
Saat Asyila baru saja keluar dari kamar mandi, tiba-tiba seorang perawat wanita datang menghampiri Asyila seperti ada sesuatu yang penting.
“Anda Nona Asyila?” tanya si perawat wanita.
“Iya, ada apa Sus?” tanya Asyila.
“Diluar ada Tuan Abraham,” jawab si perawat wanita itu.
Asyila terkejut dan seketika itu berlari keluar untuk memastikan apakah pria itu benar suaminya ataukah bukan.
“Mas Abraham!”
Abraham menoleh dan seketika itu mendekap erat tubuh istri kecilnya.
“Ya Allah, Mas berpikir bahwa Asyila akan kembali menghilang seperti kemarin. Syila kemana saja, kenapa selalu membuat Mas khawatir,” ucap Abraham yang semakin mempererat dekapannya.
“Mas tidak perlu khawatir, Asyila baik-baik saja,” tutur Asyila.
“Kalau Asyila tidak kenapa-kenapa, mengapa Asyila bisa berada di rumah sakit?” tanya Abraham.
“Ceritanya panjang, Mas. Asyila tadi diculik, untungnya ada orang datang yang menolong Asyila,” jawab Asyila yang terpaksa harus berbohong kepada suaminya.
“Astaghfirullahaladzim, lalu dimana penculiknya dan dimana yang telah menolong Asyila? Mas harus bertemu dengannya dan mengucapkan terima kasih.”
“Mas tidak perlu panik seperti ini, Asyila baik-baik saja. Mas tunggu disini sebentar ya, Asyila mau menemui Septia di dalam,” tutur Asyila.
Usai mengatakan kalimat tersebut, Asyila cepat-cepat masuk ke dalam ruangan Septia.
“Septia, aku pamit pulang. Insya Allah aku akan datang kemari, soal biaya rumah sakit biar aku yang menanggung semuanya. Suamiku sudah menunggu diluar, Wassalamu'alaikum!”
“Mbak, sebelumnya terima kasih banyak karena Mbak telah menolong saya. Wa'alaikumsalam,” balas Septia.
Asyila tersenyum dan bergegas keluar dari ruangan itu untuk segera pulang ke rumah.
“Asyila yakin tidak apa-apa?” tanya Abraham memastikan.
“Yakin, Mas. Lihat Asyila baik-baik saja dan tidak ada hal buruk yang terjadi kepada Asyila,” jawab Asyila dengan senyum manisnya.
“Ayo kita pulang sekarang! Ayah, Ibu dan anak-anak pasti sangat mengkhawatirkan Asyila!” ajak Abraham sambil merangkul pinggang istri kecilnya meninggalkan rumah sakit tersebut.
Untungnya rumah sakit itu tak jauh dari Perumahan Absyil, sehingga tak memakan banyak waktu diperjalanan.
“Saat Asyila ingin keluar, pokoknya harus ada bodyguard. Minimal satu bodyguard harus mengikuti Asyila,” tegas Abraham yang tak ingin kehilangan istri kecilnya kembali, “Tolong mengerti maksud suamimu ini istriku. Suamimu ini tidak mau hal buruk waktu itu kembali terjadi,” imbuh Abraham yang ternyata berderai air mata.
Asyila merasa bersalah karena telah membuat suaminya menangis. Akan tetapi, kalau ia tidak menolong Septia sudah pasti menyalahkan dirinya sendiri yang tak mau menolong orang lain. Apalagi kejadian tersebut begitu tak manusiawi, para gadis remaja banyak yang diperalat untuk dijadikan pemuas n*fsu hidung belang.
“Syila kenapa diam saja? Mas panik, orang rumah pun panik,” ungkap Abraham.
“Maaf, Mas,” sahut Asyila yang hanya bisa meminta maaf.
“Intinya Mas tidak ingin Asyila kembali menghilang seperti sebelumnya. Cukup yang kemarin itu saja dan jangan lagi,” tutur Abraham.
“Iya, Mas. Asyila tidak akan lagi lemah seperti kemarin. Asyila akan menjadi wanita yang lebih kuat dari sebelumnya dan tak mudah ditindas oleh orang-orang jahat,” terang Asyila.
Abraham menghela napasnya kemudian, mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Asyila memilih diam karena ia tahu, suaminya saat itu pasti sangat sedih kalau sampai dirinya kembali menghilang.
Tak butuh waktu lama, merekapun akhirnya sampai.
Baru saja mobil itu berhenti, Arumi serta yang lainnya sudah antusias menunggu di depan pintu mobil.
“Ya Allah, putriku. Kamu kemana saja sayang? Ibu sangat panik dan mengira sesuatu buruk terjadi sama kamu sayang,” ucap Arumi yang tengah mendekap erat tubuh Asyila.
“Bunda!” Ashraf berlari secepat mungkin menghampiri Bundanya, “Bunda kemana tadi? Ashraf takut Bunda pergi lagi,” imbuh putra ke-dua dari Abraham dan Asyila.
“Ibu jangan menangis, Asyila baik-baik saja. Tidak ada yang perlu Ibu takutkan,” tutur Asyila.
__ADS_1
Asyila melepaskan pelukan Ibunya dan memfokuskan perhatiannya kepada Ashraf yang tengah menangis histeris.
“Cup.. cup.. Kesayangan Ayah dan Bunda tidak boleh menangis seperti ini, Bunda ikut menangis kalau Ashraf tidak berhenti menangis,” ujar Asyila yang kini memeluk putra keduanya.
“Asyila, lihatlah bagaimana Ashraf menangis padahal baru ditinggal beberapa jam saja. Ayah tidak mau hal seperti ini terulang kembali,” tegas Herwan.
“Iya Ayah, Asyila tidak akan kemana-mana lagi,” balas Asyila yang masih memeluk erat tubuh Ashraf.
Abraham melihat jam dipergelangan tangannya yang kurang dari 1 jam akan memasuki waktu sholat. Karena Asyila belum juga sahur, Abraham pun bergegas mengajak istri kecilnya untuk sahur bersama.
Sementara Arumi serta yang lainnya sudah lebih dulu sahur.
“Tuan Abraham! Nona Asyila!” Alif berlari kecil menghampiri sepasang suami istri yang akan masuk ke dalam rumah
Abraham dan Asyila dengan kompak menghentikan langkah kaki mereka yang ingin memasuki rumah. Kemudian, mereka menoleh ke arah Alif salah satu bodyguard Abraham.
“Nona Asyila, tolong maafkan saya. Kedepannya saya tidak akan menuruti perintah dari Nona Asyila dan hanya menuruti perintah dari Tuan Abraham,” terangnya.
Asyila mengernyitkan keningnya dan menoleh ke arah suaminya. Asyila tahu kenapa Alif berkata seperti itu.
“Alif, pergilah!” perintah Abraham pada bodyguardnya agar kembali berjaga-jaga.
“Baik, Tuan Abraham,” balas Alif dan kembali ke posisinya semula.
Abraham merangkul pinggang istri kecilnya dan melanjutkan langkah mereka untuk segera sahur.
Beberapa saat kemudian.
Asyila, Arumi dan Bela baru saja melaksanakan sholat subuh.
Sementara Abraham, Herwan dan juga Ashraf masih berada di masjid.
“Syila, boleh Ibu tahu kamu pergi kemana tadi?” tanya Arumi penasaran.
“Ibu, bolehkah Asyila memilih untuk tak menjawab pertanyaan Ibu?” tanya Asyila yang memilih untuk tak menjawab, daripada dirinya harus membohongi Ibunya tercinta.
Asyila bernapas lega karena Ibunya tak memaksa untuknya menjawab.
“Sekarang pergilah ke kamar temani cucu Ibu!” perintah Arumi.
“Baik, Ibu. Asyila ke kamar dulu,” balas Asyila.
Wanita muda itu melepaskan mukena miliknya dan melipatnya dengan rapi. Kemudian, ia bergegas menuju kamar untuk menemani bayi mungilnya yang berada di dalam kamar seorang diri.
“Kesayangan Bunda!” panggil Asyila yang baru saja memasuki kamar.
Bayi mungil yang usianya hampir dua bulan, ternyata tidak tidur.
“Kesayangan Bunda rupanya tidak tidur ya,” tutur Asyila sembari memandangi wajah menggemaskan bayi mungilnya itu.
Saat Asyila melihat wajah bayi mungilnya, tiba-tiba ia teringat dengan Septia yang masih dirawat.
Aku harus ke rumah sakit menemui Septia. Bagaimanapun, Septia butuh sosok teman untuk menghiburnya. Barangkali dia mau cerita sedikit tentang kehidupannya dan mungkin saja aku bisa bantu. 😇
Asyila terus saja memikirkan Septia yang baru saja mengalami keguguran, bahkan Asyila tak mendengar panggilan suaminya yang berada di tepat dibelakangnya.
“Asyila!” panggil Abraham sambil menepuk punggung istri kecilnya yang asik melamun.
Asyila terkesiap dan tak sengaja menendang perut suaminya hingga terjadi.
Abraham seketika itu berteriak terkejut karena apa yang dilakukan oleh Asyila membuatnya terjatuh.
“Ya Allah, Mas kenapa mengejutkan Asyila seperti itu?” tanya Asyila sambil membantu suaminya bangkit.
Punggung Abraham cukup sakit karena terkena sudut meja.
__ADS_1
Abraham mengernyitkan keningnya ketika merasakan bagaimana kuatnya istri kecilnya menendangnya hingga terjatuh.
Abraham merasakan seperti ada kekuatan pada diri istri kecilnya itu. Akan tetapi, ia segera membuang jauh-jauh pikirannya dan menganggap bahwa dirinyalah yang kurang sehat karena begitu mudahnya dijatuhkan oleh istri kecilnya itu.
“Maafkan Asyila ya Mas, Asyila benar-benar tak sengaja,” tutur Asyila.
“Syila belajar menendang seperti itu darimana?” tanya Abraham penasaran.
“Oh, itu dari film Jacky Chan,” jawab Asyila.
“Wow, hebat juga ya,” puji Abraham sambil menyentuh punggungnya.
“Mas bisa saja, apakah punggung Mas sakit? Coba Asyila lihat,” tutur Asyila yang ingin melihat punggung suaminya.
“Tidak perlu, istriku. Sebaiknya kita sedikit jaga jarak, soalnya masih puasa,” ujar Abraham dan memilih untuk merebahkan tubuhnya di tempat tidur agar rasa sakit di punggungnya cepat menghilang.
Asyila menggigit bibirnya sendiri dan memutuskan untuk membawa bayi mungilnya keluar rumah.
“Syila mau kemana?” tanya Abraham pada istri kecilnya yang akan keluar dari kamar mereka.
“Mau ke teras depan, Mas. Sekalian kalau matahari pagi sudah muncul, Asyila mau menjemur bayi kita,” terang Asyila.
“Asyila tidak akan menghilang lagi, 'kan?” tanya Abraham dengan tatapan serius.
Asyila terkekeh geli melihat wajah suaminya yang begitu serius.
“Tidak, Mas. Apa perlu Mas ikut Asyila ke depan? Kalau iya, ayo temani Asyila!” pinta Asyila dengan senyum manisnya.
Tanpa pikir panjang, Abraham mengiyakan dan bergegas keluar dari kamar untuk segera ke teras depan rumah.
“Mas, nanti agak siangan Asyila izin keluar ya. Mau ke rumah sakit, menemui Septia,” tutur Asyila sambil terus melangkah menuju teras depan.
“Rumah sakit yang tadi itu? Mas ikut ya,” balas Abraham yang ingin ikut menemani istri kecilnya.
“Boleh, asal Mas tunggu diluar,” jawab Asyila.
“Tidak masalah, yang penting Mas ikut. Oya, memang Septia sakit apa?” tanya Abraham.
“Keguguran, Mas,” jawab Asyila dengan ekspresi sedih.
“Innalilahi wa innailaihi rojiun,” tutur Abraham dengan ekspresi terkejut.
Abraham pun memutuskan untuk tak bertanya lagi mengenai wanita yang dimaksud oleh istri kecilnya itu.
“Bunda, Bunda mau kemana?” tanya Ashraf sambil menghalangi jalan untuk Asyila ke teras depan rumah.
“Bunda mau ke depan sayang,” jawab Asyila.
“Ashraf ikut,” tegas Ashraf sambil tangannya menggenggam erat pakaian yang dikenakan oleh Bundanya.
Asyila tersenyum melihat bagaimana putra keduanya begitu takut jika dirinya tiba-tiba pergi.
“Ashraf sama Kak Bela saja ya, biar Bunda Ayah yang jaga!” perintah Abraham pada Ashraf.
Ashraf ingin menolak perintah dari Ayahnya. Akan tetapi, ia tak berani dan akhirnya pergi menuju ruang keluarga.
“Mas kenapa memerintahkan Ashraf menjauh dari kita?” tanya Asyila.
“Bukan maksud Mas seperti itu, tapi coba Syila lihat sikap putra kita itu. Ashraf kini menjadi over protektif terhadap Bundanya,” terang Abraham.
Asyila sama sekali tak membantah apa yang dikatakan oleh suaminya. Karena bagaimanapun, apa yang dikatakan suaminya memanglah benar.
“Ashraf pasti agak trauma,” ucap Asyila sambil mendaratkan bokongnya di kursi.
“Kalau itu sudah jelas,” balas Abraham yang juga duduk bersebelahan dengan Sang istri tercinta.
__ADS_1
Like ❤️