
Arumi datang pagi-pagi buta setelah semalaman tidur dikediamannya. Ia datang dengan membawa sayuran segar yang ia beli di pasar sayur dan membawa semuanya ke kediaman menantunya.
Abraham yang baru saja pulang dari Masjid bergegas menghampirinya Ibunya yang sedang menata sayur di depan gerbang rumah.
“Ibu? Kenapa datang sepagi ini? Ibu kesini naik apa?” tanya Abraham dan tak lupa mencium punggung tangan Ibu mertuanya.
“Firasat Ibu mengatakan kalau Ayah Asyila akan pulang hari, jadinya Ibu datang kemari sepagi ini. Ibu tadi kesini naik ojek,” jawab Arumi.
“Biar Abraham saja yang membawanya,” ucap Abraham dan membawa semua belanjaan Ibu mertuanya.
“Terima kasih, Nak Abraham,” tutur Arumi.
Abraham dan Arumi masuk ke dalam rumah. Disaat yang bersamaan, Asyila dan kedua putra kecilnya keluar dari kamar.
“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham dan juga Arumi.
“Wa’alaikumsalam!” seru Asyila.
“Ayah!”
“Nenek!”
Arsyad dan Ashraf kompak berlari menghampiri Ayah dan Nenek mereka.
“Arsyad dan Ashraf sudah sholat subuh belum?” tanya Abraham karena sebelumnya kedua putra kecilnya tak ingin sholat di Masjid dengan alasan mengantuk.
“Sudah, barusan selesai,” jawab Arsyad yang memang sholat di rumah dan diawasi oleh Sang Bunda.
“Alhamdulillah,” balas Abraham dan mencium kening Arsyad dan Ashraf secara bergantian.
“Hhhmmm.. Bau apa ini? Sepertinya bau soto,” ucap Arumi ketika hidungnya mencium aroma soto.
Asyila tersenyum dan melirik ke arah suaminya.
“Soto buatan Ayah enak, Nenek,” ucap Arsyad memuji soto yang dibuat oleh Ayahnya.
Arumi seketika itu juga menoleh ke arah menantunya, “Kok Nak Abraham yang membuat soto? Memangnya Asyila tidak bisa?” tanya Arumi yang bergantian menoleh ke arah Abraham dan Asyila.
“Lihat, Mas! Ibu bahkan menyalahkan Asyila karena ulah Mas,” omel Asyila pada suaminya.
Abraham tertawa kecil dan menarik tubuh istri kecilnya agar mendekat kepadanya.
“Ibu jangan menyalahkan Asyila karena ini semua keinginan Abraham. Asyila saat ini tidak diperbolehkan untuk melakukan tugas rumah,” jelas Abraham.
“Apakah kamu sakit sayang? Apakah penyakitnya parah?” tanya Arumi panik.
Arsyad dan Ashraf hanya berdiri mematung sambil terus memperhatikan para orang tua berbicara.
Akan tetapi, Arsyad pun tersadar dan mendekati Bundanya.
“Bunda sakit apa?” tanya Arsyad dengan tatapan sedih.
“Bunda tidak sakit apa-apa sayang, Arsyad ajak adik Ashraf masuk ke dalam ya sayang!” pinta Asyila.
Arsyad mengiyakan dan mengikuti apa yang dikatakan oleh Bundanya. Ia pun mengajak Ashraf agar segera kembali masuk ke kamar.
“Punggung Asyila sedikit sakit, Ibu. Dan Mas Abraham melarang Asyila untuk melakukan pekerjaan rumah,” jelas Asyila dan tak memberitahukan secara detail jika punggung membiru akibat pukulan keras dari si pelaku teror.
“Kalau memang begitu Asyila harus banyak istirahat. Oya, Nak Abraham. Bolehkah Ibu mencicipi soto buatan Nak Abraham?” tanya Arumi yang memang sangat penasaran dengan soto buatan Sang menantu.
__ADS_1
Arumi yakin betul bahwa soto buatan menantunya sangat nikmat. Mencium aromanya saja sudah membuat lidah bergoyang apalagi jika menikmati saat itu juga.
“Sebentar, Abraham akan menyiapkannya,” ucap Abraham.
“Jangan, Nak Abraham. Biar Ibu saja yang menyiapkannya sendiri,” balas Arumi.
“Ibu tidak perlu sungkan dengan Abraham. Abraham akan senang jika menyiapkannya sendiri,” terang Abraham dan melenggang pergi menuju dapur untuk menyiapkan soto keinginan Ibu mertuanya.
“Putri kesayangan Ibu sungguh beruntung mendapatkan suami seperti Nak Abraham. Selamat ya sayang,” ucap Arumi.
Wajah Asyila tersipu malu mendengar ucapan dari Ibunya. Asyila tidak dapat mengelak dengan apa yang diucapkan oleh Ibunya. Dirinya memang sungguh sangat beruntung memiliki suami yang baik dan juga bertanggung jawab. Selain itu, Abraham benar-benar pria sempurna yang Allah kirimkan untuknya.
Dyah keluar dari kamarnya dengan kantung mata menghitam. Sangat terlihat jika Dyah tidak tidur nyenyak, entah apa yang dipikirkan oleh gadis muda itu.
“Nenek Arumi sudah datang ya,” ucap Dyah sambil mencium punggung tangan Arumi.
“Dyah, apakah tidurmu tidak nyenyak?” tanya Arumi.
Dyah cepat-cepat menutup matanya dengan kedua tangannya.
“Tidak, Dyah tidur dengan sangat nyenyak,” jawab Dyah berbohong. Setelah sholat tahajjud, ia susah sekali untuk kembali tidur.
“Hhmm... Kenapa kita malah berdiri seperti ini! Ayo duduk!” ajak Asyila dan mereka bertiga pun duduk di sofa ruang keluarga.
Abraham masih sibuk memanaskan kuah soto, senyum Abraham merekah sempurna dan berharap Ibu mertuanya menyukai soto ayam buatannya.
Beberapa saat kemudian.
Abraham menghampiri Arumi dan lainnya yang tengah berbincang-bincang di ruang tamu untuk mengajak mereka menikmati soto ayam buatannya.
Tak lupa Abraham memanggil kedua putra kecilnya bersama Asyila yang tengah berada di kamar.
Abraham tersenyum dan bernapas lega karena Ibu mertuanya menyukai soto ayam buatannya.
“Dari dulu apa yang Paman masak semuanya enak, Nek. Bahkan, Dyah tidak akan bosan kalau Paman setiap hari memasak makanan,” sahut Dyah.
“Jangan berlebihan,” celetuk Abraham.
*****
Sore hari.
Asyila sedang duduk seorang diri di teras depan rumah. Sore itu ia tengah menantikan kedatangan Sang Ayah yang sedang dalam perjalanan pulang.
Dirumah, hanya ada Asyila seorang diri. Abraham sengaja tidak mengajak istri kecilnya agar Sang istri bisa banyak istirahat dan tak banyak bergerak.
“Meooonggg!” Kucing berwarna putih bersih tiba-tiba menghampiri Asyila.
“Masya Allah, kucing siapa ini?” tanya Asyila dan membelai lembut kepala dari si kucing yang imut itu.
“Meeeoooonngg!” Kucing putih itu terlihat sangat manja ketika Asyila membelai lembut kepalanya.
“Kamu lapar ya kucing? Tunggu sebentar ya! Aku akan mengambilkan ikan.”
Asyila berlari kecil masuk ke dalam rumah dan mengambil ikan goreng di meja makan.
“Sebentar ya kucing, aku akan memisahkan tulang ikannya terlebih dahulu,” tutur Asyila dan memberikan daging ikan kepada kucing. Kemudian, menyingkirkan tulang ikan ke kotak sampah.
Setelah ikan pemberian Asyila habis, kucing itu pergi meninggalkan Asyila hingga si kucing putih itu tak terlihat lagi.
__ADS_1
“Yah.. Kucingnya pergi,” ucap Asyila sedih dan tiba-tiba dirinya teringat sosok sahabatnya, Ema.
Disaat yang bersamaan, gerbang rumah terbuka lebar dan terlihat mobil perlahan memasuki halaman rumah kediaman Abraham.
Asyila terkesiap untuk segera menyambut kedatangan Sang Ayah tercinta yang hampir dua Minggu berada di rumah sakit.
“Ayah!” Asyila berlari kecil dan mencium punggung tangan Ayahnya, Herwan.
Asyila menangis terharu sampai tak bisa berkata-kata lagi. Melihat Sang Ayah dihadapannya sudah cukup membuat perasaan Asyila bahagia.
“Ayah pulang kok malah menangis?” tanya Herwan sambil menghapus air matanya putri kesayangannya.
“Asyila sangat senang melihat Ayah berdiri dihadapan Asyila. Cepat sembuh Ayah,” balas Asyila.
“Jangan meremehkan Ayah. Lihat sekarang, Ayah sudah bisa berdiri,” sahut Herwan.
“Syila, kita lanjutkan mengobrol nya di dalam. Ayah harus banyak istirahat,” ucap Abraham dan menuntun Herwan masuk ke dalam rumah.
Asyila masih saja meneteskan air mata bahagianya. Ia benar-benar senang karena Ayahnya sudah bisa pulang. Meskipun, harus dirawat di rumah dan bukan di rumah sakit.
Bukannya tidak mampu membayar biaya rumah sakit. Akan tetapi, Herwan tidak betah di rumah sakit dan ingin segera berkumpul dengan keluarganya.
“Kenapa putri Ayah ini masih menangis, tersenyumlah!” pinta Herwan dan kembali menghapus air mata Asyila.
Asyila mengangguk kecil dan memeluk tubuh Ayah tercintanya.
“Meskipun Asyila sudah memiliki suami dan telah dikaruniai dua putra kecil yang menggemaskan. Akan tetapi, Asyila tetaplah putri kecil Ayah. Asyila sayang sekali dengan Ayah, terima kasih Ayah karena telah membesarkan Asyila dan terima kasih juga kepada Ibu karena sudah mengorbankan banyak waktu dan tenaga untuk Asyila.”
Arumi tak kuasa menahan air matanya, ia juga menangis dan memeluk suaminya serta putri kesayangannya, Asyila.
Abraham, Arsyad, Ashraf dan juga Dyah ikut terharu melihat bagaimana Asyila dengan kedua orangtuanya berbagi kasih sayang.
“Hiks... hiks... Dyah jadi kangen Papa dan Mamah di rumah,” ucap Dyah.
“Kalau merindukan mereka, pulanglah! Bukankah kamu sudah cukup lama disini,” ketus Abraham.
“Paman jelek,” celetuk Dyah memasang wajah sebal sambil menghapus air matanya.
“Pria setampan ini kamu bilang jelek, apa perlu kaca mata?” tanya Abraham yang lagi meledek keponakannya.
Dyah memiringkan bibirnya dan menjulurkan lidahnya membalas mengejek Pamannya itu.
Asyila, Arumi dan Herwan tertawa bersama melihat ekspresi wajah Dyah yang benar-benar konyol.
“Kak Dyah jelek,” celetuk Arsyad yang juga tertawa melihat tingkah konyol Kakaknya itu.
Dyah menghentakkan kakinya dan melangkah sebal meninggalkan mereka.
“Begini-begini banyak yang naksir tahu,” ucap Dyah bermonolog sambil terus memanyunkan bibirnya yang tipis.
Arsyad dan Ashraf berlari untuk segera menyusul Dyah atas perintah dari Abraham yang meminta kedua putra kecilnya menghibur Dyah yang sedang ngambek sekaligus malu.
“Maaf semuanya, malam ini Abraham tidak bisa pulang karena banyak sekali urusan di kantor. Insya Allah besok pagi Abraham kembali ke rumah,” terang Abraham.
“Mas tenang saja, kami disini baik-baik saja. Semoga pekerjaan Mas cepat selesai,” balas Asyila.
Abraham 💖 Asyila
Terima kasih atas kunjungan Anda 💖
__ADS_1