
Asyila duduk seorang diri dengan terus memandang ke arah langit. Ia pun berharap agar keluarga kecilnya tidak lagi mendapatkan hal-hal buruk seperti hari kemarin.
“Neng Geulis, pesanannya sudah jadi. Mau sekalian dengan minumnya?” tanya si pemilik warung sambil menyerahkan nasi bungkus dengan lauk yang diinginkan oleh Asyila.
Asyila tersenyum dan menerima nasi bungkus tersebut.
“Air mineralnya dua botol ya Bu!” pinta Asyila.
Si pemilik warung mengangguk dan mengambil air mineral dua botol.
“Ini Neng Geulis,” ucapnya.
Asyila mengucapkan terima kasih dan segera membayar nasi bungkus serta dua botol air mineral tersebut.
Usai membayar, Asyila bergegas kembali ke ruang rawat suaminya dan disaat yang bersamaan, dari kejauhan ada dua bocah yang tengah berlari ke arahnya sambil memanggil Asyila dengan kata “Bunda”
Asyila tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca melihat kedua putra kecilnya bersama Sang suami tengah berlari menghampirinya.
“Bunda!” panggil keduanya kepada Asyila.
Arsyad dan Ashraf kompak memeluk Bunda mereka dengan begitu semangat.
“Ya Allah, kesayangan Ayah dan Bunda pagi-pagi begini sudah ganteng,” puji Asyila sambil menciumi pipi mereka secara bergantian.
“Bunda, Ayah mana?” tanya Ashraf yang terlihat sangat tidak sabar dibandingkan Kakaknya, Arsyad.
“Ayah ada di dalam ruangannya, Ashraf mau melihat Ayah?” tanya Asyila pada putra kecilnya.
Ashraf dengan cepat mengiyakan sambil melompat-lompat kegirangan.
Arumi dan Herwan datang menghampiri Asyila, Asyila pun terkesiap dan mencium punggung tangan kedua orangtuanya secara bergantian.
“Maaf Bunda,” ucap Arsyad yang lupa mencium punggung tangan Bundanya dan seketika itu ia mencium punggung tangan Asyila.
Ashraf pun mengikuti apa yang dilakukan oleh kakaknya.
“Iya Bunda memaafkan kalian berdua, ayo ikut Bunda!” ajak Asyila dan menggandeng tangan buah hatinya.
Asyila berjalan diantara kedua putra kecilnya, sementara Arumi dan Herwan membuntuti ketiganya dari belakang.
“Lihatlah, Mas! Putri kita sekarang sudah kelihatan lebih segar meskipun masih terlihat sedikit pucat,” ucap Arumi.
Herwan mengiyakan apa yang dikatakan oleh istrinya. Akan tetapi, Herwan percaya sebentar lagi semuanya akan kembali seperti sedia kala.
Sesampainya di ruang rawat Abraham, Arsyad dan Ashraf berteriak memanggil Ayahnya dan dalam sekejap mereka menangis.
“Hiks... hiks... Ayah....” Arsyad menangis tepat di samping Ayahnya tersayang.
__ADS_1
Abraham menghela napasnya dan ia sama sekali tidak bisa bangun, ia hanya berbaring sembari menoleh ke arah putra pertamanya.
“Sakit ya Ayah?” tanya Ashraf yang juga ikutan menangis.
Asyila menangis terharu melihat kedua putra kecilnya bersama Abraham tengah menangis Ayah mereka.
“Kalian juga cengeng sama seperti Bunda,” ucap Abraham sambil tertawa kecil mencairkan suasana di ruangan tersebut.
Asyila memanyunkan bibirnya setelah mendengar ucapan suaminya yang mengejeknya.
“Memangnya cengeng dilarang?” tanya Asyila yang kembali memanyunkan bibirnya.
Abraham mengangkat tangannya dan memberi isyarat agar istri kecilnya mendekat ke arahnya. Asyila pun berjalan mendekat dan seketika itu Abraham Abraham tersenyum lebar.
“Kesayangan Ayah dan Bunda tidak boleh menangis, kalau menangis Ayah tidak mau pulang ke rumah,” ucap Abraham menakuti-nakuti buah hatinya bersama Asyila agar segera berhenti.
Arsyad dan Ashraf dalam sekejap menghentikan tangisan mereka. perkataan Abraham benar-benar bisa membuat kedua putra kecilnya berhenti menangis.
Arumi dan Herwan mendekat, kemudian menanyakan keadaan menantu mereka. Abraham pun mengucapkan syukur karena ia sama sekali tidak merasa sakit, hanya saja kaki kirinya kadangkala mati rasa.
“Cepat sembuh ya Nak Abraham, Nak Abraham jangan terlalu memikirkan hal-hal berat. Soal anak-anak biar Ibu percayakan saja kepada Ibu,” ucap Arumi sambil menoleh ke arah Arsyad dan juga Ashraf.
“Terima kasih, Ibu. Maaf karena telah membuat Ibu dan Ayah repot,” balas Abraham.
“Tidak repot sama sekali, justru Ibu dan Ayahmu sangat senang menjaga Arsyad dan Ashraf,” terang Arumi.
“Ashraf kangen Ayah,” ucap Ashraf dan ikut berbaring di samping Abraham. Kemudian, memeluk tubuh Ayahnya dengan sangat erat.
Asyila, Arumi dan juga Herwan terperangah dengan apa yang dilakukan oleh Ashraf. Ashraf benar-benar membuat para orang tua tercengang.
Arsyad pun mengikuti apa yanga dilakukan oleh adiknya dan ia pun berbaring sembari memeluk tubuh Ayahnya. Kini sisi kiri dan kanan Abraham telah dipeluk oleh kedua putra kecilnya bersama Asyila.
“Kalian curang, lalu Bunda dimana?” tanya Asyila sambil memasang wajah cemberut.
“Bunda disini,” sahut Ashraf sambil menunjuk ke arah dada Ayahnya.
Asyila terbelalak lebar dan di detik berikutnya, kedua orangtuanya tertawa begitu juga dengan Abraham.
Suasana ruangan tersebut akhirnya dipenuhi oleh tawa mereka, Abraham senang melihat istri kecilnya tertawa lepas seakan-akan tidak ada beban lagi.
“Permisi,” ucap seorang perawat sambil membawa makanan untuk Abraham.
Semuanya mengiyakan dan perawat tersebut meletakkan makanan tersebut di atas meja.
“Tuan Abraham, makanannya harus dihabiskan ya! 30 menit lagi Dokter akan datang untuk memeriksa kondisi Tuan Abraham,” ucap Si Perawat.
Abraham mengangguk kecil tanpa tersenyum sedikitpun, ya begitulah Abraham. Pria yang sangat pelit senyum kepada wanita manapun dan ia akan tersenyum tulus hanya kepada istri kecilnya, senyum yang penuh kasih sayang serta cinta.
__ADS_1
Si perawat permisi meninggalkan ruangan tersebut.
“Ayah, kaki Ayah kenapa?” tanya Ashraf ketika melihat kaki kiri Ayahnya diperban.
“Kaki Ayah lagi sakit, sayang,” jawab Abraham sambil menoleh ke arah Ashraf.
Arsyad dan Ashraf terus saja mengajak Ayahnya berbincang-bincang. Karena tak ingin mengganggu suasana hangat tersebut, Arumi pun mengajak suaminya keluar untuk mencari cemilan. Tentu saja cemilan tersebut untuk kedua cucu mereka, yaitu Arsyad dan juga Ashraf.
“Asyila, Nak Abraham! Ibu dan Ayah keluar sebentar, ada yang mau kami beli,” ucap Arumi.
Asyila cepat-cepat mengambil tas miliknya dan mengeluarkan dompetnya. Kemudian, menyerahkan uang warna merah beberapa lembar kepada Ibunya.
Arumi pun menolak pemberian uang dari putrinya, dikarenakan uang pemberian Abraham masih sangat banyak.
“Tapi, Ibu....”
“Kamu simpan saja buat kebutuhan yang lain, uang yang Nak Abraham berikan kepada kami masih banyak,” ucap Arumi dan menggandeng tangan suaminya meninggalkan ruangan tersebut. Akan tetapi, sebelum pergi Arumi dan Herwan mengucapkan salam.
Asyila, Abraham dan kedua putra kecil mereka kompak membalas salam dari Arumi dan juga Herwan.
“Ayah, jangan sakit,” ucap Arsyad dan kembali mempererat pelukannya.
“Uhuk... uhuk...” Abraham terbatuk-batuk dan dengan sigap Asyila mengambil air minum untuk suaminya.
Asyila meminta Arsyad untuk bergeser agar Abraham bisa lebih leluasa minum air, Asyila kemudian mengangkat kepala suaminya dan membantu suaminya minum air.
“Pelan-pelan ya Mas,” ucap Asyila agar suaminya tidak terburu-buru dalam meneguk air.
“Terima kasih,” ucap Abraham setelah meneguk setengah gelas air minum yang diberikan oleh istri kecilnya.
Asyila kembali meletakkan kepala suaminya di bantal dengan sangat hati-hati. Kemudian, meletakkan kembali gelas air minum ke atas meja.
“Arsyad dan Ashraf sementara turun dulu ya sayang, Ayah kalian harus makan biar cepat sembuh dan bisa pulang ke rumah. Kalian mau 'kan, Ayah cepat pulang?”
“Mau!” seru Arsyad dan Ashraf. Kemudian, mereka turun dari tempat tidurnya Abraham.
Arsyad dan Ashraf memilih duduk di matras agar Ayah mereka lebih leluasa menikmati makanan.
“Arsyad dan Ashraf sudah makan belum nak?” tanya Abraham.
“Sudah Ayah!” seru keduanya.
Asyila kembali membantu suaminya agar kepala sedikit lebih tinggi, Asyila pun meminta Arsyad mengambilkan bantal di ranjang kosong yang biasa digunakan Asyila untuk tidur. Asyila sengaja memesan kamar dengan dua tempat tidur agar ia juga bisa tidur menemani suaminya.
“Ini Bunda,” ucap Arsyad memberikan bantal tersebut kepada Sang Bunda.
“Terima kasih sayang,” balas Asyila dan meletakkan bantal itu di tengkuk suaminya sehingga suaminya bisa lebih mudah menikmati makanan.
__ADS_1
Abraham tidak mau makan seorang diri, ia pun meminta istri kecilnya untuk ikut makan. Asyila mengiyakan dan mengambil nasi bungkus dengan lauk telur dadar yang sebelumnya telah ia beli.