
“Silakan, Tuan Abraham,” ucap Eko sembari membuka pintu untuk majikannya.
Abraham mengucapkan terima kasih dan bergegas masuk ke dalam rumah untuk menemui sang istri tercinta.
Beberapa saat yang lalu, Abraham pergi ke daerah dimana Nek Inem tinggal untuk mengontrol kondisi daerah tersebut. Dan syukurnya, semuanya berjalan lancar seperti yang diharapkan.
“Assalamu’alaikum!”
Asyila yang tengah sibuk di dapur, bergegas menyambut suaminya yang baru saja tiba.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Asyila sambil mencium punggung tangan suaminya.
“Syila sedang ngapain memakai celemek?” tanya Abraham sambil membawa istri kecilnya masuk menuju ruang keluarga.
“Memasak makan siang untuk Mas,” jawab Asyila sambil membuka celemek tersebut.
“Kebetulan sekali, suamimu ini sangatlah lapar,” ungkap Abraham sambil menyentuh perutnya sendiri.
Asyila tertawa kecil dan langkah mereka berbelok menjadi ke arah ruang makan.
“Lihatlah Asyila masak apa!” Dengan penuh semangat Asyila memperlihatkan masakannya.
Abraham tersenyum lebar melihat masakannya sang istri yang ternyata adalah cumi pedas manis.
“Hmm.. Apa boleh suamimu ini memakannya?” tanya Abraham yang memang sudah sangat jarang memakan cumi.
“Tentu saja, asal jangan banyak-banyak. Takutnya kolesterol,” jawab Asyila sambil senyum-senyum.
Abraham mengangguk kecil dan menarik tangan istri kecilnya agar duduk bersebelahan dengannya.
“Kalau dilihat-lihat, tubuh Syila tak pernah gemuk,” ucap Abraham mengomentari tubuh istri kecilnya.
“Mungkin hanya perasaan Mas saja,” balas Asyila.
“Ini bukan hanya perasaan suamimu saja, istriku. Terlebih lagi bagian perut Asyila yang terasa sangat kencang seperti orang yang rajin olahraga,” terang Abraham.
“Asyila memang suka olahraga, Mas,” balas Asyila.
Abraham mengernyitkan keningnya sambil mengingat-ingat kesibukan istri kecilnya di pagi sampai sore hari.
“Apakah benar Syila rajin berolahraga tanpa sepengetahuan Mas?” tanya Abraham penasaran.
“Hhmmm.. Kalau Mas terus mengajak Asyila mengobrol, bagaimana dengan hidangan ini? Tidak baik berbicara di hadapan makanan,” balas Asyila sambil menyodorkan piring yang sudah terisi nasi serta lauk.
Abraham kini fokus dengan makanannya dan akhirnya bisa membuat Asyila bernapas lega.
Mas Abraham tidak boleh curiga mengenai postur tubuhku yang seperti ini. Akan tetapi, apa yang dikatakan oleh Mas Abraham ada benarnya. Aku selama ini terus saja berlatih diam-diam dan juga melatih otot perut ku agar terlihat makin kencang. Ah sudahlah, semoga saja Mas Abraham tidak tahu fakta yang sebenarnya.
“Kenapa malah melamun?” tanya Abraham.
Asyila terkesiap dan meminta suaminya untuk memimpin Do'a sebelum makan.
Malam hari.
Abraham dan Asyila tengah duduk berdua sembari menikmati film kesukaan mereka di ruang keluarga. Malam itu, Abraham bahkan meletakkan kepalanya diatas paha sang istri sambil dipijat lembut oleh istri tercintanya.
“Enak, istriku,” puji Abraham ketika merasakan betapa enaknya pijatan tangan sang istri.
__ADS_1
“Mas bisa saja,” balas Asyila.
Abraham terkesiap ketika mendengar ada suara orang yang meminta tolong.
“Mas kenapa?” tanya Asyila terheran-heran.
“Mas baru saja mendengar ada suara yang meminta tolong, apakah Syila juga mendengarnya?” tanya Abraham.
“Asyila tidak mendengar apa-apa, Mas. Hanya suara televisi,” jawab Asyila apa adanya.
Abraham yakin bahwa ia mendengar ada suara orang yang meminta tolong.
“Tolong!”
Kali ini suara minta tolong itu terdengar jelas dan Asyila juga mendengarnya.
“Mas, seperti ada sesuatu hal yang tengah terjadi,” ucap Asyila mulai panik.
“Syila diam didalam rumah dan jangan keluar rumah sampai Mas kembali, mengerti!”
“Mengerti, Mas,” jawab Asyila.
Abraham tanpa pikir panjang bergegas keluar rumah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Sementara Asyila, berlari kecil masuk ke dalam kamar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi dari jendela kamar lantai atas.
Ternyata, hampir semua penghuni rumah perumahan Absyil keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Sampai akhirnya, ada seorang wanita berusia 40 tahunan menghampiri Abraham, pemilik perumahan Absyil.
“Tuan Abraham, rumah saya dimasuki oleh pencuri. Dan perhiasan saya semuanya raib,” ungkapnya.
Abraham terkejut, bagaimana bisa perumahan Absyil yang sudah dijaga oleh penjaga perumahan bisa dimasuki oleh pencuri.
Abraham mengeluarkan ponselnya dan meminta para penjaga perumahan Absyil untuk waspada. Kemudian, memeriksa cctv di pos penjagaan untuk mengetahui kemana perginya maling tersebut.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Abraham tahu dimana lokasi dari si pencuri bersembunyi. Akan tetapi, ternyata tempat persembunyiannya adalah rumahnya sendiri.
Pencuri itu berpikir, tempat yang paling aman adalah rumah yang paling besar. Dikarenakan, bangunan rumah Abraham adalah bangunan yang paling besar diantara bangunan yang lainnya.
Celaka, Syila sekarang berada di rumah sendirian.
Abraham berlari secepat mungkin untuk kembali ke kediamannya.
“Assalamu’alaikum, Syila!” panggil Abraham.
Asyila yang baru saja mengenakan hijab bergegas keluar dari kamar untuk membukakan pintu.
“Wa’alaikumsalam, bagaimana Mas?” tanya Asyila sambil menoleh ke arah luar pintu.
“Pintu dapur apakah Syila kunci?” tanya Abraham yang terlihat khawatir.
Asyila terdiam sambil mengingat-ingat pintu dapur.
“Sepertinya belum, Mas. Hanya Asyila tutup saja,” balas Asyila.
Abraham berlari menuju pintu dapur dan ternyata sudah terkunci.
“Ini sudah terkunci,” ucap Abraham sambil menunjuk ke arah pintu yang telah terkunci.
__ADS_1
“Mas, Asyila belum menguncinya. Apakah Mas yang menguncinya?” tanya Asyila terheran-heran.
“Kalau begitu, pencuri itu sudah berhasil masuk ke rumah ini,” jelas Abraham dan meminta istri tercintanya untuk waspada kalau-kalau pencuri itu tiba-tiba menyerang salah satu dari mereka.
Keduanya berjalan menelusuri tiap ruangan dan ketika sedang berjalan, tiba-tiba Asyila ditarik dan sudah ada sebuah pisau mengkilap menempel pada lehernya yang tertutup oleh hijab.
Abraham terlihat panik, jika sang istri bergerak sedikit saja sudah dapat dipastikan darah segar keluar dari lehernya.
“Tolong lepaskan, istri saya!” pinta Abraham.
Asyila nampak tenang, meskipun suaminya terlihat panik.
“Mas tenang saja,” ucap Asyila menggunakan bahasa bibir.
“Jangan mendekat, kalau kamu mendekat wanita ini akan mati,” ancam si pencuri yang wajahnya ditutupi oleh penutup wajah.
“Apa yang kamu inginkan?” tanya Abraham yang terlihat begitu khawatir.
“Keluarkan aku dari perumahan ini!” pintanya.
Asyila mencoba untuk bergerak, akan tetapi tiba-tiba lehernya dicekik sampai-sampai Asyila kesulitan bernapas.
“Jangan bergerak atau kamu mati ditangan ku,” ancamnya lagi.
Abraham sangat kebingungan, ia tidak bisa berpikir jernih melihat istri kecilnya dalam bahaya.
“Tolong lepaskan istriku! Apa yang kamu inginkan, pasti akan aku berikan,” ucap Abraham sambil meneteskan air matanya.
Si pencuri itu tertawa mengejek, tanpa pernah terpikirkan olehnya melihat Abraham menangis ketakutan.
“Aku akan memberikan apa saja yang kamu mau, asalkan kamu melepaskan istriku,” terang Abraham.
Si pencuri tersebut kembali tertawa dan mendorong tubuh Asyila sekeras mungkin ke arah lantai. Untungnya saja, Asyila bisa bergerak cepat sehingga ia tidak sampai membentur lantai.
“Beraninya kamu melakukan hal itu kepada istriku!” teriak Abraham yang tanpa pikir panjang menghajar si pencuri tersebut.
Abraham tak bisa menahan amarahnya, ia langsung mendekat dan memberikan bogem mentah ke wajah si pencuri itu. Meskipun pencuri itu berulang kali meminta ampun, tetap saja Abraham memukulnya. Bahkan, Abraham berulang kali menendang tubuh pencuri itu hingga akhirnya si pencuri tak sadarkan diri.
Melihat hal tersebut, Asyila langsung memeluk suaminya agar sang suami segera tenang.
“Sudah, Mas. Orang itu sudah pingsan, Mas tidak perlu memukulnya terus-menerus. Lebih baik, serahkan dia ke pihak yang berwajib,” ucap Asyila dan menciumi pipi suaminya berulang kali agar sang suami marahnya cepat reda.
Usaha Asyila untuk menenangkan suaminya tidak sia-sia. Kini Abraham bisa berpikir jernih dan segera memeriksa kantong celana dari si pencuri, ternyata perhiasan-perhiasan tersebut tidak ada pada si pencuri.
“Ada yang aneh, kenapa perhiasan-perhiasan yang dia curi tidak ada padanya,” ucap Abraham setelah memeriksa kantong celana si pencuri tersebut.
Asyila terdiam dan di detik berikutnya ia berlari ke arah dapur untuk memastikan bahwa dugaannya benar. Dan ternyata, dugaannya memanglah benar. Si pencuri itu menyimpan perhiasan di dapur dekat kotak sampah.
“Mas, sepertinya ini adalah perhiasan yang dicuri oleh dia,” ungkap Asyila sambil menyerahkan sebuah kotak yang ukurannya cukup besar dan didalamnya terdapat cukup banyak emas.
Abraham mencium kening istri kecilnya dan bergegas keluar dari rumah untuk memberikan emas tersebut kepada pemiliknya.
Sementara Asyila ditinggalkan begitu saja bersama dengan si pencuri.
Ketika Asyila ingin mendekat, tiba-tiba pencuri itu bangun. Rupanya, si pencuri itu berpura-pura tak sadarkan diri.
Asyila refleks memukul tengkuk pria tersebut, hingga akhirnya benar-benar tak sadarkan diri.
__ADS_1
“Seharusnya kamu tidak melakukan tindakan seperti ini. Alangkah banyak pekerjaan di luaran sana yang membutuhkan tenaga kerja seperti kamu,” tutur Asyila.