
Beberapa hari kemudian.
Abraham terbangun dari tidurnya dan tiba-tiba saja ia teringat janji yang belum sempat ia tepati untuk kembali ke tempat tersebut.
“Mas kenapa? Mas mimpi buruk?” tanya Asyila yang melihat Sang suami menampilkan ekspresi gelisah serta panik.
“Mas lupa kalau ada janji,” jawab Abraham.
“Janji apa, Mas? Bisa ceritakan kepada Asyila?”
“Jadi begini, sekitar seminggu yang lalu Mas, Dayat dan lainnya pergi ke suatu daerah yang bisa dikatakan daerah itu benar-benar lingkungan yang tidak baik. Kebanyakan para wanita bekerja sebagai wanita malam. Nah, satu satu wanita malah di tempat itu meninggal dunia dan yang membunuhnya adalah suaminya sendiri. Singkat cerita, pria yang bernama Yudi itu sudah berada di dalam penjara dan janji Mas adalah untuk kembali ke sana,” ungkap Abraham.
“Lalu, untuk apa Mas kesana?” tanya Asyila penasaran.
“Mas ingin membantu perekonomian mereka dan membangun masjid disana. Dikarenakan, di daerah tempat itu dan sekitarnya tidak ada masjid ataupun musholla,” terang Abraham.
Asyila mengelus dada mendengar keterangan dari suaminya.
“Mas harus segera kesana, apapun itu Asyila akan selalu mendukung Mas,” tutur Asyila.
“Terima kasih, Syila. Terima kasih karena selalu mendukung apa yang Suamimu ini lakukan,” balas Abraham.
Asyila mengangguk kecil dan menoleh ke arah jam yang terpaku di dinding.
“Ayo Mas, kita lanjutkan tidur!”
Abraham mengiyakan dan keduanya pun melanjutkan tidur mereka.
Keesokan paginya.
“Mas, Ashraf kemana? Kenapa habis pulang dari masjid tidak kelihatan lagi?” tanya Asyila pada suaminya yang saat itu tengah duduk bersantai di ruang tamu sembari menggendong bayi mungil mereka.
“Mungkin di ruang keluarga bersama Ayah dan Ibu,” jawab Abraham.
“Tidak ada Mas, tadi Syila sudah ke ruang keluarga dan Ashraf tidak ada disana.”
“Atau mungkin Ashraf ada di kamarnya,” sahut Abraham.
Tanpa pikir panjang, Asyila langsung pergi menuju kamar Ashraf.
“Tok... tok... tok...”
“Sayang, ini Bunda. Bunda masuk ya,” tutur Asyila dan perlahan masuk ke dalam kamar buah hatinya.
Asyila masuk dan tersenyum lebar ketika melihat Ashraf yang ternyata masih tidur.
“Ya ampun, Bunda cari-cari dari tadi ternyata Ashraf disini,” tutur Asyila dan perlahan mencium pipi gembul buah hatinya.
Ketika Asyila mencium pipi Ashraf, Asyila terkejut karena ternyata buah hatinya sedang demam.
“Ya Allah, panas sekali,” ucap Asyila.
Asyila panik dan berlari keluar kamar untuk memberitahukan suaminya mengenai kondisi putra kedua mereka.
“Mas, Ashraf badannya panas,” ucap Asyila panik.
“Syila yang tenang ya, Mas akan menghubungi Dokter kenalan Mas untuk segera datang kemari memeriksa kondisi ashraf.”
“Cepat ya Mas, Asyila takut Ashraf kenapa-kenapa,” balas Asyila panik.
“Tenang ya, ini Mas sedang mencoba menghubungi Dokter,” tutur Abraham.
Abraham akhirnya berhasil menghubungi dokter spesialis anak dan dokter itu pun akan segera sampai dalam waktu 30 menit.
__ADS_1
“Ok, terima kasih. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” balas Abraham dan meletakkan ponselnya di atas meja.
“Bagaimana Mas? Apakah dokter itu bisa datang kemari?” tanya Asyila.
“Insya Allah dalam waktu 30 menit dokter Ivan akan sampai. Rumahnya pun tidak jauh dari sini,” balas Abraham.
Asyila akhirnya bisa bernapas lega dan kembali menemani Ashraf yang berada di dalam kamar.
“Asyila kenapa kelihatannya panik begitu?” tanya Arumi ketika tak sengaja melihat Asyila berlari menaiki anak tangga dengan panik.
“Ashraf demam, Ibu,” jawab Abraham yang ingin menyusul istri kecilnya di kamar.
“Astaghfirullahaladzim,” ucap Arumi terkejut dan dengan langkah lebar wanita paruh baya itu berjalan menuju kamar cucu keduanya.
Setibanya di dalam kamar, Asyila ternyata sedang memeluk tubuh Ashraf sembari menangis karena suhu tubuh putra kecilnya semakin panas.
“Mas, tubuh Ashraf semakin panas,” ucap Asyila ketika suaminya baru saja memasuki kamar.
Abraham meminta Sang istri untuk tetap tenang sembari menunggu dokter Ivan datang.
Asyila hanya bisa mengiyakan dan berharap semoga Sang Dokter bisa segera tiba.
Beberapa saat kemudian.
Dokter Ivan akhirnya tiba dan kedatangannya disambut langsung oleh Abraham Mahesa.
“Assalamu’alaikum,” ucap Dokter Ivan.
“Wa’alaikumsalam, mari masuk!”
Abraham dengan cepat menuntun Dokter Ivan masuk ke dalam kamar putra kecilnya.
Setibanya di dalam kamar, Dokter tersebut langsung mengeluarkan alat kerja miliknya dan mulai memeriksakan kondisi Ashraf.
Cukup lama Sang dokter memeriksa, sampai akhirnya Dokternya Ivan selesai.
“Bagaimana kondisi putra kami, Dok? Apakah sakit putra kami parah?” tanya Asyila.
Dokter Ivan tersenyum yang artinya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh Abraham maupun Asyila.
“Tenang saja, ini hanya demam biasa. Insya Allah dalam 3 hari panasnya sudah menghilang dan ini resep yang harus ditebus,” ucapnya.
Asyila menerima resep tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Kemudian, Abraham mengeluarkan ponselnya dan mentransfer uang ke rekening milik Dokter Ivan.
“Uangnya sudah aku transfer,” tutur Abraham.
“Tapi, saya belum memberitahukan nominalnya,” balas Dokter Ivan dan segera mengeluarkan ponselnya untuk melihat jumlah uang yang ditransfer oleh Abraham ke dalam rekeningnya.
Dokter Ivan terkejut ketika melihat nominal uang yang ditransfer oleh Abraham.
“Tuan Abraham, ini terlalu banyak dan dua kali lipat dari biaya yang sebenarnya,” ungkap Dokter Ivan.
“Sudah tidak apa-apa, yang penting putra kami sehat,” balas Abraham.
Dokter Ivan seketika itu mengucapkan terima kasih atas biaya lebih yang diberikan Abraham untuknya.
“Oya, mau sarapan bersama?” tanya Abraham.
“Maaf, sepertinya tidak bisa. Setelah ini saya harus ke rumah sakit karena ada beberapa pasien yang ingin bertemu dengan saya,” terangnya.
“Ya sudah tidak apa-apa,” balas Abraham santai.
Dokter Ivan pun akhirnya pamit untuk segera pergi ke rumah sakit.
__ADS_1
Setelah kepergian Dokter Ivan, Abraham langsung bergegas masuk menemui Ashraf.
“Mana resep obatnya tadi, biar Mas yang pergi ke apotek,” ucap Abraham dan berjalan menghampiri Ashraf yang masih terlelap dengan suhu tubuh panas.
Asyila mendekat dan memberikan resep tersebut kepada suaminya.
“Ini, Mas,” ucap Asyila.
Abraham menerimanya dan meminta Sang istri untuk tetap di dalam kamar menemani Ashraf yang tengah sakit.
“Cepat sembuh sayang,” bisik Abraham dan kemudian, ia bergegas keluar rumah untuk segera menebus obat putra kedua mereka.
Abraham keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil yang sudah dipanaskan oleh Pak Udin.
“Tuan Abraham mau kemana? Biar saya saja yang menyetir,” ucap Pak Udin ketika Abraham baru saja memasuki mobil dan bersiap-siap mengemudikan mobil.
“Mau ke apotek, kira-kira apotek jam segini sudah ada yang buka belum ya?” tanya Abraham.
Pak Udin seketika itu menoleh ke arah jam di tangannya yang sudah sangat tua dan terlihat usang.
“Mungkin sekitar 1 jam lagi baru buka,” balas Pak Udin.
Abraham pun keluar dari kursi pengemudi dan meminta Pak Udin menyetir mobilnya.
“Ya sudah Pak Udin, kita tetap keluar. Siapa tahu ada apotek yang buka lebih awal,” tutur Abraham.
Pak Udin langsung mengiyakan dan bergegas mengemudikan mobil.
****
Hampir satu jam lamanya Sang suami belum juga pulang dan membuat Asyila khawatir. Asyila takut jika suaminya kenapa-kenapa di jalan.
“Syila, sudah waktunya sarapan. Turunlah biar Ashraf Ibu yang menjaga!”
“Asyila masih belum lapar, Ibu,” tolak Asyila.
“Syila sayang, Syila tidak boleh egois. Akbar butuh banyak ASI, untuk itu kamu harus makan banyak. Sekarang turunlah dan dengarkan apa yang Ibu katakan,” tegas Arumi demi kebaikan Asyila serta bayi Akbar.
Apa yang dikatakan oleh Ibunya memanglah benar. Asyila pun akhirnya sarapan dan tak lupa memberikan bayinya kepada Sang Ibu.
“Nitip Akbar dulu ya Ibu.”
“Kamu tenang saja, Ibu akan menjaga Ashraf dan juga Akbar,” balas Arumi.
Setibanya di ruang makan, ternyata sudah ada Dyah yang tengah menuangkan air ke dalam gelas.
“Aunty, Ashraf sakit ya?” tanya Dyah.
“Iya, Dyah. Tapi, tidak terlalu panas seperti beberapa saat yang lalu,” jawab Asyila, “Fahmi dan Asyila kecil mana?” tanya Asyila.
“Mas Fahmi fan Asyila ada di rumah. Sebenarnya Dyah datang kesini cuma mau mengantarkan rendang daging dan Nenek malah menyuruh Dyah untuk sarapan. Tapi, Ashraf benar-benar tidak apa-apa, Aunty?” tanya Dyah memastikan.
“Insya Allah tidak apa-apa, ayo sarapan!” ajak Asyila.
Keduanya pun akhirnya sarapan bersama dan hanya mereka dua di ruang makan. Sementara Herwan saat itu tidak ada di rumah.
“Aunty kenapa hanya makan sedikit? Makanlah yang banyak, Ibu yang menyusui itu diwajibkan makan yang banyak,” ucap Dyah.
“Bukan banyak. Tetapi, makanlah cukup,” terang Asyila.
“Hehehe... Maksud Dyah tadi itu Aunty,” tutur Dyah. 😅
Abraham ❤️ Asyila
__ADS_1