Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Akhirnya Abraham Keluar Kamar


__ADS_3

Asyila dan Rahma terlihat semakin akrab, hal itu terlihat ketika Rahma bercerita mengenai dirinya yang sebelumnya tidak pernah melaksanakan sholat lima waktu dan juga berpuasa di bulan suci Ramadhan.


“Bertobatlah, Mbak Rahma. Allah sangat senang dan juga sangat merindukan hamba-Nya yang mau bertobat,” terang Asyila.


“Terima kasih, Asyila. Hanya kamu yang mau mendengarkan keluh kesah ku selama ini, meskipun kita baru bertemu beberapa Minggu.


Sekali lagi terima kasih,” ucap Rahma yang sangat senang karena Asyila mau mendengarkan curahan hatinya.


“Mbak Rahma sekarang pergilah ke kamar dan jangan lupa mengenakan hijab! Saya mau ke kamar menemui anak-anak agar mereka berdua segera kemari.”


Asyila beranjak dari duduknya untuk segera menghampiri kedua buah hatinya dan mengajak keduanya untuk segera sarapan.


“Arsyad dan Ashraf sekarang pergilah ke ruang makan, Bunda akan membawa Ayah ke ruang makan dan kita akan sarapan bersama!”


“Horeeee!” teriak Arsyad dan diikuti juga oleh Ashraf.


Kedua bocah itu dengan cepat berlari menuju ruang makan, sementara Asyila melanjutkan langkahnya menuju kamar.


“Ayo, Mas!” ajak Asyila yang terlihat sangat semangat karena Sang suami akhirnya mau keluar dari kamar.


Perlu diketahui, dokter yang menangani Abraham sekarang hanya datang seminggu dua kali, hal tersebut dikarenakan Abraham yang memintanya sendiri. Abraham tidak ingin dokter yang menanganinya terlalu sering datang ke rumah. Toh, ia merasa baik-baik saja dan hanya kakinya saja yang memang belum bisa berfungsi dengan baik seperti biasanya.


“Terima kasih, Syilaku,” ucap Abraham ketika istri kecilnya membantunya berpindah ke kursi roda.


“Cepat sembuh Mas,” balas Asyila.


Asyila mendorong kursi roda suaminya ke arah luar, disaat itu juga Rahma keluar dari kamar dan terkejut melihat pria yang menurutnya misterius akhirnya keluar dari kamar.


Rahma terus saja memperhatikan Asyila serta Abraham yang akan menuju ruang makan, sampai ia tidak sadar bahwa Asyila terus saja memanggil dirinya.


“Mbak Rahma, ayo kemari!” panggil Asyila.


Seperti biasa, Abraham sedikitpun tidak boleh ke arah Rahma. Justru Abraham terus saja menyentuh tangan istri kecilnya yang tengah mendarat di pundaknya.


“Ayah!” Arsyad dan Ashraf dengan penuh semangat turun dari kursi dan berlari menghampiri Ayah mereka.


“Iya sayang, ini Ayah. Ashraf sebentar lagi mau berangkat sekolah ya? Mau Ayah temani?” tanya Abraham.


Asyila memberi isyarat mata ke arah Rahma agar Rahma segera duduk. Rahma mengangguk kecil dan akhirnya duduk di kursi dengan masih memberikan tatapan kagum.


“Ayah di rumah saja, Ayah 'kan, masih sakit,” tutur Arsyad yang terlihat sangat memedulikan kondisi Ayahnya.

__ADS_1


“Kata siapa Ayah sakit?” tanya Abraham.


“Itu, Ayah belum bisa jalan,” balas Arsyad.


“Iya, sayang. Ayah tahu bahwa Ayah belum bisa berjalan, akan tetapi suatu saat nanti Ayah bisa berjalan dan berlari mengejar kalian berdua,” tutur Abraham dan menyentuh pipi kedua buah hatinya dengan tatapan kasih sayang.


“Cepat sembuh Ayah.” Arsyad berkata dengan mata berkaca-kaca dan dengan cepat Abraham mengiyakan serta meminta agar buah hatinya pertamanya dengan Sang istri tidaklah cengeng.


Mereka akhirnya duduk di kursi masing-masing, sementara Abraham tetap duduk di kursi rodanya. Sebelum sarapan bersama, Asyila memperkenalkan Rahma kepada Abraham. Abraham hanya menoleh sekilas dan kembali fokus memperhatikan istri kecilnya yang menurut Abraham semakin hari semakin terlihat cantik. Meskipun, istri kecilnya akhir-akhir ini terlihat seperti orang yang tengah sakit.


Rasa penasaran Rahma sebelumnya akhirnya terjawab sudah. Ia akhirnya melihat wajah Abraham secara langsung, Rahma tidak memungkiri bahwa sepasang suami istri dihadapannya terlihat sangat serasi. Rahma pun berdo'a dan berharap sepasang suami istri dihadapannya akan terus berbahagia sampai ke Surga-Nya Allah subhanahu wa ta'ala.


Usai sarapan, Abraham dan Asyila memutuskan untuk mengantar Arsyad ke sekolah. Tak ingin sendirian di rumah, Ashraf pun memutuskan untuk ikut mengantarkan Sang kakak tersayang.


“Mbak Rahma sementara di rumah sendirian ya, Insya Allah satu jam lagi kami sudah sampai rumah,” tutur Asyila.


Rahma mengiyakan dengan memberikan senyum manisnya ke arah Asyila. Wanita muda yang sangat baik dan berhati malaikat.


Setelah keluarga kecil itu pergi untuk mengantarkan Arsyad ke sekolah, Rahma pun bergegas masuk dan memutuskan untuk bersih-bersih rumah. Rahma ingin kehadirannya di rumah itu tidak membuat pemilik rumah merasa berat hati karena telah membawanya pulang.


“Yang ini sudah dibersihkan oleh Asyila, kalau begitu aku akan membersihkan area belakang dan mengepelnya. Terima kasih keluarga baik, selamanya aku berhutang kepada kalian. Semoga kalian selalu diberikan kebahagiaan dunia dan akhirat,” tutur Rahma.


Disaat yang bersamaan, Asyila senang karena suaminya akhirnya bisa keluar dari kamar. Di dalam mobil itu, Asyila selalu menempel pada suaminya. Asyila memeluk lengan suaminya dan bersandar di pundak sang suami dengan perasaan bahagia.


Akhirnya mereka tiba disekolah Arsyad, hanya Asyila yang mengantarkan Arsyad sampai depan kelas. Sementara Pak Udin, Abraham dan Ashraf berada di dalam mobil.


“Sayang, belajarlah yang pintar. Ayah dan Bunda selalu bangga dengan kamu sayang, semangat!”


“Semangat!” seru Arsyad sambil melompat setinggi mungkin.


Asyila terkekeh kecil dan tak lupa mengucapkan salam sebelum berpisah dengan buah hatinya.


Arsyad terus melambaikan tangannya dan masuk ke dalam kelas ketika mobil milik Sang Ayah perlahan meninggalkan area sekolah.


“Mas, kita jangan langsung pulang dulu ya!” pinta Asyila.


“Apa Syila mau mampir ke suatu tempat?” tanya Abraham lirih.


“Asyila tiba-tiba ingin makan seafood, Mas. Mas tahu 'kan, daerah yang dulu pernah kita lalui. Waktu Asyila hamil besar, saat sedang mengandung Ashraf?”


“Istriku yang cantik ini, kota sudah banyak melewati daerah Jakarta maupun Bandung. Coba Syila katakan lebih detail tempat yang ingin Syila singgahi. Insya Allah Mas akan ingat kalau Syila mengatakannya dengan detail,” terang Asyila.

__ADS_1


Asyila berpikir keras sambil mengingat-ingat daerah yang beberapa tahun lalu pernah ia lewati bersama Sang suami.


“Alhamdulillah, akhirnya Asyila ingat. Mas ingat saat Syila hamil besar dan kita mampir disebuah kedai seafood yang kalau tidak salah pemilik kedai itu adalah tetangga Mas Abraham dulu, Ibu siapa ya namanya...”


“Ibu Warti,” ucap Abraham singkat, jelas dan padat.


“Iya, Mas. Kita kesana ya Mas,” pinta Asyila setengah merengek seperti anak kecil dan itupun hanya busa di dengar oleh Abraham.


Abraham mengiyakan dan meminta Pak Udin untuk pergi ke kedai seafood.


“Terima kasih, Mas,” ucap Asyila yang terlihat sangat bahagia.


Abraham mengernyitkan keningnya melihat reaksi istri kecilnya, entah kenapa akhir-akhir ini Asyila selalu meminta hal yang bisa dikatakan mendadak serta aneh. Bahkan, beberapa hari yang lalu Asyila merengek malam-malam dan meminta Abraham untuk tidak tidur menemaninya begadang.


“Bunda, kita mau kemana?” tanya Ashraf penasaran karena jalan yang dilalui bukan jalan pulang.


“Kita mampir sebentar ke kedai seafood ya sayang, Bunda mau makan cumi-cumi raksasa,” jawab Asyila.


“Bunda tadi sudah makan, kok makan lagi?” tanya Ashraf dengan sangat polosnya.


“Bunda juga tidak tahu sayang, Bunda merasa lapar dan ingin sekali makan cumi-cumi raksasa,” terang Asyila.


Abraham tak banyak bertanya, apapun keinginan istri kecilnya akan selalu ia penuhi. Asal masih dalam batas yang wajar.


Wajah Asyila yang semula terlihat bahagia dan penuh semangat, tiba-tiba langsung berubah menjadi sedih. Dikarenakan, kedai seafood tersebut sedang tutup dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.


Karena tak ingin istri kecilnya bersedih, Abraham pun menawarkan sang istri untuk pergi ke kedai atau restoran lainnya. Akan tetapi, Asyila langsung menolaknya dan hanya ingin menikmati seafood buatan Ibu Warti.


Sekali lagi, Abraham bingung dengan kemauan istri kecilnya. Untungnya saja di kedai itu ada nomor telepon yang bisa dihubungi. Tanpa pikir panjang, Abraham segera menghubungi nomor Ibu Warti untuk menanyakan kapan seafood tersebut kembali buka.


“Assalamu'alaikum,” ucap Abraham ketika sambungan teleponnya ke Ibu Warti terhubung.


Abraham langsung to the point, mengenai alasannya menghubungi pemilik kedai seafood tersebut. Dan ternyata, Ibu Warti sedang tidak berada di Jakarta karena Ibu Warti tengah berada di Aceh, tempat putra pertamanya.


Akhirnya, Abraham menutup sambungan telepon dan meminta Asyila untuk mencari kedai yang lainnya karena Ibu Warti sedang berada di Aceh.


“Ya sudah kalau begitu, kita pulang saja Mas,” ucap Asyila yang terlihat tak bersemangat.


“Maaf,” tutur Abraham meminta maaf karena belum bisa memenuhi keinginan istri kecilnya.


Asyila menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Ia sebenarnya sangat ingin menikmati cumi-cumi raksasa, akan tetapi ia pun harus mengerti keadaan yang ada.

__ADS_1


“Sudah jangan sedih, siapa tahu nanti Syila mau ke tempat yang lain,” ujar Abraham sambil mencubit pelan pipi Sang istri.


Abraham ❤️ Asyila


__ADS_2