Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Abraham Datang Dengan Keadaan Terluka


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Asyila kembali duduk merenung di ruang tamu dan entah sudah berapa kali dirinya bolak-balik dari kamar ke ruang tamu hanya untuk melihat apakah suaminya tiba apa belum.


Apa yang Asyila kerjakan, benar-benar tak ia kerjakan dengan penuh semangat. Pikirannya terus saja tertuju kepada suami tercintanya yang belum juga ada kabar.


Dyah dan Ema pun ikut sedih melihat Asyila yang nampak tak bersemangat karena belum mendapatkan kabar dari seorang Abraham Mahesa.


“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap wanita muda yang tak lain adalah guru ngaji Bela.


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, mari masuk ustadzah!” Dyah dan Ema mempersilakan wanita muda itu untuk masuk ke dalam.


Setelah wanita muda itu masuk, Bela pun bergegas masuk ke dalam ruang belajarnya untuk belajar membaca iqro.


“Syila, janganlah bersedih seperti ini. Bagaimanapun, saat ini bayi Akbar sangat membutuhkan dirimu. Kalau kamu terus seperti ini, akan berpengaruh terhadap ASI mu,” ucap Ema yang kini duduk tepat disebelah kanan Asyila.


Asyila menoleh dengan senyum manisnya.


“Aku tidak apa-apa, jangan terlalu mengkhawatirkan aku dan juga bayiku,” balas Asyila.


“Kamu bilang tidak apa-apa? Sudah dua hari ini kamu banyak diam, aku ajak bicara kamu membalasnya dengan sangat singkat. Ayolah Asyila, bersikaplah seperti biasanya. Aku tidak ingin melihatmu bersedih seperti itu,” terang Ema yang tak bisa menahan air matanya karena sedih melihat sahabatnya yang selalu saja murung.


“Benarkah aku banyak diam?” tanya Asyila yang tak menyadari bahwa kesedihannya terlihat jelas oleh Ema.


“Ya ampun, kamu bahkan tidak menyadarinya?” tanya Ema terheran-heran.


“Sudahlah, kalau Aunty masih sedih begini. Dyah dan Ema akan pulang,” sahut Dyah.


“Jangan begitu, lihatlah Aunty tidak sedih lagi. Ayo bantu Aunty buat cemilan untuk Bela dan juga ustadzah!” ajak Asyila.


Dyah menoleh ke arah Ema sembari mengedipkan matanya.


“Berhasil,” tutur Dyah menggunakan bahasa bibir.


Mereka bertiga kini sibuk di dapur, sementara Kahfi ditugaskan oleh Ema untuk menjadi bayi Asyila dan juga bayi Akbar di ruang keluarga.


“Aunty, kita mau buat apa nih?” tanya Dyah penasaran yang saat itu tengah melihat-lihat isi di dalam kulkas.


“Hhmm.. Aku pun tidak tahu, kamu ada ide?” tanya Asyila pada Dyah.


“Haduh, Dyah juga bingung,” jawab Dyah yang sama sekali tak ada ide untuk membuatkan cemilan.


“Begini saja, bagaimana kalau kita buat risoles?” Ema bertanya dengan penuh semangat.


“Aku setuju, kebetulan aku juga sering membuat risoles ketika berada di Salatiga,” sahut Asyila.


Dyah memanyunkan bibirnya, hanya dia yang tak bisa membuat risoles.


“Ayolah, kenapa kita harus membuat risoles? Apa tidak ada yang lain?” tanya Dyah karena memang belum pernah membuat risoles.


Ema tertawa melihat ekspresi wajah kebingungan Dyah.


“Kamu menertawakan aku?” tanya Dyah dan memukul kepala Ema dengan kangkung yang ia ambil dari kulkas.


Ema terkejut dan memukul balik kepala Dyah dengan timun.


“Astaghfirullahaladzim, kalian masih suka bertengkar seperti ini?” tanya Asyila sembari geleng-geleng kepala melihat kelakuan Dyah dan juga Ema yang sedari dulu selalu saja bertengkar.


Dyah dan Ema seketika itu menghentikan aksi mereka dengan saling menatap tajam satu sama lain.


“Kalian yakin masih mau ribut seperti ini?” tanya Asyila yang kini telah berkacak pinggang.


Kedua wanita muda itu langsung kikuk dan melempar senyum satu sama lain.


“Nah, kalau begini'kan bagus,” tutur Asyila lega melihat keduanya sudah berbaikan.


Ema menjulurkan lidahnya dan bergegas mencari bahan untuk membuat risoles di dalam kulkas.


Sementara Dyah memutuskan untuk memotong-motong wortel, kentang serta isian lainnya untuk risoles.


“Syila ini ada ayam, bagaimana kalau isian risoles kita isi dengan irisan ayam?” tanya Ema.

__ADS_1


“Aku sedang membersihkan wortel, kentang dan brokoli untuk isiannya,” sahut Dyah yang kesal.


“Ayolah, kenapa kalian masih saja seperti saat kalian masih gadis? Lagipula kita bisa membuat dua isian risoles. Ada yang isiannya sayur dan satunya isian ayam cincang,” terang Asyila secara adil dan berharap keduanya tidak lagi berdebat hanya masalah isian risoles.


Dyah dan Ema akhirnya saling meminta maaf. Kemudian, melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing untuk membuat isian risoles.


“Bagus, kalau begitu aku akan ke ruang belajar untuk memberikan teh ini,” ucap Asyila dan melenggang menuju ruang belajar.


Beberapa saat kemudian.


Ustadzah yang mengajarkan Bela mengaji akhirnya pamit karena sudah waktunya untuk pulang.


Asyila pun mengucapkan terima kasih karena telah mengajarkan Bela mengaji.


Setelah ustadzah itu pergi meninggalkan perumahan Absyil, Dyah dan Ema memutuskan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.


“Kenapa pulang buru-buru?” tanya Asyila yang masih ingin ditemani oleh Dyah dan juga Ema.


“Asyila, kami sebenarnya ingin berlama-lama disini. Akan tetapi, kamu pasti tahu kalau kami memiliki tanggungan keluarga,” tutur Ema yang sebenarnya masih ingin berlama-lama dengan sahabatnya, Asyila.


“Maaf, tidak seharusnya aku berkata seperti tadi. Ya sudah pulangnya, jangan lupa besok kesini lagi!” pinta Asyila agar Dyah dan Ema kembali datang menemui dirinya.


“Syila, kenapa harus minta maaf. Insya Allah kami akan kesini lagi, ya sudah ya kami pulang wassalamu'alaikum.” Dyah dam Ema pun perlahan berjalan meninggalkan area halaman rumah keluarga kecil Abraham.


“Wa’alaikumsalam,” balas Asyila sembari melambaikan tangannya ke arah Dyah dan juga Ema.


Asyila menutup pintu rapat-rapat dan berjalan menuju ruang keluarga untuk melihat bayi mungilnya.


“Bela, bagaimana belajar mengaji sama ustadzah?” tanya Asyila penasaran.


“Agak susah, Aunty. Akan tetapi, Insya Allah Bela berusaha lebih serius lagi biar cepat pintar mengajinya,” jawab Bela malu-maluin.


“Alhamdulillah, Aunty senang mendengarnya. Insya Allah Bela pasti bisa,” balas Asyila dan mencium pipi kiri Bela.


“Tok.. Tok.. Tok!” Suara pintu diketuk.


Asyila samar-samar mendengar suara pintu yang sedang diketuk, tanpa pikir panjang dirinya meminta Bela untuk melihat siapa yang datang.


Bela mengiyakan dan berlari kecil menuju pintu depan untuk melihat siapa yang datang.


“Paman!” Bela dengan penuh semangat membuka pintu ketika tahu bahwa Abraham lah yang datang.


Abraham saat itu datang bersama dengan Rega dan juga Ardy dikarenakan saat itu kaki Abraham belum bisa berjalan dengan normal.


“Assalamu'alaikum,” ucap mereka bertiga.


“Wa’alaikumsalam,” balas Bela dan berlari menuju ruang keluarga untuk memberitahukan bahwa Abraham telah kembali.


“Bela kenapa lari-lari begini? Siapa yang datang?” tanya Asyila yang saat itu tengah menggendong bayi mungilnya.


“Aunty, Paman ada di depan,” ucap Bela dengan napas terengah-engah.


Asyila terkejut dan meletakkan bayi mungilnya di kereta bayi. Kemudian, berlari kecil untuk menyambut kedatangan suaminya yang sudah dua hari tidak pulang.


“Mas Abraham!” Asyila terkejut sekaligus khawatir melihat kaki suaminya yang terbalut perban.


“Ssuuttt, Mas tidak apa-apa. Tolong jangan khawatir begini,” pinta Abraham dan menarik tubuh istri kecilnya ke dalam pelukannya.


Melihat suasana hangat seperti itu, Ardy dan Rega memutuskan untuk cepat-cepat pergi karena tak ingin mengganggu suasana hangat serta romantis tersebut.


“Tuan Abraham, sepertinya kami harus segera pergi. Terima kasih atas bantuan Tuan Abraham, kami permisi.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas Abraham dan juga Asyila.


Asyila menoleh ke arah Ardy dan juga Rega. Kemudian, perhatiannya fokus kepada suaminya.


“Mas, jawab pertanyaan Asyila. Kenapa Mas bisa begini? Dan lagi, kenapa Mas sama sekali tidak ada kabar?” tanya Asyila dan memukul dada suaminya berulang kali untuk menumpahkan semua kekesalannya terhadap suaminya itu.


Abraham sama sekali tak menghentikan tindakan istri kecilnya yang terus saja memukuli dadanya berulang kali.

__ADS_1


Bagaimanapun, dirinya lah yang salah karena sengaja tak menghubungi istri kecilnya yang jelas-jelas pasti mengkhawatirkan dirinya.


“Mas Abraham jahat, Mas sangat jahat terhadap Asyila,” tutur Asyila yang masih terus memukuli dada suaminya.


Wanita muda itu menangis dan terus menangis karena suaminya datang dengan kondisi yang begitu menyedihkan.


Setelah dirasa cukup memukuli dada suaminya, Asyila pun melenggang pergi begitu saja menuju kamar.


Abraham tertunduk sedih dan mencoba mengejar istri kecilnya meskipun kakinya sedikit sakit. Akan tetapi, sakit yang ia rasakan sama sekali tidak ada apa-apanya jika melihat istri kecilnya yang menangis karena ulahnya sendiri.


Melihat Abraham berjalan kesulitan seperti itu, Bela hanya bisa menelan salivanya dan memutuskan untuk menjaga Bayi Akbar yang berada di ruang keluarga seorang diri.


Abraham berjalan dan terus berjalan sampai akhirnya ia bisa memasuki kamar miliknya serta istri kecilnya.


“Mas Abraham kenapa berjalan sampai kesini? Kenapa tidak pergi saja, sekalian tidak pulang,” ucap Asyila yang sebenarnya tidak ingin mengatakan kalimat tersebut.


Abraham hanya diam mendengar perkataan istri kecilnya.


“Maaf,” ucap Abraham.


Asyila berbalik arah dan kembali memeluk suaminya dengan penuh erat.


“Mas, kalau bayi kita sudah agak besar. Asyila akan membantu Mas Abraham untuk membahas para berandalan diluar sana,” tutur Asyila yang begitu geram karena mereka suaminya terluka.


Abraham sama sekali tak menanggapi apa yang dikatakan oleh istri kecilnya. Dikarenakan, Abraham tahu bahwa istri kecilnya adalah wanita yang begitu lembut dan pastinya tidak akan berani berhadapan langsung dengan para berandalan alias penjahat.


“Mas kenapa diam saja?” tanya Asyila yang terus saja menetaskan air matanya.


Abraham tersenyum dan dengan tatapan penuh cinta ia menyeka air mata istri kecilnya.


“Wanita cantik seperti ini tidak boleh menangis, sekali lagi maafkan Mas ya Syila. Maaf karena sengaja tidak menghubungi Asyila, bagaimanapun Mas sekarang sudah tidak apa-apa. Dan lagi, mereka semua sudah tertangkap dan menerima ganjarannya,” terang Abraham dan mengecup kening istrinya dengan penuh cinta.


“Benarkah?” tanya Asyila memastikan.


“Tentu saja, sekarang berikan Mas senyuman terbaik Asyila!” pinta Abraham yang ingin melihat senyum cantik istri kecilnya.


Asyila perlahan tersenyum dan memberikan senyum terbaiknya kepada sang suami tercinta.


Deg!


Jantung Abraham tiba-tiba berdetak lebih kencang dari sebelumnya hingga membuat kedua pipinya memerah karena malu.


“Wajah Mas Abraham kenapa?” tanya Asyila sambil menyentuh kedua pipi suaminya.


Abraham semakin gugup dan dengan cepat ia menciumi bibir suaminya dengan penuh semangat.


Asyila dengan malu-malu membalas ciuman bibir dari suaminya itu.


“Tok... Tok... Tok...”


“Aunty, Adik Akbar nangis,” ucap Bela yang berada di depan pintu kamar yang tertutup rapat.


Asyila seketika itu menghentikan ciumannya dan berlari keluar kamar untuk mengambil bayi mungilnya yang berada di ruang keluarga.


“Terima kasih Bela sudah memberitahukan Aunty,” tutur Asyila dan berlari kecil menuruni anak tangga.


Di dalam kamar, Abraham sedang menyentuh dadanya yang masih saja berdebar lebih kencang dari biasanya.


“Istri kecilku ini benar-benar unik, setiap melihat senyumannya dan tatapannya membuatku langsung kikuk seperti ini,” ucap Abraham bermonolog yang benar-benar terpukau dengan pesona istri kecilnya itu.


Asyila akhirnya tiba dan segera menggendong bayi mungilnya itu.


“Maaf ya sayang, cup.. cup... Jangan nangis ya sayang. Bunda sudah disini,” ujar Asyila mencoba menenangkan bayi kesayangannya itu.


Bela duduk di sofa dengan terus memandangi Asyila yang tengah mencoba menenangkan bayi Akbar.


“Aunty hebat, adik Akbar langsung diam,” puji Bela ketika bayi Akbar tiba-tiba menghentikan tangisannya.


Asyila tersenyum dan pamit untuk kembali naik ke lantai atas membawa bayinya itu.


Bela mengiyakan dan memilih untuk menonton televisi.

__ADS_1


__ADS_2