
Melihat menantunya yang sibuk sendiri di dapur, Arumi pun menghampiri menantunya itu.
“Sedang memasak apa, Nak Abraham?” tanya Arumi sambil menoleh ke arah selai coklat.
“Ini, Ibu. Ashraf kebetulan mau roti bakar selai cokelat. Ya, jadinya Abraham ingin membuatnya,” jawab Abraham.
“Sudah biar Ibu saja yang melanjutkannya, sekarang kamu pergi temani Ashraf saja!”
“Kalau ini biar Abraham saja yang Bu yang melakukannya,” tutur Abraham yang sangat ingin menyiapkan sarapan untuk buah hatinya sendiri.
“Ya sudah kalau begitu, Oya, bubur ayam buatan Salsa sangat enak. Nak Abraham ingin mencobanya?” tanya Arumi.
“Tidak, Bu. Ashraf tidak ingin sarapan bubur ayam,” tolak Abraham dan kembali fokus dengan tugasnya.
Arumi mengangkat kedua bahunya dan mencari kesibukan yang lainnya.
Beberapa saat kemudian.
Abraham mengucapkan syukur karena roti bakar buatannya telah siap untuk dinikmati.
Abraham ternyata tidak hanya membuatkan roti bakar itu untuk buah hatinya. Melainkan, untuk yang lainnya agar bisa dinikmati bersama-sama.
“Tadaaaa... Roti bakar spesial buatan Ayah sudah jadi. Silakan dinikmati!”
Ashraf tertawa melihat Ayahnya yang berlagak seperti koki bintang lima.
“Ayah! Suapin,” pinta Ashraf dan membuka mulutnya lebar-lebar.
“Pesawat luar angkasa segera mendarat,” ucap Abraham dan memasukkan potong kecil roti bakar dengan selai coklat ke mulut Ashraf.
Ashraf dengan sangat senang mengunyahnya.
“Hhhmmm... Ayah, enak sekali,” puji Ashraf.
“Tentu saja buatan Ayah enak,” puji Abraham pada dirinya sendiri.
Abraham menoleh ke arah Kahfi yang ternyata terus memandangi.
Abraham tertawa kecil dan meminta Kahfi untuk membuka mulutnya lebar-lebar karena pesawat luar angkasa akan mendarat.
“Ngenggg...... Pesawat luar angkasa mendarat,” ucap Abraham dan memasukkan potong kecil roti bakar selai cokelat buatannya ke dalam mulut Kahfi.
“Mana tepuk tangan buat Ayah!” pinta Abraham.
Ashraf dan Kahfi pun bertepuk tangan dengan heboh.
“Terima kasih, terima kasih,” ucap Abraham setengah membungkuk seperti seorang pemain sirkus yang tengah menunjukkan aksinya di depan orang banyak.
Mendengar keseruan di ruang keluarga, Herwan serta yang lainnya menghampiri mereka bertiga untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
“Ada apa ini heboh-heboh?” tanya Herwan penasaran.
Ashraf dengan semangat menceritakan bagaimana Ayahnya melakukan pendaratan pesawat luar angkasa ke dalam mulutnya dan mulut Kahfi.
Herwan tertawa begitu juga dengan Yogi dan Arumi ketika Ashraf menjelaskannya dengan penuh semangat dan tangan kecilnya mempraktekkan bagaimana Abraham mendaratkan pesawat luar angkasa ke dalam mulutnya.
Meskipun sederhana, Arumi dan Herwan merasa sangat tersentuh.
__ADS_1
Bahkan, Arumi menangis terharu melihat Ashraf yang begitu bahagia.
“Hapus air mata Adik, nanti yang lainnya melihat,” bisik Herwan ditelinga istrinya.
Arumi mengangguk kecil dan cepat-cepat menghapus air mata bahagianya.
Ema keluar dari kamar setelah merasa hatinya cukup baik. Akan tetapi, ia masih sangat kesal dengan wanita yang bernama Salsa.
“Mama, mau roti bakar?” tanya Ashraf menawarkan roti bakar kepada wanita yang sudah seperti Ibunya sendiri.
“Mau dong, apalagi kalau Ashraf yang memberikannya!” seru Ema.
Dengan tangan kecilnya, Ashraf memberikan sepotong roti bakar kepada Ema tanpa turun dari sofa karena kakinya yang baru saja tertimpa musibah.
“Terima kasih, sayang,” ucap Ema dan menoleh ke arah lutut Ashraf yang sudah terbalut oleh kain kasa.
“Bagaimana lututnya, apakah masih sakit?” tanya Ema penasaran.
Ashraf menggelengkan kepalanya, ”Tidak sakit, Mama. Tapi, sedikit perih,” jawab Ashraf menggambarkan rasa perih di lututnya dengan ekspresi wajah memelas.
“Lain kali, Ashraf tidak boleh berlarian seperti tadi lagi agar tidak mengalami luka seperti ini. Dan ini, juga berlaku untuk Kahfi yang belum terluka seperti Ashraf,” ucap Ema sambil melirik ke arah buah hatinya yang masih sibuk menikmati roti bakar ditangannya.
Mendapat lirikan dari Mamanya secara tiba-tiba, Kahfi dengan cepat mengangguk dan mengiyakan ucapan Mamanya untuk tidak berlarian kesana-kemari.
Siang hari.
Abraham mendapat kabar dari satu bawahannya bahwa investor dari luar negeri secara langsung ingin menemuinya besok pagi.
Mau tak mau Abraham pun harus kembali ke Bandung karena perusahaan adalah tanggung jawabnya sebagai pemilik perusahaan tersebut.
“Telepon dari siapa, Nak?” tanya Herwan yang tak sengaja mendengar perbincangan Abraham dengan si penelepon meskipun tidak terlalu jelas.
“Ke Bandung? Mendadak seperti ini?” tanya Herwan yang terlihat sangat terkejut karena menantunya harus kembali ke Bandung secara mendadak.
“Iya, Ayah. Besok pagi ada investor dari luar negeri yang ingin bertemu dengan Abraham dan kemungkinan membahas masalah kerja sama kami. Oleh karena itu, Abraham harus segera pulang untuk persiapan besok pagi,” terang Abraham apa adanya.
“Kalau memang begitu, pulanglah! Soal Ashraf, biar Ayah dan Ibu yang mengurusnya. Insya Allah Ashraf tidak akan lagi rewel seperti yang kemarin-kemarin,” ujar Herwan.
Abraham bergegas masuk ke dalam kamarnya dan mempersiapkan semuanya sendiri untuk kembali ke Bandung secepat mungkin.
Beberapa saat kemudian.
“Ayah mau kemana bawa koper?” tanya Ashraf ketika melihat Ayahnya baru saja keluar dari kamar dengan menggeret sebuah koper berukuran cukup besar.
Abraham meletakkan kopernya dan berjongkok tepat dihadapan buah hatinya yang masih kesulitan berjalan karena kedua lututnya yang tengah terluka akibat jatuh pagi tadi.
“Sayang, Ayah kembali ke Bandung dulu ya. Insya Allah, setelah urusan Ayah beres, Ayah langsung datang kemari. Akan tetapi, Ashraf tidak boleh menunggu Ayah karena Ayah tidak ingin Ashraf bersedih. Ayah paham'kan, maksud Ayah?”
Meski Ashraf tidak terlalu mengerti apa yang dikatakan oleh Ayahnya, Ashraf memilih mengatakan ia dan tak ingin dicap sebagai anak yang tidak penurut pada orang tuanya.
Ashraf kembali menggeret kopernya dan melanjutkan langkahnya menuju depan rumah. Kemudian, sekilas ia menoleh ke belakang dan tersadar bahwa lutut buah hatinya masih sakit.
“Maafkan Ayah yang sayang, sini Ayah gendong supaya Ashraf bisa mengantarkan Ayah sampai depan.”
Dengan perasaan sedih, Abraham harus meninggalkan buah hatinya yang saat ini dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Abraham menggendong buah hatinya sambil terus melamun dan Arumi bisa melihat kesedihan dimata menantu idamannya.
__ADS_1
“Abraham, kau mau kemana berpakaian rapi seperti ini?” tanya Yogi yang tiba-tiba muncul dihadapan Abraham.
“Aku harus pulang saat ini juga,” jawab Abraham dan menjelaskan kepada sahabatnya bahwa besok pagi akan ada investor luar negeri yang ingin bertemu dengannya dan membahas masalah kerja sama.
“Aku pun akan pulang saat ini juga,” terang Yogi yang merasa tidak enak hati jika sampai dirinya tak pulang saat itu juga.
“Santai saja, kalau begitu aku pulang duluan. Sampai bertemu lagi di perumahan Absyil untuk membahas pekerjaan kita nanti malam,” tutur Abraham.
Yogi berlari masuk ke dalam kamar dan dengan gerakan kilat ia memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
“Abang mau kemana?” tanya Ema ketika melihat suaminya sibuk memasukkan pakaian yang tersisa di kamar itu ke dalam koper.
“Mau ke Bandung, besok pagi ada pertemuan yang sangat penting dengan investor asing. Untuk sekarang, lebih baik adik diam disini menemani Ashraf untuk sementara waktu. Apalagi sekarang Ashraf sedang sakit dan butuh banyak perhatian,” pinta Yogi.
“Abang tenang saja, adik akan merawat Ashraf dan Kahfi dengan baik disini,” jawab Ema.
Setelah semuanya beres, Yogi pun pamit dengan pakaian seadanya.
“Abang tidak ganti pakaian?” tanya Ema melihat pakaian suaminya yang sangat biasa.
“Tidak ada waktu untuk mengganti pakaian, Abang pergi dulu ya,” ucap Yogi dan memberikan ciuman panasnya dibibir Ema dan sengaja menggigit bibir istrinya.
“Awww... Abang kenapa main gigit-gigit bibir adik?” tanya Ema sambil menyentuh bibir bawahnya yang digigit oleh suaminya.
“Sebagai tanda bahwa Abang sangat menantikan malam panas kita,” terang Yogi dan tersenyum genit ke arah istrinya sebelum ia benar-benar meninggalkan sang istri yang sendirian di dalam kamar.
“Tidak apa-apa sakit, yang penting enak,” ucap Ema setelah suaminya pergi meninggalkan dirinya sendirian di dalam kamar.
1 jam kemudian.
Rumah terasa sangat sepi dan kedua bocah kecil itu hanya diam menonton acara kartun berdua saja di ruang keluarga.
“Mama!” panggil Kahfi sambil mengucek matanya yang tandanya bahwa ia begitu mengantuk dari harus segera ditidurkan.
“Mama!” panggil Kahfi sekali lagi.
Ema yang sedang menikmati es campur di meja makan bersama dengan Arumi, terkejut manakala mendengar panggilan buah hatinya dan hampir saja tersedak.
“Coba kamu lihat itu Kahfi, kenapa berteriak seperti itu,” tutur Arumi.
Ema mengangguk kecil dan berlari secepat mungkin menghampiri buah hatinya.
“Mama... Hiks... Hiks...”
Ema yang mengerti bahwa buah hatinya tengah mengantuk langsung menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Ashraf pun perlahan memejamkan matanya dan tidur di sofa ruang keluarga dengan televisi yang masih menyala.
Beberapa menit kemudian, Ema kembali ke ruang keluarga untuk mengambil pakaian buah hatinya yang sengaja dilepas oleh Kahfi.
Baru saja ingin mengajak Ashraf tidur dikamar, Ema seketika itu terkejut dan mematikan televisi yang masih menyala.
“Ya ampun, anakku yang ini ternyata sudah tidur. Kalau begini aku biarkan saja apa langsung aku bawa ke kamar?”
Tiba-tiba Arumi muncul dan mengatakan kepada Ema untuk membiarkan Ashraf tidur di sofa.
Bukan apa-apa, Arumi takut jika Ashraf dipindahkan dan bukannya tidur, bocah kecil itu malah rewel karena tidurnya tak nyenyak.
__ADS_1
Ema mengiyakan dan memberikan bantal serta selimut untuk Ashraf, agar tidur Ashraf semakin nyenyak.