
Sudah tiga hari lamanya Ashraf menginap di kediaman orang tua Ema. Tiga hari itu juga, Ashraf tak pernah yang namanya menangis apalagi rewel.
Mungkin, karena adanya ada teman yang sebaya dengannya, sehingga Ashraf tak terlalu ingat mengenai Bundanya.
“Ashraf, Kahfi! Jangan main air. Ayo matikan airnya dan bantu Mama memilih buah yang segar untuk dijadikan salad buah!” ajak Ema.
Ashraf dengan cepat mematikan kran air yang
Sebelumnya menyala. Kemudian, mengandeng tangan Kahfi agar ikut dengannya ke dalam.
“Ayo main air lagi!” ajak Kahfi yang masih ingin main air, padahal setengah badan bagian bawahnya sudah basah karena main air.
“Jangan, nanti Mama marah,” balas Ashraf.
Ema tersenyum lebar mendengar jawaban Ashraf yang sangat bijak.
“Kahfi mau Mama marah?” tanya Ema sambil berkacak pinggang dengan tatapan serius.
Kahfi seketika itu juga menunduk ketakutan melihat wajah Mamanya yang sangat seram menurutnya.
Ema menjadi tak enak hati melihat buah hatinya ketakutan.
“Maaf, sayang. Mama tidak bermaksud untuk membuat Kahfi takut. Ayo peluk Mama!” pinta Ema sambil merentangkan tangannya lebar.
Kahfi mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar ke arah Ema. Kemudian, memeluk tubuh Mamanya dengan sangat erat.
Melihat keakraban Ibu dan anak dihadapannya, Ashraf merasa sangat iri. Ia juga ingin mendapatkan pelukan hangat dari Bundanya.
Akan tetapi, wanita yang beberapa hari lalu menggendongnya bukanlah Mamanya.
Ashraf mengetahuinya dari Ema yang memberitahunya untuk tidak dekat-dekat dengan wanita bernama Salsa.
“Ashraf, kenapa diam saja?
Sini peluk Mama!” pinta Ema kepada buah hati dari sahabatnya, Asyila.
Ashraf tersenyum senang dan ikut memeluk Ema yang sudah seperti Ibunya sendiri.
“Wah-wah, ini kenapa pada seperti Teletubbies?” tanya Icha.
“Mami sini, peluk kami!” pinta Ema.
Icha tertawa sambil geleng-geleng kepala. Kemudian, menutut permintaan putri tunggalnya.
“Ashraf! Kahfi!” panggil Yogi.
Keduanya terkesiap dan berlari menuju sumber suara yang memanggil nama mereka berdua.
“Ayah!” seru mereka melihat Yogi yang baru pulang dari minimarket.
“Anak-anak Ayah lagi pada ngapain?” tanya Yogi penasaran.
“Mau buat salad buah sama Mama,” jawab Kahfi.
“Ayah tidak diajak?” tanya Yogi dengan memasang ekspresi sedih.
Kahfi tertawa begitu juga dengan Ashraf ketika melihat wajah jelek Yogi.
__ADS_1
“Jahat kalian. Ayah sedih malah ditertawakan, hiks... Hiks ..” ucap Yogi dan kini berpura-pura menangis.
Bukannya merasa kasihan atau bersalah. Keduanya malah tertawa lepas dan membuat akting sedih Yogi gagal seketika itu juga.
“Abang bawa apa?” tanya Ema yang tiba-tiba muncul dengan pisau buah ditangannya.
“Eeitttsss... Apa itu?” tanya Yogi sambil menunjuk ke arah pisau yang dipegang oleh Ema.
“Hehe hehe... Tadi buru-buru ke depan, sampai lupa meletakkan kembali pisau,” jawab Ema sambil menyembunyikan pisaunya di belakang punggungnya.
“Ayo tunggu, apalagi. Mari buat salad buah!” seru Yogi dengan menggandeng tangan dua bocah kecil yang menggemaskan tersebut.
Icha dan Wati mengintip mereka dari kejauhan. Kedua wanita paruh baya itu terlihat begitu bahagia melihat keluarga kecil Yogi dan Ema yang begitu akur.
“Masya Allah, rasanya hati ini adem melihat mereka seperti itu,” puji Wati.
Disisi lain.
Kediaman Abraham Mahesa.
Setelah melaksanakan sholat Dhuha di kamarnya, Abraham memutuskan untuk melatih kemampuan bela dirinya bersama ke-lima bodyguard.
Abraham ingin tahu, sampai dimana kemampuan bela diri dari para bodyguard itu.
“Kalian semua, ayo lawan aku!” perintah Abraham yang saat itu mengenai celana pendek selutut dan kaos pendek berwarna hitam.
Sungguh, siapapun wanita yang melihat Abraham dengan keadaan yang seperti itu, sudah dapat dipastikan bahwa mereka akan jatuh cinta kepada suami dari Asyila.
“Kenapa malah diam saja? Ayo lawan aku dan usahakan kalian tidak boleh kalah dariku!” pinta Abraham.
Pak Udin dan Eko begitu antusias melihat mereka sedang bertanding kekuatan.
“Apa aku tidak salah lihat? Tuan Muda Abraham bertarung dengan ke-lima bodyguardnya?” tanya Pak Udin.
“Pak Udin tenang saja, Tuan Muda Abraham adalah pria yang tidak mudah dikalahkan. Kita lihat saja, kurang dari 10 menit ke-lima bodyguard itu pasti akan kalah,” ucap Eko dengan penuh percaya diri. Meskipun, bukan dia yang sedang bertarung.
“Semoga saja begitu,” balas Pak Udin.
Mendengar balasan yang tak meyakinkan dari Pak Udin, membuat wajah Eko kesal dan memberi tatapan tajam pada penjaga gerbang tersebut.
“Kalau sampai Tuan Muda Abraham menang, Pak Udin harus mentraktir saya selama seminggu penuh di tempat Bu Min!”
Tanpa berpikir panjang, Pak Udin mengiyakan tantangan Eko tanpa berpikir terlebih dahulu.
Dan baru saja Pak Udin mengiyakan, Abraham sudah berhasil melumpuhkan ke-lima bodyguardnya.
“Yes, Tuan Muda Abraham menang!” teriak Eko dengan penuh kemenangan.
“Ya Allah, ini hari apa sebenarnya? Kenapa hari ini apes sekali,” tutur Pak Udin geleng-geleng kepala.
Abraham menghela napasnya dan meminta ke-limanya untuk segera bangkit.
“Kalian seharusnya lebih banyak berlatih, kedepannya Aku tidak ingin melihat kalian yang dengan mudah dikalahkan seperti ini,” tegas Abraham.
“Maafkan kami, Tuan Abraham,” ucap mereka.
Abraham mengangguk kecil dan kembali masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Ketika baru melangkah masuk ke ruang tamu, Abraham sudah mendapatkan tepuk tangan dari kedua mertuanya.
“Apakah itu benar-benar kamu, Nak Abraham?” tanya Herwan dengan tatapan kekaguman.
Abraham tersenyum tipis tanpa mengiyakan pertanyaan dari Ayah mertuanya.
“Ayah, Ibu. Abraham permisi, entah kenapa perasaan Abraham tiba-tiba tak nyaman,” ucap Abraham dan melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Sore hari.
Abraham dan Herwan baru saja keluar dari masjid setelah melaksanakan sholat ashar di masjid.
Ketika keduanya tengah berjalan menuju pulang, seorang wanita melewati mereka dengan menampilkan senyum manisnya.
“Assalamu’alaikum,” sapa wanita itu.
“Wa’alalaikumsalam,” balas Abraham dan juga Herwan.
Abraham dan Herwan tak berhenti memandangi wanita dihadapan mereka yang sangat mirip dengan Asyila.
Bukan karena keduanya menyukai wanita itu, akan tetapi karena wajahnya yang membuat Abraham maupun Herwan seperti tengah melihat Asyila.
“Ada yang salah ya dengan wajah saya?” tanya Salsa yang berusaha untuk akrab dengan pria dihadapannya.
Abraham seketika itu tersadar dan langsung menoleh ke arah lain.
“Kalau boleh tahu, Nak Salsa tinggal dimana?” tanya Herwan penasaran.
“Kebetulan saya orang baru di daerah sini, Pak. Saya tinggal seorang diri karena orang tua saya telah meninggal dunia akibat kecelakaan dan menyisakan saya seorang diri,” terang Salsa dengan menahan tangisnya.
Herwan menjadi sangat kasihan dengan apa yang telah terjadi kepada Salsa.
“Lalu, Nak Salsa bekerja dimana?” tanya Herwan yang semakin penasaran.
“Saya berkerja di foto copy dekat rumah sakit, tempat dimana anak kecil yang selalu memanggil saya dengan sebutan Bunda. Kalau boleh tahu, kenapa anak kecil itu terus saja memanggil saya Bunda?” tanya Salsa.
“Ayah, Abraham pulang duluan,” tutur Abraham dan melenggang pergi meninggalkan keduanya yang tengah asik berbincang-bincang.
Kenapa lagi-lagi aku bertemu dengan wanita itu?
Melihat wajahnya membuat rindu dengan Asyila ku.
Salsa menoleh ke arah Abraham yang pergi begitu saja.
“Pria itu adalah menantu saya. Ayah dari anak kecil yang Nak Salsa bahas tadi,” ucap Herwan memperkenalkan Abraham dan status Abraham.
“Lalu, bagaimana dengan istri Pak Abraham?” tanya Salsa penasaran.
“Kalau itu, sebenarnya...”
Belum sempat meneruskan ucapannya, seorang pria datang menghampiri Herwan.
Salsa pun pamit karena tak ingin mengganggu keduanya yang terlihat ingin membahasa hal penting.
“Siapa wanita itu? Kenapa wajahnya tidak asing bagi saya?” tanya pria yang seumuran dengan Herwan dan salah satu jama'ah masjid.
“Wanita itu bernama Salsa. Wajahnya hampir mirip dengan Asyila, sehingga Pak Harun mengatakan hal itu,” jelas Herwan.
__ADS_1