Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Belajar Bersama


__ADS_3

Sore hari.


Abraham mengajak kedua buah hatinya, Ayah mertuanya, Pak Udin serta para bodyguard untuk melaksanakan sholat ashar di masjid.


Sementara Asyila, Arumi dan juga Bela melaksanakan sholat ashar di rumah saja.


Setelah melaksanakan sholat ashar berjama'ah, Asyila dan Arumi bergegas menuju dapur untuk membuat menu buka puasa.


Sementara Bela, ditugaskan untuk menjaga Bayi mungil Asyila yang tengah terlelap di ruang keluarga.


“Ibu, biar ikan laut ini Asyila yang mengolahnya,” tutur Asyila dan mengambil alih membersihkan ikan laut tersebut untuk dijadikan ikan goreng sambal balado.


“Karena Asyila sudah mengambil alih, kalau begitu Ibu akan memasak menu yang lainnya ya,” tutur Arumi sambil melangkah menuju kulkas untuk mengambil sayuran di dalamnya.


Asyila tersenyum lebar pada Ibunya yang tengah membuka kulkas dan kembali fokus dengan ikan laut dihadapannya.


“Sebentar lagi lebaran, apakah kalian akan kembali ke Bandung?” tanya Arumi yang terdengar sedih.


Asyila mencuci tangannya dan berjalan mendekati Ibunya, Arumi.


“Ibu jangan sedih, bukankah kami cukup lama tinggal bersama Ayah dan Ibu? Lagipula, kedepannya kita juga akan kembali bertemu,” tutur Asyila sambil menyadarkan kepala di bahu Ibunya.


“Ya beginilah nasib punya anak perempuan satu-satunya, kalau sudah menikah pasti akan ikut suaminya dan orangtuanya ditinggal,” tutur Arumi.


Asyila terkekeh kecil mendengar penuturan Ibunya tersebut.


“Siapa yang meninggalkan Ayah dan Ibu? Bukankah sebelum Asyila dan Mas Abraham sudah pernah mengajak Ayah serta Ibu untuk tinggal bersama,” terang Asyila.


“Iya memang itu benar, tapi mau bagaimana lagi? Kami tidak bisa meninggalkan rumah yang sudah sangat banyak memiliki kenangan,” balas Asyila.


“Kalau begitu, Ibu tidak boleh sedih. Kalau Ibu rindu, insya Allah kami akan setiap hari menghubungi Ibu dan juga Ayah. Akan tetapi, kalau untuk bertemu kamu tidak bisa setiap saat, Ibu,” tutur Asyila.


Arumi menoleh ke arah putrinya dan memeluk putrinya seketika itu juga.


“Maaf ya sayang, Ibu hanya ingin terus dekat dengan kalian. Ibu tidak bermaksud untuk egois, kalau dulu masih ada Nenek Erna sudah pasti Ibu tidak terlalu kesepian seperti ini,” terang Arumi yang juga sangat merindukan Nenek dari menantunya.


“Asyila merasa sangat senang sekaligus bangga mengenal sosok Nenek Erna. Meskipun, Nenek Erna sifatnya sangat jahil dan kadangkala mengesalkan, tetap saja Nenek Erna adalah sosok yang sangat Asyila hormati. Kapan-kapan kita pergi ke pemakaman ya Ibu, Asyila juga ingin mengunjungi almarhum putra ketiga kami,” ujar Asyila pada Ibunya.


“Iya sayang, kita akan pergi bersama-sama mengunjungi mereka,” balas Arumi dan melepaskan pelukannya untuk kembali melanjutkan kegiatan memasak mereka.


Saat Asyila dan Arumi sedang sibuk memasak, terdengar suara ucapan salam Abraham, Arsyad, Ashraf dan juga Herwan.


“Assalamu'alaikum!” ucap mereka berempat.


Arumi dan Asyila saat itu juga meninggalkan pekerjaan mereka untuk segera menyambut kedatangan mereka berempat yang baru saja pulang dari Masjid untuk melaksanakan sholat ashar berjama'ah.


“Wa’alaikumsalam,” balas Arumi dan Asyila dengan senyum terbaik mereka.


Arumi dan Asyila mencium punggung tangan suami mereka masing-masing. Kemudian, Arsyad dan juga Ashraf mencium punggung tangan Ibu serta Nenek mereka secara bergantian.


“Karena kalian sudah pulang, Ibu dan Asyila mau kembali memasak di dapur,” tutur Arumi dan bergegas kembali ke dapur untuk melanjutkan tugas mereka untuk memasak menu berbuka puasa.

__ADS_1


Arsyad berlari kecil menyusul Bundanya yang saat itu sudah berada di dapur.


“Arsyad ngapain datang kemari?” tanya Asyila pada putra sulungnya.


“Mau membantu Bunda dan Nenek memasak,” jawab Arsyad.


“Tidak usah sayang, Arsyad di ruang keluarga saja temani Kak Bela menjaga Adik Akbar. Biar Bunda dan Nenek Arumi memasak makanan untuk kita berbuka puasa,” tutur Asyila sambil membelai lembut rambut Arsyad.


“Arsyad juga mau membantu Bunda, kata ustadz dan Abi yang mengajar Arsyad harus selalu menolong orang tua,” terang Arsyad pada Bundanya.


“Apa yang dikatakan oleh Ustadz dan juga Abi memanglah benar sayang. Tetapi, untuk kali ini Arsyad turuti perintah Bunda ya!”


“Baik, Bunda. Arsyad ke ruang keluarga ya temani Kak Bela menjaga Adik Akbar,” balas Arsyad dan melenggang pergi menuju ruang keluarga.


Setibanya di ruang keluarga, Arsyad menghampiri adik kecilnya yang saat itu tengah terlelap. Setelah melihat adik bayinya tidur pulas, Arsyad pun mengambil sebuah buku yang dulu sering ia baca. Entah berapa kali sudah dibaca oleh Arsyad dan sekalipun dirinya tak pernah bosan membaca buku cerita tersebut.


“Itu apa Arsyad?” tanya Bela pada Arsyad yang tengah membuka halaman buku cerita miliknya.


“Buku cerita punya Arsyad, Kak Bela mau pinjam?” tanya Arsyad pada Bela yang telah duduk tepat disebelahnya.


Bela dengan cepat menggelengkan kepalanya, ia masih belum bisa membaca dan baru bisa mengeja itu pun sangat terbatas.


“Kenapa Kak Bela tidak mau membaca buku cerita Arsyad? Arsyad bahkan sering membacanya berkali-kali dan tidak pernah bosan,” balas Arsyad.


Bela menggigit bibirnya sendiri dan menoleh ke arah Arsyad.


“Aku belum bisa membaca,” ungkap Bela dengan perasaan sedikit malu karena belum bisa membaca.


“Benarkah? Kalau begitu biar Arsyad yang mengajari Kak Bela membaca. Kak Bela mau belajar membaca bersama Arsyad?” tanya Arsyad menawarkan diri untuk mengajari Bela membaca.


“Kak Bela lihat baik-baik ya huruf abjad yang Arsyad tunjuk, Oya Kak Bela sudah hafal huruf abjad dari A sampai Z?” tanya Arsyad.


“Belum sepenuhnya hafal,” jawab Bela apa adanya.


“Kak Bela tunggu disini sebentar, Arsyad akan mengambil pensil dan juga buku di dalam kamar,” tutur Arsyad dan seketika itu juga berlari menuju kamarnya untuk mengambil alat tulis agar mempermudahkan dirinya mengajari Bela.


Bela sedikit gugup karena dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia takut tidak bisa membaca sesuai dengan harapan Arsyad yang ingin mengajarinya agar bisa membaca.


“Kak Bela, tunggu sebentar ya. Arsyad akan menuliskan huruf abjad dari A sampai Z dulu,” terang Arsyad yang baru saja tiba dan dengan semangat menuliskan huruf abjad dari A sampai Z agar Bela bisa lebih mudah menghafal huruf-huruf abjad tersebut.


Bela terus saja memperhatikan bagaimana Arsyad menulis huruf-huruf abjad tersebut dengan sangat bagus.


“Kak Arsyad!” panggil Ashraf yang tiba-tiba datang dan saat itu juga duduk di samping Sang Kakak.


“Iya, Adik Ashraf. Ada apa?” tanya Arsyad sambil menoleh ke arah lawan bicaranya.


“Kak Arsyad sedang apa? Ayo temani Ashraf bermain diluar!” pinta Ashraf mengajak Kakaknya untuk menemaninya bermain di halaman depan rumah.


“Bermainnya besok saja ya Adik Ashraf. Kak Arsyad dan Kak Bela mau belajar bersama, Ashraf juga mau ikut belajar bersama?” tanya Arsyad pada adiknya.


Ashraf mengulum bibirnya dan setuju untuk ikut belajar bersama.

__ADS_1


“Adik pintar, kalau gitu Kak Arsyad lanjut menulisnya ya,” ujar Arsyad dan kembali melanjutkan tugasnya menulis huruf.


Setelah selesai, Arsyad meminta Bela untuk fokus memperhatikan buku tulis miliknya yang sudah ia tulis huruf-huruf abjad.


“Sekarang Kak Bela ikuti ucapan Arsyad!” pinta Arsyad.


Bela pun mengikuti semua ucapan Arsyad yang tengah menyebutkan satu-persatu huruf-huruf abjad tersebut.


Tanpa diketahui oleh ketiga anak-anak tersebut, Abraham memperhatikan bagaimana Arsyad memiliki jiwa serta sikap memimpin yang sangat baik. Abraham sebagai Ayah benar-benar merasa sangat bangga dengan pribadi putra sulungnya itu.


“Ya Allah, terima kasih telah memberikan kami buah hati yang begitu baik kepribadiannya, semoga Ashraf dan juga Akbar bisa seperti Kakak mereka, Arsyad,” tutur Abraham bermonolog.


Beberapa saat kemudian.


Arsyad tersenyum lebar ketika mengetahui bahwa Bela perlahan mulai mengenali huruf-huruf abjad.


“Besok kita belajar lagi ya Kak Bela, Arsyad yakin Kak Bela akan cepat bisa membaca secara fasih,” ucap Arsyad dan bertepuk tangan dengan penuh semangat untuk Bela.


Arumi dan Asyila telah selesai memasak menu berbuka puasa. Kedua wanita itu terlihat sangat senang dan memutuskan untuk beristirahat di ruang tamu sekaligus berbincang-bincang dengan Herwan serta Abraham.


“Mas kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu?” tanya Asyila yang sudah duduk tepat disamping suaminya.


“Saat ini Mas sangat senang, Arsyad putra sulung kita benar-benar anak yang hebat. Mas bangga dengan Arsyad,” tutur Abraham setengah berbisik.


“Benarkah? Memangnya apa yang telah dilakukan oleh Arsyad sampai-sampai Mas sangat senang begitu?”


“Kalau Syila penasaran, pergilah ke ruang keluarga dan lihatlah apa yang sedang dilakukan oleh Arsyad!”


“Baiklah, Asyila ke ruang keluarga dulu kalau begitu. Asyila mau melihat apa yang sebenarnya terjadi,” tutur Asyila dan berjalan menuju ruang keluarga dengan penuh semangat.


Saat Asyila ingin mendekat, ia pun cepat-cepat menghentikan langkahnya dan setengah bersembunyi. Dikarenakan saat itu Arsyad sedang mengajarkan Bela membaca.


“Kita sudahi dulu ya Kak Bela, Arsyad tidak ingin Kak Bela malah bosan karena terus belajar,” tutur Arsyad.


Bela dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Jangan dulu Arsyad, Aku suka kamu ajari membaca. Lihatlah, sekarang aku sudah bisa menyebutkan huruf-huruf abjad dari A sampai Z karena kamu,” balas Bela.


“Tidak. Itu bukan karena Arsyad, tapi karena kemauan dari Kak Bela. Makanya Kak Bela bisa cepat menghafal huruf-huruf abjad yang Arsyad ajari,” balas Arsyad.


“Masya Allah, pantas saja Mas Abraham berkata seperti tadi dan memuji kepribadian Arsyad,” tutur Asyila dengan tatapan kagum.


Bayi Akbar tiba-tiba menangis dan dengan cepat Asyila menghampiri bayi mungilnya.


“Sudah-sudah tidak apa-apa, kalian teruskan saja belajarnya. Bunda akan membawa adik kalian ke kamar,” ujar Asyila yang tidak ingin mengganggu Arsyad, Ashraf dan juga Bela yang tengah belajar bersama.


Asyila pun menggendong bayi mungilnya dan melangkah pergi meninggalkan mereka.


Setibanya di dalam kamar, Asyila mulai menyusui bayi mungilnya.


“Sayang, habis minum susu mandi ya. Sudah jam segini, Bunda hampir lupa memandikan Akbar. Maafin Bunda ya sayang,” ucap Asyila pada bayi mungilnya yang tengah menyusu.


Abraham yang saat itu tengah berbincang-bincang di ruang tamu, memutuskan untuk beranjak dari duduknya dan menemui kedua putranya.

__ADS_1


“Lagi nonton ya sayang?” tanya Abraham pada Arsyad dan juga Ashraf.


“Iya Ayah!” seru mereka dengan sangat kompak.


__ADS_2