
Dyah melempar ponselnya ke atas tempat tidur dengan sebal. Ia baru saja mendapat pesan dari atasan tempatnya bekerja kalau besok pagi semua staf kantor harus masuk dan tidak ada yang boleh izin atau alasan untuk tidak masuk.
Tentu saja hal itu membuat Dyah sangat tak bersemangat karena kepulangan ke Bandung harus maju satu hari dan tak dapat diganggu gugat.
“Kak Dyah ayo main!” ajak Ashraf yang tiba-tiba masuk kamar tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Dyah.
Dyah yang sedang kesal berusaha untuk tetap tenang dihadapan adiknya itu.
“Jangan sekarang ya Ashraf! Kak Dyah saat ini lagi tidak ingin bermain,” tolak Dyah dengan nada selembut mungkin agar Ashraf tak kecewa.
Arsyad menyusul dan tak lupa mengetuk pintu kamar terlebih dahulu. Dyah pun mengizinkan Arsyad masuk dan memberitahukan kepada Arsyad bahwa dirinya tidak ingin bermain dan ingin berisitirahat di kamar.
Arsyad yang mengerti akhirnya mengajak Ashraf untuk bermain berdua saja tanpa ditemani oleh Dyah.
Asyila bersama dengan Abraham sedang menghabiskan waktu berdua mereka di kebun anggur milik almarhumah Sang nenek.
Dari kejauhan, mereka melihat Arsyad dan Ashraf sedang bermain bola berdua saja tanpa ditemani oleh Dyah.
Karena penasaran, Abraham dan Asyila memutuskan untuk menghampiri kedua putra kecil mereka yang tengah asik bermain bola.
“Arsyad dan Ashraf kenapa main berdua saja?” tanya Abraham.
“Iya Nak. Kemana Kakak kalian?” tanya Asyila.
“Kak Dyah lagi istirahat, Bunda,” jawab Arsyad.
“Istirahat? Ini sudah jam 4 tidak biasanya Dyah tidur sore,” ucap Asyila dan meminta Sang suami untuk tetap menemani kedua putra kecil mereka.
Asyila masuk ke dalam rumah untuk melihat apakah Dyah baik-baik saja atau tidak.
“Tok...Tok...”
“Siapa?” tanya Dyah dari dalam kamar.
“Ini Aunty!” seru Asyila.
“Sebentar Aunty!” Dyah cepat-cepat turun dari tempat tidur dan membuka pintu untuk Aunty-nya, “Ada apa, Aunty?” tanya Dyah sambil mengajak Asyila duduk di tempat tidur.
“Tidak biasanya kamu berdiam diri di kamar dan tidak menemani adik-adikmu bermain. Apa kamu sakit?” tanya Asyila sambil menyentuh dahi Dyah, “Tidak panas ataupun dingin,” imbuh Asyila ketika menyentuh dahi Dyah.
Dyah menghela napasnya yang berat dan menunjukkan pesan singkat dari atasannya.
“Jadi, besok kamu harus masuk kerja,” ucap Asyila setelah membaca isi pesan singkat dari atasan Dyah.
“Ini terlalu mendadak untuk Dyah, Aunty. Mau tidak mau Dyah harus segera pulang ke Bandung,” tutur Dyah yang terdengar sangat tak bertenaga.
“Bagaimanapun kamu harus bertanggung jawab dengan pekerjaan mu, Dyah. Bagaimana bila kamu besok tidak masuk? Pasti yang lain mengira kamu bukan pribadi yang bertanggung jawab dan tidak bisa dipercaya, tentu saja yang rugi kamu bukan mereka. Ayo semangat dan tunjukkan kalau seorang Dyah bisa bertanggung jawab dan dapat dipercaya!”
Semangat Dyah dalam sekejap berkobar-kobar setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Asyila. Asyila memang berbakat dalam membuat seseorang menjadi semangat lagi dan lagi.
“Terima kasih Aunty ku yang cantik sedunia!”
“Karena besok pagi sudah mulai bekerja tatap muka, berarti nanti malam kamu berangkat menuju Bandung?”
“Iya, Aunty,” balas Dyah.
“Ya sudah kalau begitu, Aunty akan membantumu menyiapkan barang-barang yang harus dibawa. Papa dan Mamamu mau dibawakan apa? Biar Aunty yang mencarikannya di market terdekat.”
“Tidak perlu, Aunty. Dyah tidak ingin merepotkan Aunty,” jawab Dyah.
“Merepotkan? Tentu saja tidak. Lagipula anggap saja ini hadiah karena kamu sudah bersedia menemani Arsyad dan Ashraf!”
“Kalau Aunty bilang begitu, itu artinya Dyah tidak ikhlas dong.”
“Kamu ini pikirannya terlalu jauh sampai kesitu. Pokoknya Aunty akan membantu kamu menyiapkan keperluan dan akan membelikan oleh-oleh untuk orang rumah,” terang Asyila dan tak bisa dibantah oleh Dyah.
“Terima kasih, Aunty!”
Beberapa saat kemudian.
Asyila telah selesai membantu Dyah menyiapkan segala keperluannya untuk kembali ke Bandung. Kemudian, Asyila pamit keluar kamar untuk mengajak Sang suami berbelanja.
“Mas, tolong temani Asyila ke toko swalayan terdekat ya!” pinta Asyila sambil memeluk lengan suaminya.
“Memangnya Asyila mau beli apa?” tanya Abraham penasaran dan memberikan kecupan basah di kening istri kecilnya.
Asyila pun menceritakan alasannya untuk pergi berbelanja. Yaitu, untuk membelikan oleh-oleh kepada orang tua Dyah.
“Jadi malam ini Dyah akan kembali ke Bandung. Ya sudah, tunggu apalagi ayo kita berangkat!” seru Abraham.
“Terima kasih, suamiku,” ucap Asyila.
Abraham dan Asyila bergegas masuk ke dalam mobil. Tak lupa mereka menitipkan Arsyad dan Ashraf kepada Arumi yang saat itu tengah sibuk menyirami tanaman hias.
“Kami pergi dulu Ibu, Assalamu'alaikum!”
“Wa’alaikumsalam!” seru Arumi.
__ADS_1
Eko mulai tancap gas dan mengantarkan Tuan mudanya ke toko swalayan terdekat.
Asyila terlihat sangat antusias ketika mengambil oleh-oleh khas ibu kota Jakarta.
“Apakah masih ada yang lain?” tanya Abraham.
“Sepertinya ini sudah cukup, ayo Mas!” ajak Asyila menuju kasir.
Abraham membayar biaya belanjaan istri kecilnya dan ternyata ketika mereka keluar langit mulai gelap.
“Sepertinya Mas harus melaksanakan sholat di masjid terdekat,” ucap Abraham sambil melirik ke arah jam tangan miliknya.
Eko membawa dua kantong plastik berukuran sedang dan memasukkannya ke dalam mobil.
“Sekarang kita kemana, Tuan Muda?” tanya Eko.
“Kita cari Masjid terdekat!” perintah Abraham.
“Siap Tuan Muda!” seru Abraham.
Disaat yang bersamaan, Dyah sedang menunggu pria pemilik sapu tangan. Dyah berharap Fahmi lewat sehingga ia dapat mengembalikan sapu tangan kepada pemiliknya.
Ya ampun itu dia orangnya!
Aku harus bagaimana? Haduh, kenapa tiba-tiba gugup begini.
Dyah bingung harus menghentikan langkah Fahmi atau membiarkan Fahmi berlalu begitu saja.
Ketika Fahmi lewat tepat dihadapannya, Dyah langsung menghentikannya.
“Pemilik sapu tangan!” panggil Dyah dan seketika itu Fahmi menghentikan langkahnya. Kemudian, menoleh ke arah gadis yang memanggilnya.
“Mbak memanggil saya?” tanya Fahmi.
Dyah segera memberikan sapu tangan yang sebelumnya sudah ia cuci. Dengan tangan gemetar, Dyah memberikannya dan Fahmi sama sekali tidak menerima sapu tangan tersebut.
“Kenapa diam saja?” tanya Dyah dengan berusaha untuk terlihat tenang.
“Saya terburu-buru untuk pergi ke Masjid,” jawab Fahmi karena sebelumnya ia sudah berwudhu dan ia khawatir tak sengaja bersentuhan dengan gadis dihadapannya sehingga ia harus kembali mengambil air wudhu.
Dyah menyadari maksud dari Fahmi. Karena tak ingin membuat Fahmi salah faham, Dyah pun membiarkan Fahmi untuk melanjutkan perjalanannya menuju masjid.
Fahmi pun melenggang pergi untuk segera melaksanakan sholat Maghrib berjamaah di Masjid.
Deg! Deg! Deg!
Beberapa menit kemudian.
Dyah telah selesai melaksanakan sholat Maghrib dan dengan cepat berlari keluar rumah untuk memberikan sapu tangan kepada pemiliknya. Dyah berharap Fahmi belum lewat sehingga ia tak memiliki tanggungan lagi.
Deg! Deg! Deg!
Lagi-lagi Dyah merasakan detak jantungnya berdetak semakin kencang. Dari kejauhan ia memperhatikan seorang pria yang berjalan ke arahnya.
“Kenapa masih disini?” tanya Fahmi.
“Aku menunggu mu,” jawab Dyah dengan detak jantungnya yang menggebu-gebu.
“Apa karena sapu tangan?” tanya Fahmi.
“Iya, benar. Bo-boleh aku memanggilmu Kakak?” tanya Dyah gugup.
Fahmi yang saat itu terlihat tenang dan datar langsung tersenyum mendengar pertanyaan Dyah.
“Kalau tidak boleh, aku akan memanggilmu Pak Fahmi, bagaimana?” tanya Dyah seakan-akan sedang menawar sesuatu.
Fahmi tak bisa menahan tawanya, ia tertawa namun tidak sampai memperlihatkan giginya.
“Memangnya usiamu berapa?” tanya Fahmi pada Dyah.
“24 tahun dan beberapa bulan lagi usiaku menginjak 25 tahun,” jawab Dyah jujur.
“Kalau begitu panggil saja saya Kak Fahmi,” balas Fahmi.
“Me-memangnya usia Kak Fahmi berapa?” tanya Dyah penasaran.
“29 tahun dan kurang dari beberapa bulan lagi usia saya 30 tahun,” jawab Fahmi jujur.
Dyah terbelalak lebar mengetahui usia pria dihadapannya. Jujur saja, Dyah tak mengira bahwa pria dihadapannya sebentar lagi akan berusia 30 tahun.
“Kenapa wajahnya imut sekali,” ucap Dyah lirih dan samar-samar terdengar oleh telinga Fahmi.
Dyah tiba-tiba tersadar dengan alasannya menghentikan Fahmi. Ia pun kembali mengeluarkan sapu tangan yang beberapa hari yang lalu diberikan oleh Fahmi.
“Oya, Maaf. Terima kasih sudah meminjamkan sapu tangan ini,” ucap Dyah.
Fahmi mengambil sapu tangan tersebut dan memasukkannya ke dalam saku baju muslim yang ia kenakan.
__ADS_1
“Sama-sama, jangan menangis lagi seperti hari itu,” ucap Fahmi.
Deg! Deg! Deg!
Dyah lagi-lagi merasakan detak jantungnya yang berdetak tak karuan. Hanya ucapan seperti itu saja sudah membuat Dyah kelimpungan dan bingung harus berkata apa.
“Siapa namamu?” tanya Fahmi yang melangkah mundur sekitar 5 meter untuk menjaga jarak karena tidak pantas baginya berduaan dengan Dyah. Namun, Fahmi tidak mungkin pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Panggil saja aku Dyah,” jawab Dyah.
“Baiklah, Dyah. Karena kamu telah memberikan sapu tangan ini kepada saya, saya permisi pamit karena harus segera pulang, Assalamu'alaikum” ucap Fahmi.
“Tu-tunggu!” Untuk kesekian kalinya Dyah menghentikan langkah Fahmi.
“Iya, ada apa?” tanya Fahmi tanpa menoleh ke arah Dyah.
“Si-siapa Kikan?” Entah keberanian dari mana, Dyah tiba-tiba bertanya masalah bordiran nama “Kikan.”
Fahmi tak menjawab dan semakin membuat Dyah penasaran.
“Apakah Kikan istrimu?” tanya Dyah lagi.
Belum sempat Fahmi menjawab, tiba-tiba mobil Abraham tiba dan membuat Dyah kelimpungan.
Tanpa pikir panjang Dyah bergegas masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Fahmi begitu saja.
Dari dalam mobil Abraham dan Asyila melihat Dyah sedang berdiri bersama seorang pria.
“Dyah tadi dengan siapa ya Mas?” tanya Asyila penasaran.
“Suatu hari nanti Syila akan mengetahui siapa pria itu,” jawab Abraham.
Asyila semakin penasaran dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
Akan tetapi, Asyila memutuskan untuk tidak bertanya lagi.
Tanpa disadari oleh Asyila, bibir Abraham tersenyum tipis.
Entah apa yang sedang Abraham pikirkan saat itu, hanya ia dan Allah saja yang tahu.
Dyah masuk ke dalam kamarnya dan bergegas membersihkan diri. Ia berharap Paman serta Aunty-nya tak banyak bertanya mengenai dirinya dan Fahmi.
Satu hal yang masih mengganggu pikiran Dyah. Yaitu, bordiran nama “Kikan”
Jika saja Paman dan Aunty-nya belum kembali, sudah dipastikan Dyah mengetahui hubungan antara Fahmi dan juga Kikan.
Rasa penasaran Dyah semakin kuat dan Dyah berharap dirinya bisa bertemu kembali dengan pria pemilik sapu tangan tersebut.
****
Dyah melambaikan tangannya kepada semuanya. Malam itu ia akan kembali ke Bandung dan entah kapan dirinya bisa menghabiskan waktunya kembali di kota Jakarta.
“Selamat tinggal semuanya, Assalamu'alaikum!”
“Wa’alaikumsalam!”
Arsyad dan Ashraf melambaikan tangan mereka ke arah mobil yang perlahan menjauh meninggalkan halaman rumah.
Kedua menangis setelah mobil milik Ayah mereka tak terlihat lagi.
“Hiks... hiks... Kak Dyah jahat,” ucap Arsyad menangis di pelukan Ayahnya.
“Kenapa Kak Dyah tidak mengajak kita,” ucap Ashraf yang sangat pandai berbicara.
“Kan, masih ada hari esok sayang. Lagipula Kak Dyah harus berkerja dan tidak bisa selalu bermain dengan kalian,” balas Asyila.
“Sudah jangan nangis, ayo temani nenek nonton tv!” ajak Arumi agar Arsyad dan Ashraf tak berlarut-larut dalam kesedihan karena ditinggal oleh Dyah.
Di dalam mobil, Dyah merasakan ada sesuatu yang tertinggal.
Sepertinya tidak ada yang tertinggal di rumah. Akan tetapi, aku merasakan ada sesuatu yang tertinggal. 😞
“Senyum dong Mbak,” ucap Eko ketika tak sengaja melihat Dyah bersedih.
Dyah segera menyembunyikan kesedihannya dan tersenyum manis.
“Kalau begitu 'kan, cantik,” tutur Eko.
“Pak Eko ini bisa saja,” celetuk Dyah.
Malam itu Eko lah yang bertugas mengantarkan keponakan dari Tuan mudanya pulang ke rumah.
Dan Eko akan kembali ke Jakarta dua hari kemudian. Itu pun atas perintah dari Abraham yang menginginkan Eko menghabiskan waktunya bersama keluarganya.
Like 💖 dan komen 👇 kalian selalu author tunggu!
Karena like dan komen adalah bentuk dari dukungan kalian untuk author dan novel ini.
__ADS_1