
“Apa yang sedang kamu lakukan disini?” tanya Abraham dingin.
Dyah memanyunkan bibirnya dan berbalik arah menghampiri kulkas.
“Dyah ke dapur karena mau minum, Paman dan Aunty ngapain di dapur berdua-duaan? Awas loh, kalau berdua-duaan yang ketiganya pasti setan,” tutur Dyah.
“Iya, kamu setannya,” celetuk Abraham dan merangkul pinggang sang istri. Abraham dengan santainya melenggang pergi menuju kamar.
“Setan? Enak aja cantik-cantik begini dibilang setan!” Dyah mengomel kesal dan dengan langkah kesalnya ia pergi menuju kamar.
Malam itu, Ashraf kembali tidur bersama Dyah. Ashraf sebenarnya ingin sekali tidur bersama Bundanya tercinta, akan tetapi keinginannya itu tidak terpenuhi. Dikarenakan, Sang Ayah berjanji akan memberikan adik perempuan untuknya.
“Loh kamu belum tidur?” Dyah terheran-heran melihat Ashraf duduk disisi ranjang dengan tatapan aneh, tatapan seakan-akan akan mendapatkan sesuatu.
“Belum,” jawab Ashraf singkat dan senyum-senyum sendiri.
“Ya sudah tunggu apalagi? Ayo tidur!” ajak Dyah yang kini telah merebahkan tubuhnya dan menarik selimut.
“Perut Bunda sudah besar?” tanya Ashraf begitu polosnya.
“Besar?” Dyah keheranan mendengar pertanyaan dari Ashraf dan cukup lama akhirnya Dyah mengerti apa yang dimaksud oleh seorang anak kecil bernama Ashraf Mahesa.
Dyah menggaruk-garuk kepalanya dan menghela napasnya yang terdengar berat.
“Ashraf mau punya adik?” tanya Dyah sambil merebahkan tubuh Ashraf di tempat tidur.
“Iya,” jawab Ashraf singkat, jelas dan padat.
“Kalau mau punya adik itu, butuh waktu berbulan-bulan. Kalau Ashraf mau punya adik, Ashraf tidak boleh tidur malam-malam dan harus nurut apa kata Ayah dan Bunda. Ashraf mengerti!”
“Iya,” jawab Ashraf singkat.
“Ya sudah, sekarang berdo'a dan kita tidur!”
Ashraf mengangkat kedua tangannya dan berdo'a sebelum tidur.
“Amiinn!” Ashraf dan Dyah mengamini do'a sebelum tidur. Kemudian, mereka kompak memejamkan mata.
Di dalam kamar.
Asyila masih terngiang-ngiang dengan apa yang terjadi di dapur, suaminya itu benar-benar membuatnya malu karena tertangkap basah oleh Dyah.
“Kenapa, istriku?” tanya Abraham berpura-pura tidak tahu alasan sang istri duduk diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
“......” Asyila hanya melirik sekilas dan kembali menundukkan kepalanya.
Abraham bukannya menghibur hati istrinya, ia justru tertawa melihat ekspresi wajah Asyila.
“Mas jahat....” Asyila berkata lirih tanpa mengangkat kepalanya.
“Mas minta maaf ya! Kita, 'kan sudah menikah dan sudah sepatutnya melakukan hal-hal romantis.”
“Iya Asyila tahu, Mas. Akan tetapi, Dyah menangkap basah kita berdua,” tutur Asyila.
__ADS_1
“Basah? Baju kita sama sekali tidak basah,” balas Abraham dengan mengangkat setengah bajunya.
Asyila mendongakkan kepalanya dan mengambil bantal yang berada didekatnya. Dengan tangannya, ia mencoba memukul tubuh suaminya yang malah mengajak bergurau.
Melihat bantal yang akan melayang ditubuhnya, Abraham dengan cepat menghindar.
“Ternyata Istri Mas sudah mulai aktif,” ucap Abraham yang terus menggoda Asyila.
“Mas Abraham!” Asyila mencoba mengejar suaminya yang terus berlari menghindar dari bantal yang ia pegang.
Akhirnya terjadilah kejar-kejaran antar suami istri di dalam kamar mereka.
“Mas, berhenti!” pinta Asyila.
“Ayo kejar Mas!”
“Dapat!” teriak Asyila yang telah memeluk tubuh suaminya.
Abraham tertawa kecil dan membalas pelukan hangat Asyila. Keduanya saling berpelukan sembari mengatur napas mereka yang terengah-engah.
“Akkhhh...” Asyila meringis kesakitan ketika Abraham tanpa sengaja menyenggol lengannya yang terluka.
“Maaf..” Abraham segera melepaskan pelukannya dan memeriksa lengan Asyila.
Lengan Asyila yang terluka ternyata mengeluarkan sedikit darah. Abraham pun panik dan membawa tubuh Asyila ke tempat tidur.
“Syila duduk diam disini, Mas akan mengganti perban.”
Abraham berlari kecil keluar kamar untuk mengambil kotak P3K di ruang keluarga. Ia merasa bersalah karena luka di lengan sang istri terbuka dan mengeluarkan darah.
“Tidak usah tergesa-gesa, Mas. Ini hanya luka kecil saja,” ucap Asyila ketika melihat sang suami memasuki kamar dengan begitu tergesa-gesa.
“Mas akan bertanggung jawab mengobati luka Syila, maafkan Mas yang sering menggoda Syila.” Abraham berkata sambil membuka perban di lengan Asyila.
Asyila hanya senyum-senyum melihat betapa khawatir dan bersalahnya sang suami ketika luka di lengannya terbuka.
“Lain kali kalau Mas menggoda Syila, Syila bebas pukul Mas!” perintah Abraham.
Asyila menggelengkan kepalanya dan mencubit bibir suaminya yang banyak bicara.
“Sejak kapan Mas menjadi cerewet seperti ini? Asyila sudah tidak apa-apa, Mas. Selama ada Mas di samping Asyila, hidup Asyila akan aman-aman saja,” jelas Asyila dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu.
“Kalau kehidupan kita selalu serius, justru tidak akan ada keramaian di rumah kita ini Mas. Akan tetapi, semuanya berbeda saat Mas menggoda Asyila dan kedua putra kecil kita,” sambung Asyila.
“Jadi, Syila suka Mas menggoda Syila setiap hari? Bagaimana kalau setiap saat?” tanya Abraham dengan senyum manisnya.
Asyila menggelengkan kepalanya dan memukul pelan dada suaminya itu.
“Aww.. Kok malah dipukul?” tanya Abraham dan memegang tangan Asyila.
“Sepertinya sudah menjadi hobi Mas untuk menggoda asyila.”
“Oh, tentu saja,” celetuk Abraham dan tertawa lepas melihat ekspresi tak terima dari istri kecilnya itu.
__ADS_1
Abraham kembali mengobati luka Asyila dengan begitu serius dan tentunya dengan penuh cinta.
“Terima kasih, Mas!” Setelah mengucapkan terima kasih, Asyila memberanikan diri mencium pipi kanan suaminya dan menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur.
Abraham tertegun sambil menyentuh pipi kanannya yang baru saja dicium oleh sang istri. Jika saja malam itu, lengan Asyila tidak terbuka sudah pasti Abraham meminta jatahnya kepada sang istri tercinta. 😅
“Baiklah, malam ini Mas akan melepaskan Asyila. Tapi lain kali, Mas tidak akan memberi jeda untuk Asyila,” ucap Abraham dan ikut merebahkan tubuhnya di tempat tidur tepat di samping sang istri.
Asyila tersenyum genit dan mengubah posisi tidurnya membelakangi suaminya.
“Jangan menggoda Mas seperti ini!” pinta Abraham dan memeluk tubuh sang istri dengan posisi miring.
Deg! Deg!
Asyila merasakan detak jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Pelukan sang suami kembali membuat seluruh darahnya mengalir.
“Huh..” Abraham meniup udara ke telinga Asyila.
Sontak saja hal tersebut membuat Asyila menggeliat dan membuat Abraham menyesal dengan apa yang dilakukan. Dikarenakan, ia tidak bisa melepaskan hasratnya malam itu juga.
“Mas mau ke kamar mandi,” ucap Abraham dan segera beranjak dari tempat tidur.
Asyila berbalik menghadap suaminya yang telah masuk ke kamar mandi.
Asyila terdiam sembari terus memperhatikan pintu kamar mandi. Ia berharap agar sang suami segera kembali ke tempat tidur dan bermanja-manja dengan dirinya.
Di dalam kamar mandi, Abraham berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia berusaha menyakinkan dirinya sendiri untuk tidak meminta sang istri melayani dirinya.
Abraham sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi dan berharap ketika dirinya keluar, sang istri sudah tertidur pulas.
“Mas Abraham kenapa lama sekali? Sudah 30 menit di dalam kamar mandi, tidak biasanya selama ini,” tutur Asyila bermonolog.
Ceklek!
“Mas sakit perut ya?” tanya Asyila yang sudah terduduk di tempat tidur.
Abraham terdiam tanpa bergerak menuju tempat tidur.
“Mas!” panggil Asyila dan sedikit menunduk sehingga belahan dadanya terlihat.
Abraham menelan salivanya dan dengan cepat naik ke tempat tidur tanpa memperhatikan sang istri yang sebenarnya ingin sekali dimanja oleh Abraham.
“Huammm.. Mas ngantuk,” ucap Abraham.
“Mau langsung tidur ya Mas?” tanya Asyila dengan suara memelas.
“Iya, Asyila langsung ambil wudhu sana. Habis itu langsung tidur!” perintah Abraham.
Asyila melongo mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Akan tetapi, Asyila tidak bisa protes dan langsung menuruti apa yang diperintahkan oleh suaminya itu.
Mas Abraham pasti sangat lelah. 😅
Abraham 💖 Asyila
__ADS_1