
Beberapa Minggu kemudian.
Sejak kejadian yang menyedihkan, Abraham memutuskan untuk menghabiskan waktunya mencari dan menangkap para penjahat.
Di setiap waktunya, Abraham sibuk menggali informasi mengenai orang-orang yang mencurigakan.
Dayat dan Edi mulai mengkhawatirkan keselamatan Abraham yang sama sekali tak ada takut jika sewaktu-waktu nyawanya menghilang.
Lalu, bagaimana dengan urusan perusahaan?
Urusan perusahaan kini sudah dilimpahkan kepada Yogi. Yogi sama sekali tak keberatan dengan tanggung jawab yang diberikan Abraham kepadanya. Selama hal itu bisa membuat Abraham melupakan kesedihannya, Yogi rela jarang pulang ke rumah dan banyak menghabiskan waktunya di perusahaan.
Pagi itu, Abraham sudah tiba di Bandung dan sedang bersandar di sebuah kursi besi dengan ponsel ditangannya.
“Apa yang sedang anda lakukan disini, Tuan Abraham?” tanya Dayat yang sangat terkejut dengan kedatangan Abraham secara tiba-tiba tanpa mengirim pesan terlebih dahulu.
“Hari ini, siapa lagi yang ingin kita tangkap?” tanya Abraham.
Dayat dan Edi kompak geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan Abraham.
“Apakah Anda terus mengambil pekerjaan yang beresiko ini, Tuan Abraham?” tanya Dayat yang mengkhawatirkan kondisi Abraham.
“Kenapa memangnya? Lagipula, aku tidak takut mati,” balas Abraham.
“Anda sekarang bukanlah Tuan Abraham Mahesa yang saya kenal dulu. Apakah karena kejadian waktu itu?” tanya Dayat.
“Diam!” teriak Abraham.
“Apa yang Saya katakan adalah fakta,” tegas Dayat.
Abraham mengusap wajahnya secara kasar dan segera meminta maaf atas apa yang baru saja ia lakukan.
“Maaf, tidak seharusnya aku berteriak seperti tadi,” tutur Abraham merasa bersalah.
“Jujur, kami sangat senang jika Tuan Abraham membantu kami untuk menyelesaikan kasus-kasus itu. Akan tetapi, Tuan Abraham juga butuh istirahat. Tolong perhatikan kesehatan dan juga keselamatan Tuan Abraham,” terang Dayat.
“Saya setuju dengan apa yang dikatakan Dayat,” sahut Edi.
__ADS_1
“Aku seperti ini, karena ada alasannya. Tujuanku sekarang adalah menangkap dan melumpuhkan penjahat, agar kedepannya tidak ada lagi yang bisa mendekati keluargaku,” terang Abraham.
Dayat dan Edi sangat mengerti maksud dari perkataan Abraham. Akan tetapi, mereka juga tidak bisa membiarkan Abraham terus-menerus turun tangan membantu mereka.
“Sebaiknya anda pulang sekarang, Tuan Abraham. Hari ini kami tidak misi,” tutur Dayat jujur.
“Baiklah. Aku akan pergi sekarang,” balas Abraham.
Sebelum meninggalkan tempat itu, Abraham tak lupa mengucapkan salam. Akan tetapi, dirinya tidak pulang ke perumahan Absyil. Justru, Abraham berkeliaran untuk menangkap penjahat yang tiba-tiba melintas di hadapannya.
Abraham masih tak bisa menerima kenyataan yang ada. Ia masih berpikir bahwa semua yang terjadi adalah kebohongan semata.
“Aku sangat yakin Asyila masih hidup, ikatan hubungan kami sangatlah kuat. Aku yakin ada saat Allah mempertemukan kami lagi,” tutur Abraham sambil mengemudikan mobil.
Ketika Abraham sedang mengemudikan mobilnya menuju perumahan Absyil, matanya tiba-tiba menangkap gerak-gerik seseorang yang begitu mencurigakan. Abraham pun meminggirkan mobilnya dan memutuskan untuk memantau pria tersebut yang tengah duduk di motornya sambil terus menoleh ke arah kiri dan kanan.
“Instingku mengatakan bahwa orang itu tengah menunggu seseorang,” ucap Abraham dan terus memperhatikan pria tersebut.
Cukup lama Abraham menunggu, sampai akhirnya ada sebuah mobil yang mendekat ke arah si pemotor tersebut.
Dugaan Abraham benar, mereka ternyata sedang melakukan transaksi obat-obatan terlarang.
Setelah itu, Abraham turun untuk meringkus mereka.
Abraham berlari secepat mungkin dan menendang punggung salah satu dari mereka, hingga pria yang ditendang oleh Abraham seketika itu jatuh ke tanah dengan wajah yang lebih dulu mencium tanah.
“Sial*n, siapa kamu?” tanya pria yang tengah memegangi uang kertas. Kemudian, mencoba melawan Abraham dengan cara memukul wajah Abraham menggunakan tangannya.
Akan tetapi, usahanya menjadi sia-sia ketika Abraham memberikan tinju mautnya tepat di wajah pria tersebut.
“Aaakkhh!” teriaknya dengan hidung yang mengeluarkan darah segar karena ulah Abraham.
Pria yang tersungkur ke atas tersebut, berusaha bangkit untuk membalas tendangan Abraham. Akan tetapi, sebelum dirinya bangkit, Abraham lebih dulu menghajarnya hingga pria itu pingsan dengan posisi terlentang.
“Ampun.. Ampun,” ucap pria yang hidungnya berdarah karena tinju maut Abraham.
“Keluarkan barang haram itu!” teriak Abraham.
__ADS_1
Suasana jalan raya tersebut, masih sangat sepi. Dan bisa dikatakan, daerah itu sangat jarang digunakan oleh para pengendara karena jalannya yang berliku-liku.
“Ini saya kasih secara gratis. Tapi, tolong lepaskan saya,” ucapnya yang berusaha menyogok Abraham dengan obat-obatan terlarang tersebut.
“Ck.. Kamu pikir aku apa?” tanya Abraham dan merampas semua barang bukti untuk diserahkan kepada pihak yang berwajib.
Beberapa saat kemudian, mobil polisi tiba ke lokasi tempat dimana Abraham menghajar kedua pelaku pengguna obat-obatan terlarang.
Para polisi mengucapkan terima kasih atas apa yang telah Abraham lakukan.
Meskipun begitu, Abraham masih belum puas dan ingin terus menangkap para manusia yang berbelok ke jalan yang salah.
Cukup lama mereka berbincang-bincang, Abraham pun akhirnya pamit untuk melanjutkan perjalanan pulang ke perumahan Absyil.
Perlu diketahui, hingga saat ini Ashraf maupun Arsyad belum mengetahui berita duka tersebut.
Abraham serta yang lainnya sengaja tidak memberitahukan kenyataan pahit itu kepada Arsyad dan juga Ashraf.
“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham menerima sambungan telepon dari Ibu mertuanya.
“Wa’alaikumsalam, Nak Abraham apa kabar? Kapan ke Jakarta lagi? Ashraf akhir-akhir sulit makan karena merindukan Ayahnya,” terang Arumi.
“Maaf, Ibu. Untuk sementara ini Abraham tidak bisa pulang ke Jakarta. Masih banyak urusan yang harus Abraham tangani. Sudah dulu ya Bu, Abraham sedang menyetir. Assalamu'alaikum!”
“Wa’alaikumsalam,” balas Arumi.
Setelah menerima telepon dari Ibu mertuanya, Abraham tiba-tiba menangis mengetahui bahwa Ashraf merindukan dirinya.
Maafkan Ayah ya sayang, Ayah masih belum sanggup menemui mu. Ayah tidak ingin terus-menerus membohongi mu, Anakku.
Abraham terus mengemudikan mobilnya sambil menentukan lokasi yang mana, untuknya mencari penjahat.
Abraham terus berpikir keras, sampai akhirnya ia tahu tempat yang sering digunakan oleh orang-orang menyimpan tersebut.
“Aku sangat yakin bahwa akan ada banyak orang-orang menyimpang di tempat itu,” tutur Abraham.
Pria itu akhirnya memutuskan untuk pergi di tempat dunia malam yang banyak sekali para mucikari serta pengguna obat-obatan terlarang.
__ADS_1
“Ya Allah, apa yang hamba lakukan sepenuhnya untuk menumpas kejahatan yang ada. Meskipun, hamba tahu bahwa para Penjahat tiada habisnya,” tutur Abraham.
Abraham, akan melaksanakan aksinya di tengah malam. Abraham sangat percaya, bahwa di jam-jam tersebut, akan ada banyak para penjahat yang berkumpul.