
Pagi hari.
Asyila tengah bersiap-siap untuk pergi ke pasar dengan menggunakan motor seorang diri. Sebenarnya, Abraham ingin sekali mengantarkan sang istri berbelanja di pasar. Akan tetapi, Asyila bersikeras untuk pergi sendirian karena tak ingin membuat suaminya kelelahan wara-wiri di dalam pasar.
“Mas, Asyila pamit pergi ke pasar. Kalau lapar, Mas tinggal makan saja masakan yang sudah Asyila masak. Jangan menunggu Asyila, karena kemungkinan Asyila belanjanya cukup lama,” ucap Asyila sambil menyentuh pipi suaminya agar Sang suami bisa mengerti dengan apa yang dilakukan olehnya.
“Mas tidak bisa kalau seperti itu, tetap saja Mas akan menunggu kedatangan Syila,” balas Abraham sambil menyentuh pipi istri kecilnya.
Asyila menghela napasnya dan bergegas pamit untuk segera pergi ke pasar.
Wanita muda itu pamit dan tak lupa memberikan kecupan mesra di bibir suaminya.
Abraham melambaikan tangannya ke arah Sang istri yang perlahan pergi meninggalkan perumahan Absyil.
Diperjalanan menuju pasar, Asyila selalu menoleh ke arah kiri dan kanan. Terlihat jelas bahwa Asyila menyukai yang namanya udara pagi dan juga pemandangan di sekitarnya.
Ketika Asyila tengah melakukan perjalanan, samar-samar Asyila melihat seorang Ibu paruh baya tengah diganggu oleh beberapa anak muda. Tanpa pikir panjang, Asyila mengendarai motornya ke arah Ibu tersebut.
“Tin! Tin!”
Suara tersebut langsung membuat Seorang Ibu dan anak muda lainnya menoleh ke arah Asyila.
“Kalian sedang ngapain?” tanya Asyila yang terlihat sangat galak.
“Kamu yang ngapain? Seharusnya pergi ke masjid untuk pengajian, ngapain kemari?” tanya salah satu dari anak muda karena melihat pakaian Asyila yang serba tertutup.
“Kalian berlima ini seperti masih anak-anak sekolah, kenapa kalian mengganggu Ibu ini? Apa mungkin ini adalah Nenek salah satu dari kalian berlima,” tutur Asyila menerka-nerka.
“Enak saja bilang Nenek ini adalah Nenek kami,” ledek salah satu dari mereka yang terlihat seperti ketuanya.
Asyila tidak bisa sabar melihat anak-anak muda yang kurang ajar itu. Asyila pun mendekat dan membawa Nenek itu ke arahnya.
“Kamu mau ngapain?” tanya salah satu dari mereka dan mencoba menarik tangan Nenek itu.
Dengan cepat Asyila melakukan penyerangan hingga anak muda yang menarik tangan wanita paruh baya itu terjengkang.
“Sial!” teriak anak muda yang jatuh terjengkang.
Keempat anak muda itu geram dan mencoba memukuli Asyila. Akan tetapi, mereka tidak tahu bahwa yang mereka lawan adalah wanita yang kuat yang sudah pernah mengalami hal yang hampir membunuhnya.
“Kita serang bersama-sama biar wanita ini kapok!” ajak salah satu dari mereka.
Sebelum mereka mendekat, Asyila meminta wanita paruh baya itu untuk bergeser menjauh. Dengan penuh ketakutan, wanita paruh baya itu mengiyakan.
__ADS_1
“Mbak, mending kamu pergi dari sini! Ngapain ikut campur urusan kami?” tanya salah satu dari mereka sambil menahan teman yang lain untuk menyerang Asyila.
“Kalian seharusnya yang pergi dari sini, tidak sepantasnya bagi kalian mengganggu orang tua yang seharusnya kalian hormati. Sebenarnya, apa yang kalian inginkan dari Nenek ini?” tanya Asyila penasaran.
“Kami tidak ingin apa-apa, kami hanya ingin mengantarkan nenek ini pulang.”
Asyila mengernyitkan keningnya dengan tatapan tak percaya. Sudah jelas-jelas mereka ingin mengambil sesuatu dari wanita paruh baya itu.
“Kalian pikir saya gampang untuk dibohongi?” Kali ini Asyila menatap mereka dengan penuh kemarahan.
Mereka berlima saling tukar pandang dan tanpa pikir panjang, mereka menyerang Asyila.
Asyila sama sekali tidak takut, justru ia terlihat sangat santai dan membuat wanita paruh baya itu ketakutan serta khawatir.
Pagi itu, kebetulan sekali tidak banyak orang yang berlalu lalang. Kemungkinan, para pengendara lebih banyak melewati jalan raya. Sementara Asyila, biasanya melewati jalan lain yang bisa dikatakan sepi.
Asyila dengan gesit menghindar dari tendangan serta pukulan mereka. Semakin hari, kekuatan Asyila semakin kuat dan juga gesit. Tentu saja karena Asyila sering latihan fisik di rumah dengan menggunakan alat khusus bela diri yang sudah ia beli jauh-jauh hari. Meskipun begitu, Abraham sama sekali tak mengetahui benda-benda yang digunakan oleh istri kecilnya untuk latihan memperdalam ilmu beladiri.
Wanita paruh baya yang melihat hal itu, terus saja menjerit ketakutan. Ia berusaha meminta tolong, tapi sayangnya tidak ada di sekitar tempat itu.
Mereka berlima semakin geram dan salah satu dari mereka mencoba melemparkan batu ke arah Asyila. Melihat hal itu, Asyila sudah tak tahan lagi. Ia sebenarnya hanya ingin menghindar dan tak ingin berbuat kasar kepada mereka, akan tetapi mereka malah semakin kurang aja. Akhirnya, Asyila mengeluarkan jurusnya untuk memberikan mereka pelajaran.
“Kali ini, saya tidak akan mengampuni kalian berdua,” tegas Asyila.
Asyila menarik salah satu tangan mereka dan dengan gerakan cepat, Asyila mematahkan salah satu jari tangan tersebut.
Mendengar teriakkan tersebut, tak membuat Asyila merasa kasihan. Justru, Asyila ingin mereka semua merasakan bagaimana rasanya jika salah satu jari tangan mereka patah.
“Sakit Makkkk!” teriak remaja yang jari tangannya baru saja dipatahkan oleh Asyila.
Asyila tersenyum dengan tatapan sinis dan menarik salah satu remaja tersebut dengan begitu cepat.
“Aaaakkkhhh!” Lagi-lagi teriakkan itu kembali terdengar.
Sisa tiga yang belum merasakan bagaimana sakitnya bila jari mereka dipatahkan.
“Jangan lari!” teriak Asyila ketika melihat ke-tiganya ingin kabur.
Asyila seketika itu bergerak mendekat dan dengan mudahnya mematahkan salah satu jari-jari mereka dengan mudah. Seperti anak kecil yang tengah mematahkan sesuatu hal dengan mudah.
“Sekarang, aku beri kesempatan. Kalian pulang dan jangan ulangi lagi, atau saya akan melaporkan kalian kepada pihak berwajib. Meskipun saya tahu kalian masih dibawah umur,” ucap Asyila.
Mereka saat itu juga berlari dengan penuh kesakitan. Bahkan, air mata mereka mengucur deras karena sakit yang tengah diderita mereka.
__ADS_1
“Nenek kenapa berteriak? Saya tidak kenapa-kenapa,” ucap Asyila sambil menyentuh bahu wanita paruh baya itu.
“Ya Allah, Gusti. Nenek tadi sangat takut, Mbak tidak kenapa-kenapa 'kan?” tanya wanita paruh baya itu.
Asyila tersenyum ramah dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
“Mbak tadi hebat sekali, macam Bruce Lee,” pujinya.
Asyila terkekeh geli ketika membayangkan bagaimana dirinya menjadi seperti Bruce Lee.
Berpakaian ketat berwarna kuning. 😅
“Saya Asyila, Nek. Bukan Bruce Lee,” jelas Asyila.
“Nenek hanya bercanda saja, terima kasih sudah membantu Nenek. Mereka dari dulu sudah seperti itu, sangat suka mengambil uang milik Nenek,” terangnya.
“Maksud Nenek mereka sering mengambil paksa uang Nenek? Apakah Nenek mengenali mereka?” tanya Asyila penasaran.
Wanita paruh baya itu tanpa pikir panjang menceritakan kenakalan mereka berlima yang cukup terkenal di daerahnya. Jarak rumah wanita paruh baya dengan anak muda itu tidaklah jauh. Bahkan, berulang kali wanita paruh baya itu meminta pertolongan kepada RT, RW atau perangkat desa lainnya. Akan tetapi, mereka sama sekali tidak memedulikan nenek tersebut.
Hal tersebut dikarenakan, mereka berlima bisa dikatakan adalah anak-anak dari orang berpengaruh di desanya.
Mendengar keterangan tersebut, membuat telinga Asyila panas. Dadanya sesak dan ingin sekali membuat perhitungan yang lebih parah lagi untuk mereka berlima.
“Nenek tenang saja, saya sendiri yang akan mencarikan keadilan untuk Nenek,” ucap Asyila yang terlihat begitu serius dengan ucapannya.
“Tidak usah, Mbak. Nenek tidak ingin merepotkan siapa-siapa,” balas Wanita paruh baya itu.
“Saya sama sekali tidak merasa direpotkan, justru membantu Nenek adalah kewajiban saya sebagai manusia. Kalau boleh tahu, nama nenek siapa dan Nenek tinggal dengan siapa saat ini?” tanya Asyila penasaran.
“Panggil saja saya Nenek Inem, saya dulunya adalah orang Jawa tengah. Lebih tepatnya lahir di Boyolali dan setelah menikah tinggal disini. Akan tetapi, saya sekarang tinggal seorang diri dan sehari-hari pekerjaan saya adalah buruh cuci piring,” terang Nenek Inem.
“Cuci piring? Di usia yang sudah tua begini?” tanya Asyila dengan mata berkaca-kaca, “Memangnya suami dan anak-anak nenek dimana?” tanya Asyila semakin penasaran sambil menahan air matanya.
“Suami nenek sudah meninggal dunia 3 tahun yang lalu dan nenek sudah tidak punya anak lagi, dulu nenek sempat melahirkan seorang bayi perempuan. Tapi, belum genap seminggu bayi nenek meninggal dunia karena demam tinggi dan saat itu Nenek benar-benar tidak ada uang. Bahkan, untuk biaya persalinan saja Nenek harus meminjam uang,” jelas Nenek Inem.
Asyila tak bisa menahan air matanya, air mata yang sudah ia tahan akhirnya jatuh juga. Seketika itu, Asyila memeluk tubuh Nenek Inem dan tiba-tiba mengingatkannya dengan sosok nenek Erna tercinta.
“Nenek tidak perlu sedih, bagaimanapun sekarang ada Asyila yang akan menjaga Nenek. Nenek inem tidak perlu takut dengan anak-anak nakal itu, Asyila akan memberikan keadilan untuk Nenek dan meminta mereka untuk meminta maaf atas apa yang telah mereka lakukan ke nenek Inem,” tegas Asyila.
“Tapi....”
“Ssuutt.... Nenek Inem pantas mendapatkan keadilan,” ucap Asyila yang sengaja memotong ucapan Nenek inem.
__ADS_1
❤️
Thanks untuk kalian semua!!🙏 Like ❤️komen 👇 and like ❤️