Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Bela Merasa Nyaman


__ADS_3

Pukul 21.15 WIB.


Asyila tengah menemani Bela menonton televisi, terlihat sekali bahwa gadis kecil itu tidak pernah yang namanya menonton televisi.


“Bela, maaf sebelum. Apakah di rumah Bela tidak ada televisi?” tanya Asyila penasaran.


“Tidak ada, Aunty. Bapak dan Ibu tidak punya uang untuk membelinya,” jawab Bela sambil terus menatap layar televisi.


“Lalu, Bapak dan Ibu kerja apa?” tanya Asyila semakin penasaran.


“Bapak dan Ibu tidak bekerja,” jawab Bela.


“Lalu, bagaimana kalian bisa makan?” tanya Asyila lagi.


“Besok Paman dan Aunty akan memberikan Bela uang. Uang itu untuk Bapak dan Ibu di rumah, buat makan dan buat sekolah Bela juga,” jawabnya dengan sang polos.


Asyila tak bisa menahan diri untuk tidak menangis, ia pun memeluk erat tubuh Bela dan menangis histeris.


“Ya Allah, Nak. Kamu masih sangat kecil, kenapa kamu diperlakukan tidak adil seperti ini. Diusia kamu yang sekarang, seharusnya kamu bersekolah, belajar dan juga bermain. Bagaimana bisa mereka menjadikanmu sebagai anak pencari uang dengan menabrak diri seperti ini,” ucap Asyila yang sangat geram dengan kedua orang tua Bela.


Bela yang awalnya terlihat kuat dan baik-baik saja, seketika itu menangis di pelukan Asyila.


“Aunty, Bela capek kalau terus-menerus mencari uang seperti itu. Ketika Bela pulang tanpa membawa uang, Bapak dan Ibu tidak memberikan Bela makan dan mereka bahkan mengurung Bela di kandang ayam yang sudah tidak terpakai,” terangnya yang akhirnya menceritakan apa yang telah ia dapatkan selama ini dari kedua orangtuanya.


Hati Asyila terasa sangat perih dan juga hancur berkeping-keping. Pikiran Asyila seketika itu buntu dan yang ingin Asyila lakukan saat itu adalah menghajar kedua orang tua Bela dengan tangannya sendiri, sampai kedua orang tua itu tak bisa bergerak lagi.


“Mas Abraham! Mas!” panggil Asyila berteriak.


Abraham yang berada di dalam kamar seketika itu berlari menghampiri istri kecilnya dan Abraham hampir saja terjatuh dari anak tangga karena saking paniknya.


“Syila kenapa, kenapa teriak-teriak?” tanya Abraham.


Asyila melepaskan pelukannya yang sebelumnya memeluk Bela dan kini beralih memeluk tubuh suaminya.


“Mas, orang tua Bela adalah orang tua yang jahat. Asyila mau mereka mendapatkan ganjaran yang setimpal. Lihatlah gadis kecil ini, dia sering disiksa kalau tidak membawa uang dan tidak hanya disiksa, Bela juga dimasukkan ke dalam kandang ayam tanpa diberi makan,” terang Asyila yang terlihat begitu emosional.


“Syila yang tenang, jangan menangis di depan Bela. Besok kita akan mendatangi orang tua Bela,” tutur Abraham.


Asyila berusaha menenangkan dirinya dipelukan suaminya dan setelah ia tenang, ia pun kembali mendekati Bela yang masih saja menangis.


“Bela sekarang jangan sedih, Aunty tidak akan membiarkan Bapak dan Ibu Bela melakukan hal seperti itu. Tidak ada lagi yang namanya disiksa, tak diberi makan dan juga tidur di kandang ayam. Aunty dan Paman bisa menjamin keselamatan Bela,” terang Asyila.


“Te-terima kasih, Aunty dan juga Paman,” balas Bela.


“Bela, ini sudah malam. Bela harus tidur ya,” ucap Abraham.


“Iya Bela sayang, kamu harus tidur. Besok 'kan, masih bisa nonton televisi lagi,” ujar Asyila.


Abraham dan Asyila pun menuntun Bela masuk ke dalam kamar yang biasa ditempati oleh Dyah.


“Bela tidur disini ya,” ucap Asyila.


Gadis kecil itu sangat penurut, ia mengiyakan setiap perkataan dari Abraham dan juga Asyila.


“Terima kasih, Aunty dan Paman yang sudah baik sama Bela,” ucapnya.


Asyila menangis terharu mendengar ucapan dari gadis kecil itu.


“Aunty jangan nangis lagi,” tutur Bela yang tak ingin melihat wanita baik dihadapannya menangis karena dirinya.


Asyila mengangguk kecil sembari menyeka air matanya.


“Sekarang Bela tidur ya, jangan lupa pakai selimut. Malam ini udaranya sangat dingin dan jangan sampai Bela masuk angin,” terang Asyila sambil menyelimuti tubuh Bela dengan selimut.


Bela tersenyum dan terlihat jelas kalau gadis kecil itu nyaman berada di kediaman keluarga Abraham Mahesa.


Melihat Bela yang perlahan memejamkan matanya, keduanya pun bergegas keluar dari kamar itu untuk segera naik ke kamar mereka sendiri.


“Mas, Asyila ingin orang tua Bela mendapatkan ganjaran dari perbuatan-perbuatan jahat mereka kepada Bela,” ucap Asyila yang tengah menaiki anak tangga menuju kamar bersama Sang suami.


“Syila tenang saja, dokter April tadi sudah memberitahukan bahwa luka-luka ditubuh Bela adalah luka yang disengaja. Yaitu, luka-luka bekas dipukul oleh orang tuanya dan beberapa lainnya luka karena Bela sengaja menabrakkan dirinya untuk mendapatkan uang dari si penabrak,” ungkap Abraham yang sudah berada di kamar bersama istri kecilnya.


Wanita muda itu berlari kecil ke arah bayi Akbar yang masih terlelap dan Abraham pun mengikuti langkah Sang istri yang mendekati bayi mungil mereka.


“Anak adalah titipan Allah yang sangat luar biasa, akan tetapi kenapa para orang tua disana ada saja yang memperlakukan anak mereka seperti....” Asyila tak sanggup melanjutkan ucapannya, ia menangis sembari terus menatap wajah suci bayi mungilnya.


Abraham menarik tubuh istri kecilnya ke dalam pelukan.


“Besok, kita akan meminta keadilan untuk Bela. Syila sekarang jangan bersedih, ini sudah malam dan tidak baik kalau Syila terus-menerus menangis seperti ini,” tutur Abraham mengajak istri kecilnya untuk segera tidur.


“Mas, bukankah malam ini Mas meminta Asyila melayani Mas?”


“Bukankah masih ada malam-malam selanjutnya, sekarang yang lebih penting kita harus tidur,” jawab Abraham.


Keesokan paginya.


Abraham dan Asyila terlihat begitu bahagia melihat bagaimana Bela makan dengan lahap.


Keduanya sangat senang melihat Bela jauh lebih baik dari sebelumnya.


“Bela, habis sarapan jangan lupa minum obat ya biar cepat sembuh,” ucap Asyila.


Bela mengiyakan dan kembali melanjutkan aktivitasnya yang tengah menikmati sarapan buatan Asyila.


Usai sarapan, Asyila mengajak Bela untuk duduk di teras depan rumah sembari berbincang-bincang.

__ADS_1


“Bela sayang, boleh Aunty tahu cita-cita Bela apa?” tanya Asyila dengan tatapan penuh keibuan.


“Cita-cita Bela sebenarnya mau jadi guru TK,” jawabnya.


“Guru TK? Kalau boleh tahu kenapa Bela mau jadi guru TK?” tanya Asyila penasaran.


“Karena di TK dekat rumah gurunya suka nyanyi, suka main sama anak-anak kecil dan guru TK tidak pernah marah-marah,” ucapnya dengan polos.


Senyumnya merekah sempurna dan di detik berikutnya Bela menundukkan kepalanya dengan sangat sedih.


“Bela kenapa?” tanya Asyila.


“Tetapi, Bela tidak bisa membaca, menghitung, sholat dan juga ngaji,” jawabnya.


Asyila terkejut mendengar bahwa Bela belum bisa membaca.


“Menghitung, sholat dan ngaji Bela tidak perlu sedih, Aunty akan mencarikan guru ngaji untuk Bela. Akan tetapi, kenapa Bela belum bisa membaca? Apakah orang tua Bela tidak mengajarkan Bela membaca?” tanya Asyila kesal.


Bela dengan tatapan polos menggelengkan kepalanya.


“Ya Allah... Kamu masih sangat kecil, perjalanan hidup kamu masih sangat panjang dan kamu adalah generasi penerus bangsa. Seharusnya orang tua mu mengerti akan hal itu,” terang Asyila.


Tanpa ragu, Asyila pun memutuskan untuk mengajari Bela bagaimana caranya membaca dan juga menghitung. Sementara sholat dan mengaji, Asyila memilih untuk mencarikan guru agama bagi Bela.


Bela sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada Asyila yang sangat baik kepada dirinya.


“Di dunia ini yang baik cuma Aunty dan Paman,” ucapnya.


“Ssuutt.. Bela tidak boleh berkata seperti itu, bagaimanapun di bumi ini masih ada orang yang baik dan bahkan jauh lebih baik dari kami. Hanya saja, Bela belum menemukannya,” balas Asyila.


Abraham tiba-tiba datang dengan menggendong bayi mungil mereka.


“Syila, sepertinya bayi kita haus,” ucap Abraham.


“Sini Mas, biar Asyila susui,” sahut Asyila sembari mengambil alih menggendong bayi mungil mereka.


Wanita muda itu tersenyum ke arah bayi mungilnya yang terus saja menatapnya.


“Haus ya sayang? Mau minum susu?” tanya Asyila sembari berjalan masuk menuju ruang tamu untuk segera menyusui bayi mungilnya.


Kini, di teras depan rumah hanya ada Abraham dan juga Bela.


Apa yang diperbincangkan oleh Asyila dan juga Bela, Abraham mendengar semuanya dan tentu saja Abraham setuju dengan perkataan istri kecilnya itu.


“Bela, hari ini kami akan mengantarkan Bela pulang. Bela mau pulang?” tanya Abraham.


“I-iya Paman,” jawabnya yang terlihat sangat ketakutan.


Abraham bisa melihat dengan jelas bahwa gadis kecil itu tak ingin pulang.


Kamu tenang saja, Nak. Kami akan memberi perhitungan kepada orang tuamu.


“Assalamu’alaikum,” ucap Dyah yang tiba-tiba datang bersama dengan bayinya yang berumur 5 bulan.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Abraham sembari beranjak dari duduknya.


Dyah mengernyitkan keningnya ketika melihat seorang gadis kecil duduk di kursi teras depan rumah.


“Paman, siapa anak ini?” tanya Dyah penasaran.


“Ini Bela, kemarin Paman tak sengaja menabraknya dan membawanya kemari,” jawab Abraham.


“Kemarin? Jadi, anak ini semalam tidur disini? Memang orang tuanya mana, sampai-sampai Paman membawanya kemari?” tanya Dyah.


Pertanyaan Dyah sama sekali tak salah, siapapun orangnya pasti akan menanyakan hal sama seperti yang kini Dyah tanyakan.


“Ceritanya sangat panjang, ya sudah sana masuk.”


Dyah tersenyum ke arah Bela dan bergegas masuk untuk menemui Aunty serta adiknya.


Wanita muda itu terus berjalan masuk dan ternyata Aunty-nya sedang berada di ruang makan.


“Aunty sedang apa?” tanya Dyah secara tiba-tiba.


Asyila terkejut dan hampir saja piring yang berada ditangannya terlepas.


“Astaghfirullahaladzim, kamu sama Pamanmu sama saja. Sangat suka mengejutkan Aunty,” tutur Asyila.


“Hehe... Maaf, Dyah juga tidak sengaja. Ngomong-ngomong Aunty sedang ngapain?”


“Hhmm.. ini Aunty sedang membuat piscok lumer, kamu mau?”


“Mau dong!” seru Dyah.


“Kalau begitu bantu Aunty ambilkan keju dan juga susu di dalam kulkas!” pinta Asyila.


Dyah mengiyakan dan mengambil keju serta susu tersebut.


Beberapa saat kemudian.


Piscok lumer buatan Asyila pun jadi dan siap disajikan.


“Kamu bawa satu dan Aunty bawa satu!”


“Siap Aunty!”

__ADS_1


Merekapun berjalan menuju teras depan rumah dan meletakkan dua piring berisi piscok lumer diatas meja.


“Bela, ayo dimakan piscok lumer buatan Aunty!”


Dengan senyum manisnya, Bela mengambil piscok lumer tersebut dan menikmatinya.


Dyah merasa bahwa gadis kecil bernama Bela itu sangat diperlakukan istimewa oleh Aunty serta Paman kesayangannya.


“Ada apa Dyah, kenapa melihat Bela dengan seperti itu?” tanya Abraham.


Asyila tersenyum dan mengajak Dyah untuk masuk ke dalam. Kemudian, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada gadis kecil bernama Bela itu.


Setelah mengetahui fakta bahwa Bela hanyalah anak yang dimanfaatkan oleh kedua orangtuanya, Dyah menjadi sangat murka dan seketika itu ingin segera menemui kedua orang tua Bela yang sungguh kejam.


“Orang tua tak punya hati!” teriak Dyah yang sangat kesal.


Asyila seketika itu membungkam mulut Dyah dengan tangannya.


“Ssuuttt.. Tolong jangan berteriak seperti itu, tolong bersikaplah sewajarnya saja di depan Bela. Aunty tidak mau dia menjadi sedih!” pinta Asyila kepada Dyah.


“Baik, Aunty,” balas Dyah patuh.


Keduanya pun kembali ke depan teras rumah dan duduk di kursi sembari menikmati piscok lumer tersebut.


“Bela, ini Keponakan Paman dan juga Aunty. Bela bisa memanggilnya Kak Dyah,” ucap Abraham memperkenalkan keponakannya kepada Bela.


Bela mengangguk dengan malu-malu dan mengulangi ucapan Abraham untuk memanggil Dyah dengan sebutan Kak Dyah.


“Kak Dyah,” ucap Bela.


Dyah tersenyum manis sembari mengedipkan sebelah matanya ke arah Bela.


“Bela, kalau bosan disini main saja ke tempat Kak Dyah. Tidak jauh kok, dari sini juga kelihatan rumah Kak Dyah,” ucap Dyah dengan sangat ramah.


“Iya kak Dyah,” balas Bela.


Dyah menatap wajah Bela dengan sangat lekat dan perlahan tatapannya beralih ke arah tangan serta kaki Bela yang terdapat banyak sekali ruam-ruam.


Ya Allah, gadis sekecil ini sudah mendapatkan banyak kesulitan di hidupnya. Sungguh gadis kecil yang malang, semoga Engkau mengangkat derajat gadis kecil ini Ya Allah.


Tanpa sadar, Dyah meneteskan air matanya dan saat itu Asyila pun melihat bahwa keponakan suaminya tengah menangis.


“Jangan menangis,” ucap Asyila lirih sembari menyeka air mata Dyah.


Dyah mengangguk kecil dan perlahan melebarkan senyum manisnya.


“Dyah, sebentar lagi kami akan mengantarkan Bela pulang. Apakah kamu mau ikut?” tanya Abraham.


Tanpa pikir panjang, Dyah langsung mengiyakan ajakan Pamannya.


“Kalau begitu, bersiap-siaplah. Jam 9 kita akan pergi,” tutur Abraham.


Dyah tersenyum dan menyentuh pipi Bela.


“Bela, semangat ya!”


“Semangat!” seru Bela sambil mengangkat kedua tangannya ke atas dengan penuh semangat.


Asyila tertawa kecil dan melangkah masuk ke dalam kamar untuk kembali menggendong bayi kecilnya yang saat itu berada di ruang keluarga.


Karena masih ada beberapa pekerjaan rumah yang belum selesai, Dyah pun akhirnya pamit pulang ke rumah dan akan datang kembali sebelum 9 pagi.


“Paman, Dyah dan Asyila kecil pulang dulu ya!”


“Iya, hati-hati jangan terlambat datang kemari,” balas Abraham.


Dyah tak lupa mengucapkan salam dan melenggang pergi untuk kembali ke rumahnya.


Saat Asyila keluar, Dyah sudah tak terlihat lagi.


“Loh, Dyah kemana Mas?” tanya Asyila.


“Dyah sudah pulang,” jawab Abraham.


“Kenapa cepat sekali pulangnya?” tanya Asyila terheran-heran.


“Sudah tidak apa-apa, toh nanti juga Dyah kesini lagi,” balas Abraham.


Asyila memanyunkan bibirnya dan memberikan bayi mungilnya kepada Sang suami.


“Mas, tolong gendong Bayi Akbar sebentar. Asyila mau ke ruangan kerja Syila,” ucapnya.


“Syila mau ngapain?”


“Asyila mau membuatkan pakaian untuk Bela,” jawab Asyila.


Wanita muda itu kemudian mengajak Bela untuk masuk ke ruang kerjanya.


“Ayo Bela ikut Aunty! Aunty akan mengukur kamu dan membuatkan pakaian.”


Bela dengan senang mengiyakan ajakan Asyila yang ingin membuatkan pakaian untuknya.


Abraham ❤️ Asyila


Like ❤️

__ADS_1


__ADS_2