakan mobil.


Abraham, Asyila, Ema dan Yogi akhirnya meninggalkan bangunan terbengkalai itu untuk segera kembali ke rumah mereka masing-masing.


Eko lah yang menjemput mereka atas perintah dari Abraham yang memerintah agar Eko segera menghampiri mereka di tempat itu.


“Apakah sangat sakit? Apa perlu kita ke rumah sakit?” tanya Yogi.


Ema dengan cepat menolaknya, ia tidak ingin pergi ke rumah sakit apalagi wajahnya yang babak belur seperti itu akan mengundang perhatian banyak orang. Bisa-bisa ia menjadi trending topik di seluruh Indonesia dan mengira bahwa suaminya, Yogi telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga atau biasa disebut KDRT.


“Kita pulang saja, Abang!” pinta Ema.


Abraham didalam mobil tidak banyak bicara, sebenarnya ada banyak hal yang ingin Abraham tanyakan kepada istri kecilnya yang terang-terangan melanggar perintah darinya untuk tidak ikut menemukan keberadaan Ema.


Akan tetapi, Abraham memutuskan untuk mengurangkan niatnya bertanya sebelum mereka sampai di rumah.


Eko yang tidak tahu apa-apa terlihat seperti orang kebingungan. Akan tetapi, ia memilih diam sampai akhirnya ia tahu sendiri.


“Asyila, terima kasih,” ucap Ema dengan senyum manisnya.


Asyila tertawa kecil sembari geleng-geleng kepala. Sahabatnya benar-benar terlihat konyol dengan senyum dan wajah babak belur seperti itu.


“Iya aku tahu, kalau aku lucu dan menggemaskan,” ucap Ema narsis.

__ADS_1


Like 💖 komen 👇🙏


__ADS_2