
Fahmi mengendarai mobil milik Temmy dengan begitu tak berdaya, ia terlihat tak semangat setelah mendengar penolakan dari Dyah.
Dyah Diam-diam melirik ke arah Fahmi untuk melihat ekspresi wajah dari calon suaminya. Ia sendiri tidak ada niat untuk menolak lamaran dari Fahmi. Akan tetapi, ia malu untuk menerima lamaran tersebut dihadapan keluarganya.
“Mas Fahmi!” panggil Dyah.
“Iya, Dyah,” balas Fahmi sambil melirik sekilas gadis yang ia sukai dari beberapa saat lalu telah menolak lamarannya.
Fahmi berusaha untuk tidak menangis, ia tidak ingin terlihat lemah apalagi cengeng dihadapan Dyah.
“Mas Fahmi,” ucap Dyah kembali memanggil Fahmi.
“Iya, Dyah ada apa?” tanya Fahmi yang kini sama sekali tak melirik ke arah Dyah.
“Mas Fahmi marah ya dengan Dyah?”
“Aku sama sekali tidak marah, hanya saja aku sangat sedih karena mimpiku untuk memperistri mu tidak terwujud,” terang Fahmi.
“Mimpi Mas Fahmi tidak akan menjadi sia-sia, karena Dyah menerima lamaran Mas Fahmi,” jelas Dyah.
Ciiitttt!
Fahmi refleks mengerem laju mobil secara mendadak dan hampir saja ia menyerempet sepeda motor di samping mobil.
“Mas Fahmi yang rem mendadak, bisa-bisa kita tidak jadi menikah,” ucap Dyah.
Rasa sedih Fahmi seketika itu menghilang, kini ia merasakan kebahagiaan berkali-kali lipat.
“Mas jangan hanya diam seperti itu, seharusnya Mas Fahmi membalas ucapan Dyah,” ucap Dyah.
Fahmi mengusap wajahnya dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia mengucapkan syukur Alhamdulillah karena Dyah benar-benar menerima lamarannya.
“Mas, daripada bengong lebih baik kita bergegas ke minimarket atau sebangsanya. Dyah ingin sekali menikmati es bersama calon suaminya, eeeeeaaaa...” Dyah tertawa lepas ketika mengucapkan kata calon suami secara langsung dari mulutnya.
“Siap calon istri,” balas Fahmi dengan malu-malu dan melanjutkan kembali perjalanan mereka mencari es krim.
Akhirnya, setelah penantian yang cukup panjang dengan menjomblo. Dyah pun mendapatkan hadiah yang luar biasa, sebentar lagi ia dan Fahmi akan menikah.
Resmi secara agama dan juga secara hukum.
“Mas, tidak ingin Dyah dekat-dekat dengan Kevin,” ucap Fahmi yang langsung mengutarakan isi hatinya yang tak suka dengan Kevin.
“Mas tenang saja, dari dulu Dyah hanya menganggap Kevin sebagai sahabat dan tidak lebih,” terang Dyah.
“Mas tidak permasalahkan bagaimana cara pandang Dyah kepada Kevin. Akan tetapi, Mas cemburu melihat calon istri Mas didekati oleh kevin.”
Dyah tertawa lepas mendengar ucapan Fahmi yang ternyata cemburu dengan Kevin.
Mereka berdua terus berbincang-bincang dan ternyata mereka banyak memiliki kesamaan.
Ternyata Mas Fahmi orangnya sangat asik. Aku seperti melihat diriku sendiri ketika bersama dengan Mas Fahmi.
***
Malam hari.
Sudah jam 8 malam, Dyah maupun Fahmi belum juga kembali. Padahal, sudah waktunya bagi Yeni dan Temmy untuk bergegas ke rumah kediaman Abraham.
“Assalamu'alaikum,” ucap Dyah dan Fahmi sambil membawa sebuah paper bag berukuran cukup besar.
“Wa'alaikumsalam,” balas Mereka bersamaan.
Yeni mendekati Dyah dan Kevin, kemudian Yeni bertanya dengan Fahmi dengan menggunakan bahasa bibir.
__ADS_1
Fahmi tersenyum lebar sembari mengangguk kecil tanda bahwa Dyah menerima lamarannya.
“Alhamdulillah!” Yeni bertepuk tangan dengan begitu girang karena apa yang dikatakan oleh Asyila memang benar.
Asyila, Abraham dan juga Temmy pun kompak mengucapkan Alhamdulillah karena Dyah menerima lamaran dari Fahmi.
Dyah memanyunkan bibirnya dan menyenggol bahu calon suaminya.
“Mas kenapa bilang-bilang?” tanya Dyah lirih dengan malu-malu.
“Kabar bahagia tidak boleh disembunyikan,” jawab Fahmi.
“Iya deh,” balas Dyah.
Sebelum pulang ke rumah Abraham, Yeni dan Temmy berbincang-bincang sebentar dengan Abraham.
Mereka menyemangati Abraham dan juga Asyila yang tentunya lebih terpuruk ketika cobaan datang secara bersamaan.
Yeni dan Temmy memuji kesabaran Asyila yang sampai detik ini selalu berdo'a untuk kesembuhan suaminya.
Asyila memang sangat terkenal dengan kesetiannya dan itu juga yang membuat Abraham semakin mencintai istri kecil tersebut.
“Syila, kamu juga disini jangan hanya fokus mengurus suamimu. Kamu juga harus makan tepat waktu dan jangan terlalu memikirkan anak-anak. Mbak tahu, bahwa Arsyad dan Ashraf adalah anak yang pintar. Lagipula, di rumah mereka ada kakek dan nenek yang menjaga,” ucap Yeni dengan tersenyum ramah.
Dyah, Fahmi, Temmy dan juga Yeni akhirnya sama-sama meninggalkan ruang rawat Abraham. Mereka pulang ke rumah Abraham untuk beristirahat karena besok sebelum subuh, mereka akan kembali ke Bandung. Kecuali, Dyah yang masih ingin tinggal di Jakarta dan bermain-main dengan adiknya.
“kami pulang dulu, Assalamu'alaikum!”
“Wa'alaikumsalam.”
Asyila menghela napasnya dan duduk di samping suaminya.
“Mas, Alhamdulillah Dyah sudah menerima lamaran Fahmi. Itu artinya, sebentar lagi mereka akan menikah. Akan tetapi, kondisi Mas yang seperti ini....”
***
Arsyad dan Ashraf berlari menuju teras rumah, mereka berdua tahu bahwa Dyah dan yang lainnya akan tidur di rumah Ayahnya.
“Kak Dyah!” teriak Ashraf.
“Kak Dyah!” teriak Arsyad.
Kedua bocah kecil itu dengan penuh semangat berlari mendekat ke arah Dyah.
“Kak Fahmi!” Ashraf terlihat sangat senang dan dengan semangat merentangkan tangannya agar Fahmi segera menggendong tubuhnya.
“Eeuuuh... Ashraf pasti disini makan banyak ya,” ucap Fahmi yang merasakan berat badan Ashraf naik.
“Nenek masakannya enak-enak,” jawab Ashraf dengan sangat polos.
Arumi mempersilakan mereka untuk masuk dan tak lupa, sebelum masuk ke dalam rumah mereka selalu mengucapkan salam.
“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa'alaikusalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Arumi.
“Kakek Herwan kemana, Nek?” tanya Dyah.
“Sedang pulang ke rumah, mungkin sebentar lagi akan sampai,” balas Arumi.
Arumi menoleh ke arah Fahmi yang samar-samar pernah ia lihat.
“Bu-bukankah ini yang rumahnya disebelah sana itu ya,” ucap Arumi.
__ADS_1
“Iya, Bu. Ini calon suami Dyah,” terang Yeni.
“Calon suami? Masya Allah, beruntung sekali kamu Dyah,” ucap Arumi.
Dyah dan Fahmi tersenyum malu-malu, mereka saat itu terlihat begitu serasi.
Fahmi terkesiap dan segera pamit untuk beristirahat di rumahnya.
“Mas, kalau sudah sampai rumah segera kirim pesan!” pinta Dyah.
“Tenang saja, calon suamimu tidak akan kemana-mana. Hanya tidur beberapa meter dari rumah Pamanmu,” ucap Yeni menggoda putri kesayangannya.
“Mama..” Dyah melotot kesal dan ia merubah ekspresi wajahnya ketika melihat ke arah Fahmi.
“Mas jangan dengarkan apa yang dikatakan oleh Mama, sekarang Mas pulang dan langsung tidur. Oya, sebelum tidur jangan lupa kirim pesan,” ucap Dyah sekali lagi mengingatkan calon suaminya untuk mengirim pesan singkat.
“Iya Dyah,” balas Fahmi.
Fahmi pun dan memilih untuk berjalan kaki, karena jarak rumahnya tidak jauh dari rumah Abraham Mahesa.
Dyah pun cepat-cepat masuk kamar dan dua bocah kecil membuntutinya.
“Kalian ngapain?” tanya Dyah.
“Mau tidur sama Kak Dyah,” jawab Ashraf.
“Kamu juga, Arsyad?” tanya Dyah pada putra pertama Paman serta Aunty.
“Iya,” jawab Arsyad.
Dyah menggaruk-garuk keningnya dan mengizinkan keduanya untuk tidur bersama dengannya.
“Ingat ya, jangan ada yang mengompol. Pokoknya, sebelum tidur kalian harus pipis dulu,” ucap Dyah.
“Siap Kak Dyah!” seru Mereka berdua.
“Bagus-bagus, kalian memang anak pintar,” puji Dyah.
Fahmi berjalan seorang diri dan terus melebarkan senyumnya.
“Mas Fahmi ya?” tanya seorang gadis yang baru saja lulus SMA.
“Iya, kamu ngapain keluar malam-malam di jama begini?” tanya Fahmi yang mengenali Sari.
“Lagi menunggu Bapak pulang, Oya Mas Fahmi sudah punya pacar belum? Tahu tidak, Sari suka loh sama Mas Fahmi,” ucap Sari yang memang terkenal suka ceplas-ceplos ketika berbicara.
Fahmi hanya menganggap ucapan Sari sebagai ucapan gurauan saja.
“Perjalananmu masih sangat panjang, jangan main pacar-pacaran. Fokus menata masa depan yang cerah, ya sudah Mas mau masuk ke rumah dulu. Kamu langsung masuk rumah ya!”
“Kak Fahmi!” teriak Sari dan memanyunkan bibirnya, “Begini-begini banyak yang suka sama aku, tahu tidak? Mas Fahmi nyebelin,” imbuh Sari dengan sangat kesal.
Fahmi masuk ke dalam rumahnya, rumah yang sudah lebih dari sebulan tidak ia datangi. Rumah yang menyimpan banyak kenangan dan juga foto-fotonya bersama adiknya tersayang.
“Sebaiknya aku langsung mengirim pesan singkat kepada Dyah,” ucap Fahmi bermonolog dan segera mengirim pesan kepada Dyah yang isinya bahwa ia sudah sampai rumah dengan selamat.
Disaat yang bersamaan, Dyah tertawa bahagia sampai-sampai Arsyad dan Ashraf terheran-heran dengan Dyah yang tiba-tiba tertawa.
“Kak Dyah kenapa?” tanya Arsyad penasaran.
“Tidak apa-apa, kamu tidur cepat. Sudah malam, besok kamu harus bangun pagi agar tidak telat masuk sekolah,” ucap Dyah pada Arsyad, “Kamu juga Ashraf. Cepat tidur lagi,” imbuh Dyah kepada Ashraf.
Kedua bocah kecil itu kompak memejamkan mata dan akhirnya tidur dengan sangat nyenyak.
__ADS_1