
Di dalam kamar, Asyila memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya membuat kue kacang. Sementara Abraham masih ingin di dalam kamar menemani bayi mungil mereka yang saat itu tengah terjaga.
“Aunty!” panggil Bela ketika melihat Asyila yang tengah berjalan menuju dapur.
“Iya Bela sayang!” seru Asyila dan berjalan mendekat ke arah Bela yang tengah memegang buku.
“Aunty, Bela sudah mengerjakan tugas matematika.”
“Benarkah? Coba Aunty lihat!”
Asyila tersenyum lebar dan melihat jawaban yang ditulis oleh Bela.
“Bela, ini benar Bela yang mengerjakannya?” tanya Asyila memastikan.
“Iya, Aunty. Bela semua yang mengerjakannya,” jawab Bela yang terlihat tak sabar ingin mengetahui hasilnya.
Asyila tersenyum lebar dan memeluk sekilas tubuh Bela. Kemudian, Asyila memberikan selamat karena tugas yang di kerjakan oleh Bela semuanya benar.
“Bela sayang, semua tugas yang Bela jawab tidak ada yang salah. Wah, Bela selain pintar membaca, juga pintar menghitung,” puji Asyila pada Bela.
“Alhamdulillah, nanti kasih tugas lagi ya Aunty!” pinta Bela yang sangat semangat untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh Asyila.
“Iya Bela sayang, Aunty akan memberikan tugas kepada Bela setiap hari. Sekarang Bela belajar membaca seorang diri ya, Aunty mau ke dapur dulu!”
Bela mengiyakan perintah dari Asyila yang menyuruhnya untuk membaca.
“Mbok Num, kita mulai membuat kue kacang ya,” tutur Asyila yang baru tiba di dapur.
“Siap, Nona Asyila,” balas Mbok Num.
“Mbok Num sebelumnya sudah pernah membuat kue kacang?” tanya Asyila.
“Alhamdulillah, sudah dan sering. Dulu pas Mbok masih di Jawa, hampir setiap lebaran membuat kue kacang,” terang Mbok Num.
“Kalau boleh tahu, dulu Mbok Num tinggal di Jawa mana?” tanya Asyila penasaran.
“Di Jawa timur, lebih tepatnya di Madiun, Nona Asyila,” jawab Mbok Num.
“Madiun? Sepertinya saya pernah mendengar nama itu. Pasti tempatnya bagus ya Mbok Num. Terus, ciri khas kota Madiun apa Mbok Num?” tanya Asyila semakin penasaran.
“Madiun itu juga dikenal dengan kota gadis, Nona Asyila.”
“Kota gadis? Maksudnya banyak gadis cantik-cantik disana ya Mbok?”
“Gadis itu artis perdagangan, pendidikan dan perindustrian, Nona Asyila,” ungkap Mbok Num. “Dimadiun itu yang terkenal adalah Sego pecel dan ada juga brem madiun,” imbuh Mbok Num.
“Nah itu maksud Asyila tadi, Mbok. Makanya saat mendengar Madiun agak tidak asing. Ngomong-ngomong Asyila lumayan suka dengan brem madiun, kalau masuk mulut itu rasanya langsung nyes di mulut,” ujar Asyila.
“Kalau membahas Madiun, rasanya Mbok ingin pergi kesana lagi. Tapi, kalau kesana itu Mbok bingung mau kemana,” tutur Mbok Num.
“Kenapa bingung, Mbok? Memangnya Mbok Num tidak ada saudara disana?” tanya Asyila penasaran.
Mbok Num menggelengkan kepalanya, “Tidak ada, Nona Asyila. Sudah puluhan tahun juga Mbok tidak ke Madiun,” balasnya.
“Mbok Num jangan sedih ya, anggap saja Asyila ini sebagai cucu Mbok Num,” tutur Asyila dan memeluk sekilas Mbok Num untuk mengurangi kesedihan wanita paruh baya tersebut.
Mbok Num menangis dan suara tangisannya cukup besar, membuat Bela dan Abraham menghampiri keduanya yang berada di dapur.
“Syila, Mbok Num kenapa menangis?” tanya Abraham panik.
Asyila menoleh ke arah suaminya dan menjelaskan secara perlahan sekaligus detail alasan mengapa Mbok Num menangis.
Setelah mendengar penjelasan dari Asyila, Abraham pun mengerti kesedihan dan kerinduan yang Mbok Num rasakan.
“Mbok Num jangan sedih ya, kapan-kapan kita akan berlibur ke Madiun,” ucap Abraham.
Mbok Num terkejut dengan ucapan Abraham yang ingin mengajaknya ke tanah kelahirannya.
__ADS_1
“Tidak perlu, Tuan Abraham. Lagipula saya tidak ada saudara disana,” balas Mbok Num.
“Mbok Num, bukankah disana ada hotel? Kita bisa menginap disana,” sahut Abraham. “Mbok Num, jangan menangis lagi ya,” imbuh Abraham.
Saat itu juga Mbok Num menyeka air matanya dan tak lagi menangis.
Melihat Mbok Num yang sudah tenang, Abraham pun kembali ke kamar untuk menjaga bayi Akbar. Sementara Bela, memutuskan untuk kembali melanjutkan belajarnya di ruang keluarga.
“Mbok, sekarang kita mulai buat kue kacang ya. Kemungkinan, nanti sore ada yang akan mengambil kue kacang ini,” terang Asyila.
“Baik, Nona Asyila,” balas Mbok Num.
Beberapa jam kemudian.
Abraham pamit untuk mencari orang yang akan membantu istri kecilnya, kepergian Abraham tentu saja membuat Asyila sedikit khawatir karena tak ingin jika sesuatu hal buruk terjadi kepada suaminya. Meskipun begitu, Abraham meyakinkan Sang istri bahwa dirinya akan pulang secepat mungkin begitu mendapatkan orang yang cocok untuk istri kecilnya.
“Paman, pulang nanti bawakan Dyah cemilan ya!” pinta Dyah yang dari dulu tak ketinggalan kalau soal makanan apalagi cemilan.
“Iya, Dyah. Tenang saja, Paman akan membawakan makanan serta cemilan untuk kalian,” balas Abraham.
Asyila mendekat untuk mencium punggung tangan suaminya.
“Hati-hati ya Mas, cepat pulang karena ada kami yang selalu menunggu kepulangan Mas Abraham,” tutur Asyila.
Abraham membelai lembut kepala istri kecilnya yang tertutup hijab, lalu mencium kening Sang istri secara perlahan dan dengan penuh cinta.
“Syila yang tenang ya, setelah urusan Mas mencari orang untuk Asyila, Mas dan Eko akan segera kembali,” terang Abraham.
Abraham mencium lembut pipi bayi mungilnya yang berada di gendongan Sang istri.
“Akbar sayang, Ayah pergi dulu ya. Jangan rewel, hari ini Bunda sangat sibuk,” tutur Abraham pada bayi mungil mereka.
“Iya Ayah, Akbar tidak rewel. Ayah cepat pulang ya,” balas Asyila dengan menirukan suara anak kecil.
Abraham tersenyum dan bergegas masuk ke dalam mobil.
Mobil pun perlahan keluar dari area halaman dan akhirnya keluar dari perumahan Absyil.
Mereka berjalan menuju ruang keluarga, kecuali Mbok Num yang kembali melanjutkan pekerjaannya membuat kue kacang.
Asyila bisa sedikit lebih santai dengan kehadiran Mbok Num, dikarenakan Mbok Num tidak perlu diajarkan lagi cara membuat kue kacang.
“Bela sudah belajar?” tanya Asyila pada Bela.
“Sudah, Aunty. Tapi, Bela masih mau membaca buku dongeng, biar Bela lebih lancar membacanya,” jawab Bela.
“Semangat ya Bela, Aunty pasti akan terus membantu Bela supaya makin pintar!”
“Terima kasih, Aunty,” sahut Bela dengan tersenyum lebar.
Dyah memandangi Asyila dan juga Bela secara bergantian. Melihat Aunty yang begitu memperhatikan Bela, membuat Dyah semakin sayang kepada istri dari Paman kesayangannya itu.
“Dyah, kamu mau minum apa? Mau teh, susu atau es campur?” tanya Asyila pada Dyah.
“Dyah nanti saja, Aunty,” balas Dyah.
Asyila mengiyakan perkataan dari Dyah.
“Kalau Bela mau minum es campur lagi?” tanya Asyila pada Bela yang sebelumnya telah ia buatkan es campur.
Bela dengan senyum manisnya menggelengkan tawaran Asyila.
“Tidak, Aunty. Bela mau membaca buku dulu,” balas Bela.
Asyila sekali lagi memberikan Bela semangat agar Bela semakin bersemangat dalam membaca buku.
“Dyah, Aunty mau ke dapur lagi ya. Adikmu biar Aunty taruh di kereta bayi, kalau adikmu rewel tolong panggil Aunty di dapur!” pinta Asyila.
__ADS_1
“Aunty tenang saja, Dyah akan menjaga Adik Akbar seperti Dyah menjaga putri kecil Dyah ini,” balas Dyah.
Asyila meletakkan bayi mungilnya dengan hati-hati, lalu melenggang pergi menyusul Mbok Num yang sudah lebih dulu berada di dapur.
“Mbok Num,” panggil Asyila ketika melihat Mbok Num tengah berdiri sembari melamunkan sesuatu. “Mbok Num!” panggil Asyila sekali lagi sembari menyentuh pundak Mbok Num.
“Ya Allah, maaf Nona Asyila. Mbok sampai melamun,” ucap Mbok Num yang melamun,'kan kota kelahirannya, Madiun.
“Mbok Bun sedang memikirkan apa? Coba ceritakan ke Asyila apa yang sedang Mbok pikirkan!”
“Tidak ada apa-apa, Nona Asyila. Mbok hanya rindu kota Madiun dan tak sabar ingin kesana,” terangnya.
“Mbok Num yang sabar ya, insya Allah kita akan pergi kesana,” balas Asyila.
Mbok Num tersenyum sembari menganggukkan kepalanya berulang kali.
“Sekarang kita lanjutkan lagi mencetak kue kacang ini ya Mbok!”
“Nggeh, Nona Asyila.”
Disaat yang bersamaan, Eko mengendarai mobil menuju salah satu rumah yang sebelumnya dimaksud oleh Abraham.
Di rumah itu, Abraham akan bertemu dengan seorang wanita yang usianya hampir sama seperti usia Abraham.
“Maaf, Tuan Abraham. Kalau boleh tahu, itu rumah siapa ya?” tanya Eko penasaran.
“Kau akan tahu setelah kita sampai nanti,” jawab Abraham.
Eko mengernyitkan keningnya dan membuat dirinya semakin penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Abraham.
Tak butuh waktu lama, merekapun tiba di rumah yang Abraham maksud.
“Ayo, turun bersama ku!”
“Baik, Tuan Abraham.”
Mereka berdua turun dari mobil bersama-sama dan langsung disambut baik oleh sepasang suami istri penghuni rumah tersebut.
“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham dan juga Eko.
“Wa’alaikumsalam, mari masuk!”
Tanpa berbasa-basi lagi, Abraham langsung menanyakan kesiapan wanita dihadapannya untuk bekerja menjadi penjahit pakaian membantu istri kecilnya di rumah.
Wanita itu langsung menyanggupi pertanyaan dari Abraham karena memang dirinya butuh sekali uang untuk biaya hidup mereka.
“Alhamdulillah, kalau begitu Ibu besok sudah bisa datang ke rumah. Ini alamat rumah kami,” ujar Abraham sambil memberikan kartu nama beserta alamat rumah.
“Insya Allah, besok pagi saya mulai bekerja di tempat Tuan Abraham,” balasnya.
“Kalau begitu, saya permisi karena masih ada yang harus saya selesaikan,” tutur Abraham yang tak bisa berlama-lama.
“Tuan tidak ingin minum dulu?” tanya suami dari wanita yang akan bekerja menjadi penjahit pakaian.
“Maaf, bukannya begitu. Saya masih ada urusan penting,” jawab Abraham.
Sepasang suami istri tersebut, memaklumi kesibukan Abraham.
Abraham tersenyum dan mengucapkan salam sebelum meninggalkan rumah tersebut.
“Sekarang kita kemana, Tuan Abraham?” tanya Eko yang sudah berada di dalam mobil dan siap untuk mengantarkan Tuannya kemanapun Tuannya inginkan.
“Kita lurus saja dulu!” perintah Abraham.
Beberapa jam kemudian.
Kue kacang buatan Asyila dan juga Mbok Num akhirnya jadi juga. Keduanya dengan kompak beristirahat di kursi meja makan sembari menikmati es campur yang begitu segar untuk dinikmati.
__ADS_1
“Terima kasih Mbok Num, berkat Mbok Num kue kacang jadi tepat waktu,” tutur Asyila.
“Alhamdulillah, Mbok senang melihat Nona Asyila senang,” sahut Mbok Num.