
Ucapan demi ucapan terus saja mengalir, tidak hanya dari para kerabat dekat yang turut hadir, bahkan teman-teman Fahmi dan juga Dyah terus saja menghubungi mereka lewat untuk mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.
Dyah dan Fahmi memang tidak mengundang teman-teman mereka, karena yang mereka undang adalah kerabat dekat seperti saudara.
“Terima kasih atas do'anya,” ucap Fahmi berbicara di telepon.
Asyila dan Abraham dibuat geleng-geleng oleh pengantin baru itu, bagaimana tidak? Dari tadi mereka terus saja menerima sambungan telepon dari teman-teman mereka yang sengaja tidak diundang oleh Dyah maupun Fahmi.
Setelah keduanya benar-benar selesai menerima sambungan telepon, Abraham langsung meminta keduanya untuk makan.
“Kalian berdua, makanlah sekarang!” perintah Abraham.
Dyah dan Fahmi saling tukar pandang dengan senyum yang terus mengembang sempurna.
“Ehemmm..”
Dyah dan Fahmi terkesiap mendengar deheman dari Abraham.
“Ayo Mas!” ajak Dyah sambil menahan tawanya karena ulah dari Sang Paman.
Abraham geleng-geleng kepala melihat keduanya dan menggerakkan kursi rodanya untuk mencari keberadaan Sang istri tercinta yang saat itu entah berada di mana.
“Sedang mencari siapa, Nak Abraham?” tanya Arumi ketika melihat Abraham celingak-celinguk mencari sesuatu.
“Asyila, Ibu. Dari tadi Abraham tidak melihat Asyila,” jawab Abraham.
“Istrimu kebetulan sekarang sedang berada di belakang, menemani Arsyad dan Ashraf. Kamu tunggu disini saja, biar Ibu yang memanggil mereka,” ucap Arumi.
“Tidak perlu, Ibu. Biar Abraham saja yang kesana,” balas Abraham.
“Sudah, tidak apa-apa. Toh, sama saja kalau kamu kesana Asyila pasti akan membawamu kemari. Sekarang, kamu tunggu disini biar Ibu saja yang memanggil mereka,” tutur Arumi dan bergegas menuju halaman belakang rumah.
Abraham akhirnya menunggu sang istri dan kedua buah hati mereka di ruang tamu.
Ema tersenyum ke arah Dyah dan juga Fahmi yang telah sah menjadi suami istri. Akan tetapi, dari hati yang paling dalam Ema merasa sedih karena, Kevin belum juga memiliki pasangan. Ema berharap, Kevin bisa mendapatkan pasangan dan menikah seperti dirinya, Asyila dan juga Dyah.
“Mama, mau makan!” pinta Kahfi sambil menunjuk ke arah kentang goreng.
Ema seketika itu menoleh ke arah putra kecilnya dan menuntun Kahfi untuk mendekat ke arah meja yang sudah penuhi dengan banyak makanan.
“Kahfi mau makan yang mana sayang?” tanya Ema dengan penuh perhatian.
“Yang itu, Ma!” Tunjuk Kahfi pada kentang goreng yang terlihat sangat nikmat.
“Hanya kentang goreng saja? Pakai nasi tidak?” tanya Ema.
“Tidak, Mama,” balas Kahfi sambil menggelengkan kepalanya.
Ema mengiyakan dan mengisi penuh mangkuk kecil dengan kentang goreng keinginan Kahfi. Kemudian, Ema membawa putra kecilnya untuk duduk di kursi.
“Jangan lupa habiskan ya sayang! Mama mau kesana dulu,” ucap Ema yang ingin kembali bergabung dengan yang lainnya.
“Mama, minumnya mana?” tanya Kahfi.
“Astaghfirullahaladzim, maaf ya sayang. Mama lupa, kalau begitu Mama ambil air minum dulu,” ucap Ema dan bergegas mengambil air minum untuk Kahfi.
__ADS_1
Dalam hatinya, Ema menyalahkan dirinya sendiri. Untung saja, Kahfi mengingatkan dirinya, kalau tidak Ema pasti akan terus lupa.
“Maaf ya sayang, ini air minumnya. Ingat! Dikunyah pelan-pelan ya sayang.”
“Baik, Mama!” seru Kahfi.
“Jangan lupa berdo'a sebelum makan,” ucap Ema mengingatkan Kahfi untuk berdo'a sebelum makan.
“Baik, Mama!”
Ema tersenyum tipis dan sebelum meninggalkan putra kecilnya, Ema terlebih dulu mencium pipi Kahfi.
“Kenapa Kahfi hanya makan kentang goreng saja, adik?” tanya Yogi pada istrinya yang baru saja mendekat ke arahnya.
“Tadi Adik menawarkan nasi, tapi Kahfi tidak mau,” balas Ema apa adanya.
Yogi pun mengangguk kecil dan kembali berbincang-bincang dengan lawan bicaranya. Begitu juga dengan Ema yang berbincang-bincang dengan istri dari pria yang diajak suaminya berbincang-bincang.
Abraham masih menunggu istri kecilnya, sampai akhirnya Sang istri tiba dengan senyum yang begitu cantik.
“Mas mencari Asyila?” tanya Asyila.
Melihat senyum Sang istri yang terus mekar, membuat Abraham gugup. Sang istri sekali lagi membuatnya menjadi hilang akal.
“Mas!” Asyila mengibaskan tangannya ke arah wajah suaminya yang malah bengong.
“Senyuman Syila mengalihkan dunia Mas,” terang Abraham.
“Mas ini bisa saja, malu di dengar yang lain,” ucap Asyila lirih sambil menoleh ke arah sekitar, takutnya jika ada yang mendengar ucapan suaminya yang terdengar sedikit geli.
“Biarin. Biar mereka tahu bahwa Syila adalah Dunia, Mas.”
“Kenapa membawa Mas kemari?” tanya Abraham.
Asyila tak menjawab, wanita muda itu malah berjalan menuju televisi dan terlihat tangannya sedang mengambil sesuatu.
“Ini untuk Mas!” Dengan senyum cantiknya, Asyila memberikan sebuah kotak kecil yang entah isinya apa.
“Sebelumnya Mas mengucapkan terima kasih, tapi ini apa?” tanya Abraham penasaran.
“Mas buka saja, siapa tahu suka,” balas Asyila.
Abraham semakin penasaran dan dengan hati-hati membuka kotak kecil tersebut.
“Masya Allah, ini bagus sekali! Apa boleh dimakan?” tanya Abraham ketika melihat isi dari kotak tersebut.
“Tentu saja, itu adalah cokelat yang Asyila olah sendiri. Kebetulan kemarin saat Asyila belanja di minimarket, Asyila melihat ada cokelat bubuk dan membuat seperti yang Mas lihat. Bagus tidak, cokelat berbentuk hati buatan Asyila?” tanya Asyila.
“Tentu saja ini sangat bagus dan juga cantik. Bahkan, Mas berpikir untuk tidak memakannya,” jawab Abraham.
“Mas harus memakannya!” pinta Asyila yang ingin sekali melihat Sang suami menikmati cokelat buatannya.
Abraham mengangguk setuju dan mulai menikmati cokelat yang khusus dibuatkan oleh istri kecilnya untuk dirinya.
“Bismillahirrahmanirrahim,” ucap Abraham dan mulai melahapnya.
__ADS_1
Asyila terlihat begitu serius memperhatikan suaminya yang tengah mengunyah cokelat buatannya. Ia berharap, suaminya suka dengan cokelat tersebut.
“Masya Allah, ini sangat enak dan tidak terlalu manis,” puji Abraham.
Asyila sangat senang mendengar pujian dari suaminya, tentu saja hal itu menambah poin dari hubungan keduanya.
“Ayah dan Bunda ngapain disini?” tanya Arsyad.
Asyila seketika itu menoleh dan cepat-cepat mengambil tiga buah kotak berukuran kecil kepada Arsyad.
“Ini untuk Arsyad, yang ini untuk Ashraf dan satu lagi untuk Kahfi. Tolong berikan kepada mereka ya sayang!”
Arsyad mengiyakan dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Kemudian, ia berlari kecil untuk segera memberikan kotak kecil tersebut kepada Ashraf dan juga Kahfi.
Beberapa saat kemudian.
Sholat Jum'at akan segera dimulai, para pria bersiap-siap untuk pergi ke masjid. Tak terkecuali, sang pengantin pria.
“Ayo sholat!” ajak Yogi pada Fahmi yang terus saja menempel pada Dyah.
“Habis sholat Jum'at, lanjutnya nanti di kamar,” goda Arumi.
Fahmi senyum-senyum sendiri dan akhirnya bergegas menuju masjid.
Abraham pergi dibantu oleh Ayah mertuanya, Herwan. Asyila yang melihat suaminya masih berada di kursi roda berharap Sang suami bisa kembali normal seperti sediakala.
“Bunda!” Arsyad dan Ashraf dengan semangat melambaikan tangan mereka ke arah Asyila.
Asyila membalas lambaian tangan mereka dengan senyuman semanis mungkin.
“Nona Asyila!”
Asyila seketika itu langsung menoleh ke arah Rahma yang baru saja memanggilnya.
“Iya, Mbak Rahma. Ada apa?” tanya Asyila.
“Sudah jam segini, saya harus pamit pulang karena sore ada pesanan yang harus saja selesaikan,” ucap Rahma apa adanya.
“Kenapa tidak tidur disini saja Mbak Rahma? Soal masak-memasak Mbak Rahma bisa masak di sini,” tutur Asyila yang sangat ingin sekali jika Rahma bisa menginap di rumah itu.
“Bukan maksud untuk menolak. Akan tetapi, semua bahannya sudah siap di rumah, tinggal mengolah saja. Mohon pengertiannya.”
Asyila tidak bisa memaksa Rahma untuk tetap tinggal, akhirnya Asyila mengiyakan dan tak lupa memberikan amplop berisi uang yang sudah dijanjikan.
“Terima kasih, Mbak Rahma. Kapan-kapan main ke sini ya!” pinta Asyila sambil memberikan amplop tersebut.
“Saya yang seharusnya terima kasih kepada Nona Asyila, berkat Nona Asyila catering saya menjadi ramai,” balas Rahma.
Rahma pun pamit kepada yang lainnya dan ia pulang diantarkan oleh Pak Udin.
“Nak Rahma masih sangat Bunda, akan lebih bagus lagi kalau dalam waktu dekat ini dia menikah,” ucap Arumi.
“Aamiin, semoga saja Rahma menemukan pria yang sangat menyayangi dirinya,” balas Asyila.
Setelah mendengar cerita Mbak Rahma secara detail dari Aunty, aku benar-benar merasa kasihan. Ya Allah, berikan jodoh kepada Mbak Rahma, jodoh terbaik dan sangat menyayangi dirinya.
__ADS_1
Dyah sangat berharap, bahwa Rahma bisa menikah dalam waktu dekat. Siapapun calonnya, Dyah berharap itu adalah pria yang baik dan bertanggung jawab.
“Dyah, kamu kenapa bengong? Ayo Aunty antar ke kamar!” ajak Asyila dan menuntun Dyah untuk bergegas masuk ke dalam kamar.