
“Nah itu dia. Ngomong-ngomong Nona Asyila kenapa tidak pernah terlihat lagi?” tanya Pak Harun penasaran.
Herwan terdiam sejenak, ia ingin memberitahukan masalah Asyila yang telah meninggal beberapa Minggu yang lalu. Akan tetapi, Herwan memilih untuk tak memberitahukan hal tersebut karena ingin menjaga perasaan Abraham.
Sebelumnya, mereka telah mengadakan Do'a bersama setelah mengetahui Asyila ditenggelamkan di laut lepas. Akan tetapi, Abraham serta yang lainnya tidak memberitahukan alasan mengapa mereka menyelenggarakan Do'a bersama.
para tetangga yang datang, hanya tahu bahwa keluarga Abraham Mahesa tengah mengadakan Do'a bersama untuk kesejahteraan keluarga mereka.
“Pak Herwan, saya bertanya kok malah Pak Herwan yang malah melamun?” tanya Pak Harun.
“Ah, Maaf. Putri saya, saat ini sedang berada di Jakarta. Maklum, sedang hamil muda dan belum berani melakukan perjalanan jauh apalagi jalan raya sekarang ini sering macet,” ucap Herwan yang terpaksa berbohong.
Herwan benar-benar menyesali mulutnya yang berbohong tersebut. Sungguh, ia tidak ingin membohongi siapapun karena Herwan sangatlah takut dengan yang namanya dosa. Akan tetapi, melihat kondisi yang sangat mendesak seperti itu, mau tak mau Herwan harus berbohong kepada Pak Harun.
“Ya Allah, saya hampir lupa. Nanti malam, setelah sholat isya datanglah ke rumah. Jangan lupa bawa juga Tuan Abraham,” terang Pak Harun.
“Ada acara apa Pak harus?” tanya Herwan.
“Hehehe... Istri muda saya melahirkan. Saya awalnya sempat terkejut mengetahui istri muda saya hamil, tapi yang namanya rezeki tidak boleh ditolak. Sampai sekarang saya tidak menyangka, di usia sayang yang menginjak 56 tahun, saya memiliki bayi cantik yang lucu,” terang Herwan dengan penuh kebanggaan.
“Selamat ya Pak, kalau begitu saya permisi. Insya Allah saya dan Nak Abraham agar datang ke rumah Bapak setelah sholat isya, saya pulang ya Pak. Assalamu'alaikum!”
“Wa’alaikumsalam,” jawab Pak Harun.
Herwan bergegas meninggalkan Pak Harun. Entah kenapa, Herwan sedikit terganggu dengan ucapan Pak Harun yang begitu bangga memiliki banyak istri.
“Masih ada saja orang seperti Pak Harun. Sudah punya istri dua, sekarang nambah lagi. Astagfirullahaladzim,” ucap Herwan sambil mengelus-elus dadanya.
Pak Harun cukup terkenal di daerah setempat karena kegeramannya yang suka kawin cerai.
Entah sudah berapa kali Pak Harun menikah dan juga cerai. Hanya saja, daerah sekian banyak istrinya, hanya istri pertama dan kedua yang bertahan. Sisanya kawin cerai begitu saja, seakan-akan pernikahan hanya status saja.
“Mas darimana saja? Nak Abraham sudah pulang dari tadi, Mas malah belum pulang-pulang juga,” ucap Arumi yang ternyata tengah menunggu suaminya di teras depan.
“Tadi sedang berbincang-bincang dengan Pak Harun,” jawab Herwan.
“Pak Harun? Maksud Mas, yang istrinya banyak itu? Yang rumahnya di ujung seberang pagar hijau itu?” tanya Arumi memastikan.
“Ssuuttt, jangan keras-keras. Nanti ada yang mendengarnya,” balas Herwan sambil menutup mulut istrinya dan menuntun sang istri untuk masuk ke dalam.
“Hmm... Hmm... Mas, lepaskan,” ucap Arumi berusaha melepaskan menjauhkan tangan suaminya yang tengah menutup mulutnya.
“Maaf.” Herwan pun menjauhkan tangannya.
“Memangnya, Mas dan Pak Harun sedang berbincang-bincang mengenai apa? Pokoknya, jangan ada yang Mas sembunyikan,” tegas Arumi sambil berkacak pinggang.
“Sembunyikan yang bagaimana? Pak Harun tadi memberitahukan Mas untuk datang ke rumahnya setelah sholat isya bersama dengan Nak Abraham,” jawab Herwan.
“Acara apa Mas?” tanya Arumi penasaran.
“Kemungkinan acara Do'a bersama, karena istri ketiga Pak Harun baru saja melahirkan bayi perempuan,” terang Herwan.
__ADS_1
Mendengar keterangan dari suaminya, Arumi memilih untuk tidak berkomentar.
Meskipun, mulutnya ingin sekali membahas masalah Pak Harun yang suka poligami.
Malam hari.
Sebuah mobil perlahan masuk ke dalam halaman rumah Abraham.
Ternyata itu adalah Yogi beserta keluarga kecilnya yang datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
“Tin... Tin... Tin..” Suara klakson mobil berbunyi.
Abraham dan mertuanya yang tengah duduk sambil berbincang-bincang, terkejut mendengar suara bel mobil.
“Siapa, Mas?” tanya Arumi pada suaminya.
Herwan menggelengkan kepalanya, tanda ia tak mengetahui siapa yang datang di waktu malam seperti itu.
“Sebentar, biar Abraham saja yang keluar,” ucap Abraham.
Ketika Abraham baru saja keluar, tiba-tiba sosok anak kecil berlari ke arahnya dan memanggil namanya dengan sangat nyari.
“Ayah!” panggil Ashraf dengan begitu gembira.
Abraham merentangkan tangannya dan menyambut pelukan dari buah hatinya.
Akhirnya, Abraham bisa melihat senyum buah hatinya yang selama ini ia rindukan.
“Ashraf kemana saja? Kenapa baru pulang?” tanya Abraham dengan memasang wajah murungnya.
Bukannya minta maaf, Ashraf justru tertawa lepas melihat ekspresi Ayahnya.
Ema, Kahfi dan Yogi turun dari mobil dengan senyum bahagia.
Mereka mendekat dan tak lupa mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum!” sapa keluarga kecil Yogi.
“Wa’alaikumsalam!” seru Abraham serta yang lainnya.
“Kenapa harus mengantarkan Ashraf kemari? Kenapa tidak menghubungi kami saja, agar kami yang menjemput Ashraf,” ucap Arumi yang tak enak hati karena keluarga kecil Ema mengantarkan Ashraf kembali ke rumah.
“Ibu tidak perlu sungkan sama kami. Sebenarnya, kami ingin Ashraf tinggal lebih lama bersama kami. Akan tetapi, Ashraf beberapa saat yang lalu sedikit rewel dan meminta kami untuk mengantarkannya malam ini juga. Jadinya, yang seperti ini,” terang Ema apa adanya.
“Cucu Nenek tidak boleh nakal seperti itu ya,” ucap Arumi pada Ashraf yang masih digendong oleh Ayahnya.
“Iya, Nek,” jawab Ashraf dengan tatapan polosnya dan membuat Arumi merasa sangat gemas dengan cucunya.
Karena angin malam sangat kencang, Ema segera mempersilakan mereka untuk masuk ke dalam sambil bersantai-santai sejenak.
“Ayo duduklah, Ibu akan ke dapur dan membuatkan kalian teh,” tutur Arumi yang sangat ramah.
__ADS_1
“Tidak usah repot-repot, Ibu,” sahut Ema.
“Siapa yang repot? Justru, Ibu sangat senang ada kalian disini. Atau begini saja, bagaimana kalau kalian menginap disini dan besok pagi saja yang kalian pulangnya?” tanya Arumi penuh harap dan sangat berharap Ema ataupun Yogi mengiyakan keinginannya.
“Ba-bagaimana, Abang?” tanya Ema pada suaminya yang duduk tepat disampingnya.
“Baik, tidak masalah. Malam ini kita tidur disini dan besok pagi kita pulangnya!” seru Yogi.
Arumi melompat kecil dan sangat senang karena mereka bertiga akan menginap kembali di rumah menantunya.
“Kalau begitu tunggu sebentar ya,” tutur Arumi dan berjalan secepat mungkin untuk menyeduh teh panas.
Ashraf terlihat sangat manja berada di pangkuan Ayahnya. Terlihat sekali, bahwa Ashraf tak ingin lepas dari dekapan sang Ayah.
“Ayah, besok kita berenang ya!” pinta Ashraf.
Semua pasang mata seketika itu tertuju pada Ashraf yang secara tiba-tiba ingin pergi berenang.
Melihat tatapan mereka, Ashraf langsung menyembunyikan wajahnya di dada Abraham.
“Kenapa malu-malu seperti ini? Kalau Ashraf memang mau berenang, besok kita akan berenang sama-sama. Akan tetapi, Ashraf tidak boleh nakal apalagi cengeng. Ashraf setuju!”
Ashraf mendongakkan kepalanya dan mengiyakan perkataan Ayahnya.
“Sip, ini baru anak Ayah dan Bunda,” puji Abraham.
Di ruang tamu, mereka terus saja mengobrol dan ternyata Ashraf sudah tidur di pangkuan Abraham dengan sangat nyenyak.
“Ssuuttss, Maaf semuanya. Ashraf harus dipindahkan ke kamarnya,” ucap Abraham dengan sangat lirih dan menggendong tubuh Ashraf menuju kamarnya.
Abraham meletakkan buah hatinya dengan sangat hati-hati ke tempat tidur. Akan tetapi, belum juga mendarat, Ashraf sudah bangun dengan setengah merengek.
“Sssuutt, anak baik tidak boleh menangis. Ashraf tidur lagi ya sayang,” ucap Abraham.
“Ayah bobo disini sama Ashraf,” balas Ashraf meminta Ayahnya untuk tidur menemani dirinya.
Abraham tersenyum dan mengiyakan permintaan buah hatinya.
“Ayah, puk.. puk...”
Abraham tertawa kecil dan memukul lembut bokong buah hatinya sampai sang buah hati benar-benar terlelap.
“Ayah...” ucap Ashraf dengan mata yang masih terpejam.
“Iya sayang, Ashraf bobo yang nyenyak ya. Ayah tidak akan kemana-mana dan terus menemani Ashraf tidur sampai besok pagi,” terang Abraham.
Agar buah hatinya cepat tidur, Abraham pun memutuskan untuk mendendangkan lagu-lagu rohani. Seperti sholawat nabi Muhammad Saw.
Beberapa saat kemudian.
akhirnya Ashraf tertidur dengan sangat nyenyak dan membuat Abraham ikut senang.
__ADS_1
“Nak, terima kasih untuk semuanya. Ayah tahu Ashraf adalah anak yang baik dan juga kuat.
kedepannya, Ayah berharap Ashraf menjadi anak yang tidak mudah dikalahkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam,” tutur Abraham pada buah hatinya yang tengah terlelap.