
Asyila memanyunkan bibirnya dan membuang muka.
Melihat istri kecilnya yang seperti itu, Abraham malah terkekeh dan keluar kamar begitu saja.
“Nak Abraham,” panggil Arumi pada Abraham yang baru saja keluar dari kamar.
Abraham menoleh, lalu menghampiri Ibu mertuanya.
“Iya, Ibu. Ada apa?” tanya Abraham pada Ibu mertuanya.
“Tidak ada apa-apa, hanya ingin memberitahukan kalau tadi ada yang datang dan memberikan ini,” jawab Arumi sambil memberikan sebuah paket yang entah isinya apa.
Abraham menerima paket itu dengan ekspresi bertanya-tanya.
“Terima kasih, Ibu,” ucap Abraham sembari menerima paket tersebut.
“Ya sudah, Ibu mau ke depan,” balas Arumi dan seketika itu berjalan menjauh.
Abraham memperhatikan paket tersebut dan membawanya masuk ke dalam rumah untuk melihat isi di dalamnya.
“Apa itu Mas?” tanya Asyila pada suaminya yang baru saja masuk dengan membawa sebuah paket.
“Mas juga tidak tahu, di jam begini sudah ada yang mengantarkan paket,” jawab Abraham.
“Memangnya disitu tidak ada namanya?” tanya Asyila dan karena penasaran, Asyila pun turun dari tempat tidur dan mendekati suaminya.
“Ada, akan tetapi Mas tidak mengenalinya,” jawab Abraham dan perlahan membuka isi paket tersebut.
Abraham terkejut begitu juga dengan Asyila yang ternyata paket tersebut didalamnya berisi sebuah logam mulia yang beratnya sekitar 50 gram.
Tidak hanya ada logam mulia saja di dalamnya, tetapi ada sebuah surat yang membuat sepasang suami istri itu semakin penasaran.
“Mas, biar Asyila saja yang membacanya,” ujar Asyila dan perlahan membuka isi surat tersebut.
Sebelum Asyila membaca isi surat itu, Asyila lebih dulu mengucapkan Basmallah.
“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, perkenalkan nama saya adalah Ibu Yuyun. Mungkin Tuan Abraham dan Nona Asyila lupa terhadap saya yang dulunya pernah kalian bantu. Akan tetapi, kalian mungkin tidak tahu nama dan wajah saya. Emas logam mulia seberat 50 gram tersebut adalah hadiah saya untuk kalian berdua. Terima kasih atas kebaikan kalian dan teruslah menyebar kebaikan. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Begitulah isi pesan yang berada di dalam surat tersebut.
Abraham dan Asyila menghela napas mereka secara bersamaan. Lalu, saling melempar senyum satu sama lain.
“Alhamdulillah, semoga Allah melipatgandakan rezeki serta pahala itu Ibu Yuyun. Meskipun, Asyila tidak tahu Ibu Yuyun itu yang mana.”
“Mas pun tidak tahu, mungkin karena kita terlalu sering menolong orang lain sampai lupa nama-nama mereka. Bagaimanapun, kita tetap harus membantu antara sesama,” terang Abraham dan membelai lembut rambut panjang istri kecilnya itu.
“Iya, Mas. Selama kita masih hidup, tugas kita adalah membantu orang-orang yang membutuhkan dan kesulitan. Kita juga harus menerapkan kebaikan kita kepada anak-anak kita. Agar kelak, ketika kita sudah meninggal mereka bisa terus menerapkan kebaikan tersebut,” tutur Asyila yang terlihat bahagia berada dipelukan seorang Abraham Mahesa.
“Tentu saja, anak-anak memang harus kita ajarkan sejak dini,” balas Abraham.
“Iya Mas Abraham, astaghfirullahaladzim. Kita masih puasa Mas,” tutur Asyila dan seketika itu juga mendorong tubuh suaminya sekuat mungkin.
Abraham terjatuh dengan cukup keras, ia merintih kesakitan. Akan tetapi, ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
“Sekarang, Mas keluarlah dari kamar!” pinta Asyila dan seketika itu juga Asyila naik ke tempat tidur.
“Haduh, Baiklah. Mas akan segera keluar,” jawab Abraham dan dengan usahanya sendiri, ia bangkit dari jatuhnya. Kemudian, perlahan keluar dari kamar tidur mereka.
Luka bekas tembak Abraham belum sepenuhnya pulih. Dan kini, ia harus kembali merasakan rasa sakit karena ulah istri kecilnya.
“Nak Abraham, kenapa kamu berjalan seperti itu? Seperti orang kesakitan, Nak Abraham habis terjatuh,” tanya Herwan yang saat itu sedang melintas dan melihat menantu kesayangannya.
“Iya, Ayah. Tadi tidak sengaja di dorong Asyila, gara-gara Abraham juga yang salah,” jawab Abraham tersenyum bodoh.
Herwan tertawa lepas sembari menggelengkan kepalanya.
“Buka puasa masih lama, begini saja mari temani Ayah ke halaman belakang!” ajak Herwan.
“Baik, Ayah,” balas Abraham dan mengikuti Ayah mertuanya menuju halaman belakang rumah.
Beberapa jam kemudian.
Ashraf dan Bela terlihat sedang bermain di teras depan rumah.
Keduanya tertawa lepas ketika salah satu dari mereka harus membayar denda dari permainan tersebut.
Mendengar suara tawa yang begitu bersemangat, Abraham dan Asyila pun bergegas mendatangi Ashraf serta Bela yang begitu bahagia.
“Sepertinya seru nih, Bunda boleh ikut main?” tanya Asyila pada Ashraf.
Ashraf seketika itu menoleh dan menggelengkan kepalanya.
“Bunda tidak boleh ikut main, nanti yang jaga adik bayi siapa?” tanya Ashraf.
“Kalau begitu Ayah boleh ikut tidak?” tanya Abraham.
“Tidak boleh, Ayah. Mainan ini cuma buat anak kecil, orang besar tidak boleh main,” terang Ashraf.
Asyila tertawa, begitu juga dengan suaminya.
“Baiklah, Ayah dan Bunda tidak ikut bermain. Kalau begitu, kami cukup melihat saja. Bagaimana, boleh tidak?” tanya Abraham.
__ADS_1
“Boleh, tapi Ayah sama Bunda jangan berisik. Nanti Ashraf tidak fokus bermain,” jawab Ashraf.
“Ok!” seru sepasang suami istri tersebut.
Ashraf dan Bela melanjutkan permainan mereka, kali ini Bela lah yang harus membayar denda karena berhenti di negara yang sudah dibeli oleh Ashraf sebelumnya.
Bela menghela napasnya dan memberikan sejumlah uang mainan kepada Ashraf.
“Horeeee, Ashraf banyak uang. Ashraf jadi orang kaya se-dunia,” ucap Ashraf yang sangat gembira.
Abraham dan Asyila terkekeh geli ketika Ashraf mengatakan bahwa dirinyalah orang kaya se-dunia.
“Ternyata Dunia anak-anak itu memang sangat sederhana ya Mas,” tutur Asyila yang tak bisa berhenti tertawa.
Permainan kembali dilanjutkan dan semakin seru karena keduanya bersaing secara sengit untuk mengetahui siapa pemenang yang sebenarnya.
“Horeee, Ashraf menang. Ashraf menang,” ucap Ashraf sembari melompat-lompat dengan penuh kemenangan.
“Iya Ashraf yang menang, sudah jangan lompat-lompat lagi. Ingat, Ashraf saat ini sedang berpuasa. Ayo bereskan mainannya dan ikut Ayah ke kamar!” perintah Abraham.
Ashraf cepat-cepat membereskan mainannya dan berlari kecil menuju kamar untuk segera menyusul Ayahnya.
Sementara Asyila masih berada di teras depan rumah bersama dengan Bela.
“Bela sayang, kalau Aunty boleh tahu sebenarnya Bela rindu tidak dengan Bapak dan Ibu Bela?” tanya Asyila penasaran.
Tanpa pikir panjang, Bela menggelengkan kepalanya.
“Tidak,” jawabnya singkat.
“Apakah Bela membenci Bapak dan Ibu Bela?” tanya Asyila.
“Sedikit, Bela tidak mau dipukul lagi. Setiap hari kerjaan Bapak dan Ibu adalah memarahi serta memukuli Bela. Bela juga dilarang bermain dan selalu disuruh untuk mencari uang,” jawabnya.
Asyila menitikkan air matanya dan cepat-cepat ia menyeka air mata tersebut agar Bela tak ingin sedih.
“Sekarang Bela tidak akan lagi merasakan yang rasanya dipukuli, dimarahi atau dilarang bermain. Anggap saja Aunty dan Paman adalah orang tua Bela.”
“Baik, Aunty. Terima kasih,” tutur Bela.
“Sama-sama sayang,” balas Asyila.
Bayi mungil yang saat itu berada di gendongan Asyila tiba-tiba menggerakkan badannya, seakan-akan tidak nyaman dengan posisi tubuhnya saat itu.
Asyila terkesiap dan beranjak dari duduknya.
“Kenapa sayang? Panas ya?” tanya Asyila karena cuaca pada saat itu benar-benar panas.
“Sayang, haus? Sebentar ya,” tutur Asyila, lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
Saat Asyila ingin membuka freezer, Arumi tiba-tiba datang.
“Sini, biar Ibu saja yang mencairkan ASI-nya. Syila tunggu saja di ruang keluarga!”
“Baik, Ibu.” Asyila pun melenggang menuju ruang keluarga dan berusaha untuk menenangkan bayi mungilnya.
Sekitar 5 menit kemudian, Arumi pun datang dengan membawa botol susu bayi untuk cucu kesayangannya.
“Terima kasih, Ibu!”
“Iya sayang, sama-sama. Belum memasuki waktu Dzuhur saja cuaca hari ini begitu panas, padahal sudah menghidupkan AC,” ucap Arumi yang merasa sangat gerah.
Di dalam kamar, Abraham sedang mengajari Ashraf membaca ayat-ayat pendek.
Ashraf sangat antusias dan meskipun berulang kali dirinya melakukan kesalahan, Abraham sama sekali tak marah dan sangat sabar mengajari buah hatinya untuk mengaji.
Adzan Dzuhur pun berkumandang, Abraham dan Ashraf seketika itu berhenti mengaji. Kemudian, mereka berdua bersiap-siap untuk melaksanakan sholat Dzuhur di Masjid.
“Kakek, ayo sholat!” ajak Ashraf ketika melihat Kakeknya yang baru saja keluar dari kamar.
“Ayo, Kakek juga sudah siap,” balas Herwan.
Saat baru saja keluar dari pintu rumah, Ashraf menyipitkan kedua matanya karena tak sanggup melihat panasnya siang hari tersebut.
“Ayo, kenapa berdiri di depan pintu seperti itu?” tanya Abraham mengajak Ashraf untuk segera berangkat.
“Ayah, gendong!” pinta Ashraf yang manjanya tiba-tiba keluar.
“Ashraf mau gendong?” tanya Abraham memastikan.
“Iya, Ayah. Panas sekali,” jawabnya sambil tersenyum semanis mungkin agar Ayahnya tak menolak keinginan darinya untuk minta digendong.
Abraham tertawa kecil dan berjongkok sembari merentangkan kedua tangannya.
Ashraf tersenyum lebar dan akhirnya dirinya berada di gendongan Sang Ayah.
“Asyila, lihat putra kecil kalian!” panggil Arumi agar Asyila segera datang untuk melihat bagaimana Abraham menggendong putra kedua dari Abraham dan Asyila.
Asyila berlari kecil untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
“Ya ampun, anak itu benar-benar menggemaskan,” tutur Asyila sembari geleng-geleng kepala.
“Ashraf kalian ini benar-benar lucu, Ibu jadi tidak sabar ingin melihat bayi Akbar tubuh besar. Apakah Ashraf masih akan manja seperti itu?”
“Semoga saja tidak, Ibu,” jawab Asyila.
“Kamu tenang saja, Ashraf pasti tidak akan manja lagi. Ayo sholat Dzuhur!”
Saat Asyila masuk ke dalam rumah, Asyila pun memanggil Bela yang saat itu tengah melintas.
“Bela, ayo kita sholat Dzuhur!” ajak Asyila.
Bela hanya mengangguk kecil, saat itu ia terlihat sangat lemas.
Arumi dan Asyila pun menyadari bahwa Bela sedang tidak baik-baik saja.
“Bela kenapa?” tanya Asyila yang nampak khawatir dan menyentuh kening Bela untuk memastikan apakah Bela sakit atau tidak, “Ya ampun, agak hangat ternyata,” imbuh Asyila.
“Bela tidak apa-apa, Aunty. Mungkin baru pertama puasa jadinya seperti ini,” jawabnya.
“Bela, kalau kamu tidak kuat ya batalkan saja. Asal, Bela menggantinya dengan hari lain,” ucap Arumi.
“Jangan, Bela mau berpuasa. Ashraf saja berpuasa, masak Bela tidak,” jawab Bela.
“Bela yakin kuat?” tanya Asyila memastikan.
“Insya Allah, Aunty,” jawab Bela yang masih sanggup meneruskan puasanya.
“Kalau memang seperti itu, ya sudah tidak apa-apa. Akan tetapi, kalau Bela tidak kuat ya harus membatalkan puasa tersebut. Ayo kita ke ruang sholat!” ajak Asyila dengan merangkul lengan Bela menuju ruang sholat.
Sore hari.
Beberapa saat yang lalu, Asyila tiba-tiba ingin membuat menu berbuka puasa untuk orang lain. Bagaimanapun, apa yang dilakukan akan membawa berkah untuk dirinya serta orang lain yang menikmati menu makanan berbuka puasa buatannya.
“Baru jam segini, putri Ibu ngapain sibuk di dapur?” tanya Arumi ketika melihat Asyila tengah memotong cokelat batang.
“Asyila ingin membuat roti, risoles dan ayam geprek untuk orang lain, Ibu,” jawab Asyila.
“Masya Allah, ayo Ibu juga mau bantu. Oya, ayamnya mana?” tanya Arumi.
“Ibu tenang saja, lihatlah di baskom itu. Asyila tadi meminta Pak Udin belikan ayam potong, ya lumayan sekitar 100 dada ayam,” terang Asyila.
“Kalau begitu, ayo kita beraksi!” seru Arumi.
Keduanya dengan kompak mengerjakan tugas mereka masing-masing dengan sangat cepat.
Beberapa saat kemudian.
Akhirnya usaha Asyila dan juga Arumi untuk membuat roti, risoles serta ayam geprek selesai juga.
Bahkan, semuanya sudah tertata rapi di dalan box makanan.
“Apakah semuanya sudah siap?” tanya Abraham.
“Alhamdulillah, sudah Mas,” jawab Asyila.
“Karena semuanya sudah selesai, Mas akan pergi bersama Ayah dan juga Eko untuk membagi-bagikan makanan ini ke perempatan lampu merah.”
“Asyila ikut ya Mas!” pinta Asyila.
“Syila tidak perlu ikut, lagipula ada bayi kita yang harus dijaga. Serahkan semuanya kepada kami, ya sudah kami pergi dulu!”
Abraham lalu memerintahkan Eko serta para bodyguardnya untuk memasukkan box makanan ke dalam mobil agar diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan.
10 menit kemudian.
Abraham, Eko dan juga Herwan turun langsung membagikan box berisi makanan kepada para pengendara, pejalan kaki dan pedagang kaki lima yang berada disekitar lampu merah.
“Alhamdulillah, terima kasih,” ucap seorang pria tua yang bekerja sebagai tukang becak.
“Semoga menjadi berkah ya Pak,” tutur Abraham.
Satu-persatu box makanan tersebut keluar dari mobil dan akhirnya habis tak tersisa.
“Tuan Abraham, semuanya sudah habis,” ucap Eko melapor pada Tuannya.
“Ya sudah, ayo kita pulang. Sebentar lagi waktunya berbuka puasa!” perintah Abraham.
Merekapun akhirnya pulang dan tak butuh waktu lama akhirnya sampai juga di kediaman Abraham.
Saat itu juga adzan Maghrib berkumandang, yang artinya sudah waktunya bagi umat muslim membatalkan puasa mereka.
“Assalamu’alaikum,” ujar Abraham dan Herwan.
“Wa’alaikumsalam, cepat ke ruang makan. Asyila dan anak-anak telah menunggu.”
Merekapun berkumpul untuk segera membatalkan puasa mereka dengan segelas air minum dan buah kurma yang dimakan ganjil.
Setelah membatalkan puasa, Abraham serta yang lainnya memutuskan untuk sholat Maghrib terlebih dahulu. Barulah menikmati makanan yang berat seperti nasi tentunya.
__ADS_1
Asyila dan Abraham memuji Ashraf serta Bela yang berhasil melewati puasa pertama mereka dengan sangat lancar.
Bela tersipu malu-malu, ia pun tak menyangka bahwa untuk pertama kalinya diusia 12 tahun dirinya bisa puasa penuh. Padahal sebelumnya, ia tak pernah berpuasa sekalipun.