Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Hebatnya Do'a


__ADS_3

Arumi menangis terharu dan segera berlari menghampiri suaminya yang tengah duduk di kursi ruang tamu.


“Ibu kenapa menangis? Kenapa berlarian seperti ini?” tanya Herwan khawatir.


Arumi memeluk suaminya dan mengatakan bahwa menantu mereka sudah siuman. Herwan terkejut sekaligus bernapas lega akhirnya menantu idamannya sudah sadarkan diri.


“Masya Allah, Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar!” teriak Herwan dengan sangat lantai.


Suami istri itu menangis terharu di ruang tamu, mereka benar-benar bahagia dan tidak sabar ingin segera bertemu dengan menantu idaman mereka.


Arsyad dan Ashraf datang secara bersamaan karena kakek mereka sebelumnya berteriak.


“Kakek, ada apa?” tanya Arsyad dengan mata berkaca-kaca dan mengira bahwa kakeknya sedang memarahi nenek mereka.


Herwan melepaskan pelukannya dan bergantian memeluk tubuh kedua cucu kesayangannya.


“Kalian mau ketemu dengan Ayah dan Bunda?” tanya Herwan.


Arsyad dan Ashraf kompak mengiyakan dengan penuh semangat. Kedua anak kecil itu seakan-akan tengah mendapatkan sebuah hadiah yang sangat mereka inginkan.


“Kalau begitu kalian mandi dan pakai baju yang rapi. Setelah itu, kita akan ke rumah sakit!” ajak Herwan.


Arsyad dan Ashraf saling bertukar pandang dengan mulut menganga lebar. Keinginan mereka untuk bertemu dengan Ayah tercinta sebentar lagi akan terkabul.


Arsyad menggandeng tangan adiknya dan mengajak adiknya untuk segera mandi. Ashraf yang memang sulit untuk mandi, pagi itu terlihat sangat semangat. Tentu saja bocah kecil itu harus semangat, jika tidak maka dirinya tidak bisa bertemu dengan Sang Ayah.


Arumi dan Herwan yang sebelumnya telah mandi, bergegas ke kamar mereka untuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawa dan juga menyiapkan pakaian kedua cucu mereka yang sementara waktu akan menginap di rumah sakit.


Rumah sakit.


Asyila tak henti-hentinya menggenggam erat tangan suaminya, meskipun suaminya telah sadar, Asyila enggan sedikitpun berjauhan dengan suaminya tercinta. Asyila ingin menikmati setiap momen yang ada dan ingin terus-menerus memandangi wajah suaminya.


“Jangan melihat suamimu seperti ini!” pinta Abraham sambil menyentuh hidung mancung Asyila.


“Biarin,” balas Asyila dan semakin serius menatap kedua bola mata indah milik suaminya.


“Mas tidak ingin Syila bosan dengan wajah Mas ini,” terang Abraham.


“Dengan suami sendiri kenapa harus bosan? Justru Asyila ingin setiap saat melihat wajah Mas Abraham,” tegas Asyila dan tiba-tiba kembali menitikkan air matanya.

__ADS_1


Air mata yang dikeluarkan Asyila adalah air mata bahagia. Ia menangis sembari tersenyum dan membuat Abraham ikut menangis terharu.


“Sudah jangan menangis lagi, Syila mau Mas ikutan menangis?” tanya Abraham.


Asyila segera menghapus air mata suaminya dan bergantian menghapus air matanya sendiri.


“Lihat sekarang! Wajah Syila pucat dan bibir Asyila pecah-pecah,” ucap Abraham sambil menyentuh bibir kering istri kecilnya.


Asyila menyentuh tangan suaminya yang menyentuh bibirnya, kemudian mencium punggung tangan suaminya berulang kali.


“Terima kasih, Mas.”


“Terima kasih? Terima kasih untuk apa?” tanya Abraham terheran-heran.


“Terima kasih karena Mas sudah bangun,” jawab Asyila.


“Semua ini berkat Do'a serta kuasa dari Allah subhanahu wa ta'ala, terima kasih istri kecilku yang semakin kurus ini,” ucap Abraham yang sebenarnya sangat sedih sekaligus terkejut dengan tubuh istri kecilnya yang semakin kurus.


“Mas jangan mencemaskan apalagi mengkhawatirkan Asyila, setelah Mas sembuh Asyila akan makan yang banyak,” ucap Asyila dan bangun dari duduknya untuk mencium pipi suaminya.


Asyila berusaha sebaik mungkin memberikan perhatian lebih untuk suaminya, agar suaminya cepat pulih dan bisa segera pulang. Jujur saja, Asyila tidak terlalu nyaman berada di rumah sakit. Apalagi, Asyila sudah sering keluar masuk rumah sakit ketika suami, putra kecilnya, orangtuanya bahkan dirinya pernah di rawat di rumah sakit. Sehingga, Asyila merasa takut jika masuk ke dalam rumah sakit.


Hal-hal yang sangat menakutkan pernah ia alami dan ia tidak ingin hal-hal menakutkan tersebut terulang kembali.


“Tapi, Mas....”


“Jangan memberikan alasan yang jelas-jelas tidak Mas sukai,” ucap Abraham dan seketika itu Asyila menundukkan kepalanya.


Asyila benar-benar tidak ingin makan, rasanya ia sudah kenyang ketika bersama dengan suaminya.


“Tolong makanlah,” ucap Abraham sambil menggenggam erat tangan istri kecilnya.


Asyila mengangkat kepalanya dan mengangguk kecil. Ia pun akhirnya mengiyakan apa yang dikatakan oleh suaminya yang menyuruhnya untuk makan.


“Kalau Asyila keluar, Mas disini bagaimana?” tanya Asyila yang nampak sedih dan tak ingin pergi dari ruangan suaminya.


“Suamimu tentu saja diam disini, lagipula Mas sekarang belum bisa jalan,” jawab Abraham karena tahu bahwa ia tengah mengalami lumpuh untuk sementara waktu.


Asyila kembali menitikkan air matanya dan sangat kasihan dengan keadaan suaminya itu.

__ADS_1


“Jangan menangis lagi, Mas hanya perlu perbanyak istirahat dan kurang dari 6 bulan Insya Allah Mas sudah sembuh. Tolong jangan bersedih seperti ini, kalau begini lebih baik Mas tidak sadarkan diri,” ucap Abraham dan segera memejamkan matanya untuk membuat istri kecilnya tak lagi menangis.


Asyila refleks memukul dada suaminya yang kembali menggoda dirinya.


“Mas jahat,” ucap Asyila dan menggigit lengan suaminya dengan cukup keras.


Abraham sama sekali tidak merasa sakit, justru ia sangat senang menggoda istri kecilnya.


“Mas menyukai ekspresi wajah Syila yang seperti ini,” ucap Abraham dengan memberikan tatapan penuh cinta.


Asyila seketika itu langsung tersipu malu dan bergegas keluar dari ruangan untuk mencari makan. Diam-diam Asyila tersenyum bahagia karena akhirnya ia bisa mendengar suara suaminya dan hal-hal yang lain yang sebelumnya sangat ingin Asyila rasakan.


Atas nama-Mu Ya Allah, terima kasih banyak. Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar!


Asyila berteriak di dalam hatinya dengan sangat gembira.


Di dalam ruang rawat, Abraham mengangkat tangannya sambil menoleh ke atas dan berdo'a agar semuanya diberikan kelancaran.


Pria itu ingin cepat-cepat kembali ke rumah, karena ia tahu bahwa istri dan kedua putra kecil mereka sangat membutuhkan Abraham.


Abraham bersyukur karena Allah masih sayang kepadanya dan masih memberikannya kesempatan untuk memperbaiki diri.


Disaat yang bersamaan, Asyila sampai di sebuah rumah makan yang letaknya sangat dekat dengan rumah sakit. Asyila yang awalnya tidak lapar, tiba-tiba ingat sekali menikmati nasi dengan lauk telur dadar yang banyak sekali daun bawangnya.


“Beli apa Neng geulis?” tanya si pemilik warung.


Asyila pun mengutarakan keinginannya untuk membeli telur dadar yang banyak daun bawangnya. Akan tetapi, pemilik warung mengatakan bahwa daun bawang yang ia campur bersama dengan telur tidaklah banyak.


“Kalau begitu, bisakah Ibu menggorengnya untuk saya?” tanya Asyila.


Pemilik warung tersebut tertawa kecil dan tersenyum aneh.


“Ngidam ya Neng?” tanya si pemilik warung.


Asyila mengernyitkan keningnya dan menoleh ke arah perutnya. Kemudian, ia menggelengkan kepalanya.


“Tidak,” jawab Asyila singkat.


Lagi-lagi si pemilik warung tertawa kecil dan berlalu begitu saja menuju dapur untuk membuatkan telur dadar dengan banyak daun bawang.

__ADS_1


Sambil menunggu pesanannya datang, Asyila duduk disebuah kursi dekat jendela dan ia pun menoleh ke langit. Wanita muda itu tersenyum manis sambil menghirup udara di dekat jendela. Akhirnya, Asyila merasa bahwa dunianya kembali lagi dan hidupnya kembali bersinar karena adanya Sang suami tercinta yang sudah sadarkan diri.


Abraham ❤️ Asyila


__ADS_2