
Asyila ternyata belum juga tidur, entah kenapa ia merasa bahwa suaminya sedang berada disisinya. Kebetulan malam itu udaranya cukup panas, Asyila pun memutuskan untuk mencari udara segar di teras depan rumah.
“Nona Asyila sedang apa diluar?” tanya Alif salah satu bodyguard Abraham yang sedang berjaga.
“Hanya ingin mencari udara segar,” jawab Asyila.
“Maaf, Nona Asyila. Saya mohon anda jangan keluar melewati gerbang!” pinta Alif yang tak ingin kejadian beberapa waktu lalu terulang lagi karena hilangnya Asyila.
“Kamu tenang saja, aku hanya duduk di teras saja dan tidak kemana-mana. Maaf karena sebelumnya telah membuat kamu dan yang lain panik,” tutur Asyila.
Alif pun kembali berjaga-jaga dan meninggalkan Asyila yang masih duduk di kursi teras depan rumah seorang diri.
Sekitar 5 menit kemudian, tiba-tiba sebuah mobil memasuki area halaman rumah. Saat itu juga Asyila beranjak dari duduknya karena yang datang itu adalah suaminya.
Saat Abraham baru saja turun, Asyila langsung memeluk suaminya saat itu juga.
“Mas...” Asyila mendekap suaminya dan menangis di dalam dekapan suaminya itu.
“Mas datang, kenapa Asyila menangis?” tanya Abraham dengan terus membelai lembut punggung istri kecilnya.
“Sejak jam 3 sore, Mas tidak ada kabar. Bagaimana Asyila tidak khawatir dan juga sedih? Asyila sangat takut jika hal-hal buruk terjadi kepada Mas Abraham,” jawab Asyila.
Abraham terkekeh kecil dan menyeka air mata istrinya.
“Sudah jangan menangis, bukankah Mas sudah ada dihadapan Asyila sekarang? Sebenarnya Mas ingin membuat kejutan,” tutur Abraham.
Asyila memukul dada suaminya berulang kali karena kesal dengan jawaban dari suaminya.
“Awww, suami pulang kenapa malah dipukuli?” tanya Abraham dengan memasang wajah teraniaya.
“Salah siapa memberi kejutan seperti ini? Ayo masuk!” ajak Asyila dengan menggandeng erat tangan suaminya.
Abraham kembali terkekeh kecil dan berjalan berdampingan dengan istri kecilnya masuk ke dalam rumah.
“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham sebelum memasuki rumah.
“Wa’alaikumsalam,” balas Asyila yang terus menggenggam erat tangan suaminya.
Kedatangan Abraham tak disambut oleh keluarga yang lainnya, dikarenakan mereka sudah tidur dan mungkin tak mendengar ucapan salam dari Abraham.
Karena tak ingin mengganggu kedua mertuanya serta yang lain, Abraham pun memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamar.
Setibanya di dalam kamar, Asyila langsung mempersiapkan piyama yang akan digunakan oleh suaminya.
__ADS_1
“Mas Abraham sudah makan?” tanya Asyila.
“Belum, hanya makan cemilan saja saat berbuka puasa tadi,” jawab Abraham apa adanya.
Abraham pun masuk ke dalam kamar mandi, sementara Asyila cepat-cepat keluar dari kamar untuk menyiapkan makanan Sang suami tercinta.
“Alhamdulillah sudah jadi, Mas Abraham pasti sangat lapar dan semoga Mas Abraham suka dengan makanan yang aku buat ini,” tutur Asyila dan cepat-cepat kembali ke kamarnya dengan nampan yang sudah berisi makanan serta secangkir air minum.
Abraham yang sudah mengenakan piyama miliknya, terkejut melihat Sang istri yang masuk ke dalam kamar dengan membawa makanan.
“Ya ampun, istriku. Kenapa harus repot-repot membawa makanan ke kamar? Apakah Syila yang menyiapkan ini semua?” tanya Abraham sambil menerima nampan tersebut dan meletakkan di meja dekat sofa.
“Bukankah Mas Abraham belum makan, oleh karena itu Asyila menyiapkan makanan untuk Mas. Dimakan ya Mas, Asyila tidak ingin Mas sakit,” balas Asyila.
Abraham mengecup kening Istri kecilnya sebagai tanda terima kasih karena telah dibuatkan makanan oleh istri kecilnya.
“Syila sudah makan?” tanya Abraham.
“Asyila sudah makan, Mas,” balas Asyila.
“Ayo makan bersama!” ajak Abraham yang sangat ingin makan bersama dengan istri kecilnya.
Asyila tak menolak ajakan suaminya, tak pikir panjang merekapun menikmati makan malam sepiring berdua.
Usai makan bersama, Abraham membawa nampan berisi piring serta cangkir ke dapur untuk di cuci. Awalnya Asyila yang ingin melakukan hal tersebut, akan tetapi Abraham meminta Asyila tetap berada di dalam kamar. Mau tak mau akhirnya Asyila mengiyakan permintaan dari suami tercintanya.
Abraham telah selesai mencuci alat makan yang ia gunakan, ia pun bergegas masuk ke dalam kamar untuk segera beristirahat.
“Mas, ada hal yang sebenarnya ingin Asyila ceritakan. Tetapi, Asyila bingung memulainya dari mana,” tutur Asyila yang tiba-tiba nampak sedih.
Abraham mengernyitkan keningnya dan saat itu juga menarik istri kecilnya ke dalam pangkuannya.
“Mas, tadi Mbak Rahma datang kesini seorang diri,” ucap Asyila lirih.
“Sendiri? Tidak datang bersama dengan Kevin?” tanya Abraham mulai penasaran.
Asyila menggelengkan kepalanya dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
“Mbak Rahma dan Kevin telah resmi bercerai, Mas,” ungkap Asyila.
“Haaaa?” Abraham nampak terkejut mendengar perkataan istri kecilnya, “Bercerai? Bukankah mereka baru saja menikah?” tanya Abraham.
“Mbak Rahma tidak memberitahukan alasan dari perceraian mereka, Mas. Saat ini, Mbak Rahma sudah tidak berada di Indonesia. Mbak Rahma sudah berada di Arab Saudi, menjadi asisten rumah tangga disana,” terang Asyila.
__ADS_1
Abraham tak bisa berkata-kata, ia hanya bisa mendo'akan kebaikan keduanya.
“Mas kenapa diam saja?” tanya Asyila yang masih bersandar di dada suaminya.
“Mas tidak bisa melakukan apapun kalau pada akhirnya mereka berdua memutuskan untuk bercerai. Lagipula, yang bisa kita lakukan adalah mendo'akan mereka berdua. Semoga saja kedepannya mereka mendapatkan pasangan yang bisa menerima serta melengkapi satu sama lain,” balas Abraham.
“Apakah Mas pernah berpikir untuk meninggalkan Asyila?” tanya Asyila dengan sangat serius.
“Astaghfirullahaladzim, kenapa Syila bertanya seperti itu? Seharusnya Asyila sudah tahu bagaimana cintanya Mas kepada Asyila, Allah pun tahu itu,” jawab Abraham dan mengecup bibir istri kecilnya dengan sangat mesra.
Asyila tersenyum dengan malu-malu setelah mendapatkan kecupan mesra dibibir nya.
“Mas genit,” ucap Asyila pada suaminya.
“Genit sama istri sendiri tak jadi masalah, ayo tidur!” ajak Abraham yang memang sangat mengantuk sekaligus lelah setelah apa yang telah ia kerjakan bersama dengan para tim yang lain.
Asyila tersenyum dan mengiyakan ajakan suaminya.
Sebelum tidur, Abraham terlebih dahulu menciumi pipi bayi mungil mereka yang tengah terlelap.
“Malam kesayangan Ayah!” sapa Abraham dan kembali menciumi pipi bayi mungilnya.
“Mas, pelan-pelan. Nanti bayi Akbar malah bangun,” tutur Asyila setengah berbisik.
Setelah cukup menciumi pipi bayi mungilnya, Abraham pun perlahan turun dari tempat tidur dan menggendong bayi mungilnya untuk diletakkan ke ranjang bayi.
“Akbar sayang, malam ini tidur disini dulu ya. Ayah sedang kangen dengan Bunda, jadinya Akbar harus tidur disini dulu. Tidur yang nyenyak ya sayang,” tutur Abraham pada bayi mungilnya.
Di ranjang, Asyila hanya bisa menahan tawanya melihat bagaimana Sang suami berbicara dengan bayi mungil mereka.
“Syila menertawakan apa?” tanya Abraham sambil berjalan mendekat ke arah istri kecilnya yang sudah berada di ranjang tempat tidur.
“Menertawakan Mas Abraham, habisnya Mas Abraham lucu,” puji Asyila dengan malu-malu.
“Lucu-lucu begini siapa yang punya?” tanya Abraham dengan perasaan yang begitu bahagia.
“Mas Abraham,” jawab Asyila malu-malu dan menyembunyikan wajahnya dengan selimut.
Abraham terkekeh kecil dan menarik selimut yang menutupi wajah cantik istri kecilnya.
“Kenapa ditutup?” tanya Abraham dan menciumi seluruh wajah istri kecilnya berulang kali.
Asyila hanya bisa pasrah mendapatkan ciuman dari suaminya bertubi-tubi.
__ADS_1
“Mas selamanya mencintai, Asyila,” bisik Abraham ditelinga istri kecilnya.
“Dan Asyila pun, selamanya mencintai Mas Abraham,” balas Asyila dengan senyum manisnya.