Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Abraham Dan Edi Mendapatkan Siksaan


__ADS_3

Setelah hampir satu jam menemani Akbar menonton kartun, Asyila mulai mengantuk. Ia pun tertidur di sofa dengan posisi duduk, sementara Akbar masih serius menonton kartun kesukaannya itu.


Arumi datang untuk ikut bergabung dengan putri kesayangannya dan juga cucunya, Akbar Mahesa.


Arumi terkejut melihat Asyila yang tengah tertidur di sofa. Ia pun membangunkan Asyila agar segera melanjutkan tidurnya di dalam kamar.


“Asyila, bangun Nak. Ayo bangun, pindah ke kamar,” tutur Arumi membangunkan putri kesayangannya itu agar segera pindah ke dalam kamar.


Akbar yang duduk di samping Bundanya ikut membangunkan Sang Bunda agar segera pindah.


Asyila pun terbangun dan bergegas masuk ke dalam kamar untuk melanjutkan tidurnya.


Setibanya di dalam kamar, Asyila melepaskan hijabnya dan perlahan masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu. Setelah selesai berwudhu, Asyila berjalan menuju tempat tidur dan kembali melanjutkan tidurnya.


Disaat yang bersamaan, Dayat serta tim yang lain mulai panik ketika mencoba menghubungi nomor telepon Abraham maupun Edi yang sedang berada diluar jangkauan.


“Bagaimana ini? Apakah Tuan Abraham dan Edi saat ini sedang dalam kesulitan? Kenapa hanya mereka saja yang hilang, sementara anggota yang ikut mengejar sama sekali tak mengalami kendala,” ujar salah satu dari mereka.


“Melihat kondisi yang seperti ini, sepertinya ada sesuatu hal yang buruk tengah terjadi kepada Tuan Abraham dan Edi. Bagaimanapun, kita harus menemukan mereka secepatnya, Sebelum hal yang tidak kita inginkan terjadi kepada mereka berdua,” ujar Dayat.


Pasar yang letaknya tak jauh dari mereka, sama sekali tak memiliki Cctv sehingga sangat sulit untuk mengetahui keberadaan Abraham dan juga Edi.


Kondisi Wibowo tidak terlalu parah, hanya saja ia harus beristirahat agar luka di bagian pundaknya tidak robek setelah melakukan operasi kecil pada pundaknya tersebut.


****


Abraham perlahan membuka matanya ketika samar-samar ia mendengar suara tawa yang begitu keras.


Abraham perlahan, menyadari bahwa dirinya sudah berada diantara para penjahat kriminal.


Saat Abraham ingin menggerakkan tangannya, rupanya kedua tangannya sudah dirantai dan kaki pun di pasung seperti orang gila zaman dulu.


“Lihatlah pria itu, begitu lemah tak berdaya,” ucap salah satu dari mereka menghina Abraham dan melemparkan sebuah puntung rokok ke arah wajah Abraham.


Untungnya Abraham bisa menghindari puntung rokok yang hampir saja mengenai wajahnya.


Edi membuka matanya secara perlahan dan ketika ia menyadari bahwa dirinya sudah berada di antara mereka, ia berteriak sekuat mungkin agar ada yang mendengar teriakkan.


“Tolong!!!! Siapapun yang mendengarnya, tolong datanglah kemari dan selamatkan kami!” teriak Edi sampai urat lehernya terlihat.


Mereka tertawa terbahak-bahak mendengar Edi yang berteriak-teriak meminta tolong.


“Hai bodoh, teriak lah sesuka hatimu. Mau kamu berteriak sampai suaramu hilang, tak akan ada orang yang mendengarnya. Lihatlah disekitar ini, aku sudah memasang alat peredam suara yang artinya suara kita semua tidak akan terdengar dari luar,” terangnya dan kembali tertawa terbahak-bahak, diikuti yang lainnya juga.


“Apakah kalian begitu pengecut, sampai-sampai berusaha begitu keras untuk membuat kami menderita seperti ini? Kalian begini saja, sudah cukup membuktikan kalau kalian semua adalah pengecut,” ucap Abraham dengan sangat sinis.


Pria berkalung rantai, saat itu juga bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Abraham.


“Dengarkan baik-baik, malam ini aku ada kejutan yang sangat luar biasa. Mungkin, bisa menjadi kenangan terakhir kamu dan juga kamu,” tunjuknya ke arah Abraham dan juga Edi.


Pria berkalung rantai tersebut, melayangkan bogem mentah ke wajah Abraham dan membuat darah segar mengalir di sudut bibirnya.


Abraham berusaha menahan sakitnya, ia akan terus bertahan untuk keluarga kecilnya di rumah.


Setelah memberikan bogem mentah ke wajah Abraham, kini pria berkalung rantai tersebut memberikan bogem mentah ke arah Edi dan membuat Edi berteriak kesakitan.


Mereka kembali tertawa, tawa mereka begitu keras, seakan-akan mereka tengah berlomba-lomba untuk menunjukkan suara tawa terkeras mereka.


Salah satu dari mereka buang air kecil dan menampungnya dengan sebuah botol plastik. Kemudian, pria yang baru saja membuang air kecil itu, menyirami seluruh tubuh Edi dengan air seni tersebut.


Edi berteriak dan menyumpahi pria yang kurang ajar tersebut.


“Diamlah! Kalau kamu masih banyak omong, tidak hanya air kencingku ini yang ku siram. Bahkan, kotoranku pun akan aku taruh ke wajahmu,” ancamnya dan melenggang pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Edi benar-benar jijik dengan tubuhnya sendiri, seumur hidupnya ia tidak pernah diperlakukan dengan sangat hina seperti itu.


Satu-persatu, mereka keluar meninggalkan ruangan tersebut dan kini hanya tersisa Edi, Abraham dan pria berkalung rantai tersebut.


Pria itu, berjalan mengambil sebuah ikat pinggang kulit yang terpajang rapi di tembok. Ia mengambil dan mencium tali pinggang kulit tersebut secara perlahan, sepertinya tengah menciumi kekasihnya.


“Sebenarnya, sudah hampir setahun aku tak pernah menyentuh benda ini. Sepertinya, aku harus mencoba sebagai pemanasan nanti malam,” ujarnya dan perlahan berjalan mendekat ke arah Edi serta Abraham.


Ctas!!! Ctasss!!!! Suara dari tali pinggang tersebut ketika bersentuhan langsung dengan lantai.

__ADS_1


“Waw... Sepertinya akan sedikit menyakitkan, jika ini mengenai kulit kalian secara langsung,” tuturnya dan mengarahkan tali pinggang kulit tersebut ke arah kaki Dayat serta Edi secara bergantian.


Ctas!!!!! Ctasss!!!


“Aaakkkkhhh! Aaakkkkhhh!” Edi berteriak kesakitan merasakan panas dan perih yang luar biasa.


Sementara Abraham, berusaha untuk menahan sakit yang luar biasa tersebut.


“Upppsss.... Sepertinya, aku terlalu bersemangat. Sebaiknya, aku tunda dulu dan mengisi perutku dengan makanan sembari menunggu malam tiba,” terangnya dan kembali meletakkan tali pinggang kulit tersebut ke tempat semula.


Setelah meletakkan tali pinggang kulit itu ke tempat semua, ia pun melenggang pergi meninggalkan ruangan yang pengap tersebut.


“Tamatlah riwayat kita, Tuan Abraham. Kita sudah tidak bisa melakukan apapun, lihatlah kita sekarang. Kita sepertinya orang gila di zaman dulu,” ucap Edi yang menangis histeris meratapi nasibnya yang tinggal hitungan jam akan pergi meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.


“Apakah kamu menangis? Tidakkah kamu malu dengan umurmu yang sudah tua ini?” tanya Abraham yang sedikit jengkel dengan Edi yang begitu penakut dan gampang menyerah.


“Bagaimana tidak panik, Tuan Abraham? Saat ini kita sedang di ambang kematian, kita tidak punya ponsel untuk menghubungi yang lain. Bahkan, untuk melepaskan rantai ditangan dan kayu di kaki kita pun, kita tidak bisa,” terang Edi.


Abraham terdiam, apa yang dikatakan Edi tidak seratus persen salah dan tidak seratus persen benar.


“Kita lebih baik berdo'a saja, mintalah pertolongan Allah. Barangkali Allah mengabulkan Do'a kita sehingga kita bisa bebas dari jeratan ini,” ujar Abraham pada Edi.


Abraham memejamkan matanya dan mulai berdzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Edi samar-samar mendengar suara Abraham yang tengah berdzikir, tanpa pikir panjang saat itu juga Edi berdzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Perumahan Absyil.


Asyila berusaha menghubungi nomor telepon suaminya. Akan tetapi, jawabannya adalah sedang berada di luar jangkauan. Asyila saat itu berusaha untuk berpikir positif, barangkali suaminya tengah sibuk atau mungkin tengah melaksanakan misi.


“Mas, kali ini Asyila akan berusaha untuk berpikir positif. Apabila, sampai nanti malam Mas belum juga memberikan Asyila kabar, Asyila akan melacak keberadaan Mas,” tutur Asyila bermonolog.


Asyila kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Kemudian, bersiap-siap untuk melaksanakan sholat ashar seorang diri di dalam kamar.


Sementara, Akbar dan Herwan melaksanakan sholat di masjid. Lalu, Arumi sholat seorang di dalam kamar kamarnya.


Asyila ingin mencurahkan isi hatinya kepada Sang pencipta, sekaligus meminta kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar selalu melindungi suaminya serta tim yang juga bertugas untuk menyelesaikan misi mereka.


****


Abraham dan Edi merasakan haus yang teramat menyiksa di tenggorokan mereka. Mereka berdua begitu haus dan ingin sekali membasahi tenggorokan mereka yang kering dengan air minum.


Edi bahkan, sudah tak sanggup untuk berbicara. Bibirnya bahkan mengering dan ada sedikit darah kering di bibirnya yang telah kering tersebut.


Satu-persatu, mereka kembali masuk ke ruangan pengap tempat dimana Abraham dan juga Edi di sekap.


Pria berkalung rantai masuk dengan tawa terbahak-bahak dan diikuti yang lain.


“Hahaha... Hahaha... Lihatlah mereka berdua, tak lebih dari manusia yang ingin cepat-cepat mati meninggalkan dunia ini,” ujar pria berkalung rantai tersebut.


Abraham berusaha mengangkat kepalanya untuk melihat pria tersebut.


“Sudah mau mati, masih saja sok-sokan kuat,” celetuk nya.


Pria berkalung rantai tersebut, menggerakkan tangannya memberi isyarat kepada dua bawahannya untuk segera melepaskan belenggu rantai serta pasung tersebut.


Edi sedikit bisa bernapas lega begitu juga dengan Abraham. Akan tetapi, permainan mereka para penjahat tersebut baru saja dimulai.


Salah satu dari mereka, datang dengan membawa sebuah botol kaca. Kemudian, menumpahkan air tersebut ke kaki Edi yang terluka.


“Aakkkkhhh!” Edi berteriak dengan sisa tenaganya merasakan sakit yang luar biasa.


Air tersebut, ternyata adalah alkohol yang membuat luka malah semakin perih.


Melihat Edi berteriak tak berdaya, mereka begitu senang. Mereka menganggap bahwa Edi dan juga Abraham adalah obyek yang begitu lucu, sehingga membuat mereka tertawa terbahak-bahak seperti keledai.


Abraham memilih untuk bungkam, ia ingin beristirahat sejenak karena seluruh tubuhnya mengalami mati rasa.


“Kamu kenapa diam? Ayo berdiri!” perintah pria berkalung rantai kepada Abraham dengan cara berteriak.


Abraham sama sekali tidak bisa bergerak, tubuhnya benar-benar mati rasa.


“Kamu ternyata masih saja sok-sokan! Ambilkan aku tali pinggang kulit!” teriaknya memberi perintah kepada salah satu dari mereka untuk segera mengambil tali pinggang kulit miliknya.


Salah satu dari mereka berlari mendekat ke arah tali pinggang tersebut, kemudian mengambilnya secara perlahan dan memberikannya kepada pria berkalung rantai tersebut.

__ADS_1


“Buka pakaian pria sombong ini!” perintah pria berkalung rantai.


Dua orang maju mendekat ke arah Abraham dan melucuti pakaian Abraham hingga akhirnya Abraham bertelanjang dada.


“Ahhh... Baiklah, kita mulai sekarang. Semua ini tergantung suasana hatiku, kalau suasana hatiku membaik. Aku akan membuatmu langsung mati malam ini juga. Akan tetapi, kalau suasana hatiku buruk, aku akan membuatmu mati perlahan sampai besok atau mungkin besok lagi,” ujar pria berkalung rantai panjang lebar.


Pria itu menarik napas dalam-dalam dan menghela napasnya secara perlahan. Kemudian, ia menggenggam erat tali pinggang tersebut sebelum melakukan hal yang ia lakukan beberapa jam yang lalu kepada kaki Edi dan juga Abraham.


Ctassss!!! Ctassss!! Ctassss!


“Akkkhhh... Akkkhhhh...” Abraham berteriak merasakan sakit yang luar biasa di dadanya. Abraham bahkan mengeluarkan air matanya tanpa mengeluarkan suara tangisan.


Sekitar 10 kali cambukan, pria itu berhenti dan bergantian mencambuk bagian depan tubuh Edi.


“Buka pakaiannya!” perintah Pria berkalung rantai tersebut dengan senyuman menyeringai.


Abraham meneteskan air matanya, ia tidak ingin mati meninggalkan istri dan buah hatinya.


Abraham tidak ingin, membiarkan mereka melanjutkan hidup tanpa ada dirinya.


Syila, Suamimu ini selamanya mencintaimu, istriku.


“Tolong, jangan cambuk saya. Tolong, saya akan memberikan uang sebanyak yang kalian minta. Akan tetapi, jangan bunuh saya,” ucap Edi yang tidak terlalu jelas karena dirinya sudah tidak kuat lagi.


“Aaahhhh.... Menyebalkan,” ucap pria berkalung rantai yang ingin mencambuk Edi.


Pria itu menghela napasnya dan berjalan menjauh.


“Ambilkan aku minuman!” perintahnya sembari mendaratkan bokongnya di kursi yang berhadapan langsung dengan Abraham dan juga Edi yang sedang terkapar lemas tak berdaya.


Disaat yang bersamaan, Dayat serta tim yang lain tengah berusaha mencari keberadaan Abraham dan juga Edi. Akan tetapi, mereka belum menemukan petunjuk apapun mengenai keberadaan mereka berdua.


“Sudah jam 8 malam, apakah mereka berdua masih hidup?” tanya salah satu dari mereka.


Dayat saat itu juga menarik kerah baju pria yang menurut Dayat begitu lancang.


“Jaga mulutmu, hati-hati dengan ucapanmu itu,” tutur Dayat yang terlihat sangat serius dengan ucapannya.


“Maafkan saya,” ucap pria yang sebelumnya telah menyinggung perasaan Dayat.


“Sekali lagi, kamu mengucapkan kalimat yang tak pantas itu. Akan aku tandai kamu,” tegas Dayat dengan memberikan tatapan tajam.


Dayat kembali melanjutkan pencariannya dan diikuti oleh tim yang lain.


“Ingat, malam ini kita harus bisa menemukan Tuan Abraham dan juga Edi. Bila ada hal yang mencurigakan langsung lapor dan jangan bertindak seorang diri,” terang Dayat.


Mereka mengiyakan dengan sangat lantang apa yang dikatakan oleh Dayat kepada mereka.


Perumahan Absyil.


Asyila sudah tak bisa bersabar lagi, ia pun segera melacak keberadaan Suaminya yang ternyata tidak jauh dari Perumahan Absyil. Mungkin sekitar 15 km dari Perumahan Absyil menuju lokasi Suaminya.


“Mas Abraham sedang apa di tempat itu? Atau jangan-jangan Mas Abraham dalam bahaya?”


Saat itu juga, Asyila panik luar biasa. Ia membuka koper kecil dan mengeluarkan semua peralatan yang akan digunakan untuk menyamar.


“Aku akan membawa bubuk tidur ini, siapa tahu ini bisa membantu,” ujar Asyila dan memasukkan ke dalam tas ransel miliknya.


Asyila bergegas keluar dari kamarnya untuk menemui Akbar, Ibunya dan juga Ayahnya.


“Ibu, malam ini tiba-tiba Asyila ada urusan penting. Asyila mau pergi ke cabang gerai Asyila yang satunya,” tutur Asyila yang terpaksa berbohong.


“Asyila, ini sudah sangat malam. Kenapa harus malam ini? Kenapa tidak besok saja?” tanya Arumi.


“Ibu, ini sangat penting dan kalau urusan Asyila sudah selesai, Asyila akan segera pulang. Tolong, jangan menunggu Asyila sampai pulang, Asyila takut kalau pulang malam dan malah mengganggu istirahat Ayah dan juga Ibu,” terang Asyila pada Kedua orangtuanya.


“Lalu, bagaimana dengan Akbar?” tanya Arumi lagi.


Asyila tersenyum dan mengecup kening buah hatinya.


“Akbar sayang, Bunda ada urusan penting. Akbar malam ini tidur sendirian, kalau tidak berani tidurlah bersama Nenek dan juga Kakek,” tutur Asyila pada buah hatinya dan berharap bahwa buah hatinya bisa mengerti apa yang dikatakan oleh Asyila.


“Bunda jangan khawatir, Akbar berani tidur sendirian,” jawab Akbar.

__ADS_1


__ADS_2