
Dyah bangun dari tidurnya dan cepat-cepat bergegas ke kamar mandi untuk segera mandi, ia baru ingat jika setelah melaksanakan sholat subuh harus sudah siap, agar segera sampai ke Ibukota Jakarta.
“Sayang, cepat bangun. Langsung mandi dan setelah itu sholat subuh,” ucap Yeni dari luar pintu.
Dyah sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Mamanya, dikarenakan ia saat itu sudah berada di dalam kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.
Beberapa saat kemudian.
Dyah telah selesai melaksanakan sholat subuh di kamarnya seorang diri, kemudian ia merapikan alat sholatnya terlebih dahulu. Barulah ia merias diri agar tetap
terlihat cantik dan tiba-tiba wajah Fahmi muncul begitu saja di dalam pikirannya..
“Ayolah, Dyah. Kenapa kamu malah memikirkan Mas Fahmi? Apapun yang terjadi, kamu tidak boleh mengatakan perasaanmu duluan. Pokoknya harus Mas Fahmi duluan,” ucap Dyah yang malah berbicara sendiri dan bukannya cepat-cepat merias diri untuk segera berangkat menuju Jakarta.
“Tok... tok!”
“Dyah, sudah siap belum sayang? Mama dan Papaku sudah siap ini,” ucap Yeni dari balik pintu.
“Iya Ma, sebentar lagi Dyah keluar!” seru Dyah dan kembali melanjutkan merias wajahnya.
Akhirnya Dyah telah selesai dan kedua orangtuanya kompak menggelengkan kepala mereka.
“Sayang, Mama dan Papa tahu bahwa kamu masih gadis. Akan tetapi, hampir dua jam lamanya kami menunggu kamu,” ucap Yeni sambil memijat kepalanya.
“Ya Maaf, Mas. Namanya juga wanita, dimana-mana wanita itu dandan lama sekali. Bahkan, ada yang lebih dari dua jam,” jawab Dyah.
“Sudah jangan bahas lama tidaknya para wanita merias diri. Sekarang, kamu masuklah ke mobil duluan!” perintah Yeni.
Dyah memanyunkan bibirnya sambil menarik koper kecil miliknya dan tangan lainnya membawa tas berisi laptop.
“Papa ini kebiasaan, seharusnya mesin mobil dimatikan. Bagaimana jika ada pencuri?” tanya Dyah dan cepat-cepat masuk ke dalam mobil.
Dyah sama sekali tidak menyadari bahwa Fahmi juga ikut bersama mereka dan sekarang berada di depan, bertugas mengemudikan mobil.
“Selamat pagi!” sapa Fahmi.
“Astagfirullahaladzim!” teriak Dyah yang sangat terkejut karena dari awal masuk dirinya tidak menyadari bahwa Fahmi sudah berada di dalam mobil. Ditambah, keadaan di dalam mobil tidak terlalu terang, “Mas Fahmi kenapa ada di dalam mobil?” tanya Dyah dan refleks memukul lengan Fahmi karena telah membuatnya terkejut.
“Aku minta maaf, sebenarnya kemarin malam Papa menyuruhku untuk datang kemari setelah melaksanakan sholat subuh dan pas sampai disini, Papa menyuruhku untuk ikut bersama kalian,” jawab Fahmi.
__ADS_1
“Benarkah?” tanya Dyah memastikan.
“Kalau tidak yakin, coba tanyakan saja kepada Mama dan Papa,” balas Fahmi.
Dyah merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh kedua orangtuanya, ia pun berpikir keras dan perlahan ia pun tahu bahwa sebenarnya kedua orangtuanya sengaja mendekatkan Fahmi kepadanya.
Dyah tersenyum tipis yang artinya bahwa ia setuju dengan apa yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
Mama dan Papa sekarang sedang main jodoh-jodohan ternyata. Hmmm... Kalau begitu, aku juga akan berpura-pura tidak tahu apa-apa, sampai akhirnya Mas Fahmi sendiri yang mengatakannya.
Dyah menghela napasnya dan keluar dari mobilnya, ia pun pindah ke kursi tengah dan berpura-pura sedang ngambek.
“Kamu tidak suka ya kalau aku ikut ke Jakarta untuk menjenguk Paman?” tanya Fahmi yang terlihat sedih karena Dyah tiba-tiba pindah ke kursi.
“Tidak,” jawab Dyah singkat sambil terus menampilkan wajah kesalnya.
Yeni berjalan mendekat dan membuka pintu tengah, rupanya ada Dyah yang tengah duduk sambil melipat kedua tangannya di dada.
“Kamu kenapa? Cepat pindah!” perintah Yeni.
Dyah mengangkat sebelah alisnya dan dugaannya sangat tepat, kedua orangtuanya menang sengaja menjodohkan dirinya dengan Fahmi.
“Dyah mau disini saja, Ma. Lebih nyaman dan Dyah juga bisa tidur nyenyak,” ucap Dyah yang ingin melihat ekspresi wajah Mamanya.
Disaat yang bersamaan, Temmy masuk ke dalam mobil setelah mengunci pintu rumah. Temmy pun sama dengan Yeni yang menyuruh Dyah untuk pindah ke kursi depan agar bisa duduk sejajar dengan calon menantu mereka.
“Huh... Ya sudah lah,” balas Dyah berpura-pura pasrah dan sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam, Dyah sangat senang bisa duduk sejajar dengan Fahmi.
“Ayo Nak Fahmi!”
Fahmi mengiyakan dan mulai mengendarai mobil menuju Ibukota Jakarta.
Dyah curi-curi pandang ketika Fahmi tengah fokus menyetir, rasanya ia sangat senang karena ternyata pria disampingnya adalah calon suaminya.
Jadi begini ya rasanya bisa dekat dengan calon suami sendiri, wkwkw..
Haduh, apakah Aunty Asyila dan juga Ema merasakan hal seperti ini?
Huh, tapi tetap saja yang paling sweet adalah Paman dan Aunty.
__ADS_1
Dyah tanpa sadar tersenyum ke arah Fahmi dan seketika itu juga Fahmi pun melirik.
Deg! Deg! Deg!
Keduanya sama-sama menjadi salah tingkah, Yeni dan Temmy tertawa kecil melihat putri kesayangan mereka serta calon menantu mereka saling canggung.
Fahmi hampir saja kehilangan kendali karena ada sebuah sampah kresek melintas dihadapannya, gadis disampingnya benar-benar membuatnya menjadi tak tenang.
“Nak Fahmi hari ini tidak repot 'kan? Maafkan Papa ya,” ucap Temmy keceplosan menyebut dirinya “Papa”
“Papa? Papa juga setuju kalau Mas Fahmi memanggil panggilan yang sama seperti Dyah memanggil Papa?” tanya Dyah yang berpura-pura protes.
“Ya apa salahnya? Lagipula Papa tidak punya anak laki-laki, ya wajar kalau Nak Fahmi memanggil panggilan yang sama seperti kamu memanggil Papa,” jawab Temmy dengan sangat pintarnya.
“Oh, begitu,” balas Dyah singkat, “Kalau begitu, Mas Fahmi jadikan saja anak angkat Papa dan Mama,” imbuh Dyah yang lagi-lagi ingin melihat respon kedua orangtuanya.
“Enak saja,” celetuk Yeni dan Temmy secara kompak.
“Mama dan Papa sekarang sudah tidak sayang Dyah, mentang-mentang ada Mas Fahmi yang sudah dianggap anak sendiri,” tutur Dyah.
“Kalau menjadi suamimu, bagaimana?” tanya Fahmi yang lolos begitu saja dari mulutnya.
Fahmi terkejut dengan ucapannya dan segera menepuk-nepuk mulutnya seperti yang biasa dilakukan oleh Dyah ketika sedang keceplosan.
Dyah, Yeni dan juga Temmy terkejut dengan pertanyaan Fahmi yang secara tiba-tiba.
“Soal itu, Dyah ikut Mama dan Papa,” balas Dyah.
“Setuju!” seru Yeni Dan Temmy secara kompak.
Dyah terperangah dan segera menoleh ke arah kedua orangtuanya yang duduk di kursi tengah.
“Mama dan Papa tidak biasanya kompak seperti ini, pokoknya yang tadi Dyah anggap hanya candaan saja,” ucap Dyah.
Fahmi menghela napasnya dengan sangat berat karena mendengar apa yang dikatakan oleh Dyah.
Apakah tadi termasuk penolakan secara halus?
Kenapa Dyah menganggap apa yang aku katakan tadi hanyalah candaan saja.
__ADS_1
Dyah berusaha menyembunyikan tawanya, entah kenapa ia sangat senang mengerjai orang lain.
Tenang saja, Mas Fahmi. Itu tadi hanya candaan Dyah saja, sebenarnya Dyah telah menerima Mas sebagai calon suami Dyah. Akan tetapi, Mas Fahmi harus bicara dengan Dyah empat mata dan bukan delapan mata.