Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Salsa Wanita Bermuka Dua


__ADS_3

Jakarta.


Arumi dan Herwan terlihat sangat senang setelah mendapat kabar dari menantu mereka, bahwa dia telah melahirkan bayi mungil berjenis kelamin perempuan kemarin malam.


Senyum mereka mengembang sempurna dan tak sabar ingin melihat cucu buyut mereka yang baru lahir itu.


Meskipun begitu, Arumi dan Herwan tidak bisa langsung pergi secepat itu. Dikarenakan, mereka masih tidak ingin sampai Ashraf mengetahui bahwa Bunda mereka tidak berada di Bandung. Yang Ashraf tahu, Bunda tercintanya sedang sibuk mengurusi butik di Bandung.


“Nenek, Tante Salsa kenapa belum datang kemari?” tanya Ashraf yang beberapa bulan terakhir sangat dekat dengan wanita yang bernama Salsa.


Awalnya, Ashraf tak ingin dekat-dekat dengan Salsa karena sebelumnya sahabat Bundanya yang tak lain adalah Ema melarangnya untuk dekat-dekat dengan wanita bermuka dua itu.


Akan tetapi, Salsa terus mendekati Ashraf dan perlahan Ashraf pun menjadi dekat dengan wanita yang mirip Bundanya tercinta.


“Kenapa kenapa diam saja? Tante Salsa dimana, Nek?” tanya Ashraf sambil menghentakkan kakinya ke tanah berulang kali.


Salsa muncul tepat dibelakang Ashraf dan memberi isyarat kepada sepasang suami istri dihadapan Ashraf untuk tak memberitahukan kepada Ashraf bahwa dirinya ada di belakang Ashraf.


“Nenek tidak tahu sayang,” jawab Arumi mengikuti isyarat dari Salsa.


Salsa tersenyum lebar dan menutup keduanya mata Ashraf dengan tangannya.


”Hayo tebak, siapa?” tanya Salsa dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil yang menggemaskan.


“Tante Salsa,” jawab Ashraf.


Salsa tertawa dan memutar tubuh Ashraf agar berbalik badan menghadapnya.


“Ashraf curang, Ashraf tadi pasti mengintip ya?” tanya Salsa sambil mencubit pelan kedua pipi Ashraf yang menggemaskan itu.


Dengan polosnya Ashraf menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa ia sama sekali tak mengintip.


Salsa pura-pura ngambek dan berpura-pura untuk tidak lagi menjadi teman Ashraf.


Mendengar hal tersebut, wajah Ashraf langsung murung dan menahan langkah Salsa yang ingin menjauh darinya.


”Tante Salsa jangan pergi, temani Ashraf bermain!” pinta Ashraf yang terlihat seperti memohon.


Arumi dan Herwan sama sekali tak terganggu dengan sikap Salsa terhadap Ashraf. Justru, mereka berdua sangat senang karena kehadiran Salsa memberikan warna baru bagi Ashraf yang sebelumnya sangat merindukan Bundanya.


Kalaupun tiba-tiba Ashraf merindukan Bundanya, Arumi maupun Herwan langsung meminta Salsa untuk menghibur Ashraf agar tak sedih.


“Ibu Arumi dan Pak Herwan, bolehkah saya mengajak Ashraf main ke rumah saya?” tanya Salsa dengan menggandeng erat tangan kanan Ashraf.


“Boleh saya, tapi apa tidak merepotkan kamu?” tanya Arumi penasaran.


“Tidak sama sekali. Justru saya senang kalau Ashraf berada di dekat saya,” jawab Salsa.


Arumi dan Herwan saling tukar pandang mendengar jawaban dari Salsa.


“Boleh ya Nek!” pinta Ashraf yang melompat-lompat penuh semangat.


“Ya sudah, Nenek izinkan. Akan tetapi, sebelum Maghrib Ashraf sudah pulang, ok!” seru Arumi.


“Ok!” seru Ashraf.


Salsa tersenyum bahagia karena berhasil membawa Ashraf ke rumahnya.

__ADS_1


Jarak antara rumah Abraham dan juga rumah yang dikontrak Salsa tidak terlalu jauh. Kalau berjalan kaki, mungkin sekitar 10 menit dan kalau naik motor tentu saja tidak sampai 3 menit.


“Ashraf mau makan apa di rumah Tante Salsa?” tanya Salsa.


“Ayam kecap, boleh?” tanya Ashraf balik.


“Tentu saja boleh, apa yang tidak boleh kalau untuk kesayangan Tante Salsa ini?” tanya Salsa sambil mengacak-acak rambut Ashraf.


Biasanya Ashraf akan marah jika rambutnya diacak-acak oleh orang lain. Akan tetapi, kali ini berbeda. Ashraf malah senang dan justru tertawa ketika Salsa mengacak-acak rambutnya yang sebelumnya disisir rapi oleh Neneknya, Arumi.


Setibanya di rumah Salsa, Ashraf langsung berlari masuk ke dalam rumah. Ini pertama kalinya Ashraf datang ke kontrakan Salsa yang ternyata cukup mewah.


“Ashraf, jangan sentuh itu ya!” pinta Salsa ketika melihat Ashraf tengah menyentuh patung gajah berlapis emas yang ia beli ketika sedang berlibur ke Thailand.


Ashraf mengiyakan apa yang dikatakan oleh Salsa untuk tak menyentuh patung gajah seukuran kepalan tangan Ashraf.


“Sekarang Ashraf duduk disini saja dan nonton televisi. Tante Salsa ada film kartun yang bagus untuk Ashraf,” ucap Salsa sambil menyalakan televisi dan mencari stasiun televisi yang menayangkan acara anak-anak.


Ashraf menggelengkan kepalanya, ia tak suka dengan kartun tersebut dan meminta Salsa untuk mencari film kartun yang biasa ia tonton ketika berada di rumah.


Salsa tersenyum dan berusaha menuruti keinginan Ashraf.


“Yang itu Tante Salsa,” ucap Ashraf menunjuk ke arah kartun yang disukainya.


“Ashraf nonton kartun dulu ya, Tante Salsa mau mandi dulu. Habis itu, kita pesan ayam kecap keinginan Ashraf tadi,” perintah Salsa.


“Tante Salsa tidak masak sendiri ayam kecapnya?” tanya Ashraf.


“Tante Salsa tidak bisa masak Ashraf. Ups, maksud Tante Salsa, Tante Salsa tidak sempat masak ayam kecap. Jadinya, kita pesan saja. Ok!”


“Ok!” seru Ashraf.


Beberapa saat kemudian.


Salsa telah selesai mandi dan memilih memakai pakaian seksinya yang biasa ia gunakan ketika berada di rumah.


“Tante Salsa kenapa pakai baju itu?” tanya Ashraf karena sebelumnya tidak ada yang pernah memakai pakaian yang serba kekurangan bahan itu dihadapannya.


Salsa merasa sedikit kesal. Akan tetapi, ia tidak bisa marah dan berusaha untuk tetap terlihat baik dihadapan Ashraf.


“Huh... Menyebalkan sekali, masih kecil saja sudah banyak bicara. Kalau bukan karena ingin mendekati Ayahnya, aku mana sudi bersikap baik kepada anak yang bukan dari darah daging ku sendiri,” omel Salsa di dalam kamar dan dengan sangat terpaksa mengganti pakaiannya dengan pakaian yang bisa dikatakan sedikit tertutup dari pakaian yang sebelumnya ia kenakan.


Salsa keluar dari kamar dan duduk berdekatan dengan Ashraf yang masih asik menonton kartun.


Salsa mengeluarkan ponselnya dan memesan ayam kecap menggunakan aplikasi.


“Ok, aku hanya tinggal menunggu saja,” ucap Salsa lirih dan merebahkan tubuhnya di matras dengan kepala beralaskan bantal bulu yang ia beli ketika berada di Malaysia.


Sebenarnya, siapa itu Salsa?


Kalian aku tahu bila waktunya tiba. 😎


Ayam kecap pesanan Salsa telah tiba dan Salsa pun cepat-cepat keluar rumah untuk menerima makanan yang ia pesan.


Setelah membayarnya, Salsa bergegas masuk ke dalam rumah dan mempersiapkan makanan untuk Ashraf.


“Sayang, ini ayam kecap keinginan Ashraf sudah siap untuk dinikmati. Ashraf makan yang banyak ya dan jangan lupa dihabiskan. Tante Salsa tidak suka kalau makan tidak dihabiskan, sayang uangnya,” perintah Salsa.

__ADS_1


“Suapin!” pinta Ashraf dan membuka mulutnya lebar-lebar.


“Ashraf sayang, Ashraf 'kan, sudah besar dan sudah bisa makan sendiri. Ayo makan sendiri, Tante Salsa sekarang sedang sibuk,” sahut Salsa.


Ashraf memanyunkan bibirnya dan menggelengkan kepalanya. Ia ingin makan disuapi oleh Salsa.


“Yakin tidak mau makan?” tanya Salsa dan tanpa pikir panjang mengambil piring yang ada dihadapan Ashraf, “Kalau begitu, Tante buang saja yang makanannya,” imbuh Salsa yang bersiap-siap untuk membuang makanan milik Ashraf.


“Jangan Tante,” ucap Ashraf dan akhirnya ia mengambil piring tersebut. Kemudian, memakannya dengan tangannya sendiri.


“Nah, makan sendiri'kan, bisa,” ujar Salsa dan kembali fokus dengan ponsel pintarnya.


Usai makan ayam kecap yang dibeli oleh Salsa. Ashraf meminta untuk diantarkan pulang.


“Tante Salsa, ayo antar Ashraf pulang!” pinta Ashraf sambil menggerakkan lengan Salsa yang saat itu tengah rebahan sambil sibuk dengan ponselnya.


Salsa menghela napasnya mencoba untuk tetap stabil.


“Sekarang?” tanya Salsa dan melirik sekilas ke arah jam yang menunjukkan pukul 15.23 WIB.


“Masih jam segini, sayang. Tunggu 1 jam lagi ya!” pinta Salsa mencoba membujuk Ashraf agar mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah orang tuanya.


Ashraf mulai merengek dan seketika itu juga membuat Salsa panik.


Mau tak mau Salsa pun mengantarkan Ashraf pulang ke rumahnya.


Arumi yang sedang berbincang-bincang dengan suaminya di teras depan rumah, terkejut melihat Ashraf yang sudah pulang.


“Loh, kenapa cepat sekali?” tanya Arumi terheran-heran.


Ashraf masuk begitu saja melewati kedua orang tua dari Ibunya.


“Sebenarnya Salsa sangat ingin Ashraf bisa tinggal di rumah lebih lama. Akan tetapi, Salsa mendadak mendapat pesan dari bos dan harus masuk kerja sore ini juga,” terang Salsa.


“Ya ampun, maaf ya Nak Salsa. Maafkan kami karena sudah merepotkan Nak Salsa,” tutur Arumi.


“Ibu Arumi tak perlu sungkan dengan saya. Ashraf sudah saya anggap seperti anak sendiri, jadinya saya sangat senang jika tiap hari Ashraf main ke rumah. Oya, tadi Ashraf sudah makan nasi dengan lauk ayam kecap buatan saya. Dan ketika Ashraf makan, Ashraf terlihat sangat lahap,” terang Salsa yang tentu saja setiap perkataannya adalah dusta.


“Masya Allah, selain cantik Nak Salsa juga baik dan pintar masak. Beruntung sekali pria yang akan menikahi Nak Salsa,” puji Arumi dengan tatapan penuh kekaguman.


Salsa tersenyum malu-malu mendapatkan pujian dari Arumi.


“Ibu Arumi bisa saja. Begini-begini saya masih harus banyak belajar,” jawab Salsa.


Salsa pun pamit dan berjalan meninggalkan kediaman Abraham.


“Ya ampun, panas sekali. Kalau tahu begini, aku bawa mobil saja. Kenapa juga aku harus berpura-pura menjadi wanita yang menyedihkan?” tanya Salsa dengan terus melangkahkan kakinya menuju kontrakannya.


Arumi tersenyum bahagia, kedatangan Salsa membuat hidup keluarganya sedikit berwarna.


“Mas, seandainya saja Nak Abraham menikah dengan Nak Salsa bagaimana?” tanya Arumi.


“Adik ini bicara apa? Nak Abraham pasti akan menolaknya secara tegas. Apa kamu lupa bagaimana Nak Abraham mencintai putri kita Asyila? Sudah banyak yang mereka lewati dan sangat tidak mungkin jika Nak Abraham mencintai wanita lain. Wajah Salsa memang mirip dengan putri kita. Akan tetapi, Mas juga tidak bisa menerimanya sebagai pengganti putri kita, Asyila,” tegas Herwan dan berlalu begitu saja meninggalkan Arumi yang ingin memberikan penjelasan panjang lebar kepada suaminya.


Arumi berlari untuk mengejar suaminya yang tengah marah terhadapnya. Akan tetapi, Arumi tak bisa mengejar suaminya karena suaminya sudah keburu masuk kamar dan menguncinya.


“Mas, tolong dengarkan apa yang ingin aku katakan. Tolong jangan langsung berpikiran negatif seperti ini!” pinta Arumi.

__ADS_1


Arumi berusaha membujuk suaminya untuk membukakan pintu. Akan tetapi, Herwan sama sekali tak menggubris perkataan istrinya dan memilih untuk tidur sebentar sambil menantikan sholat ashar.


__ADS_2