
Asyila meminta mereka duduk melingkar agar bisa lebih leluasa dalam mengeluarkan ide-ide tambahan. Semangat Asyila bertambah ketika melihat tatapan penuh besar dari bola mata mereka.
Pertama-tama, Asyila memperkenalkan kembali dirinya dan merekapun berganti memperkenalkan diri mereka termasuk tempat tinggal mereka.
Ternyata, tidak hanya daerah Bandung saja yang menjadi korban penculikan. Tetapi, ada yang berasal dari Jakarta, Surabaya dan Bali.
Sungguh miris, mereka diculik dan menjadi korban perbudakan manusia.
Asyila bahkan akhirnya bisa menemukan wanita yang ia cari. Wanita yang sekitar 4 hari yang lalu menghilang dan kabar menghilangnya baru diunggah tadi pagi.
“Mbak, bisakah saya pulang?” tanya salah satu gadis remaja yang usianya masih sangat muda.
“Kita harus percaya dengan kemampuan kita, kalau boleh tahu umur kamu berapa?” tanya Asyila penasaran.
“Umur saya baru 15 tahun, Mbak,” jawabnya.
Rasa kesal Asyila semakin besar, ia akan membuat perhitungan kepada orang-orang yang terlibat dalam penculikan itu.
“Kapan mereka akan masuk ke ruangan ini?” tanya Asyila yang akan melancarkan aksinya ketika mereka masuk ke dalam ruangan pengap itu.
“Mereka akan kemari ketika matahari sudah terbit,” balas Mela wanita muda yang usianya tak jauh dari Asyila.
“Baiklah, apakah kalian siap melawan mereka?” tanya Asyila dengan tatapan penuh harapan.
“Kami siap!” seru mereka sembari mengangkat kedua tangan mereka tinggi-tinggi.
Asyila memperhatikan semua wanita di dalam ruangan itu yang duduk melingkar, mulai dari kanan ke kiri untuk melihat wanita mana yang akan melakukan aksi pertama.
“Ada berapa orang yang terlibat dalam penculikan ini?” tanya Asyila pada mereka.
“Kami tidak tahu berapa orang yang terlibat. Yang pasti, ada sekitar 5 orang yang sering datang ke ruangan ini.”
Asyila mengangguk kecil dan ia menemukan ide cemerlang untuk melumpuhkan lawan.
“Meskipun kita wanita, kita tidak boleh dianggap lemah orang mereka. Ayo berusaha untuk keluar dari tempat ini!” Asyila merentangkan tangan kanannya bersejarah dengan dadanya dan diikuti oleh yang lain hingga tangan-tangan mereka menumpuk menjadi satu.
“Ayo semuanya kita berteriak, kita bisa!” ajak Asyila.
__ADS_1
Dengan penuh keyakinan mereka berteriak mengatakan bahwa kita bisa!
“Baiklah. dengarkan apa yang saya katakan dan jika kalian ada ide, mohon keluarkan ide yang ada di kepala kalian,” ucap Asyila dengan sangat serius.
****
Tak terasa waktu telah mendekati subuh, sebagai umat muslim yang taat, Asyila mengajak mereka untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah.
“Aku tidak bisa sholat,” ucap salah satu wanita muda yang berpakaian serba terbuka.
“Apa Mbak sedang datang bulan?” tanya Asyila mencoba memahami masalah wanita.
“Bukan itu. Tetapi, pakaian saya seperti ini dan saya tidak tahu caranya sholat,” balasnya dan berlinang air mata.
Asyila tersenyum pada wanita dihadapannya, “Kita bisa memang kain seadanya untuk sholat, apakah disini ada sarung dan juga rok panjang?” tanya Asyila padanya.
Salah satu dari mereka maju dan membuka sebuah almari plastik. Ternyata ada beberapa kain yang bisa dipakai untuk sholat subuh.
“Mari berwudhu!” ajak Asyila dan bergiliran mengambil air wudhu di kamar mandi ruangan pengap itu.
Asyila sangat senang, karena mereka mau melaksanakan sholat subuh berjamaah. Kecuali, mereka yang sedang datang bulan dan memilih duduk diam.
Lima orang pria dan satu wanita masuk ke dalam ruangan pengap itu. Mereka terkejut terlebih lagi wanita yang sering mereka panggil madam ketika melihat ada kain panjang terbentang di lantai.
“Apa yang telah kalian lakukan?” tanyanya.
Asyila yang tengah duduk langsung berdiri dengan tatapan berani. Ya, Asyila sama sekali tidak takut dengan orang-orang dihadapannya itu.
“Apa kamu disini tidak takut dengan kami?” tanya wanita yang biasa dipanggil Madam oleh mereka.
“Tidak,” jawab Asyila secara tegas.
“Hahaha!” Madam tertawa dengan sangat keras setelah mendengar jawaban tegas Asyila.
Tawanya pun berhenti dan dengan cepat ia mengayunkan tangannya ke arah pipi Asyila. Belum sempat menampar, Asyila lebih dulu menahan tangan Madam dengan begitu erat, sampai-sampai Madam merasa kesakitan dengan apa yang dilakukan Asyila kepadanya.
“Apa yang kalian lakukan? Cepat hukum wanita ini!” perintah Madam kepada lima pria yang berdiri dibelakangnya.
__ADS_1
Asyila mendorong Madam dengan sangat kuat, hingga wanita berbadan gemuk itu jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri alias pingsan.
“Wanita sial*n!” Salah satu pria yang tak terima dengan apa yang dilakukan Asyila, langsung mendorong Asyila sekuat tenaga. Akan tetapi, para wanita di dalam ruangan pengap itu menahan tubuh Asyila sehingga tak sampai jatuh ke lantai.
“Akkkkhhh! Kalian semua tidak akan kami maafkan, lihat saja nanti!” Ancam pria yang lainnya dan memerintahkan keempat pria lainnya untuk membawa Madam keluar ruangan pengap tersebut.
Pintu kembali dikunci dari luar dan usaha Asyila serta lainnya belum bisa terlaksana.
“Bagaimana ini? Apa kita akan menerima cambukan lagi?”
Suasana ruangan itu dengan cepat menjadi ramai. Mereka yang sudah pernah merasakan cambuk pada akhirnya ketakutan dan berharap agar mereka tak kembali cambukan itu lagi.
“Ini semua gara-gara kamu! Seharusnya kamu tidak mengatakan hal-hal gila yang memang tidak bisa kita lakukan!” Wanita yang berwarna Tutik berdiri sambil menunjuk-nunjuk Asyila yang menurutnya telah membawa mereka semua dalam masalah besar.
“Lalu? Apakah setelah itu mereka akan berhenti menyiksa kalian yang sebenarnya adalah orang yang paling dirugikan? Saya sama sekali tidak kehilangan harapan untuk keluar dari tempat ini. Akan saya pastikan, hari ini juga kita akan keluar dari sini dan memberikan mereka balasan yang setimpal,” ucap Asyila bersungguh-sungguh.
Satu wanita langsung berdiri disisi Asyila dengan tatapan penuh keyakinan dan mengatakan bahwa iapun memiliki harapan yang besar untuk keluar dan perlahan disusul oleh yang lainnya yang juga berharap agar bisa segera keluar dari tempat laknat tersebut.
Tinggal Tutik sendiri yang belum memberikan keputusan apakah ia setuju ataukah pasrah dengan apa yang akan terjadi kepada dirinya.
“Saya tahu Mbak adalah wanita yang pintar,” ucap Asyila berusaha meyakinkan Tutik.
Tutik mengembangkan senyumnya dan memeluk tubuh Asyila. Ia menangis dan meminta maaf karena telah meragukan kemampuan mereka.
“Maaf,” ucap Tutik pada Asyila dan bergantian meminta maaf kepada wanita lainnnya.
Merekapun saling berpelukan dan kembali menyusun strategi untuk mengalahkan serta membuat orang-orang jahat yang telah menculik mereka dan menjual mereka benar-benar menyesal karena apa yang telah diperbuat oleh Madam dan para bawahannya itu.
“Dengarkan baik-baik, begitu mereka masuk ke dalam ruangan ini, kita langsung mendorong mereka dan memukul mereka sekuat tenaga yang kita miliki,” ucap Asyila.
Tutik menyunggingkan senyumnya dan mengangkat sebelah alisnya, ia terlihat sangat senang dengan apa yang ia pikirkan.
“Sepertinya aku punya ide yang lebih bagus lagi, bagaimana kalau alat vitalnya kita pukul?” tanya Tutik dengan penuh semangat.
Mereka saling bertukar pandang dan menatap Tutik yang terlihat senang dengan apa yang barusan saja ia katakan.
“Bagaimana?” tanya Tutik penasaran. 😅
__ADS_1
Abraham 💖 Asyila