Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Acara Akbar Mahesa Berjalan Dengan Sangat Lancar


__ADS_3

Ya Allah, kuatkan hati hamba. Kalau soal fisik, Insya Allah hamba kuat. Akan tetapi, kalau masalah perasaan hamba tidak kuat Ya Allah.


Asyila menunduk sebentar untuk menyeka air matanya yang hampir saja jatuh.


“Ibu-ibu, silakan dimakan hidangannya,” ucap Asyila sambil melebarkan senyum terbaiknya.


“Iya, Nona Asyila. Oya, kami ada hadiah untuk bayi Akbar,” ucap Ridha mewakili yang lain dan memberikan hadiah kado kepada Asyila.


Asyila dengan senang hati menerima kado pemberian dari Ibu-ibu Perumahan Absyil.


“Ngomong-ngomong Tuan Abraham kemana?” tanya Ridha karena tak melihat Tuan rumah.


“Mas Abraham kebetulan sedang mengantarkan Arsyad ke pondok,” jawab Asyila.


“Jadi, Arsyad anak pesantren,” sahut Ibu yang lainnya.


“Insya Allah,” jawab Asyila.


“Saya iri deh dengan keluarga Nona Asyila. Nona Asyila cantik, baik dan memiliki suami yang sangat-sangat sempurna. Ditambah, punya anak-anak yang tampan,” puji seorang wanita yang duduk tepat di samping Ridha.


Asyila hanya mengangguk kecil mendengar pujian dari wanita dihadapannya.


“Arsyad!” panggil Asyila.


“Aunty lupa ya, Arsyad 'kan, sudah kembali ke pondok,” ucap Dyah mengingatkan istri dari Pamannya, Abraham.


“Astaghfirullahaladzim, Aunty benar-benar lupa,” balas Asyila.


“Aunty kenapa terlihat sedih? Apa mau Dyah antar ke kamar?” tanya Dyah berbisik-bisik agar tak di dengar oleh yang lain.


“Tidak apa-apa, aku hanya ingin segera bertemu dengan Pamanmu,” jawab Asyila lirih dan hanya bisa di dengar oleh Dyah.


Arumi menoleh ke arah kado yang mulai menumpuk, ia pun berinisiatif untuk memindahkannya masuk ke dalam kamar Putrinya.


Melihat Neneknya yang sedang sibuk membawa kado ke lantai atas, Dyah Ashraf memutuskan untuk membantu Sang Nenek tercinta.


“Sayang, biarkan Nenek saja yang membawanya,” tutur Arumi ketika melihat cucunya membantu mengangkat kado.


“Ashraf bisa Nek. Tapi, yang kecil-kecil,” balas Ashraf dengan tersenyum lebar.


“Ya sudah, Ashraf angkat yang kecil-kecil saja biar tidak berat,” sahut Arumi.


Beberapa saat kemudian.


Herwan berjalan menghampiri Asyila dan mengatakan bahwa rombongan anak yatim-piatu sudah tiba.


Asyila pun beranjak dari duduknya untuk segera menyambut kedatangan anak-anak yatim-piatu.


Dyah, Yeni dan juga Arumi ikut keluar untuk menyambut kedatangan anak-anak yatim-piatu.


“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!” Para Anak yatim-piatu dengan semangat mengucapkan salam.


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!” seru Asyila serta yang lainnya.


Karena anak-anak yatim-piatu yang sangat banyak, Herwan pun mempersilahkan mereka untuk duduk di halaman rumah yang sebelumnya sudah diberi alas.


“Anak-anak ku tersayang, anggaplah rumah sendiri ya. Ambil makanan kalian, ok!” Asyila dengan semangat berbicara di depan para anak yatim-piatu.


“Terima kasih, Bunda Asyila!” seru mereka.


Satu-persatu mereka bangkit untuk mengambil nasi serta lauk yang sudah disediakan.


Melihat anak-anak yatim-piatu yang sangat bersemangat dengan hidangan tersebut, membuat hati Asyila tentram dan juga bahagia.


“Masya Allah, semoga mereka selalu diberikan kebahagiaan serta kecukupan,” ucap Asyila.


“Aamin!” jawab mereka yang mendengar Do'a Asyila.


Ketika Asyila menoleh ke arah luar gerbang, senyumnya langsung merekah lebar karena belahan jiwanya sudah kembali.


“Mas Abraham!” Asyila berlari kecil menghampiri suaminya, padahal saat itu dirinya tengah menggendong bayi mereka.


Abraham dengan cepat memberi isyarat agar Sang istri berhenti di tempat.

__ADS_1


“Kenapa sangat bersemangat? Sampai-sampai Syila lupa kalau sedang menggendong bayi kita,” ucap Abraham sembari menyentuh pipi kiri Sang istri.


Asyila tersenyum dan segera mencium punggung tangan suaminya.


Kemesraan Abraham dan Asyila terlihat sangat jelas. Bahkan, siapapun yang melihat keduanya pasti akan berpikir kalau mereka tidak pernah bertengkar.


“Ternyata anak-anak sudah datang,” ucap Abraham yang baru menyadari kedatangan anak-anak yatim-piatu.


Seorang pria yang tak lain pendiri yayasan yatim-piatu menghampiri Abraham dan juga Asyila.


“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucapnya.


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas Abraham dan Asyila.


Arumi, Dyah, Fahmi, Herwan, Temmy dan Yeni seketika itu mendekat.


“Sebelumnya kami mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada keluarga Pak Abraham Mahesa, anak-anak sangat senang ketika tahu bahwa mereka kembali di undang ke tempat ini,” terangnya.


“Alhamdulillah, insya Allah setiap ada acara kami akan mengundang anak-anak,” balas Abraham dengan sangat ramah.


Perbincangan terus saja berlanjut, sampai akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul 20.45 WIB. Sudah waktunya bagi para tamu untuk kembali ke kediaman mereka masing-masing.


Abraham serta yang lainnya tersenyum dengan sangat puas, karena acara yang mereka selenggarakan berjalan dengan sangat lancar dan juga sesuai rencana.


Dayat, Edi serta yang lainnya terus saja mengucapkan selamat atas lahirnya putra keempat Abraham dan Asyila.


Mereka memuji Asyila yang bernasib baik dan juga berhati malaikat.


“Do'a kami semoga keluarga Tuan Abraham selalu dilindungi oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala,” tutur Dayat.


“Terima kasih,” balas Abraham sembari tersenyum lebar ke arah para sahabatnya yang telah hadir dalam acara buah hati ke-empatnya bersama Sang istri.


Asyila tersenyum manis dan mengucapkan terima kasih atas Do'a dari mereka untuk keluarga kecilnya.


“Karena sudah jam segini, kami harus pulang. Anda dan yang lainnya juga harus istirahat. Pasti hari ini adalah hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan,” terang Dayat.


“Alhamdulillah, semua ini berkat Allah dan kerjasama yang lainnya dalam acara bayi kami,” balas Abraham.


Asyila tersenyum ke arah suaminya dan mengucapkan terima kasih atas apa yang telah suaminya lakukan untuk dirinya serta keluarga.


Abraham membalas senyuman Sang istri dan mengucapkan terima kasih atas semua cinta yang diberikan Sang istri kepada dirinya dan juga buah hati mereka.


“Ehem... Uh, serasa dunia milik berdua ya dah yang lainnya hanya ngontrak,” celetuk Dyah.


Arumi, Herwan serta yang lainnya pun tertawa lepas mendengar celetukan Dyah yang mematikan dan membuat sepasang suami-istri itu tersipu malu-malu.


Tawa mereka langsung berhenti ketika Ashraf menangis.


“Hiks... Hiks..” Ashraf menangis sambil mengucek matanya.


Abraham dan Asyila pun paham alasan mengapa putra kecil mereka menangis.


“Semuanya, kami ke kamar dulu ya. Ashraf sudah sangat mengantuk dan dia akan terus rewel kalau tidak ditemani tidur,” ungkap Abraham.


Mereka dengan kompak mengiyakan dan bahkan meminta Abraham serta Asyila untuk langsung istirahat.


Masalah menata kembali kursi serta yang lainnya akan menjadi urusan Herwan serta yang lain.


Keduanya berjalan menaiki anak tangga sambil menggandeng tangan Ashraf.


“Mau gendong!” pinta Ashraf setengah merengek.


“Sayang, Ashraf itu sudah besar. Dibiasakan untuk tidak minta gendong ya,” tutur Abraham.


Ashraf langsung menangis saat itu juga.


“Mas, tidak boleh bicara seperti itu. Yang ada malah Ashraf memberontak karena ia berpikir tidak lagi di sayang,” tutur Asyila.


Abraham menghela napas dan menggendong tubuh putra kedua mereka.


“Ini sudah Ayah gendong, sekarang Ashraf diamlah!”


Ashraf seketika itu terdiam dan belum juga sampai kamar, bocah kecil itu sudah terlelap dengan sangat puas.

__ADS_1


“Sudah pingsan, Mas,” ucap Asyila senyum-senyum melihat ashar uang dengan sangat cepat tertidur di bahu Sang suami tercinta.


“Alhamdulillah, jadinya kita tidak perlu menemaninya tidur,” balas Abraham.


“Mas, Syila ke kamar kita ya mau lihat bayi Akbar!”


“Pergilah! Setelah Mas meletakkan Ashraf di tempat tidur, Mas akan menyusul,” balas Abraham dan bergegas masuk ke dalam kamar putra kecil mereka.


Asyila masuk ke kamar dengan sangat hati-hati karena tak ingin sampai buah hatinya terbangun karena suara yang ditimbulkan olehnya.


Asyila perlahan merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan memandangi wajah bayi mungilnya itu.


“Sayang, hari ini Bunda sangat bahagia karena acara Akbar berjalan dengan sangat lancar. Meskipun begitu, Bunda masih kepikiran dengan perkataan Ibu Ti yang memfitnah Akbar yang lucu ini. Bunda berharap, kedepannya hal seperti itu tidak terjadi lagi. Karena kalau sampai itu terjadi, Bunda tidak bisa memaafkan siapapun yang berniat tak baik kepada Akbar,” tutur Asyila.


Tanpa diketahui oleh Asyila, rupanya Abraham mendengar suara perkataan Sang istri dari awal.


Tak ingin mati penasaran, Abraham saat itu juga turun untuk menanyakan kepada yang lainnya tentang apa yang sudah terjadi ketika dirinya tak berada.


“Dyah!” panggil Abraham karena Abraham tahu bahwa Dyah tidak akan pernah menyembunyikan apapun dari dirinya dan tidak akan pernah membohongi dirinya.


“Iya, Paman. Kenapa?” tanya Dyah sambil mengangkat kedua alisnya.


“Ceritakan kepada Paman yang sejujurnya tentang masalah yang terjadi ketika Paman tidak ada!” perintah Abraham.


Arumi, Ema, Herwan serta yang lainnya terkejut mendengar pertanyaan dari Abraham.


Dyah menelan salivanya dengan susah payah seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya. Kemudian, perlahan ia menoleh ke arah Mama dan Papanya.


“Katakan dengan jujur dan jangan ada yang ditutup-tutupi oleh Dyah,” tegas Abraham.


Sebenarnya Dyah ingin merahasiakan hal tersebut, dikarenakan Aunty-nya telah memberi perintah kepada dirinya serta yang lainnya agar tidak memberitahukan kepada Paman mereka mengenai Ibu Ti yang sangat suka menyebarkan gosip yang tidak-tidak.


“Dyah!” panggil Abraham.


Dyah terkejut dan dengan terpaksa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Abraham dengan sangat serius mendengarkan apa yang diceritakan oleh Dyah.


Ia mengepalkan tangannya dengan sangat erat dan terlihat jelas bahwa Abraham kesal dibuatnya.


“Rupanya ada yang ingin bermain-main dengan kami,” tutur Abraham.


Melihat emosi Abraham yang begitu besar, Arumi dengan cepat mendekat dan meminta Abraham untuk tidak memikirkan wanita itu. Akan tetapi, Abraham tidak bisa terima karena perkataan tersebut sudah menyakiti hatinya dan juga Sang istri.


“Mas!” panggil Asyila dari lantai atas.


Emosi Abraham seketika itu meredam ketika mendengar suara istri kecilnya memanggil dirinya.


“Iya, Syila!” Dengan cepat Abraham berlari menaiki anak tangga untuk menemui Sang istri.


Dyah menunduk sedih setelah menceritakan semuanya kepada Sang Paman.


“Ma, kira-kira Aunty marah tidak ya? Dyah tidak ingin Aunty marah karena tidak bisa menjaga rahasia,” tutur Dyah sambil memeluk Mamanya.


“Kamu tenang saja, Insya Allah Aunty Asyila akan mengerti,” balas Yeni.


Di dalam kamar, Asyila tengah mengganti pakaiannya dan cepat-cepat Abraham menutup kamar rapat-rapat.


“Istriku terlihat sangat seksi,” goda Abraham seperti tak terjadi apa-apa.


Hal tersebut Abraham lakukan agar istri kecilnya tidak semakin sedih atas apa yang terjadi.


“Mas jangan melihat!” pinta Asyila dan mengubah posisi tubuhnya membelakangi Abraham.


“Pelit, lihat sedikit saja tidak boleh,” balas Abraham.


“Kalau Mas mau Asyila malah yang bingung. Pokoknya jangan melihat Asyila,” tegas Asyila pada suaminya.


“Iya deh,” jawab Abraham pasrah.


Asyila tersenyum mendengar perkataan suaminya yang sangat pasrah.


Abraham ❤️ Asyila

__ADS_1


__ADS_2