Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Arsyad Akhirnya Pulang


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Abraham tersenyum lebar ketika mendapat pesan dari putra sulungnya yang sebentar lagi akan diperbolehkan untuk pulang ke rumah setelah berada di pesantren dengan waktu yang cukup lama.


“Kau kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu? Apakah ada hal yang begitu menyenangkan?” tanya Yogi melihat sahabatnya yang terus saja memandangi layar ponsel dengan senyum-senyum tak jelas.


“Kau sangat benar. Hari ini anak-anak pondok pesantren diperbolehkan untuk pulang dan diberi waktu selama seminggu untuk pulang ke rumah. Sebagai orang tua, aku sangatlah senang,” ungkap Abraham.


“Masya Allah, aku berharap kedepannya Arsyad bisa menjadi ustadz,” tutur Yogi.


“Aamiin, Insya Allah,” balas Abraham yang menyerahkan semuanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Abraham beranjak dari kursi kerjanya dan segera mengenakan jas kerja miliknya.


“Kau mau kemana?” tanya Yogi sambil ikut beranjak dari duduknya.


“Aku ingin pulang dan setelah itu menjemput Arsyad,” balas Abraham.


“Kalau begitu, aku pulang juga ya? Lagipula, urusan disini sudah selesai,” balas Yogi.


Abraham tersenyum tipis dan mengangguk kecil.


“Kau memang bos yang pengertian,” puji Yogi.


Keduanya pun bersama-sama meninggalkan ruangan tersebut dan bergegas untuk kembali ke rumah.


“Besok sebelum jam 8, kalian semua harus sudah berada di perusahaan. Dan satu lagi, untuk staf pemasaran akan ada meeting besok jam 9,” terang Abraham pada salah satu bawahannya.


“Siap, Pak Abraham!” serunya.


Abraham mengangguk kecil dan melanjutkan langkahnya menuju area parkir.


Di area parkir, sudah Eko yang selalu setia menunggu Majikannya.


“Selamat siang, Tuan Abraham,” sapa Eko yang kini tak menggunakan kata "Muda" lagi kepada Abraham.


Hal tersebut, dikarenakan Abraham meminta sopir pribadinya agar memanggil dengan sebutan Tuan Abraham dan bukan Tuan Muda Abraham lagi.


“Ayo pulang!” perintah Abraham.


Dari kejauhan, Yogi melambaikan tangannya ke arah Abraham dan kemudian masuk ke dalam mobilnya sendiri.


Eko tersenyum lebar dan mempersilakan Majikannya untuk segera masuk ke dalam mobil.


Setelah Abraham masuk ke dalam mobil, Eko langsung tancap gas meninggalkan area parkir tersebut.


“Eko, kita mampir ke minimarket dulu ya sebelum pulang!” pinta Abraham.


“Baik, Tuan Abraham!” seru Eko yang memilih mengiyakan tanpa menanyakan alasan dari Abraham mampir.

__ADS_1


“Insya Allah, hari ini Arsyad pulang.”


“Benarkah?” tanya Eko memastikan dengan begitu gembira.


Abraham tersenyum sambil mengangguk kecil.


“Akhirnya, setelah beberapa bulan lamanya,” tutur Eko.


Tak butuh waktu lama, Eko pun tiba di minimarket yang dimaksud oleh Tuannya.


Dengan senang, Abraham turun dari mobil untuk membeli makanan serta cemilan yang biasanya disukai oleh Arsyad.


“Eko, kamu juga harus memilih makanan dan cemilan untuk Arsyad. Oya, beli perlu untuk anakmu sekalian!” perintah Abraham.


“Alhamdulillah, terima kasih Tuan Abraham,” balasnya dan dengan penuh semangat mengambil keranjang belanja. Kemudian, mengisinya dengan berbagai macam merk cemilan yang menurutnya enak.


Cukup lama Abraham berada di dalam minimarket tersebut, sampai akhirnya ia dan juga Sopir pribadinya selesai memilih-milih makanan serta cemilan.


“Wah, terima kasih Tuan Abraham. Anak saya pasti sangat suka dengan ini,” ucap Eko sambil mengangkat dua kantong plastik yang isinya sama-sama penuh.


Abraham mengiyakan dan meminta Eko untuk segera mengendarai mobilnya menuju perumahan Absyil.


Beberapa saat kemudian.


Abraham telah berganti pakaian dan bersiap-siap untuk menjemput buah hatinya di pondok pesantren. Perasaan Abraham saat itu begitu senang, sepertinya akan menemui kekasihnya yang sudah berpisah begitu lama.


“Tuan Abraham, maaf kalau saya lancang. Apakah hanya Mas Arsyad saja yang dijemput? Lalu, Mas Ashraf bagaimana?” tanya Eko.


“Apa kamu tidak mengenalku? Tentu saja aku akan membawa Arsyad dan juga Ashraf pulang ke perumahan Absyil. Bagaimanapun, keduanya harus pulang kemari,” jelas Abraham dan segera masuk ke dalam mobil setelah mengunci pintu rumah.


“Abraham!” panggil Yogi dari teras rumahnya ketika melihat Abraham ingin masuk ke dalam mobil, “Kau mau kemana?” tanya Yogi ketika Abraham menoleh ke arahnya.


“Aku mau ke Jakarta,” jawab Abraham setengah berteriak agar sahabatnya mendengar jawaban darinya.


“Ada urusan apa?” tanya Yogi.


“Menemui kedua putraku,” jawab Abraham sekali lagi.


Yogi tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol tangannya ke arah Abraham.


Abraham pun ikut tersenyum dan masuk ke dalam mobil.


Disaat yang bersamaan, Arumi dan juga Herwan berdiri di luar gerbang pondok pesantren untuk menjemput cucu pertama mereka.


“Arsyad!” panggil Arumi sambil melambaikan tangannya berharap Arsyad segera melihat dirinya.


“Nenek! Kakek!” seru Arsyad dan berlari secepat mungkin menuju ke arah Nenek serta kakeknya.


Arsyad menangis terharu dipelukan Nenek dan Kakeknya.

__ADS_1


“Hiks.. hiks.. Arsyad kangen Nenek dan Kakek. Arsyad juga kangen sama Ayah, Bunda dan Adik Ashraf. Adik di perut Bunda sudah lahir, Nek?” tanya Arsyad sambil berderai air mata.


Pertanyaan Arsyad seketika itu membuat Arumi dan Herwan mati kutu.


Mereka bingung harus menjawab apa kepada cucu pertama mereka mengenai Asyila yang telah lama meninggal dunia.


“Arsyad, ayo pulang! Adik Ashraf sedang menunggu di rumah. Insya Allah, Ayah Abraham tidak lama lagi sampai di rumah,” ucap Arumi mengajak cucunya untuk segera pulang.


“Bunda?” tanya Arsyad.


“Bunda sedang ada urusan penting dan tak bisa datang,” jawab Arumi yang akhirnya memilih berbohong kepada cucunya.


Wajah Arsyad seketika itu berubah menjadi sangat murung. Tidak biasanya Bunda tercintanya tak datang dihari yang sangat penting baginya.


Seharusnya, Bundanya ikut ke Jakarta untuk menyambut kedatangannya.


Arumi menggigit bibirnya dan menuntun cucunya untuk segera masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil, Herwan langsung menghubungi menantunya bahwa Arsyad sudah di jemput sehingga tak perlu lagi datang ke pondok pesantren tempat dimana Arsyad mengemban ilmu agama Islam.


Usai menghubungi menantunya, Herwan pun mengakhiri panggilan tersebut.


“Arsyad mau makan apa? Ayo kita cari makan dulu!”


Arsyad dengan cepat menggelengkan kepalanya.


“Arsyad mau langsung pulang, Kek. Mau ketemu adik Ashraf,” balas Arsyad sambil menoleh ke arah Kakeknya, “Kek, adik baru Arsyad cewek apa cowok? Namanya siapa Kek?” tanya Arsyad.


“Arsyad, kita jangan dulu membahasnya ya. Sekarang, Arsyad lebih baik tidur dan saat sudah sampai Kakek akan membangunkan Arsyad!” pinta Herwan.


Arsyad menundukkan kepalanya dan tiba-tiba air matanya mengalir. Akan tetapi, ia tidak menunjukkan kesedihannya kepada Kakek dan Neneknya.


Kemudian, ia menoleh ke arah luar jendela dan berusaha untuk tertidur.


Arumi dan Herwan saling memandang satu sama lain. Kalau saja Asyila masih hidup, mungkin ia sudah melahirkan cucu keempat mereka.


Akan tetapi, takdir berkata lain. Allah mengambil putri mereka dengan sangat cepat dan dalam kondisi tengah berbadan dua.


Pak Udin yang dari tadi mengendarai mobil hanya bisa diam seribu bahasa. Akan tetapi, dalam hatinya ia menangis karena sangat kasihan dengan Arsyad yang begitu merindukan sosok Bundanya yang kini sudah berada di surga.


Disaat yang bersamaan, Abraham menghela napasnya setelah mendapat telepon dari Ayah mertuanya.


“Ada apa, Tuan Abraham?” tanya Eko melihat wajah Majikannya yang nampak sedih.


“Tidak apa-apa, kita langsung ke rumahku ya!” perintah Abraham.


“Lalu, yang menjemput Mas Arsyad siapa?” tanya Eko terheran-heran.


“Arsyad sudah lebih dulu dijemput oleh Kakek dan Neneknya,” balas Abraham.

__ADS_1


Eko seketika itu tahu alasan mengapa wajah Abraham berubah menjadi sedih.


__ADS_2