
Asyila terbangun dari tidurnya ketika mendengar suaminya tengah melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Asyila menyentuh dadanya sendiri dan tersenyum penuh kebahagiaan mendengar suara merdu suaminya.
Membuat Asyila ingin segera membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an bersama Sang suami lagi.
Hampir setengah jam Asyila memperhatikan suaminya, sampai akhirnya Abraham selesai membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an.
“Shadaqallahul'adzim..”
Abraham meletakkan kitab suci Al-Qur'an ke tempatnya semula dan merapikan atribut sholat kembali.
“Syila kenapa bangun?” tanya Abraham ketika sengaja melirik ke arah istri kecilnya yang Abraham kira tengah tertidur malah berbalik menatap kearahnya.
“Suara Mas Abraham merdu sekali, membuat Asyila terbangun dan ingin mendengarkan Mas melafalkan ayat suci Al-Quran,” balas Asyila.
Abraham tersenyum dan kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur untuk segera memeluk tubuh istri kecilnya.
“Dingin sekali, sini Mas peluk,” tutur Abraham dan langsung mendekap erat tubuh istri kecilnya.
“Itu'kan, ada selimut Mas. Kenapa tidak pakai selimut saja untuk menghangatkan tubuh Mas?”
“Mana bisa selimut bisa menghangatkan tubuh Mas, sedangkan Mas membutuhkan tubuh Asyila,” balas Abraham yang seketika itu membuat Asyila tak bisa berkata-kata lagi karena pintarnya ucapan Sang suami tercinta.
Asyila perlahan kembali menelusuri tidurnya, sementara Abraham memutuskan untuk tidak tidur karena waktu subuh kurang dari 30 menit.
Abraham sangat senang dan ia ingin Asyila selalu berada disampingnya. Abraham tak ingin lagi melewati bulan-bulan kemarin yang begitu menyakitkan dan Abraham tak ingin lagi mengingat kenangan menyakitkan karena tak ada istri kecilnya di sampingnya.
Pria itu terus saja melamun dan tak terasa waktu sudah hampir memasuki sholat subuh.
Abraham perlahan melepaskan pelukannya dan bergegas untuk bersiap-siap menuju masjid.
Usai bersiap-siap, Abraham mencium kening Istri kecilnya dan akan mengambil air wudhu di masjid.
“Mas berangkat ke masjid dulu, pintu Mas kunci dari luar,” tutur Abraham.
“Baik, Mas Abraham,” jawab Asyila tanpa membuka kedua matanya karena dirinya masih sangat mengantuk.
Abraham mengucapkan salam dan Asyila pun membalas salam tersebut.
***
Pagi hari yang sangat cerah, secerah senyuman Asyila yang meluluhkan hati seorang Abraham Mahesa.
Abraham terlihat sangat senang sekaligus tersipu malu ketika istri kecilnya terus sama memandangi dirinya yang tengah menyiram tanaman hias milik istri kecilnya.
“Mas, itu airnya kebanyakan,” tutur Asyila sambil menunjuk ke arah pot tanaman yang airnya sudah tumpah-ruah karena suaminya yang tak fokus.
Abraham segera menoleh dan menyiram air ke tanaman yang lain.
Asyila tertawa kecil sembari geleng-geleng kepala dengan kelakuan suaminya itu.
Disaat yang bersamaan, Dyah datang sembari menggendong Asyila kecil.
Assalamu'alaikum,” ucap Dyah dengan suara lantang.
Abraham dan Asyila seketika itu menoleh ke arah Dyah yang tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan.
“Wa’alaikumsalam,” jawab keduanya.
“Kamu ini ya, pagi-pagi sudah seperti jelangkung saja,” ucap Abraham.
“Ya Allah Paman, ini manusia yang cantiknya luar biasa malah dibilang setan jadi-jadian,” balas Dyah dan berjalan mendekati Aunty-nya yang saat itu tengah duduk di kursi teras.
“Ada apa pagi-pagi datang kemari?” tanya Asyila penasaran dengan kedatangan Dyah.
“Begini Aunty, kedatangan Dyah kemari untuk menanyakan jam berapa kita pergi ke acara nikahan Kevin dan Rahma itu,” terang Dyah.
“Oo, jadi karena itu alasannya. Kalau soal itu tanyakan saja pada Pamanmu,” balas Asyila.
Dyah melirik tajam ke arah Pamannya yang ternyata juga tengah melirik tajam ke arahnya.
“Ayolah, kenapa Mas dan Dyah kembali melirik tajam seperti ini?” tanya Asyila terheran-heran.
Dyah beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Pamannya. Kemudian, ia menginjak kaki Pamannya dengan cukup keras dan Abraham membalasnya dengan menyentil kuat kening Keponakannya sebanyak dua kali.
“Astaghfirullahaladzim,” ucap Asyila dengan suara yang sangat lantang.
Abraham dan Dyah seketika mematung mendengar ucapan Asyila.
“Sekarang Dyah dan juga Mas Abraham kemari!” panggil Asyila yang terdengar begitu galak.
Keduanya pun menurut dan duduk di kursi dengan sangat kikuk.
“Dyah, sekarang tanyakan kepada Pamanmu jam berapa berangkat dan Mas Abraham harus menjawab pertanyaan dari Dyah. Asyila tidak mau lihat Mas dan dyah seperti tadi, mengerti!” tegas Asyila.
“Mengerti!” balas keduanya yang juga sama lantangnya seperti Asyila.
Asyila mengulum bibirnya sendiri menahan tawanya dan bergegas pergi meninggalkan keduanya.
Setelah Asyila pergi, Dyah pun bertanya dan Abraham pun menjawab.
Dyah perlahan melebarkan senyumnya dan ternyata Abraham pun ikut tersenyum, sampai akhirnya mereka tertawa bersama-sama. Tentu saja mereka sedang menertawakan diri mereka sendiri yang sering sekali berdebat dan membuat Asyila kesal dengan sikap keduanya.
__ADS_1
Asyila tiba-tiba datang dan ikut mendaratkan bokongnya di kursi.
“Sudah tidak ribut lagi? Masih mau berdebat dan bertengkar?” tanya Asyila memastikan.
Keduanya dengan kompak menggelengkan pertanyaan dari Asyila.
“Bagus kalau begitu,” tutur Asyila sembari mengangguk kecil berulang kali.
Dyah pun pamit dengan senyum yang mengembang sempurna, ia pulang karena akan bersiap-siap untuk pergi ke acara pernikahan Kevin dan Rahma.
“Berhubung kita berangkat jam 8, Dyah mau siap-siap dulu ya. Oya, Dyah dan Mas Fahmi ikut numpang ya. Soalnya Mas Fahmi tangannya sedikit sakit, jadi agak susah menyetir,” terang Dyah.
Abraham mengiyakan dan meminta Dyah untuk memberikan obat pereda sakit kepada Fahmi.
Dyah pun mengiyakan dan bergegas kembali ke rumah untuk bersiap-siap.
“Mas, apa tidak kepagian?” tanya Asyila.
“Kepagian yang bagaimana, istriku? Perjalanan ke tempat acara sekitar 1 jam dan belum lagi kalau ada gangguan di jalan seperti macet, lagipula ini hari Jum'at,” ungkap Abraham memberitahukan alasan mengapa mereka harus berangkat pagi.
“Maaf ya Mas, Asyila hampir lupa kalau ini hari Jum'at. Kalau begitu, ayo Mas kita masuk!” ajak Asyila.
Keduanya pun akhirnya masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap.
Setibanya di dalam kamar, Asyila langsung merebahkan bayi mungilnya ke tempat tidur. Kemudian, ia berjalan ke arah almari pakaian untuk memilih pakaian mana yang akan mereka kenakan di acara Kevin dan Rahma.
“Mas, Asyila sedikit bingung dengan busana yang kita kenakan. Tolong pilihkan Mas!” pinta Asyila pada suaminya.
Abraham pun ikut bingung, sudah sangat lama ia tidak pergi ke acara-acara tersebut. Jadinya, ia bingung pakaian mana yang harus dikenakan.
“Untuk kali ini, Mas serahkan kepada Asyila,” ucap Abraham.
Asyila terkejut dan mengiyakan dengan ragu-ragu.
Cukup lama Asyila memandangi isi almari milik mereka dan akhirnya Asyila memilih busana pasangan berwarna abu-abu muda.
“Kita pakai yang ini saja ya Mas,” tutur Asyila memperlihatkan pakaian berwarna abu-abu muda.
Senyum Abraham seketika itu merekah sempurna yang artinya Abraham setuju dengan pilihan istri kecilnya.
“Karena Mas setuju, Asyila setrika dulu ya.”
“Jangan, biar Mas saja yang menyetrika pakaian ini,” tutur Abraham.
Asyila mengiyakan dan memutuskan untuk mengganti pakaian bayi mungilnya sembari menunggu Sang suami selesai menyetrika.
Beberapa saat kemudian.
Abraham, Asyila dan juga Akbar tengah menunggu kedatangan pasangan Ema dan juga Dyah yang akan berkumpul di rumah kediaman keluarga kecil Abraham Mahesa.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Abraham dan Asyila.
“Tenang, belum terlambat kok,” sahut Asyila.
Dyah dan Fahmi pun datang sembari mengucapkan salam.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Abraham serta yang lainnya.
“Ya ampun, kenapa Dyah dan Ema pakaiannya terlihat berlebihan begini? Aunty yang memakai pakaian muslim sederhana seperti itu kelihatan sangat elegan sekali,” puji Dyah yang melihat keanggunan dari sosok seorang Asyila.
“Kamu benar Dyah, pakaian Asyila tidak seheboh kita. Tapi lihat saja, kelihatan sekali wanita berkelas,” sahut Ema.
“Sssuuttt... Kalian ini apa-apaan, ayo masuk ke dalam mobil!” ajak Asyila sembari tersipu malu-malu.
Kali ini Abraham lah yang mengemudikan mobil menuju lokasi acara pernikahan Kevin dan juga Rahma.
“Haduh, ini kenapa sempit sekali,” ucap Dyah.
Fahmi geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya dan memutuskan untuk duduk di belakang seorang diri.
“Paman, tolong hentikan mobilnya!” pinta Fahmi.
Abraham langsung meminggirkan mobilnya dan dengan cepat Fahmi pindah ke kursi belakang.
“Mas Fahmi kenapa pindah?” tanya Dyah.
“Sudah tidak apa-apa,” balas Fahmi.
“Kalau begitu, Dyah juga mau pindah,” ucap Dyah yang bersiap-siap untuk pindah.
“Jangan, kalau Dyah pindah kebelakang kasihan bayi kita,” balas Fahmi melarang istrinya untuk pindah tempat duduk.
Disaat itu juga, Yogi turun dari mobil dan duduk di kursi belakang bersama dengan Fahmi.
“Ini juga, kenapa Abang pindah ke belakang?” tanya Ema.
“Sudah tidak apa-apa, sebagai suami kami ini harus pengertian terhadap istri,” terang Yogi.
Mobil pun kembali melaju dan kini Ema maupun Dyah tak merasa kesempitan lagi, karena Yogi dan juga Fahmi sudah duduk di kursi belakang.
***
Akhirnya mereka pun sampai setelah dua jam perjalanan.
__ADS_1
“Gedungnya cukup besar juga ya,” ucap Ema.
“Iya, lumayanlah,” sahut Dyah.
Abraham mengambil alih menggendong bayi mungil mereka dan perlahan mereka pun masuk ke dalam gedung tersebut.
Gedung yang sudah dihias dengan cukup mewah dan terlihat banyaknya para tamu yang hadir sudah mulai memenuhi kursi-kursi para tamu undangan.
Ema dan Dyah saling tukar pandang ketika menyadari bahwa orang tua Kevin tidak ada di kursi orang tua dekat sepasang pengantin baru tersebut.
“Dyah, apa pemikiran kamu juga sama dengan pemikiran ku?”
Dyah dengan cepat mengangguk setuju.
“Dyah, Ema. Jaga sikap kalian, ayo duduk!” perintah Asyila.
Merekapun duduk di kursi bundar, sementara para suami dengan sangat romantis mengambil makanan untuk para istri atas usulan dari Abraham.
Sebelum Abraham menuju para menu hidangan, Abraham pun memberikan bayi mungil mereka kepada Asyila kembali. kemudian, ia bergegas menuju tempat jejeran hidangan yang disediakan oleh pemilik acara tersebut.
Fahmi dan Yogi banyak belajar dari seorang Abraham Mahesa. Hal itu dikarenakan, istri mereka masing-masing mengeluh karena tak seromantis Abraham yang memperlakukan Asyila seperti seorang Ratu.
“Terima kasih, Mas,” ucap Asyila ketika suaminya datang dengan membawa sepiring makanan untuknya.
Ketika Ema ingin protes, Yogi pun tiba dengan membawa piring yang sudah diisi makanan dan disusul pula oleh Fahmi.
“Abang Yogi tumben romantis begini,” ucap Ema malu-malu.
Tanpa berpikir panjang, mereka pun segera menikmati hidangan dan tentu saja Abraham maupun Asyila menikmati makan sepiring berdua.
Usai menikmati hidangan tersebut, Abraham kembali menggendong bayi mungilnya yang sebelumnya berada di gendongan Sang istri.
Tiba-tiba dua orang wanita mendekat dan ternyata mereka adalah teman sekelas Asyila dan juga Ema.
“Hai apa kabar kalian berdua?” tanya salah satu dari mereka.
Asyila pun menoleh dan tersenyum manis ke arah dua wanita tersebut.
“Ya ampun, aku sampai tidak mengenali kalian,” tutur Asyila sembari beranjak dari duduknya.
Ema pun beranjak dari duduknya dan tak lupa melebarkan senyumnya.
“Dengar-dengar suamimu itu sangat kaya ya Asyila,” ucap wanita yang satunya.
“Alhamdulillah,” balas Asyila karena bingung harus menjawab apa.
“Ema, kamu sekarang tambah gemuk saja ya.”
“Nama kalian kalau tidak salah Puput dan Melati. Benar, tidak?” tanya Ema.
Keduanya dengan cepat mengiyakan.
Puput dan Melati pun menoleh ke arah para suami. Kemudian, tatapan mereka terhenti pada sosok Abraham.
“Asyila, kenalin aku dong!” pinta Melati sembari mengedipkan sebelah matanya ke arah Abraham.
Untungnya Abraham saat itu tidak melihat wajah Melati yang terus memandangi wajah Abraham dengan penuh ketertarikan.
“Eh Melati, kamu itu kalau ada mata di jaga jangan asal kedap kedip tak jelas. Lagian, aku dengar kamu itu perebut suami orang ya?” tanya Ema sekaligus mempermalukan Melati.
Melati terkejut dan dengan kesal ia pergi menjauh.
“Hhuuuuuu, dasar gila,” celetuk Ema.
Ema kembali mendaratkan bokongnya, begitu juga dengan Asyila.
“Wanita tadi itu memang benar adalah perebut suami orang?” tanya Dyah penasaran.
“Tentu saja, bahkan dia pernah dilabrak oleh istri dari suami yang dia rebut itu,” jawab Ema.
“Ema, tidak boleh seperti itu,” ucap Asyila mengingatkan Ema untuk menjaga ucapannya.
“Memang benar Asyila, semua anak-anak di grup sudah tahu tentang kejadian itu. Bahkan, Puput juga adalah perebut suami orang,” ungkap Ema yang sangat kesal.
“Sudah-sudah jangan dibahas lagi. Ayo kita temui para pengantin habis itu kita pulang!” ajak Asyila yang suasana hatinya sedikit terganggu karena ulah Melati yang sangat genit mengedipkan sebelah matanya kepada Sang suami tercinta.
Kevin dan Rahma tersenyum lebar ke arah Asyila serta yang lainnya yang tengah berjalan menuju ke atas pelaminan.
“Mbak Rahma, selamatnya! Semoga Allah senantiasa menjaga, melindungi rumah tangga Mbah Rahma dan juga Kevin,” tutur Asyila.
“Terima kasih, Nona Asyila. Sampai saat ini saya berhutang Budi kepada Nona Asyila,” ucap Rahma sembari meneteskan air matanya.
“Pengantin tidak boleh menangis, nanti riasannya luntur,” ucap Asyila sembari tertawa kecil.
Para istri memberikan selamat kepada mempelai wanita dan Para suami memberikan selamat kepada mempelai pria.
Usai bersalaman dan mendo'akan kebaikan para pengantin, mereka pun pamit untuk segera kembali ke rumah mereka masing-masing.
Kevin dan Rahma dengan semangat melambaikan tangan mereka ke arah Abraham serta yang lainnya.
“Mereka adalah orang-orang yang sangat baik,” puji Rahma berbicara kepada pria muda yang kini sudah sah menjadi suaminya.
“Mengenal mereka adalah hal yang sangat indah bagi kita,” balas Kevin.
__ADS_1
Abraham ❤️ Asyila
Like ❤️ komen 👇 Vote ❤️