
Beberapa saat kemudian.
Orang tua Dyah datang setelah mendengar kabar bahwa putri mereka akan melahirkan cucu pertama mereka.
“Bagaimana dengan Dyah?” tanya Yeni pada menantunya.
“Dyah saat ini masih berusaha untuk melahirkan bayi kami, Ma,” jawab Fahmi dengan begitu gugup.
“Lalu, kenapa masih disini? Sana masuk temani Dyah melahirkan!” pinta Yeni pada menantunya, “Agar kamu tahu bagaimana susahnya melahirkan seorang bayi ke dunia. Tidak hanya susah dan kesakitan, melahirkan bayi juga butuh perjuangan dan nyawa sebagai taruhannya,” imbuh Yeni.
Fahmi berusaha mengatur napasnya yang memburu dan perlahan masuk ke dalam ruang bersalin untuk menemani istrinya melahirkan.
Mata Fahmi terbelalak lebar ketika melihat darah cukup banyak dan ia pun mual-mual tak karuan.
Fahmi berlari masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
Kemudian, kembali keluar dan berusaha mendekati istrinya yang tengah berusaha melahirkan buah hati pertama mereka.
“Mas Fahmi!” teriak Dyah sambil mencengkram erat lengan suaminya dan menimbulkan cakaran dari kuku-kuku Dyah.
Fahmi menggigit bibirnya sendiri sambil menahan sakit yang ditimbulkan oleh istrinya.
Kemudian, air mata Fahmi menetes deras ketika melihat perjuangan istrinya dan di tarikan napas panjangnya, Dyah berhasil melahirkan bayi yang sangat menggemaskan.
”Oeeekk... Oeeekk.. Oeeekk. Oeeekkk ..” Suara tangisan bayi mungil dengan kulit yang masih merah memenuhi setiap sudut ruangan itu.
Bruk!!! Suara jatuh yang mengagetkan setiap orang yang berada di ruangan itu.
Saat itu juga Fahmi pingsan dengan wajah yang sangat pucat pasi.
“Bagaimana ini, kenapa suaminya yang pingsan?” tanya salah perawat yang mendampingi dokter untuk membantu Dyah melahirkan.
Di luar ruangan, mereka saling berpelukan ketika mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan bersalin Dyah.
“Selamat, untuk kalian berdua,” ucap Abraham memberikan selamat kepada Kakak sepupunya atas lahirnya cucu pertama mereka.
“Akhirnya kita resmi menjadi kakek dan nenek,” sahut Temmy dengan begitu gembira.
Ema menangis terharu, ia teringat saat dirinya melahirkan putra kecilnya, Kahfi.
“Abang, hiks... Hiks...” Ema menangis terharu dipelukan suaminya.
Abraham tiba-tiba terdiam saat wajah istrinya tiba-tiba muncul dipikirannya.
Kalau Syila masih hidup, pasti buah hati kami sudah aktif di dalam perut dan 4 bulan kemudian Asyila melahirkan bayi ke-empat kami.
Ya Allah, sampai detik ini semuanya yang terjadi seperti mimpi buruk untuk hamba.
__ADS_1
Abraham tenggelam dalam lamunannya, Temmy yang melihat wajah Abraham ikut merasakan sedih. Meskipun, disaat yang bersamaan ia sangat bahagia karena putrinya telah melahirkannya cucu pertamanya.
Seorang dokter wanita keluar dari ruang bersalin. Kemudian, memberitahukan bahwa suami dari pasien yang tak Fahmi sedang tak sadarkan diri di dalam.
“Haa? Kol bisa Dok?” tanya Yeni terheran-heran.
“Hal seperti biasanya terjadi kepada orang yang panik diluar kemampuannya. Sehingga, membuat Tuan Fahmi pingsan ketika melihat banyak darah yang dikeluarkan oleh si istri ketika melahirkan bayi secara normal,” terang sang dokter.
“Lalu, bagaimana keadaan Ibu dan Bayinya Dok? Jenis kelamin cuvu kami apa, Dok?” tanya Yeni yang sangat antusias untuk mengetahui jenis kelamin dari cucu pertamanya.
“Keadaan pasien Alhamdulillah baik-baik saja dan untuk sementara waktu ini di Irak dulu di dalam. Dan untuk bayinya, selamat karena bayinya adalah bayi yang sangat menggemaskan dan juga cantik. Mata Ibunya yang sipit menurun kepada putrinya,” terang dokter tersebut.
Yeni dan Temmy melompat dengan penuh kebahagiaan. Mereka memang ingin memiliki cucu pertama perempuan dan selanjutnya barulah laki-laki.
“Alhamdulillah ya Allah, Do'a kita ternyata terwujud,” ucap Temmy.
Pagi hari.
Kondisi Dyah sudah mulai membaik dan ia sangat bahagia karena telah berhasil menjadi seorang Ibu.
Akan tetapi, ia sedikit sebal dengan suaminya yang pingsan di waktu sangat tidak tepat.
“Welcome to the world my baby cute. I'm so happy,” ucap Dyah yang tak henti-hentinya memandangi wajah putri kecilnya yang sangat menggemaskan itu.
Ema masih menemani Dyah di rumah sakit. Sementara suami dan buah hati mereka pulang terlebih dahulu karena Kahfi yang tiba-tiba rewel ingin tidur di rumah.
“Kalau aku nurut saja sama Allah. Akan tetapi, untuk sekarang aku belum ingin punya anak lagi. Karena, mengurus anak satu saja sudah cukup melelahkan. Insya Allah kalau memang rezeki, aku ingin memiliki bayi lagi ketika Kahfi berumur 10 tahun,” terang Ema.
Satu-persatu tetangga penghuni perumahan Absyil, berdatangan untuk memberikan selamat atas kelahiran putri pertama Dyah dan Fahmi.
Sebenarnya bisa saja mereka datang ketika keluarga kecil Dyah tiba di rumah. Akan tetapi, mereka tak bisa menahan rasa penasaran mereka untuk mengetahui jenis kelamin dari pasangan Dyah dan Fahmi.
“Masya Allah, cantiknya. Matanya juga sipit, sama seperti Mbak Dyah,” tutur salah satu tetangga yang usianya seumuran dengan Yeni.
“Oya, sudah lama saya tidak melihat Nona Asyila. Ngomong-ngomong Nona Asyila kemana, keponakannya lahiran seharusnya datang dong,” ucap salah satu dari mereka yang terkenal dengan mulutnya yang tajam.
“Apa saya harus memberitahukan dimana posisi istri saya sekarang?” tanya Abraham datar yang tak suka jika bila ada orang yang membicarakan istrinya.
Wanita itu bungkam seketika dan meminta maaf atas ucapannya yang menyinggung perasaan suami Asyila. Yaitu, Abraham Mahesa.
Abraham tak bisa terus berada di ruangan itu. Ia pun memilih untuk meninggalkan ruangan Dyah dan memutuskan untuk mencari tempat baginya menenangkan pikirannya.
Mengetahui Pamannya pergi karena salah satu ucapan tetangga yang sangat tidak enak hati. Suasana hati Dyah seketika itu menjadi sangat buruk. Tanpa rasa canggung, Dyah meminta suaminya untuk keluar dari ruangannya agar ia bisa beristirahat dengan tenang.
Para tetangga perumahan Absyil, sama sekali tak protes dengan permintaan Dyah. Mereka memaklumi maksud Dyah yang memang sangat butuh istirahat.
Meskipun begitu, salah satu dari mereka terlihat tak suka dengan cara Dyah.
__ADS_1
“Mbak Dyah ini sombong sekali ya,” ucap wanita yang sebelumnya membicarakan Asyila.
“Eh, Bu. Bisa tidak Ibu jangan membuat kita banyak dosa. Kita datang kesini ini untuk melihat Mbak Dyah dan bayinya. Bukan ghibah seperti yang Ibu lakukan sekarang,” celetuk wanita yang lebih muda dari wanita yang banyak bicara itu.
“Benar kata Mbak Tri, sebagai wanita yang lebih tua dari kita-kita ini, Ibu Ti lebih mengayomi kita,” ujar wanita bernama Weni.
Mereka pun pulang bersama-sama dan meminta Ibu Ti untuk tidak pulang bersama mereka, karena sikap Ibu Ti yang begitu menjengkelkan sehingga mereka tidak bisa berlama-lama menengok bayi mungil yang baru lahir.
Ema yang baru saja dari kantin, terheran-heran ketika memasuki ruangan Dyah yang sudah sepi.
“Loh, tetangga kita mana?” tanya Ema terheran-heran karena baru saja ia pergi dan ketika tiba malah sudah tiada ada siapapun. Kecuali, Dyah dan bayinya.
Dengan kesal, Dyah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan membuat Paman kesayangannya pergi.
“Memang mulut emak-emak ya begitu, tidak bisa dijaga. Hufftt.. rasanya aku ingin sekali menendang Bu Ti jauh-jauh dari perumahan Absyil,” tegas Ema yang terlihat sangat geram dengan tingkah laku Ibu Ti yang terkenal banyak omong serta sangat senang membicarakan keburukan orang lain.
“Oeeekk... Ooeeekkk!”
Bayi mungil itu kembali menangis dan dengan hati-hati Ema menggendong bayi mungil Dyah. Kemudian, memberikannya ke pada Dyah agar segera disusui.
“Haus ya sayang?” tanya Dyah dan dengan hati-hati menyusui buah hatinya agar tak tersedak.
“Dyah, kalau dipikir-pikir kasihan sekali ya Pak Abraham,” tutur Ema lirih agar bayi mungil itu tak terganggu dengan ucapannya.
Dyah tertunduk sedih, kematian Aunty-nya masih membekas dihatinya dan sampai saat ini ia masih merasa bersalah atas meninggalnya Aunty kesayangannya di laut lepas.
“Kalau saja aku tidak berkeinginan untuk jalan-jalan keluar rumah. Aunty Asyila pasti masih ada disini dan menemaniku disini.
Maafkan Dyah Aunty, tolong maafkan Dyah,” ucap Dyah dengan mata berkaca-kaca.
“Sssuutt...” Ema dengan hati-hati menghapus air mata Dyah dan meminta Dyah untuk tidak menangis karena sedang menyusui bayi mungil tersebut.
“Anggap saja semua ini sudah takdir dari Allah untuk Asyila, Dyah. Aku sangat yakin, Asyila saat ini sedang melihat kita dan tersenyum melihat kita,” terang Ema dari segera menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir.
“Sampai kapan kita harus merahasiakan kematian Aunty Asyila dari keluarga kita. Kedua orang tuaku sampai detik ini belum mengetahui kematian Aunty Asyila,” tutur Dyah dengan bibir gemetar berusaha untuk tidak menangis.
“Sampai ada waktu yang tepat untuk kita mengatakannya kepada keluarga kita. Sebenarnya, Mamiku dan juga Ibu mertuaku berulang kali memintaku untuk membawa Asyila ke rumah. Akan tetapi, aku selalu berbohong dan mengatakan kalau Asyila sangatlah sibuk,” terang Ema yang sangat merindukan sosok sahabatnya yang sudah Ema anggap sebagai saudara kandungnya.
Fahmi dan kedua orang tua Dyah masuk ke dalam ruangan Dyah. Mereka bertiga tertegun melihat Dyah dan Ema yang tengah menangis bersama.
“Kalian kenapa menangis?” tanya Yeni yang mulai panik.
“Kami tidak apa-apa, Ma,” jawab Dyah yang terpaksa berbohong kepada Mamanya.
“Benar kalian tidak apa-apa?” tanya Yeni memastikan dan mengambil alih menggendong cucunya yang menggemaskan itu.
“Iya, Ma. Kami baik-baik saja,” balas Dyah.
__ADS_1