Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Saling Minta Maaf


__ADS_3

Abraham baru saja pulang dari masjid setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid. Ia pulang dengan langkah terburu-buru untuk segera menemui istri kecilnya yang masih diam seribu bahasa.


“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham sambil memasuki kamar.


Asyila yang saat itu tengah merapikan rambutnya hanya menjawab salam dari suaminya tanpa menoleh ke arah suaminya yang baru saja tiba dari masjid.


“Suami pulang seharusnya di sambut dengan suaminya, istriku,” ucap Abraham selembut mungkin agar tak membuat istri kecilnya semakin ngambek.


Mendengar penuturan suaminya yang seperti itu, Asyila langsung menoleh ke arah suaminya dan bergegas mencium punggung tangan suaminya. Akan tetapi, tak memberikan sedikitpun senyumannya kepada sang suami tercinta.


“Senyumnya mana?” tanya Abraham sambil menyentuh kedua pipi istri kecilnya.


Asyila lagi-lagi terdiam dan semakin membuat Abraham kebingungan dengan sikap istri kecilnya yang terus saja mendiami dirinya.


“Mas minta maaf ya istriku! Tolong maafkan suamimu ini, tolong jangan diam seribu bahasa begini!” pintu Abraham sambil menenggelamkan wajahnya di leher istri kecilnya.


Asyila masih saja terdiam dan menjauhkan tubuh suaminya yang terus saja menempel padanya. Kemudian, Asyila melenggang pergi menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.


Abraham menghela napasnya yang terasa berat sembari membuntuti istri kecilnya yang ingin memasak di dapur.


Untuk pertama kalinya, Abraham melihat istri kecilnya yang ngambek dengan waktu yang cukup lama. Meskipun belum ada setengah hari istri kecilnya ngambek seperti itu.


Abraham duduk di kursi makan dengan wajah yang nampak sedih. Ia bingung harus bagaimana lagi untuk membuat istri kecilnya memaafkan dirinya.


Melihat suaminya yang sudah seperti itu, akhirnya Asyila luluh juga.


Kalau aku terus diam seperti ini, yang ada Mas Abraham makin sedih. Kasihan juga kalau suami terus-menerus diabaikan seperti ini.


Asyila memutuskan untuk kembali melanjutkan tugasnya memasak dan akan menyapa suaminya ketika masakan yang ia hidangkan telah siap.


Menu yang akan Asyila masak adalah telur dadar dan juga tempe goreng. Meskipun sederhana, Abraham tetap menyukai masakan istri kecilnya tersebut.


“Hhhmmm... Masakan istriku ini sangat harum, pasti rasanya enak,” puji Abraham ketika hidangan sudah berada di atas meja.


Asyila pun tersenyum lebar ke arah suaminya dan seketika itu membuat Abraham bernapas lega.


“Karena Syila sudah tersenyum, itu artinya Syila memaafkan Mas 'kan? Mas minta maaf ya Syila!”


“Asyila juga minta maaf ya Mas, maaf dari semalam Asyila cuek terhadap Mas,” balas Asyila yang juga meminta maaf.


Abraham mengangguk berulang kali dan menarik tubuh istri kecilnya ke dalam pangkuannya.


“Lain kali Mas tidak akan melakukan kesalahan seperti semalam. Maaf karena Syila telah menunggu Mas dan sulit menghubungi ponsel Mas yang mati total karena tidak di charge,” terang Abraham.


“Sebenarnya Asyila tidak terlalu mempermasalahkan masalah Mas lembur, yang membuat Asyila kesal adalah ponsel Mas tidak aktif dan tidak bisa dihubungi. Semalaman Asyila berpikiran yang tidak-tidak, takut jika sesuatu hal buruk terjadi kepada Mas,” ungkap Asyila menceritakan alasan dirinya diam seribu bahasa pada suaminya.

__ADS_1


Abraham tersenyum bahagia mendengar alasan istri kecilnya yang terus saja mendiaminya. Itu artinya sang istri begitu mencintainya.


“Mas kenapa senyum-senyum seperti itu?” tanya Asyila penasaran.


“Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan suamimu ini, maaf karena ponsel milik Mas mati,” jawab Abraham.


“Iya, Mas. Asyila juga minta maaf karena semalaman telah ngambek,” balas Asyila.


Abraham mengangguk kecil dan merentangkan kedua tangannya.


“Sekarang, peluk suamimu ini!” pinta Abraham.


Dengan malu-malu Asyila memeluk suaminya dan merekapun kini berbaikan.


Setelah cukup lama keduanya berpelukan, merekapun memutuskan untuk sarapan bersama.


Meskipun keduanya terlihat bahagia, tetap saja ada yang kurang. Yaitu, kedua buah hatinya yang seharusnya duduk bersama menikmati sarapan keluarga.


***


Siang hari.


Asyila sedang sibuk dengan buku-buku besar dihadapannya, siang itu ia bersama Dyah dan juga Ema tengah sibuk mencatat berbagai macam pakaian yang dipesan oleh pelanggan mereka. Sementara Abraham, sibuk dengan pekerjaan yang ia kerjakan di dalam kamar.


“Ayolah, Dyah! Apa catatan-catatan dihadapan kamu ini hanyalah kertas biasa? Kerja keras kita sekarang berbuah manis, bahkan sehari saja kita bisa mendapatkan uang 5 juta itu sudah sangat banyak,” terang Ema.


“Iya, aku tahu semua ini catatan-catatan yang dipesan oleh pelanggan kita. Akan tetapi, ini sangatlah banyak,” balas Dyah.


Asyila geleng-geleng kepala mendengar perbincangan kedua wanita muda dihadapannya yang terlihat seperti orang yang tengah berdebat.


“Sssuutt, lebih baik kita kerjakan lagi ini catatan!” perintah Asyila agar keduanya berhenti berbicara.


Ketiganya pun kembali fokus dengan pekerjaan mereka, sampai akhirnya Abraham datang menghampiri Asyila.


“Sudah jam segini, ayo istirahat!” ajak Abraham sambil menyentuh pipi sang istri.


Dyah dan Ema kompak memberikan isyarat mata agar segera pulang. Mereka tak ingin mengganggu momen manis keduanya.


“Paman Dyah yang tampan dan juga Aunty Dyah yang cantik, kami pulang dulu ya,” ucap Dyah pamit.


“Kenapa pulang cepat-cepat?” tanya Asyila.


“Kita juga mau istirahat, Aunty. Kalau sempat, nanti sore kita akan kesini lagi,” jawab Dyah.


“Apa yang dikatakan Dyah memang lah benar, Asyila. Lagipula Kahfi harus tidur siang dan harus aku yang menemaninya,” sahut Ema.

__ADS_1


“Baiklah, kalau kalian ingin pulang sekarang,” ucap Asyila pasrah.


“Kami pulang dulu ya, Wassalamu'alaikum!”


“Wa’alaikumsalam,” balas Abraham dan juga Asyila.


Abraham tersenyum lebar ketika kedua wanita muda itu keluar dari rumahnya. Ia tidak sabar ingin bermanja-manja dengan istri kecilnya di tempat tidur.


“Mas sengaja ya membuat mereka pulang lebih awal,” ucap Asyila setengah ngambek.


“Bisa dibilang antara sengaja dan tidak sengaja. Lagipula, apa yang Mas katakan memanglah benar. Jam segini waktunya kita untuk berisitirahat,” terang Abraham sambil menenggelamkan wajahnya di leher sang istri.


“Mas ngantuk?” tanya Asyila sambil memainkan rambut suaminya.


“Dibilang ngantuk tentu saja, suamimu ini sudah beberapa hari tidak tidur siang. Maka dari itu, Asyila sebagai istri harus menemani suaminya untuk tidur siang,” jawab Abraham.


“Maaf ya Mas, kalau begitu ayo masuk kamar!” ajak Asyila dan tak lupa mengunci pintu rumah terlebih dahulu agar tidak ada orang yang sembarangan masuk ke dalam rumah.


Abraham tersenyum lebar dan secara tiba-tiba menggendong tubuh istri kecilnya.


“Mas!” teriak Asyila terkejut mengira bahwa dirinya jatuh.


“Ada apa teriak-teriak?” tanya Abraham sambil menahan tawanya.


“Mas hampir membuat Asyila copot jantung,” jawab Asyila sambil menyentuh dadanya yang terus berdebar kencang karena ulah suaminya yang secara tiba-tiba menggendong dirinya.


“Sssuutt, tidak boleh berbicara seperti itu. Mas tidak ingin ditinggal oleh Asyila, kalau bisa malah Mas yang ingin lebih dulu dipanggil oleh Allah,” tutur Abraham.


“Mas ini bicara apa? Asyila tidak mau ditinggalkan oleh Mas,” balas Asyila yang kini memeluk erat leher suaminya.


“Jangan kencang-kencang, Mas sulit bernapas,” ungkap Asyila.


“Habisnya, Mas berbicara seperti itu. Membuat Asyila sedih,” jawab Asyila yang terdengar seperti orang yang ingin menangis.


Abraham terdiam sambil membawa istri kecilnya ke dalam kamar. Meskipun menaiki anak tangga, Abraham sama sekali tak terlihat lelah. Justru, Abraham terlihat keren dimata istri kecilnya.


“Akhirnya sampai kamar juga,” ucap Abraham sambil merebahkan tubuh sang istri di tempat tidur.


Abraham kemudian ikut merebahkan tubuhnya tepat di samping sang istri. Dan tak butuh waktu lama, Abraham pun tertidur.


Asyila terkejut melihat suaminya yang telah tertidur pulas, itu artinya sang suami memang sudah sangat mengantuk.


Mas Abraham pasti sangat lelah, tidak seharusnya aku semalaman mendiamkan Mas Abraham. Ya Allah, maafkan hamba.


Asyila menghela napasnya dan tidur di lengan suaminya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2