Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Meluangkan Waktu Bersama Arsyad Dan Ashraf


__ADS_3

Sepulang dari restoran, Abraham memerintahkan Sang istri untuk tetap di hotel.


Abraham ingin istri dan kedua putra kecil mereka bisa menghabiskan waktu bersama. Untuk menggantikan waktu yang hilang karena menunggu Sang Ayah mertua di rumah sakit.


Beberapa saat yang lalu, Abraham mendapat kabar baik bahwa kondisi Ayah mertuanya perlahan mulai membaik dan ada tanda-tanda bahwa Ayah mertuanya akan segera sadar.


“Mas pergi dulu, Arsyad dan Ashraf pasti sangat senang ditemani oleh Bunda mereka,” ucap Abraham sambil memeluk tubuh Istri kecilnya.


“Akan lebih senang jika Mas juga bergabung bersama kami,” balas Asyila.


“Insya Allah dua hari lagi kita akan kembali ke rumah. Apakah Syila sudah siap kembali ke rumah?” tanya Abraham karena tahu bahwa Sang istri takut jika kembali ke rumah.


Asyila terdiam sejenak dan tiba-tiba ingatannya kembali ketika melihat Sang ayah digigit oleh ular kobra. Akan tetapi, tidak mungkin bagi Asyila untuk tidak pulang. Apalagi, rumah itu adalah rumah kediaman Sang suami tercinta.


“Kalau Syila belum siap, tidak apa-apa. Kita bisa tidur disini untuk sementara waktu, sampai Asyila benar-benar siap.” Abraham berusaha memahami Istri kecilnya, ia tidak bisa memaksa Sang istri untuk segera kembali ke rumah.


“Kenapa Mas bicara begitu? Tentu saja Asyila mau pulang ke rumah. Kalaupun hari ini, Insya Allah Asyila siap. Bukankah ular-ular di rumah sudah di tangkap dan dipastikan sudah tidak ada lagi bahaya dirumah. Jadinya, tidak apa-apa jika kita pulang hari ini juga,” terang Asyila berusaha berani.


Abraham tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh Asyila. Akan tetapi, mereka tidak bisa pulang hari itu juga. Masih ada hal yang harus Abraham selesaikan dan Abraham pastikan mengenai kondisi Ayah mertuanya.


“Sekarang temui lah Arsyad dan Ashraf. Mereka pasti sudah menunggu Syila,” ucap Abraham sambil melepaskan pelukannya.


“Mas!” Asyila menarik tubuh suaminya dan merekapun terjatuh di atas tempat tidur. Asyila tiba-tiba mencium bibir suaminya dengan penuh semangat.


Beberapa menit kemudian.


Asyila mengakhiri ciuman panas mereka dengan senyum malu-malu. Berbeda dengan Abraham yang terlihat murung karena mereka tidak bisa melakukan lebih selain ciuman bibir.


“Genit,” celetuk Abraham pada Asyila.


Mata Asyila terbelalak lebar ketika mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya.


“Asyila tidak genit Mas,” ucap Asyila membela diri dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.


“Kalau begitu apa? Istriku yang nakal?” tanya Abraham sambil menahan tawanya.


Asyila melipat kedua tangannya dan memasang wajah sebal.


“Wajah Asyila mau diapakan saja tetapi cantik dan semakin cantik,” puji Abraham.


“Kalau tidak cantik, Mas apa mungkin mau dengan Asyila?” tanya Asyila yang sangat penasaran dengan jawaban dari Abraham.


“Tidak,” jawab Abraham singkat sambil memasang wajah serius.


Asyila semakin terkejut dan tentu saja semakin kesal dengan suaminya.


“Tidak mungkin jika Mas tidak menyukai Asyila, dari saat Asyila masih kecil hingga sekarang, perasaan ini seutuhnya untuk Syila,” jelas Abraham.


Asyila perlahan mengembangkan senyumnya dan bergerak mendekati suaminya.


“Menjadi istri dari Mas adalah sebuah takdir yang begitu membahagiakan. Terima kasih karena Mas telah menerima Asyila yang masih jauh dari kata sempurna,” ucap Asyila.


”Mas yang seharusnya berterima kasih, karena Asyila telah menerima Mas yang tua ini,” balas Abraham.


“Yang bilang tua bukan Asyila ya Mas! Tapi, Mas sendiri.” Asyila tertawa lepas melihat wajah suaminya, bagaimana bisa Sang suami mengatakan hal seperti itu.

__ADS_1


Disaat yang bersamaan, ponsel milik Abraham berbunyi. Abraham bergegas mengambil ponselnya untuk mengetahui siapa yang menghubungi dirinya.


“Siapa Mas?” tanya Asyila penasaran.


“Ibu, Mas angkat dulu ya,” ucap Abraham dan menerima sambungan telepon dari Ibu mertuanya.


Abraham bergeser menjauh dan sangat serius mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ibu mertuanya. Asyila yang penasaran hanya bisa diam duduk sambil menunggu Sang suami selesai berbicara dengan Ibunya lewat telepon.


Usai menerima telepon, Abraham bergegas mengganti pakaiannya. Asyila yang penasaran langsung bertanya apa yang sebenarnya dikatakan oleh Ibunya, Arumi.


“Kata Ibu apa Mas?” tanya Asyila.


”Ibu meminta Mas untuk segera ke rumah sakit. Jika semuanya sudah membaik, Mas akan memberitahukan Asyila. Asyila paham kan, Maksud Mas?” tanya Abraham.


Asyila mengangguk mengerti dan tak ingin bertanya lagi. Ia percaya Sang suami akan memberitahukannya jika semuanya sudah berjalan lancar.


Setelah selesai mengenakan pakaian, Abraham pamit dan meninggalkan Sang istri. Abraham sengaja tidak pamit kepada kedua putra kecilnya, ia tak ingin jika kedua putra kecilnya menunda kepergiannya menuju rumah sakit.


“Assalamu’alaikum, jaga diri dan anak-anak kita. Mas akan pergi sekarang, Mas sangat mencintai Asyila,” ucap Abraham dan memberikan kecupan mesra di kening dan bibir Asyila.


“Wa’alaikumsalam, salam untuk Ibu. Mas hati-hati di jalan, jika sudah sampai rumah sakit. tolong hubungi Asyila!” pinta Asyila.


Siang hari.


Asyila tengah menidurkan kedua putra kecilnya setelah kelelahan bermain mandi bola di salah satu pusat permainan dekat hotel. Asyila menatap wajah kedua putra kecilnya secara bergantian dan tak terasa air matanya menetes.


“Kalian kesayangan Ayah dan Bunda. Kami beruntung memiliki kalian sayang, terima kasih karena kalian telah memilih kami sebagai orang tua kalian. Do'a kami, semoga kalian menjadi anak-anak yang Sholeh. Berbakti kepada kedua orang tua, negara dan berbudi pekerti yang baik. Aamiin ya Robbalalamin!”


Arsyad terbangun dari tidurnya dan menghapus air mata Bundanya.


“Maaf ya sayang, Bunda membangunkan tidur Arsyad. Mata Bunda tadi terkena debu jadinya berair,” jawab Asyila.


“Bunda, nanti kita main lagi ya!” pinta Arsyad.


“Iya sayang, nanti kita main lagi. Tapi, Arsyad lanjutkan tidurnya ya!”


“Baik, Bunda,” balas Arsyad dan segera memejamkan matanya.


Dyah yang ternyata tidak bisa tidur siang, memutuskan untuk keluar dari kamar hotel. Ia ingin menghirup udara luar sambil menikmati es krim.


“Dyah, jangan lama-lama ya!” pinta Asyila karena Dyah juga termasuk dari tanggung jawabnya.


“Aunty tenang saja, setelah es krim habis Dyah akan segera kembali ke kamar,” jawab Dyah berbisik-bisik agar Arsyad maupun Ashraf tidak terbangun mendengar kata es krim.


Waktu terus berjalan, tak terasa hari sudah semakin sore. Akan tetapi, Arsyad maupun Ashraf masih ingin menikmati waktu mereka bersama Sang Bunda diluar.


Sore itu, Asyila menemani kedua putra kecilnya di sebuah taman bermain. Banyak sekali permainan di taman itu, seperti jungkat-jungkit, ayunan dan masih banyak lagi macam-macam permainan.


“Sayang, jangan lari-lari!” Asyila mencoba mengingatkan putra kecilnya yaitu Ashraf yang sedari tadi tak bisa diam. Dengan penuh semangat, Ashraf berlari bersama dengan seorang gadis kecil yang mungkin umurnya sekitar 6 tahun.


Ashraf hanya menoleh sekilas dan terus berlari mengejar teman barunya itu.


“Bunda!” Arsyad berlari menghampiri Asyila dan meminta Asyila untuk menemaninya bermain ayunan.


Asyila dengan cepat menyetujui keinginan Arsyad dan merekapun bergegas menuju ayunan. Dengan pelan, Asyila mengayunkan ayunan yang diduduki oleh Arsyad.

__ADS_1


Lalu Dyah kemana?


Dyah sore itu juga berada di taman bermain, ia asyik mengabadikan setiap momen Asyila dengan kedua putra kecilnya.


Dyah mengambil gambar mereka dari kejauhan, gambar-gambar yang Dyah ambil suatu saat akan menjadi kenangan untuk mereka.


“Senangnya melihat Aunty dan adik-adik bermain seperti ini,” ucap Dyah bermonolog dan kembali mengambil gambar mereka.


Bruk!


Sebuah bola basket melayang tepat di kepala Dyah, Dyah yang tak tahu datangnya bola tersebut jatuh begitu saja ke tanah.


Untungnya saja, ponsel yang berada ditangannya tak terlepas.


Asyila yang melihat keponakan suaminya terjatuh bergegas berlari menghampiri Dyah.


“Dyah, kamu kenapa?” tanya Asyila panik.


“Entahlah, Aunty. Dyah merasa seperti ada gempa hingga kepala Dyah rasanya pusing sekali,” jawab Dyah sambil memegangi kepalanya yang sakit.


Beberapa remaja datang menghampiri Dyah dan meminta maaf. Mereka benar-benar tak sengaja melakukannya, Dyah yang awalnya tidak tahu akhirnya tahu alasannya terjatuh dan kepalanya sakit.


“Lain kali kalau main jangan terlalu bersemangat,” omel Dyah dan berusaha untuk terlihat baik-baik saja.


Dyah menatap tajam mereka dan mengajak Asyila untuk pergi menjauh.


“Kalau saja seusai Dyah, sudah Dyah botakin mereka itu,” ucap Dyah sambil mengomel.


Asyila hanya bisa mendengarkan Omelan Dyah. Sesekali Asyila menahan tawanya ketika melihat Dyah yang masih jalan sempoyongan.


“Ayo kita pulang saja!” ajak Asyila pada Arsyad dan Ashraf.


Arsyad dan Ashraf mengangguk setuju. Merekapun sudah lelah bermain dan waktunya bagi mereka untuk pulang ke hotel.


“Tadi Kak Dyah kenapa?” tanya Arsyad.


“Ada gempa,” celetuk Dyah dengan raut wajah yang begitu sebal.


“Gempa? Apa itu?” Arsyad belum mengetahui definisi dari kata gempa.


“Pokoknya yang goyang-goyang,” jawab Dyah yang terdengar ambigu bagi Asyila.


Asyila dengan cepat mencubit pelan lengan Dyah. Dyah pun mengerti dan segera memperbaiki ucapannya.


“Tadi Kak Dyah kena bola. Tapi, sekarang sudah tidak apa-apa. Arsyad jangan bertanya lagi ya!” pinta Dyah.


“Baik, Kak Dyah,” jawab Arsyad.


Merekapun bersama-sama berjalan menuju area parkir. Kebetulan sore itu, Pak Udin yang menjemput mereka. Sebelumnya, Asyila dan yang lainnya pergi menuju taman menggunakan jasa pengemudi online.


“Sekarang kita mau kemana Nona Asyila?” tanya Pak Udin.


“Langsung pulang saja, Pak Udin. Anak-anak juga harus segera mandi,” jawab Asyila.


Abraham 💖 Asyila

__ADS_1


Like 💖 🙏


__ADS_2