Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Konflik Batin Dyah


__ADS_3

Temmy datang untuk menjemput Dyah dan juga Fahmi yang mengalami kecelakaan tunggal. Untungnya, tidak ada polisi yang datang sehingga semuanya tidak menjadi lebih sulit lagi.


Mereka berdua dijemput dan Temmy membawa keduanya ke rumah sakit terdekat untuk diperiksa lebih lanjut, barangkali mereka mengalami luka dalam yang cukup serius.


Dyah menangis di pelukan Papanya, ia merengek seperti anak kecil. Bahkan Fahmi ikut kebingungan melihat Dyah yang tidak henti-hentinya menangis.


“Sudah jangan nangis seperti ini, malu dilihat orang banyak. Ayo masuk ke dalam mobil!”


Temmy menuntun putri tunggalnya masuk ke dalam mobil begitu juga Fahmi yang membuntuti calon mertuanya dari belakang.


“Nak Fahmi, akan ada orang yang membawa motor Nak Fahmi ke bengkel. Sekarang ikutlah masuk ke mobil!”


Sebelum masuk ke dalam mobil, Fahmi terlebih dulu mengucapkan terima kasih atas perhatian Ayah mertuanya. Temmy menyentuh bahu Fahmi sembari tersenyum ramah.


Dyah tidak terlalu memperhatikan kedua pria yang berada diluar mobil, dikarenakan Dyah tengah menangis meratapi nasibnya.


“Pa, bagaimana sekarang? Apakah Dyah akan dipecat?” tanya Dyah sambil terus menangis.


Fahmi tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh Dyah. Bagaimana mungkin tidak masuk sehari bisa langsung dipecat apalagi ketidak hadiran Dyah karena sedang mengalami musibah.


“Lihat, Fahmi saja menertawakanmu,” ucap Temmy menggoda Dyah yang sibuk menangis.


Dyah segera menghapus air matanya dan segera menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Entah kenapa, antar sedih dan senang bercampur menjadi satu serta disaat yang bersamaan.


Gadis itu merasa sedih karena gara-gara ulahnya Fahmi sampai terluka serta merasa senang karena Fahmi jatuh sembari melindungi dirinya.


Dirumah sakit.


Dokter telah memeriksa keadaan Dyah maupun Fahmi. Dan kemudian sama sekali tak mengalami luka dalam.


Karena semuanya sudah jelas, Temmy pun memutuskan untuk mengantarkan calon menantunya pulang. Akan tetapi, Fahmi menolaknya dan justru meminta agar Dyah yang lebih dulu dipulangkannya.


Dyah yang mendengar apa yang dikatakan oleh Fahmi membuatnya tersentuh. Akan tetapi, rasa itu cepat-cepat dibuang Dyah mengingat Fahmi yang telah memiliki orang spesial yaitu, Kikan.


Beberapa saat kemudian.


Dyah langsung keluar dari mobil tanpa mengatakan sepatah katapun. Terlihat dari depan pintu sudah ada Yeni yang menunggu Dyah yang baru saja mengalami kecelakaan tunggal bersama calon menantunya.


“Mama tidak kerja?” tanya Dyah.

__ADS_1


“Kamu tidak apa-apa sayang? Mama sangat khawatir dan langsung meminta izin untuk pulang,” terang Yeni sembari membawa masuk putri tunggalnya.


Dyah dibawa masuk oleh Yeni menuju kamar. Sesampainya di dalam kamar, Yeni menyuruh Dyah untuk segera berisitirahat.


“Dyah tidak apa-apa, Mas. Ini masih jam 9 kurang, tidak baik kalau tidur sepagi ini,” ucap Dyah sambil memasang wajah ngambek.


“Ya sudah, Mama tidak akan memaksa Dyah untuk tidur. Kalau begitu, minumlah vitamin!”


“Mama, Dyah itu tidak kenapa-kenapa. Justru pria sapu tangan itu yang kenapa-kenapa,” ucap Dyah yang keceplosan menyebutkan Fahmi dengan sebutan pria sapu tangan.


“Pria sapu tangan? Maksudmu Nak Fahmi?” tanya Yeni dengan maksud memperjelas pria yang dimaksud oleh Dyah.


“Loh, Mama tahu kalau yang Dyah maksud Fahmi?” tanya Dyah terheran-heran.


Yeni terdiam sembari memikirkan alasan yang tepat untuk tidak dicurigai oleh Dyah.


“Bu... bukankah Nak Fahmi juga terlibat kecelakaan bersama Dyah, ya tentu saja Mama tahu. Benar tidak?”


Dyah cengengesan karena apa yang dikatakan oleh Yeni adalah benar.


“Ma, kenapa dia yang harus mengantarkan Dyah pulang?” tanya Dyah dan menundukkan kepalanya.


“Mulai hari ini Nak Fahmi yang akan antar jemput Dyah, sini Mama lepaskan hijabnya,” jawab Yeni sambil melepaskan hijab yang dikenakan oleh Dyah.


“Iya sayang, lagipula Nak Fahmi masih tetangga Pamanmu. Jadi, lebih aman daripada kamu harus ke yang lain,” terang Yeni.


“Ta...tapi, Ma...”


“Jangan menolak keputusan yang telah kami buat, Nak Fahmi saat ini dan kedepannya yang akan antar jemput kamu. Sudah, karena kamu baik-baik saja Mama mau kembali kerja. Kalau lapar tinggal makan di meja makan, Mama masak masakan kesukaan kamu,” jelas Yeni dan melenggang pergi keluar kamar meninggalkan Dyah yang terlihat kebingungan.


Gadis itu segera beranjak dari duduknya untuk mengganti pakaiannya yang terlihat kotor. Tiba-tiba bayangan Fahmi muncul dipikiran Dyah, membuat Dyah kesal.


“Pergilah! Aku tidak akan menyukaimu, lagipula kamu sudah memiliki orang spesial. Kenapa aku harus terjebak dalam perasaan yang seperti ini?” tanya Dyah setengah berteriak.


Dyah cepat-cepat mengenakan pakaiannya dan langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Antar jemput? Kenapa harus dia? Aku tidak tahan kalau terus bersamanya. Baru pertama naik motor dengannya sudah membuatnya celaka. Bagaimana jika nanti? Kenapa semuanya menjadi tiba-tiba begini?


Gadis itu terlihat sangat kesal, tidak biasanya Dyah menjadi orang yang gampang kesal. Hal itu dikarenakan nama Kikan selalu mengganggu pikiran Dyah. Akan tetapi, Dyah tak berani bertanya karena ia takut menerima kenyataan bahwa memang benar Kikan adalah istri dari seorang Fahmi.


Beberapa menit kemudian.

__ADS_1


Dyah terkesiap ketika mendengar ponselnya berbunyi, dengan langkah tak berdaya Dyah beranjak untuk mengambil ponselnya.


Nomor telepon siapa ini? Ada pesan juga ternyata.


“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, bagaimana keadaan Mbak Dyah? Saya baru saja sampai di rumah. Jangan lupa perbanyak istirahat.”


Dyah berpikir keras dengan isi pesan tersebut dan akhirnya mengetahui siapa orang yang baru saja mengirim pesan untuknya.


“Pria sapu tangan? Ke..kenapa dia bisa memiliki nomor teleponku? Pasti Papa yang memberikannya. Ya Allah, kalau begini caranya bagaimana hamba bisa menjauhi dia?”


Dyah melemparkan ponselnya diatas kasur dan entah kenapa ada perasaan senang dalam dirinya ketika mengingat kembali isi pesan dari Fahmi.


“Astagfirullahaladzim, cepatlah sadar Dyah. Cepatlah sadar, jangan sampai kamu dibodohi oleh perasaanmu sendiri. Ini jelas-jelas tidaklah benar, apapun yang saat ini terjadi anggap saja seperti tidak terjadi apa-apa.”


Dyah memukul-mukul dadanya yang akan membuatnya gila jika terus-menerus memikirkan Fahmi.


Saat itu Dyah benar-benar mengalami yang namanya konflik batin yang luar biasa.


Apakah pembaca juga pernah mengalami konflik batin?


Begini saja, sebaiknya aku mandi dan berendam dengan cukup lama. Siapa tahu otakku langsung segar kembali.


Ia menyambar handuk miliknya yang ada di dekat almari, tanpa pikir panjang Dyah langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk segera menghilangkan bayangan Fahmi yang ada dimana-mana.


Disaat yang bersamaan, Fahmi masih menunggu pesan dari calon istrinya. Akan tetapi, sepertinya Dyah tidak akan membalas pesan darinya.


Fahmi sendiri sebenarnya anak yatim-piatu. Ia sudah ditinggalkan oleh kedua orangtuanya saat umurnya belum genap 17 tahun.


Lalu, siapa Ibu Murni? Ibu Murni adalah adik dari Ayah Fahmi berarti, Ibu Murni adalah Bibi/Tante Fahmi.


“Ibu perhatikan kamu sepertinya sedang memikirkan sesuatu, boleh lah berbagi dengan Ibu!” pinta Murni pada Fahmi yang tengah duduk di depan rumah.


“Fahmi sedang menunggu balasan pesan dari Dyah, Ibu.”


Murni tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh keponakannya yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.


“Iya, Ibu tahu. Tapi, kalian masih tahap pendekatan. Apa mau langsung Ibu nikahkan?” tanya Murni.


“Jangan, Ibu. Kalau seperti itu, takutnya Dyah terkejut dan tak mau menerima Fahmi sebagai calon suaminya,” tolak Fahmi.


“Baiklah, apapun itu Ibu akan selalu mendukungmu,” balas Murni, ”Ya sudah, Ibu mau ke dalam dulu. Kalau perbannya sudah tidak nyaman, jangan segan-segan bilang Ibu!”

__ADS_1


“Siap Ibu,” balas Fahmi.


__ADS_2