Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Ema Yang Kepo


__ADS_3

Abraham tiba-tiba teringat dengan nasib dua bocah di rumah, ia pun langsung menanyakannya kepada Asyila.


“Anak-anak Syila tinggal begitu saja?” tanya Abraham.


Asyila terdiam sejenak dan ia pun teringat bahwa ia telah menitipkan Ashraf dan Kahfi kepada Fahmi.


“Asyila titipkan kepada calon suami Dyah,” terang Asyila.


Seketika itu juga Ema dan Yogi menoleh ke arah Asyila. Mereka sama sekali belum tahu bahwa Dyah telah memiliki calon suami.


“Calon suami Dyah? Apakah itu Kevin?” tanya Ema penasaran.


Wajah Yogi langsung kecut, ia sedikit cemburu ketika istrinya menyebut nama Kevin yang tak lain adalah mantan kekasih istrinya itu.


Ema mengetahui perubahan wajah suaminya yang terlihat tak senang ketika ia menyebutkan nama Kevin. Ema pun meminta maaf dan tidak akan menyebutkan nama Kevin didepan suaminya, Yogi.


Asyila tertawa kecil dan Abraham hanya tersenyum tipis melihat kecemburuan Yogi yang begitu jelas.


“Bukan, bukan Kevin,” tutur Asyila.


“Lalu, siapa?” tanya Ema dan Yogi kompak.


“Sudah nanti saja, kalian juga akan tahu kalau sudah melihatnya,” sahut Abraham.


Sesampainya di perumahan Absyil.


Dengan wajah babak belur, Ema bersemangat keluar dari mobil untuk melihat siapa calon suami dari Dyah. Begitu juga dengan Yogi yang tak kalah penasarannya, ia pun mengajak Ema untuk segera masuk ke dalam rumah keluarga kecil Abraham.


“Assalamu’alaikum,” ucap Ema dan juga Yogi.


Fahmi yang sedang duduk sambil memandangi Ashraf dan Kahfi yang tengah tertidur, langsung beranjak dari duduknya untuk melihat siapa yang datang.


Ema yang wajahnya sudah babak belur tak menghiraukan wajahnya, penasarannya mengalahkan rasa sakit diwajahnya. Toh, rumahnya sudah dekat dan setelah sampai di dalam rumah, suaminya akan langsung mengobati luka di wajah.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Fahmi.


Fahmi tercengang sekaligus kasihan melihat wanita muda dihadapannya babak belur. Ia kemudian, berpikir bahwa Yogi telah melakukan KDRT terhadap Ema.


Ketika Fahmi ingin menjauhkan Yogi dari Ema, Abraham langsung menghentikan Fahmi dan meminta Fahmi untuk tenang.


Karena tak ingin Fahmi salah paham, Abraham pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


“Maaf, saya kira anda melakukan KDRT. Dan Mbak ini meminta pertolongan kepada saya,” jelas Fahmi.


Fahmi memang sangat tak menyukai pria yang melakukan kekerasan kepada wanita. Karena wanita hakikatnya untuk dilindungi, dijaga serta dimuliakan. Akan tetapi, masih banyak orang yang menyepelekan seorang wanita.


Karena mereka terus berdiri di luar rumah, Asyila pun mengajak mereka untuk masuk ke dalam dan cepat-cepat mengambil kotak P3K untuk mengobati luka di wajah Ema.


“Nona Asyila, untuk yang ini biar saya saja,” ucap Yogi dan mengambil alih untuk mengobati wajah istrinya.


Ema meringis kesakitan ketika obat merah mengenai lukanya.


“Tahanlah sebentar, adik,” tutur Yogi sambil terus memberikan pengobatan ala kadarnya pada Ema.


Ema mengangguk kecil dan berusaha menahan rasa sakit di seluruh wajahnya. Terutama dibagian pipi dan bibir.

__ADS_1


“Jadi, Mas ini calon suami Dyah?” tanya Ema yang mulai mengintrogasi Fahmi, pria yang usia 5 tahun lebih tua. dari Ema.


“Insya Allah,” balas Fahmi dengan sangat sopan.


Ema tertawa ketika membayangkan sikap Dyah yang cukup urakan. Sangat berbeda jauh dengan Fahmi yang begitu kalem.


“Mas Fahmi suka Dyah dari mananya?”


Pertanyaan Ema seketika membuat suasana di ruang tamu menjadi hening. Bagaimana bisa dengan santainya Ema menanyakan hal yang sangat sensitif, hal yang sangat sulit untuk dijawab. Karena definisi dari jatuh cinta banyak sekali dan tidak hanya soal fisik saja.


“Adik, cinta itu bisa datang darimana saja. Abang pun dulu juga begitu,” tutur Yogi.


Abraham langsung mengacungkan jempolnya, setiap pria menyukai serta mencintai wanita dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang menyukai lawan jenisnya karena sikapnya, kecantikan, ketampanannya, kebaikannya, kecuekannya dan masih banyak lagi.


Ema kembali tersenyum ketika mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya.


“Terima kasih, Abang,” ucap Ema.


Ema kembali bertanya dan terus bertanya. Yogi bahkan, bingung dengan sikap istrinya yang begitu kepo alias ingin tahu.


Akan tetapi, Asyila sudah tidak terkejut lagi dengan sikap alami Ema yang sangat ingin tahu.


Meskipun begitu, Ema tetaplah Ema. Wanita yang apa adanya, ceroboh, jujur serta dapat dipercaya.


Abraham menyenggol lengan Yogi dan melirik ke arah jam di dinding. Yogi mengernyitkan keningnya dan di detik berikutnya ia mengerti apa maksud dari Abraham yang menyenggol lengannya.


“Adik, ini sudah jam 2 dan adik belum melaksanakan sholat Dzuhur,” ucap Yogi.


Ema tersadar dan meminta izin untuk pulang. Akan tetapi, Asyila menahan Ema dan mengajak Ema ke kamar.


“Apa ini Asyila?” tanya Ema.


“Kamu seperti tidak tahu aku saja, cepatlah mandi dan gantilah dengan yang ini. Tenang saja ini masih baru dan telah aku cuci bersih, kamu boleh mengambilnya,” terang Asyila.


Ema sangat senang dan menerimanya dengan senang hati.


“Terima kasih sayangku yang paling cantik dan lebih cantik dari aku,” ucap Ema.


“Kamu ini bisa saja, aku memberikannya hitung-hitung sebagai permintaan maaf karena tidak menjaga mu dengan baik.”


Ema menangis terharu, tak ada sedikitpun rasa kesal dihatinya karena ia diculik. Justru, ia tidak ingin jika Asyila yang kenapa-kenapa. Baginya Asyila adalah bagian dari tubuhnya, jika satu bagian tubuh ada yang sakit maka semuanya pun ikut merasakan sakit.


Justru dengan Ema diculik, ia bisa mengetahui bahwa Asyila adalah wanita pemberani dan juga tangkas.


“Aku senang ketika kamu menghajar pria itu, kalau saja aku tidak diikat sudah pasti itu orang habis di tanganku,” ujar Ema sambil mengepalkan kedua tangannya dengan begitu semangat.


Asyila segera menurunkan kedua tangan Ema dan menyuruh Ema untuk segera mandi karena waktu untuk sholat Dzuhur sangatlah sedikit.


Beberapa menit kemudian.


Ema telah selesai melaksanakan sholat Dzuhur, kini waktunya bagi Asyila untuk menyembunyikan luka lebam di wajah Ema dengan alat make up miliknya.


“Asyila!” panggil Ema yang saat itu tengah menutup mata membiarkan Asyila memoles wajahnya.


“Ada apa?” tanya Asyila.

__ADS_1


“Kalau dipikir-pikir, kisah cinta kita bertiga unik ya!”


”Bertiga?” tanya Asyila yang belum mengerti apa yang dikatakan oleh Ema.


“Iya. Aku, kamu dan juga Dyah. Sama-sama dilamar dengan orang yang sebelumnya tidak kita ketahui. Dan sekarang, Dyah sedang berada diposisi kita dulu. Posisi dimana dia tidak tahu apa-apa,” terang Ema.


Asyila kembali bernostalgia ketika ia baru pertama kali masuk kuliah dan bagaimana pertama kali suaminya menatap matanya.


Deg! Deg! Deg!


Wajah Asyila seketika itu merah merona, setiap mengingatnya Asyila merasa sangat gugup. Apalagi saat ia jatuh cinta kepada Abraham, Asyila sama sekali tidak mengetahui bahwa dosennya adalah suaminya.


Cinta memang sangat aneh dan juga unik.


“Asyila.” Ema memanggil sahabatnya yang sedari tadi tidak merespon perkataannya.


“Maaf, aku keasikan melamun,” ucap Asyila.


“Asyila!”


“Apa!!”


“Diantara Pak Abraham, Abang Yogi dan Mas Fahmi. Menurutku, tetap yang paling tampan adalah suamimu,” puji Ema jujur.


Asyila menyentil kening sahabatnya sembari tertawa lepas.


“Iya aku tahu, jangan diperjelas.”


Keduanya pun tertawa, Asyila maupun Ema sangat senang ketika sedang bersama. Seakan-akan mereka kembali seperti gadis remaja yang baru lulus sekolah.


Diruang tamu.


Abraham, Fahmi dan Yogi semakin dekat setelah berbincang-bincang masalah pekerjaan mereka.


Ditengah kesibukannya Fahmi mendekati Dyah, ada kesibukan lainnya yang sedang digeluti oleh Fahmi yaitu, usaha kulinernya.


Sudah ada 3 cabang usaha kuliner yang telah berdiri kokoh di daerah Ibu kota Jakarta dan rencananya Fahmi juga ingin membuka usaha kuliner di kota Bandung.


“Bunda!” panggil Ashraf yang berada di ruang keluarga. Ashraf terbangun ketika Kahfi tak sengaja menendang bokongnya, ia pun beranjak untuk segera menemukan Bundanya tersayang.


Fahmi yang tak sengaja melihat Ashraf berjalan menaiki anak tangga dengan keadaan yang belum sepenuhnya tersadar langsung berlari secepat mungkin. Dan disaat itu pula Ashraf kehilangan keseimbangannya, untungnya Fahmi dengan cepat menangkap tubuh Ashraf yang jika telat sedikit saja, sudah pasti akan sangat fatal untuk tubuh Ashraf bila terkena benturan keras dilantai.


Abraham dan Yogi terperanjat melihat Ashraf yang hampir saja jatuh. Untungnya, Fahmi dengan cepat menangkap tubuh Ashraf.


“Terima kasih, Fahmi,” ucap Abraham dengan begitu takutnya. Sama seperti rasa takutnya ketika beberapa jam lalu melihat Asyila yang ingin dipukul dengan kursi kayu ukuran cukup besar.


Ashraf menatap kebingungan dan seketika itu ia menangis di pelukan Fahmi.


Asyila dan Ema yang berada di kamar, bergegas turun mendengar suara Ashraf yang menangis.


Disaat yang bersamaan, Kahfi terbangun dari tidurnya dan juga menangis karena Ema maupun Yogi tidak berada disampingnya.


“Kenapa sayang?” tanya Asyila dan mengambil alih menggendong Ashraf.


Ema pun segera berlari menghampiri Kahfi disusul pula oleh Yogi.

__ADS_1


Kemudian, keduanya segera pamit karena Kahfi benar-benar rewel.


__ADS_2