
Tak peduli dengan waktu yang terus berjalan. Aku tetap selalu mencintaimu, istriku.
Pagi hari.
Asyila tak sabar untuk melihat putra kecilnya yang menggemaskan itu. Ia pun memutuskan untuk segera menemui putra kecilnya, Ashraf.
“Assalamu’alaikum,” ucap Asyila sambil mengetuk pintu.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Ema sambil membuka pintu, “Syila,” sambung Ema yang sangat senang akhirnya bisa melihat sahabatnya.
Ema menarik tangan Asyila dan membawanya masuk ke dalam.
“Aku senang sekali akhirnya kamu kemari, aku benar-benar takut jika harus keluar. Oya, Pak Abraham mana?” tanya Ema.
“Mas Abraham kebetulan lagi sibuk dan aku tak berani mengganggunya,” jawab Asyila apa adanya.
Ashraf yang tengah bermain dengan Kahfi langsung berlari ke arah Bundanya. Ashraf yang awalnya biasa saja malah menangis dengan manjanya.
“Hiks... hiks... Bunda...”
“Loh, kok malah menangis?” tanya Asyila kebingungan dan memeluk tubuh Ashraf dengan begitu perhatian.
“Ashraf kangen sama Ayah dan Bunda,” jawabnya.
Ema tersenyum kaku dan meminta maaf kepada Asyila. Hal tersebut dikarenakan Ema sama sekali tak mengizinkan Ashraf untuk keluar dari kamar dan mengurung Ashraf bersama Kahfi agar tidak keluar dari tempat itu.
“Iya, aku paham maksudmu, Ema. Mas Abraham pun sama seperti dirimu, aku keluar saja tak boleh dan harus diam didalam. Kalau boleh jujur, aku sangat ingin menikmati air laut yang asin itu,” terang Asyila dengan sedih.
Ema menepuk bahu sahabatnya dan ikut merasakan kesedihan dari sahabatnya itu.
“Selama pelaku itu belum ditemukan, liburan kita akan menjadi sia-sia. Kalau boleh jujur, Abang Yogi mengajak kami untuk kembali ke perumahan Absyil,” tutur Ema.
“Haaa? Tidak boleh,” tegas Asyila yang tak ingin jika Ema kembali ke perumahan Absyil, “Kita kemari karena ingin berlibur. Akan menjadi sia-sia saja kalau kalian kembali,” sambung Asyila.
Ashraf perlahan menghentikan tangisannya.
“Bunda...”
“Iya sayang, Ashraf mau apa?” tanya Asyila.
“Mau main pasir Bunda,” jawab Ashraf dengan tatapan penuh harapan.
Asyila tahu apa dari perkataan buah hatinya. Yaitu, Ashraf ingin main pasir pantai dan membentuk istana seperti yang diinginkan oleh Ashraf sejak lama.
Ashraf pasti akan menangis kalau aku menolak keinginannya. Tidak mungkin 'kan, kalau aku mengatakan soal pembunuhan itu.
Asyila berpikir dengan sangat serius, ia harus segera memutuskan keinginan putra kecilnya.
“Bunda...” Ashraf menatap Asyila dan bersiap-siap untuk menangis.
Ashraf memang paling pintar membujuk orang tuanya, terlebih lagi Bundanya.
“Baiklah, tapi sebentar saja ya sayang!” pinta Asyila.
Ashraf turun dari pangkuan Bundanya dan bergegas menghampiri Kahfi untuk mengajak Kahfi ikut berpartisipasi dalam pembuatan istana pasir.
__ADS_1
“Syila, bagaimana jika suamimu marah?” tanya Ema lirih.
“Mas sepertinya tidak akan marah, apalagi ini menyangkut keinginan Ashraf yang sudah lama ia pendam. Aku akan mengurusnya jika Mas Abraham marah,” jawab Asyila.
Asyila, Ashraf, Ema dan Kahfi telah siap untuk pergi ke tepi pantai.
“Bismillahirrahmanirrahim,” ucap mereka kompak dan bersama-sama berjalan menuju pantai.
Yogi yang saat itu tengah mandi tidak mengetahui apa yang akan dilakukan oleh mereka. Ia masih fokus untuk membersihkan tubuhnya.
“Masya Allah, ternyata diwaktu pagi begini pantainya terlihat sangat indah,” puji Ema yang telah terhipnotis oleh keindahan pantai yang sangat jernih dan biru.
“Ya, kamu benar sekali. Sekarang kita duduk disini dan memantau buah hati kita yang sedang berusaha membuat istana pasir,” ucap Asyila.
Abraham masih sibuk dengan laptopnya, ia kemudian menyadari bahwa istri kecilnya belum juga kembali dari kamar sebelah.
“Sebaiknya aku menyusul Syila dan Ashraf,” ucap Abraham bermonolog dan bergegas menuju kamar sahabatnya.
Yogi baru saja mengenakan pakaian dan berpikir bahwa istri dan buah hatinya sedang berada dikamar sahabatnya. Ia pun memutuskan untuk menyusul dan disaat yang bersamaan, Abraham muncul secara tiba-tiba dihadapannya.
“Astagfirullah,” ucap Abraham dan Yogi kompak.
Kedua pria itu saling menyentuh dada karena terkejut.
“Ada apa kemari?” tanya Yogi.
“Aku ingin menemui Syila dan juga Ashraf,” jawab Abraham.
Yogi mengernyitkan keningnya dan matanya seketika itu terbelalak lebar.
“Nona Asyila dan Ashraf tidak ada didalam, justru aku ingin ke tempatmu menemui Ema dan Kahfi,” terang Yogi.
Raut wajah khawatir dan panik terlihat jelas dari wajah kedua pria tersebut.
Abraham lalu menoleh ke arah pantai dan bernapas lega ketika melihat orang yang Abraham dan Yogi cari sedang bersantai-santai.
“Ya ampun, istriku,” ucap Abraham dan berlari secepat mungkin menghampiri istri kecilnya.
“Tunggu aku!” panggil Yogi sembari berlari mengikuti Abraham.
Asyila yang sedang duduk dihamparan pasir putih terkejut ketika tak sengaja melihat suaminya yang berlari kearahnya.
“Mas Abraham!” Asyila terkesiap dan bingung karena ia sudah tertangkap basah mendekati pantai tanpa seizin suaminya.
Abraham yang kesal hanya bisa mencubit kedua pipi suaminya dengan begitu gemas.
“Kenapa Syila selalu membuat Mas khawatir? Bagaimanapun jika hal buruk terjadi kepada Asyila dan juga Ashraf?” tanya Abraham.
Ema memanyunkan bibirnya dan menyenggol lengan suaminya, Yogi.
“Abang seharusnya bisa lebih cerewet dan khawatir lagi, melebihi Pak Abraham,” bisik Ema.
Yogi tak bisa menyembunyikan tawanya, istrinya itu memang selalu ingin terlihat romantis melebihi Abraham dan Asyila.
“Ayah, lihat sini!” panggil Ashraf sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
Abraham mengangguk dan menghampiri buah hatinya yang tengah sibuk membangun istana pasir.
“Wah, siapa yang membuat istana pasir sebesar ini?” tanya Abraham.
“Ashaf,” jawab Ashraf sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Ayah, punya Kahfi bagus tidak?” tanya Kahfi pada Abraham.
“Tentu saja, istana Ashraf dan Kahfi memang sangat bagus,” puji Abraham pada keduanya.
Asyila menghela napasnya, ia sangat senang akhirnya bisa keluar dari penginapan dan menikmati pemandangan pantai yang begitu cantik.
“Sini!” panggil Abraham.
Asyila mengiyakan dan menghampiri suaminya yang tengah sibuk mengumpulkan pasir pantai menjadi gundukan pasir yang cukup besar.
“Yogi! Aku menantangmu dan Ema membuat istana pasir, yang paling bagus itulah pemenangnya.”
“Hhhmmm... Lalu, siapa jurinya?” tanya Yogi.
Abraham melirik ke arah dua bocah disampingnya dan dengan semangat Ema menyetujuinya.
“Saya setuju, Tuan Abraham. Saya yakin kami akan menang melawan Tuan Abraham dan juga Asyila,” ucap Ema penuh semangat.
Yogi terperangah mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya dengan begitu semangat. Ia pun dengan cepat menyetujuinya dan bergegas membuat istana pasir pantai yang besar.
“Sayang, dukung Ayah dan Bunda ya,” ucap Asyila pada Ashraf.
Asyila mengiyakan dan bersorak gembira, ia yakin kedua orangtuanya akan menang.
“Semangat Bunda,” ucap Kahfi menyemangati Asyila.
Ema dan Yogi menatap tajam ke arah putra mereka yang justru mendukung lawan mereka.
“Kahfi, dukung Papa dan Mama!” perintah Ema.
Kahfi tersenyum kaku dan berpindah haluan mendukung kedua orangtuanya.
“Semangat Papa dan Mama,” ucap Kahfi memberi semangat kedua orangtuanya agar menang dari Abraham dan Asyila.
“Nah, begitu baru anak baik,” puji Ema.
“Itu namanya pemaksaan,” celetuk Asyila dan menjulurkan lidahnya ke arah Ema.
Ema tak terima dan ikut menjulurkan lidahnya ke arah Asyila.
Pertarungan sengit tak dapat terelakkan, kedua pasangan hal itu berusaha sebaik mungkin untuk menang.
“Istriku pintar,” puji Abraham ketika istri kecilnya membangun istana dengan begitu cepat.
Ema melirik suaminya dan memberi isyarat agar suaminya ikut memuji dirinya.
“Masya Allah, istriku pintar sekali,” puji Yogi setengah berteriak.
“Oh, pastinya!” seru Ema dan kembali mengejek Asyila.
__ADS_1
Ashraf dan Kahfi hanya bisa tertawa menyaksikan orang tua mereka yang sedang berlomba membuat istana pasir.
Abraham 💖 Asyila