Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Pernyataan Asyila Kepada Polisi


__ADS_3

Abraham kembali fokus dengan masakannya, sementara Asyila tetap duduk manis dengan terus memerhatikan suaminya tercinta.


Ibu Lastri yang ditugaskan menjahit pakaian, saat itu berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.


“Selamat pagi, Ibu Lastri! Bagaimana menjahitnya?” tanya Asyila pada Ibu Lastri.


“Alhamdulillah, lancar Nona Asyila,” jawab Ibu Lastri.


“Syukurlah, sudah dapat gamis berapa?”


“Alhamdulillah, saya sudah menjahit gamis lebih dari 10,” jawab Ibu Lastri yang memang sudah ahli dalam urusan jahit-menjahit.


“Benarkah? Bukankah Ibu Lastri baru kemarin bekerja dengan Saya?”


“Nona Asyila, kalau urusan menjahit insya Allah saya sudah ahlinya. Kemarin saya menyelesaikan gamis sebanyak 8 gamis dan baru pagi ini saya sudah menyelesaikan 5 gamis. Insya Allah, saya akan berusaha menjahit lebih banyak lagi,” terang Ibu Lastri.


Mbok Num dan Ibu Juminah ikut senang dengan keterangan Ibu Lastri.


“Semuanya, semangat ya. Maaf, untuk beberapa hari ke depan saya belum bisa membantu, insya Allah ketika badan saya sudah sembuh, saya akan kembali beraktivitas seperti biasa,” terang Asyila.


“Nona Asyila tidak perlu ikut membantu kami, ini semua sudah menjadi tugas kami,” sahut Mbok Num.


“Iya, Nona Asyila. Yang paling penting Nona Asyila bisa segera sembuh,” balas Ibu Juminah.


“Kalau urusan menjahit itu sudah menjadi tugas saja, Nona Asyila tidak perlu lagi turun tangan,” tutur Ibu Lastri.


Asyila sangat senang karena memiliki mereka bertiga yang begitu baik serta pengertian. Asyila berharap bahwa ketiganya betah untuk tetap bekerja dengannya.


Masakan daun katuk jagung buatan Abraham pun jadi. Perlahan, Abraham meletakkan masakannya ke dalam mangkuk agar cepat dingin dan bisa segera dinikmati oleh istri kecilnya yang memang belum sarapan, sementara yang lain sudah sarapan terlebih dahulu.


“Syila, masakan Mas khusus untuk Asyila seorang sudah jadi. Akan tetapi, belum bisa langsung dimakan karena masih panas. Syila sabar ya,” tutur Abraham sembari mengelus lembut rambut Asyila.


“Terima kasih, Mas Abraham. Kalau Asyila sudah sembuh, Asyila yang akan terus memasak makanan untuk Mas Abraham,” sahut Asyila.


Abraham tersenyum dan mencium kening Sang istri dengan perlahan.


“Kalau soal itu kita pikirkan nanti, yang paling penting Asyila sehat dulu,” balas Abraham sembari menyentuh lembut hidung mancung Asyila.


“Baik, Mas. Asyila akan makan yang cukup agar bisa segera sembuh!” seru Asyila.


Beberapa jam kemudian.


Abraham yang tengah bersama istri kecilnya di dalam kamar, baru saja mendapatkan pesan bahwa polisi yang akan meminta keterangan dari Asyila sebentar lagi akan tiba di perumahan Absyil.


Saat itu juga, Abraham memberitahukan kepada istri kecilnya dan membantu Sang istri mengganti pakaian.


“Mas, Asyila bisa mengganti pakaian sendiri. Mas tidak perlu membantu Asyila,” tutur Asyila.


“Kalau ini, tetap saja Mas yang harus membantu Asyila,” balas Abraham.


Asyila tertawa kecil dan terheran-heran dengan suaminya yang begitu semangat membantu dirinya.


Setelah berhasil membantu Asyila mengganti pakaian, kini Abraham mencoba membantu istri kecilnya mengenakan hijab.


“Terima kasih, Mas. Sekarang Asyila sudah siap,” ujar Asyila.

__ADS_1


“Asyila yakin tidak apa-apa? Apakah kepala Asyila sakit sekali? Apa perlu Mas meminta mereka untuk menutup mata selama sesi pembicaraan nanti?” tanya Abraham yang terlihat begitu khawatir.


“Astaghfirullahaladzim, tidak sampai seperti itu juga Mas. Mana ada polisi tutup mata, Mas ini ada-ada saja,” jawab Asyila yang terkekeh geli mendengar banyaknya pertanyaan dari suaminya yang membuat Asyila bingung harus menjawab pertanyaan suaminya yang mana dulu.


“Ya siapa tahu mereka bersedia menutup mata,” balas Abraham.


“Mas, sudah jangan bicara lagi. Mas mau Asyila mengompol gara-gara Mas banyak bicara?”


Abraham mengernyitkan keningnya sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena terheran-heran dengan pertanyaan dari suaminya.


“Memangnya suamimu ini air minum?” tanya Abraham.


“Bisa dikatakan seperti itu, karena Mas Abraham sumber kehidupan Asyila,” jawab Asyila.


Abraham salah tingkah mendengar jawaban dari istri kecilnya.


“Tok! Tok! Tok!” Suara pintu diketuk dari luar pintu.


“Paman, diluar ada polisi,” terang Dyah.


“Dyah, tolong persilakan mereka masuk. Sebentar lagi kami keluar!” seru Abraham dari dalam kamar.


“Baik, Paman Abraham,” balas Dyah dan cepat-cepat menuju ruang depan untuk mempersilakan kedua polisi tersebut untuk segera masuk ke dalam.


Beberapa menit kemudian.


Abraham dan Asyila tiba di ruang tamu untuk menemui kedua polisi yang sudah menunggu Asyila untuk dimintai keterangan soal penculikan tersebut.


Tanpa berlama-lama, Asyila menceritakan seluruh kejadian yang ia alami dan apa saja yang telah dilakukan oleh mereka bertiga serta bagaimana Asyila bisa melawan ketiganya seorang diri.


Dyah tiba-tiba datang dan memberitahukan bahwa bayi Akbar menangis. Saat itu juga Abraham berlari menuju kamar untuk menenangkan bayinya yang tengah menangis.


Asyila terus menceritakan apa yang terjadi dan memberitahukan kepada polisi bahwa dirinya memiliki keahlian dalam ilmu beladiri sehingga dirinya bisa mengalahkan mereka bertiga. Meskipun, Asyila mengalami luka yang cukup serius dibagian kepala.


Pernyataan Asyila mengenai kemampuannya menguasai bela diri tak di ketahui oleh suaminya. Karena Sang suami sedang berada di dalam kamar untuk menenangkan bayi mereka.


“Terima kasih atas penjelasan Nona Asyila, kami akan menghukum pelaku penculikan seberat-beratnya,” terang salah satu polisi yang duduk dihadapan Asyila.


Abraham datang bersama dengan bayi mungilnya yang sudah bangun.


“Tuan Abraham dan Nona Asyila, kalau begitu kami permisi dulu. Masih banyak pekerjaan di kantor yang harus kami selesaikan, secepatnya kami akan menghukum mereka,” terang polisi tersebut.


Kedua polisi itu pun pamit setelah menghabiskan kopi buatan Dyah.


“Ayo kita ke kamar lagi!” ajak Abraham setelah kedua polisi tersebut pergi meninggalkan Perumahan Absyil. “Apakah keterangan Asyila tadi itu benar-benar nyata?” tanya Abraham yang memang sangat penasaran dengan pernyataan istri kecilnya tersebut yang mengalahkan para penculik.


“Mas, kepala Asyila tiba-tiba pusing,” ucap Asyila yang terpaksa harus berpura-pura bahwa kepalanya kembali pusing.


Abraham panik dan memanggil Dyah untuk membantu mengantarkan istri kecilnya masuk ke dalam kamar.


Dyah mengiyakan dan ikut panik karena takut jika Aunty-nya kenapa-kenapa.


“Kita ke rumah sakit ya!” ajak Abraham yang takut jika sesuatu hal buruk terjadi kepada Sang istri tercinta.


“Tidak usah, Mas. Asyila mungkin butuh istirahat,” jawab Asyila yang memang tidak ingin ke rumah sakit.

__ADS_1


“Ya sudah, Syila sekarang istirahatlah dikamar dan jangan keluar dari kamar!” perintah Abraham.


“Baik, Mas,” sahut Asyila dan dengan hati-hati merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Dyah yang masih berada di dalam kamar, memutuskan untuk keluar dari kamar tidur Paman serta Aunty-nya agar Aunty kesayangannya bisa segera istirahat.


“Mas, tolong bantu Asyila melepaskan hijab Asyila!” pinta Asyila dan perlahan Asyila beranjak dari tidurnya untuk duduk sembari bersandar di kepala ranjang.


Abraham mengiyakan dan lebih dulu meletakkan bayi mungil mereka di ranjang bayi. Kemudian, barulah Abraham memfokuskan diri pada Sang istri tercinta.


Dyah kembali berkumpul dengan suami serta putri kecil mereka di ruang keluarga.


“Ada apa, dengan Aunty?” tanya Fahmi pada istrinya yang baru saja duduk tepat disampingnya.


“Itu, tadi Aunty kepalanya pusing dan kebetulan Paman sedang menggendong adik Akbar, makanya Dyah dipanggil untuk membantu Aunty masuk ke dalam kamar,” terang Dyah.


“Terus, Aunty tidak pergi ke rumah sakit?”


“Paman sih sempat menawarkan Aunty ke rumah sakit. Akan tetapi, Aunty menolak. Mungkin karena Aunty lebih nyaman di rumah daripada di rumah sakit,” terang Dyah.


Malam hari.


Melihat kondisi yang belum membaik, Abraham memutuskan untuk menghubungi mertuanya agar bisa segera datang ke Bandung sekaligus menjenguk Sang istri yang sedang sakit, barangkali dengan kehadiran kedua orang tua Asyila, Asyila bisa cepat sembuh.


Ditambah ada Ashraf yang selalu membuat suasana menjadi lebih berwarna.


Setelah cukup lama Abraham berbincang-bincang dengan mertua serta putra keduanya, Abraham pun mengakhiri panggilan tersebut karena harus menemani Asyila yang berada di dalam kamar.


“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham sembari melangkah masuk ke dalam kamar.


“Wa’alaikumsalam, tumben Mas agak lama. Apakah tadi sedang mengobrol bersama tetangga di masjid?” tanya Abraham pada suaminya yang baru pulang dari masjid untuk melaksanakan sholat isya berjama'ah.


“Benarkah? Perasaan sebentar. Atau mungkin, Asyila terlalu rindu dengan Mas?” tanya Abraham dengan penuh percaya diri.


“Mas Abraham terlalu percaya diri, lagipula siapa yang rindu dengan Mas Abraham?” tanya Asyila.


“Mata Asyila tidak bisa berbohong, lihatlah bagaimana cara Asyila memandangi Mas?”


Asyila tersipu malu dan menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


“Mas genit, Mas narsis,” celetuk Asyila.


“Yang genit itu Syila,” balas Abrahah dan mengecup mesra pucuk kepala Istri kecilnya.


Setelah itu, Abraham berjalan menuju almari untuk mengganti pakaiannya dengan piyama yang sama dengan piyama yang dikenakan oleh istri kecilnya.


Asyila tersenyum sembari melihat suaminya yang tengah mengganti pakaian.


Disaat yang bersamaan, Ema serta keluarga kecilnya baru saja tiba di Perumahan Absyil.


“Alhamdulillah, akhirnya kita sampai juga di rumah,” tutur Ema yang baru saja keluar dari mobil.


3 hari Ema beserta keluarga kecilnya pulang ke Jakarta untuk menengok Mami dari Ema yang tengah sakit. Untungnya, sakit ibu mertua Yogi cepat sembuh sehingga Yogi, Ema dan juga Kahfi tidak perlu berlama-lama di Jakarta.


“Abang, sebaiknya kita ke rumah samping sekarang atau besok pagi?” tanya Ema.

__ADS_1


“Ini sudah malam, sebaiknya besok pagi saja. Ayo kita masuk, Kahfi pasti sangat mengantuk!” ajak Yogi untuk segera masuk ke dalam rumah.


__ADS_2