Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Bibit-bibit Unggul


__ADS_3

Sudah lebih dari seminggu Sang Nenek meninggalkan dunia. Dan sudah lebih dari seminggu pula, Abraham maupun Arsyad putra pertama mereka tidak nafsu makan.


“Mas, makan ya!” Asyila mencoba membujuk suaminya yang sudah seminggu lebih sangat jarang makan.


“Tidak, Syila. Mas sedang tidak ingin makan,” tolak Abraham dan terus memandangi wajah Erna di bingkai foto.


“Asyila tahu Mas sangat merindukan Nenek. Tapi, tolong makanlah sedikit, setidaknya untuk kesehatan Mas Abraham. Lihat Arsyad! Putra kita bahkan ikut tidak nafsu makan seperti Mas,” tutur Asyila sembari menahan air matanya yang bersiap-siap untuk jatuh.


Abraham mendongakkan kepalanya dan segera memeluk istrinya. Ia hampir saja membuat sang istri bersedih karena kesedihannya yang berlarut-larut.


“Tolong makanlah makanan yang Asyila buat, meskipun hanya sedikit!” pinta Asyila lebih tepatnya memohon.


Abraham perlahan tersadar sikapnya malah membuat istri kecilnya menjadi khawatir dengan kesehatannya. Ia pun hampir lupa, masih ada putra-putranya yang butuh perhatian lebih darinya dan juga sang istri.


“Maafkan Mas ya Syila, tolong panggilkan anak-anak!” pinta Abraham.


Senyum Asyila kembali mengembang dan ia pun bergegas memanggil kedua putra kecilnya yang tengah berada di kebun anggur milik almarhumah Sang Nenek.


“Arsyad! Ashraf!” panggil Asyila sambil melambaikan tangannya ke arah kedua putra kecilnya.


Ashraf segera berlari menghampiri Bundanya, sementara Arsyad masih tetap di kebun anggur dengan memasang wajah sedih.


“Sayang, langsung ke ruang keluarga ya!” pinta Asyila.


“Baik, Bunda,” balas Ashraf dan berlari masuk ke dalam rumah.


Asyila berjalan menghampiri putra pertamanya dan memeluk tubuh Arsyad dengan penuh cinta.


“Bunda tahu, Arsyad pasti sedih dan rindu dengan Nek Yut. Tapi, kalau Arsyad terus begini yang ada Nek Yut akan sedih di surga. Arsyad tidak mau, 'kan, melihat Nek Yut sedih di surga?” tanya Asyila.


“Jadi, Arsyad tidak boleh sedih ya Bunda?”


“Iya sayang, kalau kau Nek Yut bahagia di surga. Arsyad harus banyak senyum dan makan yang banyak, Arsyad mau 'kan membuat Nek Yut bahagia di surga?”


Arsyad mengangguk berulang kali mengiyakan apa yang dikatakan oleh Bundanya.


“Karena Arsyad mau Nek Yut bahagia, ayo kita makan siang bersama!”


Asyila bernapas lega karena akhirnya suami maupun Arsyad memutuskan untuk kembali makan. Asyila sangat berharap, bahwa sang suami dan kedua putra kecil bisa makan-makanan dengan porsi yang cukup.


“Ayah... Arsyad mau makan yang banyak biar Nek Yut bahagia di surga,” ucap Arsyad dengan penuh semangat.


Abraham yang semula banyak murung perlahan mulai menunjukkan senyum diwajahnya. Ia sadar, tidak baik berlarut-larut dalam kesedihan apalagi jika berdampak buruk bagi kedua putra kecilnya.


“Bunda, mau yang itu!” Ashraf dengan semangat menunjuk ke arah capcay kuah yang tak bisa ia raih.

__ADS_1


“Mau capcay kuah sayang?” tanya Asyila memastikan.


“Iya Bunda!”


Asyila mengambil mangkuk berisi capcay kuah buatannya. Dengan hati-hati, Asyila menuangkannya ke piring Ashraf.


Ashraf yang usianya beberapa bulan lagi menginjak umur 4 tahun sangat pandai makan sendiri tanpa harus disuapi oleh Sang Bunda.


“Sekarang Arsyad mau makan lauk apa, sayang?” tanya Asyila yang kini memberikan perhatiannya kepada Arsyad.


“Arsyad mau paha ayam, Bunda,” jawab Arsyad.


Asyila tersenyum lebar hingga jejeran giginya terlihat. Dengan hati-hati ia mengambil ayam bagian paha untuk Arsyad yang akhirnya mau makan.


Tentu saja Asyila sangat senang dengan keinginan putra pertamanya, dikarenakan Arsyad seminggu lebih hanya makan beberapa sendok nasi saja.


“Sekarang giliran Mas yang harus Syila perhatikan!” pinta Abraham.


“Baiklah, Mas. Sekarang Mas mau makan apa?” tanya Asyila yang bersiap-siap mengambilkan hidangan yang diminta oleh suaminya.


“Sepertinya perkedel kentang lebih enak, sekalian sambal bawangnya,” sahut Abraham.


Asyila mengambil lauk yang baru saja disebutkan oleh suaminya. Setelah itu, Abraham meminta Arsyad memimpin do'a sebelum makan.


****


Arsyad yang sangat dekat dengan Nenek buyutnya selalu bercerita di pemakaman. Banyak hal yang Arsyad ceritakan dan iapun mengungkapkan rasa rindunya kepada sosok wanita tua yang sangat lembut dan humoris.


“Mas, apa besok kita harus sudah kembali ke Bandung?” tanya Asyila yang sebenarnya belum ingin kembali ke Bandung.


“Kita tidak mungkin berlama-lama disini, masih banyak pekerjaan yang belum Mas kerjakan. Kalau Syila mau, Syila bisa tinggal disini untuk sementara waktu,” balas Abraham.


Asyila langsung menolak ucapan suaminya, bagaimana bisa ia tinggal di Jakarta sementara Sang suami berada di Bandung.


“Asyila ikut Mas ke Bandung. Tapi, bagaimana dengan Arsyad?”


“Arsyad sudah sekolah disini dan itu yang putra kita inginkan. Biarkan Arsyad disini bersama Ayah dan ibu.”


Asyila mendekati putra pertamanya dan menanyakan pendapat mengenai sekolah. Arsyad yang memang ingin bersekolah di Jakarta dengan semangat mengatakan bahwa ia ingin tinggal bersama Kakek dan Neneknya.


“Arsyad yakin tinggal disini? Arsyad tidak rindu dengan Ayah dan Bunda?”


“Kan, ada panggilan video Bunda,” jawab Arsyad.


Asyila memukul lengan suaminya karena gemas dengan jawaban Arsyad.

__ADS_1


“Kenapa Syila malah memukul Mas?” tanya Abraham terheran-heran.


“Bagaimana bisa anak seusia Arsyad sangat pintar menjawab pertanyaan Bundanya?”


“Ya mau bagaimana lagi, bibit kita berdua 'kan, memang bagus-bagus. Bibit-bibit unggul,” jawab Abraham dengan sangat santai.


Wajah Asyila tersipu malu mendengar suaminya dengan sangat santai mengatakan bibit-bibit unggul.


“Apa yang Mas katakan benar, bukan?” Abraham kembali menggoda istrinya itu.


Asyila memanyunkan bibirnya dan berlari kecil menjauh dari suaminya itu.


Akhirnya terjadilah kejar-kejaran antar sepasang suami istri itu.


Di rumah kediaman Abraham, hanya ada keluarga kecil Abraham. Orang tua Asyila, Dyah dan kedua orangtuanya sudah kembali ke rumah mereka masing-masing.


Bahkan, dua asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu sudah mengundurkan diri, sehingga Abraham terpaksa mencari asisten rumah tangga yang baru.


Beberapa penjaga rumah pun mengundurkan diri dan hanya tersisa dua orang saja.


Pak Udin yang menjaga gerbang rumah masih tetap bekerja karena merasa bahwa rumah itu sudah menjadi rumah kedua untuknya.


“Kok Ayah sama Bunda lari-lari terus?” tanya Ashraf pada Arsyad.


“Ayah sama Bunda lagi olahraga biar tidak gampang sakit,” jawab Arsyad.


Ashraf mengangguk kecil dan mengajak Arsyad untuk bermain kejar-kejaran seperti Ayah serta Bundanya. Arsyad pun menyanggupi permintaan adiknya dan mereka akhirnya bermain kejar-kejaran di halaman depan rumah.


Beberapa menit kemudian.


“Bibit-bibit unggul kita kemana?” tanya Abraham yang telah berhasil menangkap istri kecilnya.


Abraham merangkul pinggang Asyila kuat-kuat akan tetapi, tidak sampai membuat Asyila kesakitan.


“Mas, jangan mengatakan bibit-bibit unggul seperti itu. Bagaimana kalau ada yang dengar?” tanya Asyila sembari memperhatikan ke sekitar ruangan.


“Siapa yang kau mendengarkan ucapan kita? Bukankah, sekarang rumah ini sepi?”


“Yang Mas katakan memang benar, tapi bagaimana kalau Nenek mendengar ucapan Mas? Kemudian, Nenek protes karena Mas sangat senang mengganggu asyila.”


“Sepertinya tidak. Justru, Nenek akan senang jika Mas mengganggu Syila,” jawab Abraham.


Asyila tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Dengan refleks, ia mencubit pinggang suaminya itu. Saat Abraham lengah, Asyila kembali berlari agar suaminya kembali mengejar dirinya.


“Syila!” panggil Abraham sembari geleng-geleng kepala karena istrinya pun usil.

__ADS_1


Abraham 💖 Asyila


Terima kasih atas kunjungannya!🙏💖


__ADS_2