Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Pria Yang Mengenakan Jas Hujan


__ADS_3

Setelah membantu membersihkan punggung Abraham, Asyila memutuskan untuk menjemur pakaiannya dekat jendela kamar yang terpapar langsung sinar matahari.


“Asyila mau sarapan apa?” tanya Abraham yang tengah mengenakan pakaian.


“Apa saja, Mas,” jawab Abraham yang tidak pilih-pilih makanan, asal ia menikmatinya bersama Sang suami.


“Baiklah, kalau begitu Mas pergi mencari sarapan untuk kita. Syila diam disini dan jangan keluar dari kamar!” perintah Abraham.


Asyila mengangguk kecil dan menghampiri suaminya untuk memberikan ciuman pagi.


“Jangan lama-lama ya Mas!” pinta Asyila sambil mengedipkan sebelah matanya.


Abraham yang gemas dengan kelakuan istri kecilnya hanya bisa gigit jari. Ia ingin sekali melepaskan hasratnya saat itu juga. Akan tetapi, bukan saat yang tepat bagi Abraham dan Asyila melepaskan hasrat mereka.


“Genit,” celetuk Abraham dan cepat-cepat keluar dari ruangan itu sebelum istri kecilnya mengomel.


“Sekali-kali genit sama siapa sendiri boleh dong,” ucap Asyila bermonolog dan melanjutkan aktivitasnya menjemur pakaian.


Setelah itu, Asyila menata pakaian yang sedikit berantakan dan merapikan tempat tidur yang juga sedikit berantakan.


Sampai akhirnya, Asyila tak sengaja melirik ke arah luar jendela dan melihat gelagat aneh dari seorang pria yang saat itu mengenakan jas hujan dan juga penutup wajah.


“Saat ini tidak sedang hujan, untuk apa pria itu mengenakan jas hujan?” tanya Asyila dan memilih mengamati si pria itu.


Asyila terus saja mengamati si pria yang mengenakan jas hujan. Samar-samar Asyila melihat pria itu mengambil sesuatu dari sebuah tumpukan tumpukan sampah.


“Apakah dia pemulung?” tanya Asyila sambil terus mengamatinya.


Setelah hampir 3 menit, pria itu akhirnya mengambil sesuatu dan dengan cepat berlari meninggalkan tumpukan sampah.


Aneh. Jelas-jelas yang diambil bukanlah gelas-gelas plastik atau semacamnya. Akan tetapi, mengambil kain berwarna hitam yang seakan didalam kain itu ada sesuatu seperti pisau.


Deg!


Asyila tiba-tiba merasa takut dan merasa bahwa pria itu adalah pelaku pembunuhan. Ia cepat-cepat menutup jendela dan menunggu Abraham kembali untuk memberitahukan apa yang telah ia lihat.


Abraham masih berkeliling mencari makanan dengan menggunakan motor yang sebelumnya ia pinjam. Ia mencari makanan untuknya, istri, buah hatinya dan untuk keluarga kecil Yogi.


Dikarenakan, pagi itu Yogi tidak keluar dari kamarnya sehingga Abraham lah yang mencari menu makanan untuk mereka.


Cittt!


Abraham mengerem mendadak ketika seorang pria tiba-tiba muncul dari balik tembok pembatas. Namun, pria yang hampir saja ditabrak malah terus melangkah tanpa mengucapkan sepatah katapun dan terlihat sangat buru-buru.


Abraham geleng-geleng kepala dan menoleh ke arah langit. Cuaca pagi itu sangatlah cerah dan sangat aneh jika pria itu malah menggunakan jas hujan.

__ADS_1


“Dari postur tubuhnya dia tidak terlalu gemuk,” ucap Abraham bermonolog dan mengira bahwa pria itu tengah berolahraga.


Yups, jas hujan memang lagi trending dikalangan masyarakat yang ingin mengeluarkan keringat dengan lebih cepat ketika berolahraga. Dan mungkin, salah satunya pria yang hampir ditabrak oleh Abraham.


Abraham melanjutkan perjalanannya dan berhenti disebuah restoran. Tak ingin berlama-lama, Abraham langsung menyebutkan menu makanan serta beberapa bungkus nasi.


***


“Tok... tok...”


“Assalamu’alaikum, Yogi!” panggil Abraham.


“Wa’alaikumsalam, Abraham.”


Abraham langsung menyerahkan bungkusan berukuran besar pada sahabatnya.


“Ini ada makanan untukmu dan yang lainnya. Oya, apakah putraku rewel?” tanya Abraham.


“Terima kasih, Alhamdulillah Ashraf tidak rewel dan sekarang sedang mandi bersama Kahfi,” jawab Yogi.


Abraham menepuk pundak sahabatnya dan pamit untuk kembali ke kamarnya.


Didalam kamar, rupanya Asyila tengah merebahkan tubuhnya di ranjang dan pagi itu Asyila terlihat sangat seksi.


“Mas!” Asyila terkesiap dan menghampiri suaminya yang baru saja tiba, “Mas kenapa lama sekali?” tanya Asyila sambil memeluk suaminya.


“Memangnya tidak boleh kangen sama suami sendiri?”


“Tentu saja boleh, memangnya siapa yang melarang Syila.”


”Kalau begitu, kenapa Mas malah bertanya?” tanya Asyila dan mencium sekilas bibir suaminya.


Abraham tersenyum senang dan meletakkan bungkus yang ditangannya ke sebuah meja. Kemudian, membawa istri kecilnya naik ke tempat tidur.


Pagi itu, Abraham dan Asyila melakukan pemanasan dan tidak sampai melakukan hubungan suami-istri.


Mereka berciuman dengan cukup lama dan Abraham memberikan banyak kissmark disekitar leher Asyila.


“Mas... Asyila lapar,” ucap Asyila yang memang sangat lapar.


Abraham menghentikan aktivitasnya menciumi leher istri kecilnya dan bangkit dari tidur bersama sang istri.


“Terima kasih,” ucap Abraham dan memberikan kecupan mesra di kening Asyila.


Abraham menuntun istri kecilnya untuk duduk dan ia mempersiapkan segala sesuatunya untuk menikmati makanan dengan penuh semangat.

__ADS_1


“Terima kasih, Mas,” ucap Asyila ketika sang suami menyiapkan segala keperluan sarapan.


Abraham mengangguk kecil dan membaca do'a sebelum makan bersama sang istri.


Merekapun saling suap menyuapi makanan satu sama lain.


Usai menikmati sarapan, Asyila mulai berbicara masalah pria jas hujan yang menurutnya mencurigakan.


Abraham terkejut dan mengatakan bahwa ia bertemu dengan pria yang dimaksud oleh istri kecilnya. Bahkan, Abraham mengatakan bahwa ia hampir saja menabrak pria itu.


“Apa mungkin ini hanya perasaan Asyila saja Mas? Soalnya tadi Asyila melihatnya sedang mengorek-ngorek sampah. Asyila pikir dia mengambil barang-barang rongsokan untuk dijual, akan tetapi yang Asyila lihat dia malah mengambil sebuah kain berwarna hitam dan samar-samar Asyila melihat benda tajam seperti pisau,” terang Asyila.


Abraham mengernyitkan keningnya sambil mengingat-ingat kejadian beberapa saat yang lalu. Ketika dirinya hampir saja menabrak pria tersebut.


Abraham menjentikkan jarinya dan mengangguk setuju.


“Apa yang Asyila katakan seperti benar. Sebab kenapa? Sebab Mas melihat dia sangat terburu-buru dengan kain yang berada di ketiaknya, seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh ada orang yang melihatnya kecuali, dia.”


Abraham tidak langsung melaporkan hal itu kepada pihak berwajib. Ia harus memiliki bukti yang kuat bahwa memang pria itu adalah si pelaku pembunuhan.


“Apa kita laporkan saja, Mas?” tanya Asyila.


Abraham dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak. Kita belum memiliki bukti yang kuat, nanti malam Mas akan mencari tahu siapa pria itu. Karena, kebetulan Mas melihat wajahnya,” jelas Abraham.


“Asyila memang tidak melihat wajah pria itu. Akan tetapi, apa Mas yakin ingin mencari tahu siapa pria itu?” tanya Asyila memastikan.


“Tentu saja, ini termasuk tanggung jawab Mas.”


“Kalau begitu, Asyila juga ikut!” pinta Asyila.


Abraham menatap dingin istri kecilnya, bagaimana bisa istri kecilnya ingin mengikutinya menangkap penjahat itu.


“Syila jangan bercanda dengan Mas. Kalau Syila ikut, yang ada pria itu malah menangkap Syila,” ucap Abraham.


“Apakah Mas meremehkan Syila?” tanya Asyila.


“Bukan meremehkan, Mas tahu Syila tidak pandai lari cepat. Bagaimana jika orang itu mengejar Syila dan menangkap istri Mas ini? Pokoknya Asyila jangan aneh-aneh!” tegas Abraham.


Percuma saja, tetap saja Mas tidak akan mengizinkanku untuk ikut. Kalau begitu, aku akan kembali menyamar dan membantu Mas Abraham dari kejauhan.


Asyila mengangguk kecil dan memeluk lengan suaminya dengan sangat manja.


Asyila sangat lemah dan lembut. Akan sangat berbahaya jika Syila ikut bersamaku.


Abraham kembali mencium kening istri kecilnya dan membelai rambut sang istri dengan penuh cinta dan perhatian.

__ADS_1


Abraham 💖 Asyila


__ADS_2