Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Alhamdulillah


__ADS_3

Dyah berteriak senang ketika mendapatkan pesan dari seseorang yang ingin memesan pakaian muslim buatan Aunty-nya. Sampai-sampai ia menangis terharu ketika tahu bahwa pelanggan baru itu memesan pakaian sebanyak 20 lusin.


“Ya Allah, terima kasih. Aunty pasti sangat senang mendengar kabar gembira ini, aku jadi tidak sabar ingin pergi ke rumah Aunty,” ucap Dyah sambil menggoyangkan pinggulnya.


Fahmi yang tak sengaja melihat istrinya bertingkah laku seperti itu langsung mendatanginya dan memeluknya tubuh istrinya agar segera berhenti berjoget.


“Dyah, kamu kenapa joget-joget seperti ini?” tanya Fahmi yang terlihat sangat khawatir.


“Mas Fahmi, hari ini Dyah sangat senang. Lihatlah!” Dengan semangat Dyah memperlihatkan isi pesan dari seseorang yang ingin memesan pakaian dengan jumlah yang bisa dikatakan cukup banyak.


Fahmi tersenyum lebar dan meminta istrinya untuk tidak melakukan hal-hal yang membuat calon buah hati mereka kenapa-kenapa.


“Mas Fahmi, ayo antar Dyah ke rumah Aunty!” pinta Dyah sambil menggoyangkan tubuh suaminya.


“Sekarang?” tanya Fahmi memastikan.


“Tentu saja sekarang, Mas Fahmi!” seru Dyah.


Fahmi tidak langsung mengiyakan, justru ia menuntun istri tercintanya ke ruang makan.


“Kok Dyah diajak kesini, Mas?” tanya Dyah setengah protes.


“Sudah jam segini, kamu belum makan. Ayo sini makan! Biar Mas yang menyuapi makanan,” jawab Fahmi dan mulai mengisi makanan bersamaan dengan lauknya.


Perasaan Dyah saat itu juga semakin berbunga-bunga, suaminya memang sangat perhatian dengannya. Terlebih lagi ketika mengetahui bahwa Dyah tengah mengandung buah hati pertama mereka.


“Mas Fahmi juga makan ya,” ucap Dyah.


Fahmi mengiyakan dan tak lupa keduanya membaca Do'a sebelum makan.


Beberapa saat kemudian.


Asyila tengah sibuk dengan menyiram tanaman hias miliknya, kedatangan Dyah saat itu membuat Asyila sedikit terkejut.


“Assalamu’alaikum, Aunty!” sapa Dyah sambil setengah berlari.


Fahmi pun ikut berlari kecil sambil menjaga istrinya yang benar-benar membuat siapapun melihatnya pasti khawatir.


“Wa’alaikumsalam, Dyah! Kamu tumben jam segini datang?” tanya Asyila karena saat itu masih jam 9 pagi.


Dyah dengan semangat memperlihatkan pesan dari pelanggan baru mereka, Asyila seketika itu tersenyum bahagia dan mengucapkan terima kasih kepada Dyah yang terus saja membantu memperkenalkan produk pakaian muslim ke orang-orang lewat sosial media.


“Terima kasih, Dyah. Berkat kamu pakaian-pakaian muslimah yang Aunty jual kini terkenal kemana-mana,” tutur Asyila.


“Aunty ini bisa saja, sebenarnya tanpa bantuan Dyah produk pakaian muslimah yang Aunty jual sudah sangat laris,” balas Dyah.


Asyila mematikan kran air dan mengajak keduanya untuk masuk ke dalam. Di rumah hanya ada Asyila sendiri, karena Sang suami pagi-pagi buta sudah kembali ke kantor.


“Paman sudah berangkat kerja ya Aunty?”


“Tentu saja, seperti yang kamu tahu, Pamanmu sekarang sangat sibuk. Kalau tidak ada kamu dan Ema, mungkin Aunty sudah menangis di dalam kamar,” jawab Asyila.

__ADS_1


Dyah tertawa geli mendengar apa yang dikatakan oleh Asyila.


“Kok malah tertawa? Oya, kalian sudah makan?” tanya Asyila.


“Kami sudah, Aunty. Aunty tidak perlu repot-repot menjamu kita,” balas Fahmi dengan begitu sopan.


Asyila tersenyum manis ke arah keduanya, Dyah dan Fahmi memang pasangan yang sangat cocok. Satunya tak bisa diam dan satunya lagi adalah pria yang tidak banyak bicara.


“Dyah, Mas langsung pulang saja ya. Nanti mau di jemput jam berapa?” tanya Fahmi pada istrinya yang duduk tepat disampingnya.


Dyah memanyunkan bibirnya dan tanpa malu memeluk lengan suaminya yang ingin pergi darinya.


“Mas Fahmi jangan pergi, Dyah disini juga tidak lama-lama. Entah kenapa, Dyah sedang ingin menghabiskan waktu bersama dengan Mas Fahmi. Mumpung Mas Fahmi tidak pergi ke kedai,” terang Dyah.


Asyila yang mendengar apa yang diucapkan oleh Dyah ke Fahmi sangat mengerti. Hormon Ibu hamil memang seperti itu dan mudah sekali berubah-ubah.


“Dyah, sebaiknya kamu pulang ke rumah,” ucap Asyila agar keduanya bisa menghabiskan waktu bersama di rumah.


“Aunty yakin?” tanya Dyah.


Asyila tertawa kecil dan menjelaskan bahwa ia tidak apa-apa. Justru, Asyila sangat senang jika Dyah maupun Fahmi bisa menghabiskan waktu seharian.


“Baiklah, Aunty. Dyah dan Mas Fahmi pulang dulu, kalau ada yang ingin memesan lagi Dyah akan segera menghubungi Aunty,” terang Dyah.


Keduanya pun pergi dan tak lupa mengucapkan salam sebelum pulang ke rumah mereka.


Kini Asyila sendirian di rumah, meskipun baru beberapa bulan berpisah dengan Ashraf dirinya sudah rindu.


Wanita muda itu merasa sangat lelah, ia pun memejamkan matanya dan tertidur dengan posisi duduk.


Disaat yang bersamaan, Abraham tengah sibuk di kantornya. Meskipun ia sangat sibuk, tetap saja dalam pikirannya selalu ada sang istri. Abraham berulang kali membayangkan bagaimana dirinya pulang lebih awal dan Sang istri begitu terkejut dengan kedatangannya.


“Pagi-pagi begini malah senyum-senyum sendiri, hati-hati nanti kesambet,” celetuk Yogi melihat sahabatnya yang terus saja senyum-senyum sendiri.


Abraham menatap sinis ke arah Yogi dan kembali fokus dengan laptop dihadapannya.


“Sepertinya hari ini kita terakhir lembur,” ucap Yogi yang beberapa hari ini ikut lembur bersama dengan Abraham. Namun, tidak sesering Abraham yang terus saja lembur.


“Ya semoga saja,” balas Abraham singkat.


Yogi terus saja memperhatikan sahabatnya itu, terlihat jelas bahwa Abraham sangat mencintai keluarganya, terutama Asyila.


“Abraham!” panggil Yogi.


“Hhhmmm...”


“Bagi tips dong!” pinta Yogi.


Abraham seketika itu menoleh ke arah Yogi dengan tatapan terheran-heran.


“Tips apa?” tanya Abraham sambil mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


“Tips agar bisa menjadi seperti mu, maksudku bagaimana caranya agar hubungan rumah tangga selalu adem ayem,” terang Yogi.


Abraham terdiam sejenak dan beberapa detik kemudian, pria itu beranjak dari duduknya mendekati sahabatnya yang terlihat begitu penasaran.


“Dengarkan aku baik-baik, dalam hubungan rumah tangga tidak ada yang namanya adem ayem. Dalam arti begini, di dalam hubungan rumah tangga selalu ada yang namanya masalah. Faktor masalah itu bukan selalu dari dalam rumah tangga, bisa juga dari luar. Contohnya saja seperti apa yang telah terjadi didalam rumah tanggaku, kau pun tahu ada banyak hal sulit yang telah kami lakukan. Mulai dari kemarahan, ketakutan, air mata dan masih banyak lagi. Satu-satunya hal yang bisa kita ambil hikmahnya adalah jangan pernah sia-siakan waktu bersama dengan orang yang kita sayangi dan kita cintai. Seberat-beratnya masalah yang datang, kita harus yakin bahwa kita bisa,” jelas Abraham.


Abraham terus menjelaskan definisi dari hubungan rumah tangga dengan pemikirannya, Yogi yang mendengarnya pun malah menangis terharu. Apa yang dikatakan oleh Abraham memanglah benar dan kenyataan.


“Kau telah membuatku menangis,” ucap Yogi dan seketika itu memeluk sahabatnya.


“Sudah, hentikan. Jika yang lain melihatnya, mereka pasti akan tertawa,” tutur Abraham.


“Aku berharap, hubungan rumah tangga kita kedepannya akan selalu baik-baik saja. Aku selalu berdo'a agar rumah tangga kalian tidak ada lagi yang mengganggu,” terang Yogi.


Abraham melepaskan pelukan Yogi dan kembali ke kursi singgasananya. Sementara Yogi masih sibuk menghapus air matanya dan juga ingusnya yang terus saja mengalir.


“Menyebalkan, wajahku yang tampan ini menjadi jelek gara-gara menangis,” ucap Yogi.


Sore hari.


Abraham tiba di rumah dengan perasaan bahagia, kedepannya ia tidak perlu lagi lembur dan visa menghabiskan waktu bersama dengan istri tercintanya.


“Mas Abraham!” Asyila dengan penuh semangat berlari menghampiri suaminya yang baru turun dari mobil.


“Assalamu’alaikum, istriku!” sapa Abraham.


“Wa’alaikumsalam, tumben Mas pulang jam segini?” tanya Asyila sambil memeluk suaminya.


“Tentu saja, karena pekerjaan di kantor sudah selesai dan Mas bisa pulang lebih awal,” jawab Abraham.


Asyila mengambil tas kerja suaminya dan keduanya pun masuk ke dalam dengan saling merangkul pinggang.


“Ema dan Dyah seperti tidak ada?” tanya Abraham yang biasanya melihat Ema dan Dyah duduk di kursi ruang tamu.


“Kebetulan Ema sudah pulang, sementara Dyah hari ini tidak kemari karena ingin menghabiskan waktunya dengan Fahmi,” jawab Asyila.


Abraham mengangguk kecil dan menuntun istri kecilnya untuk segera masuk ke dalam kamar.


“Mas, nanti malam tidak lembur 'kan?” tanya Asyila.


“Tentu saja, tidak. Malam ini dan kedepannya Syila tidak perlu tidur sendirian,” balas Abraham.


“Alhamdulillah, terima kasih Mas!”


Asyila terlihat sangat senang mendengar bahwa suaminya tidak lagi lembur. Apalagi ia tidak perlu sedih ketika ingin tidur di malam hari, karena sekarang suaminya akan selalu berada disampingnya untuk menemaninya tidur.


“Mas, tadi Ashraf menghubungi Asyila,” ucap Asyila.


“Lalu, apakah putra kecil kita merengek?”


“Tidak, Mas. Justru Ashraf sekarang sudah terlihat baik-baik saja,” balas Asyila.

__ADS_1


Asyila terus menceritakan tentang Ashraf yang pintar di sekolah. Abraham yang mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya begitu senang, Abraham berharap di masa depan anak-anaknya bisa menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang banyak.


__ADS_2