
Drrrrrtttttttt dddddrrrrtttt
Abraham terkesiap ketika merasakan getaran dari meja kerjanya, pria itu pun bergegas mendekati meja tersebut untuk segera meraih ponsel miliknya yang sedari tadi tergeletak di atas meja.
“Dayat? Kenapa malam-malam begini dia meneleponku?” tanya Abraham dan mulai menerima sambungan telepon dari sahabatnya itu.
“Hallo, assalamu'alaikum!” sapa Dayat yang terdengar seperti orang sedang dalam masalah.
“Wa’alaikumsalam, ada apa Dayat?” tanya Abraham penasaran.
“Kami butuh bantuan Tuan Abraham, sekarang juga,” jawab Dayat.
“Apa ada masalah?” tanya Abraham semakin penasaran.
Dayat pun menceritakan apa yang tengah dialami oleh para tim. Mereka saat itu tengah terjebak di sebuah hutan dan bingung harus melakukan apa, dikarenakan mobil yang mereka tumpangi semuanya hilang dan tim yang lainnya tidak bisa dihubungi.
“Kalian sedang mencari apa di dalam hutan?” tanya Abraham yang mulai panik.
“Kami mengikuti para mafia sampai ke dalam hutan,” jawab Dayat.
“Cepat beritahu letak hutan tersebut, aku akan segera kesana.”
Dayat pun memberitahukan lokasi hutan tersebut dan tiba-tiba sambungan telepon itu terputus. Untungnya, sebelum sambungan telepon itu terputus, Abraham sudah mengetahui posisi mereka.
“Mas mau kemana?” tanya Asyila ketika melihat suaminya masuk ke dalam kamar dengan begitu terburu-buru sambil mengenakan jaket kulit berwarna hitam.
“Mas ada urusan penting, tolong jaga Ashraf dan jaga diri Syila baik-baik!” pinta Abraham.
“Mas mau kemana? Asyila tidak mau ditinggal sendirian,” ucap Asyila yang tiba-tiba terlihat begitu manja.
Abraham menghela napasnya dan memberikan kecupan di kening sang istri.
“Ini masalahnya sangat darurat, istriku. Lagipula di rumah ini ada Ayah dan juga Ibu, tolong Syila mengerti ya maksud perkataan suamimu ini,” tutur Abraham sambil menyentuh kedua bahu sang istri.
Dengan mata berkaca-kaca, Asyila mengiyakan dan tak lupa memberikan pelukan hangat untuk suaminya.
“Mas baik-baik saja ya disana, Asyila disini akan terus mendo'akan keselamatan Mas dan juga yang lainnnya,” ujar Asyila berusaha menahan air matanya.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Abraham benar-benar pergi meninggalkan rumah tersebut untuk bergegas menyelamatkan para sahabatnya yang tengah terjebak di dalam hutan.
__ADS_1
Malam itu, Abraham memutuskan untuk mengendarai mobil seorang diri dan membiarkan Pak Udin berisitirahat di pos penjagaan.
Asyila hanya bisa terdiam sembari melambaikan tangan ke arah mobil suaminya yang perlahan meninggalkan halaman rumah.
“Karena Mas Abraham sudah pergi, waktunya bagiku untuk mengikuti Mas,” ucap Asyila dan berlari kecil masuk ke dalam rumah.
Karena suasana malam yang sangat sepi, Asyila memanfaatkan waktu tersebut untuk cepat-cepat meninggalkan rumah. Akan tetapi, sebelum Asyila meninggalkan kamar, rupanya Ashraf terbangun.
“Bunda mau kemana?” tanya bocah kecil itu sambil terus mengerjapkan matanya.
“Sayang, Bunda ada urusan penting. Ashraf tidur sendirian disini ya, Bunda harus menemani Ayahmu dan memberantas orang-orang jahat seperti kemarin,” jawab Asyila sambil menyentuh dagu Ashraf.
Ashraf mengangguk setuju, meskipun umurnya bisa dibilang masih sangat kecil. Akan tetapi, bocah kecil itu sudah mengerti apa yang harus ia lakukan. Ashraf pun memilih untuk kembali membaringkan tubuhnya agar bisa segera tidur.
“Tolong jangan beritahu siapapun mengenai hal ini ya sayang! Bunda ingin Ashraf merahasiakannya.”
“Baik, Bunda,” jawab Ashraf yang begitu patuh dengan apa yang dikatakan oleh Bundanya.
Tak ingin ketinggalan jauh, Asyila pun bergegas meninggalkan buah hatinya dan dengan langkah hati-hati akhirnya bisa sampai di garasi mobil.
“Untungnya saja aku masih menyimpan kunci motor ini, sebaiknya aku langsung pergi dari sini,” ucap Asyila bermonolog dan mulai menarik motor tersebut agar segera meninggalkan halaman rumah.
Asyila sengaja tak menyalakan mesin motor, dikarenakan Asyila tidak ingin orang rumah sampai mengetahui dirinya keluar malam-malam. Terlebih lagi, Pak Udin yang secara kebetulan tengah tertidur pulas di pos penjagaan.
Asyila menyalakan mesin motor dan tak butuh waktu lama, ia sudah mengendarai motornya untuk menyusul suaminya yang entah sekarang pergi kemana.
Disaat yang bersamaan, Abraham terus saja mengendarai mobilnya. Beberapa saat yang lalu, ia sudah menghubungi tim yang lain agar segera menyusul tim Dayat yang saat itu tengah terjebak di dalam hutan.
“Tidak biasanya Dayat serta yang lainnya mengalami hal seperti ini. Para mafia itu ternyata pintar juga, sampai-sampai kendaraan Dayat dan tim lainnya menghilang. Sebaiknya aku juga harus berhati-hati memasuki area hutan itu,” ucap Abraham dan semakin mempercepat laju mobilnya.
Abraham sama sekali tidak mengetahui bahwa sang istri tengah mengikutinya. Dan semoga saja, apa yang Asyila lakukan tidak diketahui oleh suaminya itu.
Pukul 02.17 WIB.
Abraham akhirnya tiba disebuah hutan yang cukup besar untuk daerah itu. Pertama-tama Abraham keluar dari mobil dan memantau daerah sekitar yang memang sangat gelap.
“Aku tak yakin bisa segera menemukan Dayat dan tim lainnya dengan kondisi hutan lebat seperti ini. Ditambah, dengan cahaya ponselku,” ucap Abraham yang kurang yakin dengan kemampuannya untuk segera menemui Dayat serta tim yang lainnya yang tengah berjuang untuk keluar dari dalam hutan itu.
Selang beberapa menit, Asyila pun tiba dan cepat-cepat mematikan mesin motornya.
__ADS_1
Asyila menyipitkan matanya sembari menelan saliva nya dengan begitu gugup.
“Kenapa hutan ini sangat menyeramkan? Bahkan, aku merasa seperti tengah diperhatikan,” tutur Asyila bermonolog dan nampak ragu-ragu untuk masuk ke dalam hutan.
Tiba-tiba, kenangan menakutkan terlintas dipikiran Asyila. Kenangan menakutkan bercampur menyenangkan.
Beberapa tahun yang lalu, Asyila pernah tersesat di hutan dan suaminya lah yang menolongnya.
“Tidak, aku tidak boleh takut. Aku datang kemari untuk membantu Mas Abraham,” ucap Asyila sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Meskipun takut, Asyila mencoba mengalahkan ketakutannya dan dengan langkah hati-hati ia masuk ke dalam hutan.
“Aaakkhhh!” teriak Asyila ketika ada seekor kodok melompat tepat dihadapannya.
Bagi Asyila, binatang seperti kodok itu adalah binatang yang menggelikan dan juga menyeramkan.
Asyila berlari secepat mungkin masuk ke dalam hutan dengan penerangan lampu di ponsel pintar miliknya.
“Ya Allah, tolong lindungilah hamba dari binatang yang bernama kodok,” ucap Asyila pada Sang pencipta.
Deg!
Asyila menghentikan langkahnya dan cepat-cepat mematikan cahaya di ponselnya ketika mendengar suara orang-orang yang tengah berbicara.
“Hahaha... Lihat saja, mereka tidak akan bisa keluar dari hutan ini karena kendaraan mereka sudah kita sembunyikan.”
Percakapan mereka terus saja berlanjut, sampai akhirnya mereka masuk ke dalam sebuah gubuk yang ukurannya lumayan besar. Disela-sela percakapan itu, Asyila bisa mendengar semuanya.
Jadi, itu yang mereka rencanakan. Aku tidak akan membiarkan rencana mereka berjalan sesuai dengan rencana.
Tanpa rasa takut, Asyila berjalan mendekat ke arah gubuk tersebut.
“Pletak!!” Asyila tak sengaja menginjak sebuah ranting kayu dan seketika itu juga mereka yang berada di dalam gubuk bergegas keluar untuk melihat si pembuat suara tersebut.
“Siapa disana?” tanya salah satu dari mereka sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Mungkin hanya ranting kayu yang jatuh,” jawab yang lainnya.
Cukup lama mereka berada di luar sekitar gubuk, sampai akhirnya mereka kembali masuk ke dalam.
__ADS_1
Asyila yang sedari tadi bersembunyi di dekat pohon, seketika itu bernapas lega.
“Syukurlah mereka sudah masuk ke dalam. Mereka terlalu banyak dan akan sangat sulit melawan mereka,” ucap Asyila lirih.