
Sore hari.
Ema duduk di ruang tamu dengan wajah gelisah. Wanita muda terlihat tak nyaman manakala Abraham, Yogi dan kedua bocah kecilnya belum juga kembali padahal sudah sore dan hampir mendekati Maghrib.
“Kemana perginya mereka? Sudah jam segini, kenapa masih belum pulang juga?” tanya Ema sambil memijat kepalanya yang mulai pusing karena terus saja memikirkan mereka yang belum juga kembali.
Arumi datang sambil membawa jus jambu untuk Ema.
“Minumlah ini Nak Abraham,” ucap Arumi sambil memberikan jus buah kepada Ema.
“Ibu kenapa harus repot-repot membuat Ema jus jambu? Kalau Ema mau, Ema akan membuatnya sendiri,” balas Ema yang sangat sungkan dengan Ibu dari sahabatnya, Asyila.
“Kamu ini pasti seperti ini. Sudah tidak apa-apa,” sahut Arumi, “Sekarang minum dan habiskan!” sambung Arumi meminta Ema untuk segera meminum jus jambu buatannya.
Ema tersenyum dan mengambil jus jambu tersebut. Kemudian, meneguknya sampai habis.
“Bagaimana rasanya?” tanya Arumi penasaran.
“Sangat nikmat, Ibu. Tidak terlalu manis dan rasanya sangat pas,” jawab Ema apa adanya.
Arumi yang tersenyum tiba-tiba menjadi murung. Terlihat jelas, bahwa Arumi tengah merindukan sosok Asyila.
“Ibu kenapa tiba-tiba bersedih seperti ini?” tanya Ema.
“Ibu tiba-tiba merindukan Asyila, Nak Ema. Rasanya kehidupan ini sedikit asing tanpa adanya Asyila. Maaf ya Nak Ema, Ibu ini terlalu cengeng,” terang Arumi dan segera menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes.
Ema mendekat dan segera memeluk tubuh Arumi.
“Tidak hanya Ibu saya seperti ini. Ema pun sama dan rasanya begitu aneh, biasanya di Jakarta Ema dan Asyila akan bertemu serta berbincang-bincang. Akan tetapi, semua itu hanyalah mimpi untuk kita,” tutur Ema yang pada akhirnya berderai air mata.
Beberapa saat kemudian.
Abraham, Ashraf, Kahfi dan Yogi akhirnya kembali setelah cukup lama meninggalkan rumah.
“Assalamu’alaikum,” ucap mereka sebelum masuk rumah.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Arumi dan juga Ema yang kebetulan masih ada di ruang tamu.
Hanya Herwan yang tidak ada di rumah, dikarenakan Herwan tengah keluar membeli sesuatu di minimarket bersama Pak Udin menggunakan motor.
“Abang kemana saja?” tanya Ema yang tanpa malu-malu ngambek di depan yang lainnya.
Ema menatap kesal ke arah suaminya dan melenggang masuk ke dalam kamar.
Yogi yang masih menenteng kantong plastik berisi pakaian kotor, berlari kecil mengejar istrinya yang sedang ngambek.
Wajar saja Ema ngambek, berangkat dari pagi dan baru pulang mendekati sholat Maghrib.
“Adik, buka pintunya!” pinta Yogi sambil mengetuk pintu berharap istrinya segera membukakan pintu untuknya.
“Malam ini jangan harap Abang dapat jatah dari adik,” ujar Ema dari dalam kamar.
Glegg!!!
Yogi terkejut dan segera minta maaf kepada istrinya.
“Adik sayang, tolong maafkan Abang ya. Tolong beri Abang jatah ya!” pinta Yogi yang terdengar begitu memohon.
Di dalam kamar, Ema senyum-senyum mendengar ucapan suaminya yang begitu menyedihkan.
__ADS_1
“Salah siapa, pulang di waktu seperti ini,” ucap Ema lirih dan tentu saja tak bisa di dengar oleh suaminya.
“Tok... Tok... Tok...”
“Adik sayang, maafin Abang ya. Please...”
Ema mengatur napasnya dan membukakan pintu kamar untuk suaminya.
Yogi tersenyum dan cepat-cepat masuk ke dalam kamar, takut bila nanti sang istri berubah pikiran.
“Cepat jelaskan, kenapa Abang dan yang lainnya pulang jam segini?” tanya Ema yang terlihat seperti tengah mengintrogasi penjahat yang tengah berbuat jahat.
“Begini, seharusnya tadi kita pulang sebelum Dzuhur. Akan tetapi, ketika diperjalanan pulang menuju kemari, Abang tidak sengaja menabrak seorang wanita pengendara motor,” terang Yogi.
“Haaaa? Kok bisa? Abang yang mengemudikan mobil atau Pak Abraham?” tanya Ema penasaran.
“Tentu saja, Abang. Kan, menggunakan mobil Abang,” jawab Yogi.
“Lalu, bagaimana dengan wanita itu? Apakah dia baik-baik saja?” tanya Ema penasaran sekaligus khawatir.
“Alhamdulillah dia baik-baik saja dan adik mau tahu siapa wanita itu?” tanya Yogi.
“Memang kita kenal?” tanya Ema balik dengan mengernyitkan keningnya.
“Itu, wanita yang mirip sekali dengan Asyila,” jelas Yogi.
“Apa!!!” Ema yang tengah duduk di tempat tidur, seketika itu bangkit mendengar bahwa wanita yang ditabrak oleh suaminya adalah Salsa, wanita yang sangat tak disukainya.
“Adik tidak perlu terkejut seperti itu, dia tidak apa-apa dan hanya pingsan karena syok. Tapi, pingsannya memang cukup lama,” tutur Yogi.
“Sebenarnya mau apa wanita itu? Abang tidak boleh dekat-dekat dengan dia. Dia itu wanita licik dan berbisa, kelihatannya saja polos. Akan tetapi, hatinya sangat jahat dan kita harus jauh-jauh dari dia,” tegas Ema sambil memasang wajah tak sukanya.
“Abang kenapa? Kenapa malah tertawa?” tanya Ema kesal.
“Sudah, berhentilah untuk cemburu. Lagipula Salsa wanita yang baik dan tidak seperti yang Adik tuduhkan,” balas Yogi.
“Apaaa? Jadi, Abang mengira sikap adik seperti ini hanyalah karena cemburu? Buat apa cemburu dengan wanita yang jelas-jelas tidak ada apa-apanya untuk dicemburui.
Dia seperti itu, hanya karena wajahnya yang mirip dengan Asyila. Atau bisa jadi, dia operasi plastik agar terlihat seperti Asyila. Intinya, adik tidak suka kalau dia ada disekitar kita. Apalagi, disekitar keluarga Pak Abraham,” tegas Ema dan mendorong tubuh suaminya agar segera keluar dari kamar.
Ema mengunci kamar dan menangis tersedu-sedu karena sangat kesal dengan apa yang telah dilakukan oleh Salsa untuk masuk ke dalam keluarga itu.
Jelas-jelas dia sengaja untuk masuk ke dalam keluarga ini.
Apakah mereka tidak ada yang tahu? Apakah Pak Abraham ikut bersimpati dengan wanita yang jelas-jelas bermuka dua seperti itu.
Yogi berjalan dengan sangat lesu setelah diusir oleh istrinya dari kamar.
“Kamu kenapa?” tanya Abraham pada sahabatnya yang terlihat sangat lesu, tak bersemangat.
“Aku baru saja diusir oleh Ema dari kamar,” jawab Yogi dan mendaratkan bokongnya di sofa ruang tamu.
Di ruang tamu, hanya ada Abraham dan Yogi. Sementara Ashraf dan Kahfi sedang berganti pakaian ditemani Arumi dikamar mereka.
“Diusir? Apa alasan yang membuatmu diusir?” tanya Abraham.
“Aku menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi ketika kita dalam perjalanan pulang dan respon Ema benar-benar mengesalkan. Bagaimana bisa dia cemburu dengan Salsa dan menyuruhku untuk tak dekat-dekat dengannya. Tidak hanya itu, Ema bahkan mengatakan kalau Salsa adalah wanita bermuka dua,” jelas Yogi.
Abraham tertawa geli mendengar keterangan dari sahabatnya, Yogi.
__ADS_1
“Aku sependapat denganmu. Ema seperti itu pasti karena dia cemburu dan takut merasa tersaingi oleh Salsa,” sahut Abraham dan kembali tertawa.
Adzan Maghrib mulai berkumandang di segala penjuru.
Abraham dan Yogi pun bergegas untuk melaksanakan sholat berjama'ah di masjid.
“kau kenapa membawa kantong plastik itu kesana-kemari? Cepat taruh di mesin cuci dan setelah itu kita bergegas ke masjid!” ajak Abraham.
Yogi mengiyakan dan memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci. Kemudian, menyusul Ashraf dan Kahfi untuk mengajak mereka sholat Maghrib di masjid.
Abraham yang masih berada di ruang tamu, terlihat sedang memikirkan sesuatu yang cukup serius.
Entah apa yang tengah dipikirkannya, yang jelas itu pasti sangatlah penting.
Yogi datang membawa dua pasukannya yang masih kecil untuk melaksanakan sholat Maghrib berjama'ah di masjid.
“Abraham!” panggil Yogi pada Abraham yang tengah melamun.
Abraham terkesiap ketika Yogi memanggilnya.
“Ayo ke masjid!” ajak Yogi.
Mereka bertiga pun berangkat bersama-sama untuk melaksanakan sholat Maghrib berjama'ah di masjid.
“Ayah, gendong!” pinta Ashraf yang ingin digendong oleh Ayahnya.
Melihat Ashraf yang tengah digendong oleh Ayahnya, Kahfi pun tak mau kalah dan ingin juga seperti Ashraf.
“Papa.. Kahfi mau gendong!” pinta Kahfi.
Yogi tersenyum dan menggendong buah hatinya.
Kedua pria itu begitu keren dan sampai-sampai menjadi pusat perhatian Ibu-ibu yang ingin berangkat ke masjid untuk melaksanakan sholat Maghrib berjama'ah.
Beberapa saat kemudian.
Mereka telah selesai sholat jama'ah dan telah sampai rumah.
Akan tetapi, Ema masih saja tidak mau membuka pintu untuk suaminya masuk.
“Adik sayang, tolong jangan ngambek dan jangan cemburu lagi!” pinta Yogi.
Ema yang kesal karena suaminya mengira dirinya cemburu itu pun membuka pintu dan menarik tubuh suaminya masuk ke dalam.
“Siapa yang cemburu? Adik sama sekali tidak cemburu dengan wanita rendahan seperti itu. Apa Adik terlihat seperti istri yang sedang cemburu? Wanita itu jahat, Abang. Dia datang kemari itu bukan secara kebetulan. Seharusnya Abang lebih waspada daripada adik,” ucap Ema.
Ema terus saja mengatakan bahwa ia tidak cemburu sama sekali dengan Salsa. Akan tetapi, mau dijelaskan bagaimanapun Yogi tetap mengira istrinya sedang Cemburu berat.
Ema tiba-tiba menangis dan ketika Yogi ingin menyentuhnya, Ema langsung mengelak tak ingin disentuh oleh suaminya.
“Abang jahat, Abang tak punya hati,” ucap Ema disela-sela ia menangis.
Yogi seperti orang kebakaran jenggot ketika melihat istrinya menangis. Yogi tidak ingin yang lainnya salah paham karena tangisan Ema yang cukup keras.
“Adik, berhentilah menangis. Maafkan Abang ya, please,” ucap Yogi memohon istrinya untuk segera berhenti menangis.
“Abang jahat, Abang sama sekali tidak mempercayai Ema,” balas Ema.
Cukup lama Ema menangis, sampai akhirnya adzan kembali berkumandang.
__ADS_1
Yogi pun kembali meninggalkan Ema yang tengah bersedih untuk melaksanakan sholat isya berjama'ah di masjid.